
Bab 2 Just Love
Richard kembali duduk di kursi sofa mewahnya, Niken ragu-ragu duduk di seberangnya.
"Niken, aku mampu mengatasi traumaku dengan berjuang menghadapinya, aku datang ke panti asuhan yang sudah pasti isinya adalah anak-anak . Tapi dengan perlahan. Aku yakin kamu juga bisa mengatasi itu secara perlahan, lawan rasa takutmu."
Richard menatap gadis cantik di hadapannya dengan getaran perasaan yang nampak kentara tergurat di wajahnya.
"Kenapa kamu bisa trauma Rich?"
Niken menatap mata elang itu dengan berani sekarang. Dia tidak lagi merasa terancam di sisi lelaki kokoh dan tampan itu.
"Aku belum bisa membuka kisah kelam ku Niken. Suatu ketika kamu akan aku ceritakan detail kisah ku." Richard mengalihkan tatapan kearah lain.
"Kamu sendiri?" Richard balik bertanya. Niken terdiam.
"Aku lupa, hanya terkadang aku merasa seperti terkurung dan nafasku seketika sesak."
Mereka berdua saling menatap. Niken membuang tatapannya kearah lain. Jengah rasanya di tatap dengan penuh cinta oleh lelaki yang baru dikenalnya.
"Maaf Rich, aku mau pulang, sudah larut."
Niken beranjak pergi dan hampir sampai di depan pintu.
Richard mengangguk dan ikut beranjak dari duduk.
Dia menawarkan untuk mengantar Niken dengan mobilnya karena sudah malam, namun gadis cantik itu menolak halus tawaran Richard.
Richard tidak memaksa untuk mengantar gadis itu, namun tangannya sigap menangkap tangan Niken tepat sebelum pintu apartemen dibuka Niken.
"Jangan katakan aku jahat apalagi mesum. Aku hanya merasa kamu pasangan jiwaku tanpa aku faham mengapa? dan tolong maafkan apa yang akan ku lakukan padamu."
Richard menindih Niken pada daun pintu dan dengan lembut tangannya menyusup di tengkuk Niken. Satu tangannya lagi memeluk pinggang gadis itu.
Lembut di ciumnya bibir Niken dengan intens, ciuman yang menguasai dan seakan menandai bahwa kau milikku.
Niken gemetar dan lututnya seakan tidak sanggup menahan beban tubuhnya, dia lunglai tak berdaya pada sexy man itu.
"Temui aku lagi Niken." pinta Richard dengan nafas memburu oleh rasa cintanya.
__ADS_1
Niken menganggukkan kepalanya di dada kokoh lelaki itu.
Richard membiarkan Niken pergi dengan berat hati. Ingin rasanya memeluk gadis itu sampai fajar menyeruak di kisi jendela, namun Richard menahan diri.
Niken mengayunkan langkahnya dengan goyah. Perasaannya sangat terpana oleh cinta tiba-tiba yang memeluk erat jiwanya yang kosong.
************
Di tempat kerja, Niken gelisah, ingatan akan sosok lelaki misterius yang membuat dia mampu melupakan sejenak rasa ketakutan pada ruang sempit itu. Lelaki agresif yang membuat sisi liar di dirinya bangkit.
"Ayo makan siang Ken, di tempat yang luar biasa ya, mumpung kita semua dapat bonus gede dari bos" ajak Binar sembari membantu Niken membereskan file yang berserakan di meja.
Niken setuju dan bersama dengan rekan kerja satu team Acounting mereka makan siang di restoran favorit.
Selang lima belas menit menunggu pesanan mereka, tiba-tiba mata Niken terbelalak melihat sosok lelaki yang menggetarkan jiwa raganya masuk ke restoran itu bersama dua orang wanita. Yang satu adalah Elfa, wanita yang kemarin membayar jasa Niken dan yang satunya lagi wanita paruh baya yang sangat cantik dan elegan.
Niken mencoba mengendalikan keresahannya agar tak tertangkap mata oleh teman-temannya.
Binar berdecak kagum dengan sosok di meja pojok dan VIP itu.
"Gila, lelaki impian semua wanita, dia itu cukup terkenal, keluarga konglomerat yang bersahaja."
"Siapa Bin?" tanya Puspa.
Binar mengarahkan dagunya pada sosok Richard.
"Kok kamu kenal?" