Sweet Sin

Sweet Sin
Bab 13 Remember The Past


__ADS_3

Niken kembali ke Jakarta bersama Richard, terlihat raut wajah Niken seakan berada dalam balutan keresahan luar biasa.


Beberapa kali Richard menegur Niken yang lebih banyak termenung sehingga terkadang tidak mendengar ucapannya.


Ketika sampai di rumah, Richard meminta Niken membereskan unit apartemennya untuk dijual. Niken terdiam. Sepertinya dia sangat tidak rela apartemen itu terjual pada orang lain. Begitu banyak kenangan dirinya dan Richard di situ.


Setelah menemui calon pembeli, Niken sangat bersyukur mereka urung membeli apartemen Richard.


Niken menitikkan air mata ketika mengunci kembali pintu apartemen itu.


Niken bergegas menghubungi temannya yang menyelidiki kebakaran rumah yang terjadi di lingkungan Richard di masa lalu.


Mereka sudah menemukan rumah usang itu, bahkan dia berhasil mendapat identitas pemilik rumah itu.


Sebelum menemui lelaki itu Niken merubah tampilannya menjadi orang lain agar tidak dikenali oleh orang-orang yang selalu mengintai gerak geriknya. Kalau sampai orang-orang yang selalu mengikuti mengetahui dia menyelidiki masa lalu Richard, mungkin bukan hanya dirinya yang berada dalam bahaya besar, tapi juga Richard.


Ketika bertemu dengan lelaki bernama Pak Arya Pamungkas yang membeli rumah bekas kebakaran hebat itu, Niken tertegun. Ada sesuatu disorot mata lelaki itu yang dia tidak bisa menterjemahkan.


Setelah mempersilahkan Niken masuk, lelaki paruh baya itu mengisap dalam-dalam vapenya.


Lalu mematikannya dan menghidupkan kipas angin untuk mengusir asap rokok elektrik itu.


"Apa yang ingin kamu ketahui tentang rumah itu, puluhan tahun yang lalu rumah itu terbakar, namun hingga kini belum bisa ku bangun untuk bangunan lain karena aku sangat jarang di Indonesia, apa kamu berminat membelinya?"


Niken tersenyum ramah.


"Iya Pak, tapi sebelum membeli rumah usang itu, saya ingin tahu sejarah rumah itu hingga terbakar."


Pak Arya mengelus dagunya yang ditumbuhi jenggot  tidak seberapa lebat.


"Rumah ini milik seorang yang saya kenal baik, sahabat saya. Sepasang suami istri dengan seorang putri kecil mereka. Tapi karena tuduhan keji pada suaminya yang difitnah sahabatnya sendiri telah meniduri istrinya yang sedang hamil, membuat kehidupan  mereka hancur lebur. Istrinya meninggal di dalam kebakaran hebat itu, sahabat saya Subrata, hilang tak tahu rimbanya. Putri mereka juga menghilang, andai saja saya bertemu dengan putri sahabat saya itu, akan saya berikan separuh dari harta saya, karena sebelum tragedi itu menimpa, saya  dan Brata sempat menggabungkan modal untuk  usaha yang kini sudah sangat besar."


Pak Arya terlihat sangat sedih. Wajah paruh bay itu menyiratkan kepahitan kisah yang dituturkannya


Cukup lama aku berada di rumah Pak Arya.


Selang beberapa saat ketika menatap foto Pak Arya dan temannya, tiba-tiba aku ingat foto di laci Richard yang pernah ku lihat, foto Pak Barata dengan kakeknya Richard, foto Pak Barata dengan istrinya, foto Pak Barata dengan ayah Richard.


Seketika tanganku menegang ketika menyentuh foto wanita yang menjadi istri Pak Barata, kenapa tanganku bergetar. Dan aku terpana melihat foto anak lelaki yang kerap masuk ke dalam mimpi burukku.

__ADS_1


"Siapa bocah lelaki ini Pak?"


tanyaku terbata.


"Dia Richard, putra Bramasta, sahabat Kinanti, putrinya Barata."


Tubuhku terasa tak bertenaga, puzelle di kepalaku tumpang tindih tak beraturan.


Ketika merasakan handphone bergetar di saku celana, aku terpaksa pamit pada Pak Arya. Dan berjanji untuk kembali lagi.


Panggilan dari Richard segera ku angkat.


Seperti biasa Omelan dan caci maki ku terima dari bos  handsome but devil itu.


Sebelum kembali ke kantor aku sempatkan diri berkunjung ke puing kebakaran itu.


Aku masuk dan seketika seperti merasa kembali ke masa lalu.


Aku melihat seorang anak kecil laki-laki yang berteriak:


"Kinan, Kinan, jangan lepaskan tanganku, ayo Kinan kita lari bersama."


"Tolong jangan sakiti putri saya, tolong jangan bunuh dia."


Suara seorang lelaki yang kerap hadir di mimpi buruk ku juga lantang menembus pendengaran.


Kepalaku sangat pusing namun siluet memory itu terus berjejalan mencoba menerobos batas kesadaranku.


"Kinan .... Kinan ....Kinan ...."


Panggilan dari mulut seorang wanita bergema di kepalaku.


Aku merasa seakan mau gila. Ku pegang kepalaku dengan kedua tanganku.


Aku berlari keluar dari bangunan itu. Kini aku sadar sepenuhnya, aku bukan orang asing di antara keluarga dan sahabat keluarga ini. Aku terpekur diam, tergugu dan terpaku bisu memeluk lututku. Akukah Kinanti? putri dari Barata dan Richard adalah sahabat kecilku.?


Tubuhku menggigil hebat. Sekelebat memory kembali menyentuh bawah sadarku, aku terkurung di sebuah lemari dan sebuah tangan menarikku paksa.


Sebuah tangan kekar hendak memukul kepalaku dengan sebuah batu ketika sebuah suara menahan.

__ADS_1


"Jangan! Apakah sekecil itu nyalimu? Beraninya kamu membunuh anak kecil tak berdaya!"


"Tapi Bos bilang hancurkan sampai ke akarnya. Dan apa kamu yakin gadis ini tak akan bersaksi di kepolisian? Dia melihat wajah kita semua!"


"Aku pastikan dia tidak akan pernah kembali, biarkan aku membawanya."


Dan air mataku merembes deras, semua memory masa kecilku kembali dengan dramatis. Saat aku sendirian tanpa siapapun yang bisa ku peluk erat.


Tanpa sebuah bahu untuk aku bersandar.


Aku semakin yakin akulah Kinanti Larasati, putri satu-satunya dari Barata Pramudya dan Ibuku wanita cantik di foto itu, Ratih Prameswari, wanita cantik asli Solo dan kini aku terisak bahkan tersedu sangat perih. Aku dan masa laluku yang telah hilang kini kembali tanpa ampun. Aku terpukul.


Dan Tante Cyntia bukan Ibu sambungku, dia wanita yang memohon agar aku jangan di bunuh oleh lelaki bertangan kekar itu.


Lalu siapa bos yang mereka sebut, apakah Bramasta, atau ada aktor lain di balik semua ini.


Handphoneku kembali berbunyi


Dari Richard lagi, dia pasti sangat murka karena aku tidak jua kunjung datang setelah satu jam berjanji akan on the way ke Kantor.


Aku segera berdiri, menghapus bulir air mata yang tersisa.


Segera aku melangkah menuju sebuah Mall dan  masuk ke toilet  lalu segera berganti kembali dandanan sebagai Natasya.


Tergopoh aku mengayunkan langkah ke kantorku.


Sesampainya di sana wajah Richard tampak memerah.


"Kemana saja kamu? Tugasmu ngga ada yang beres, apa kamu mau saya pecat?"


Aku tergugu dan segera menunduk dan berucap maaf. Sungguh aku tidak percaya lelaki ini telah hadir di hidupku jauh sebelum kami jatuh cinta exspress.


Tapi aku belum mampu menceritakan semua itu pada Richard, karena aku tidak punya bukti apapun tentang pembunuhanku dan dalang di balik kehancuran keluargaku. Sungguh sangat mengerikan, pantas saja alam bawah sadarku menolak untuk mengingatnya.


Aku merasa semakin berat jalan yang harus kutempuh, Andai bisa aku ingin segera berlari memeluk lelaki yang duduk satu setengah meter dari hadapanku.


Aku hanya bisa menahan semua itu dalan perihku.


To be continue Bab 14

__ADS_1


Tinggalkan like dan comenmu, apalah aku tanpa kalian.


__ADS_2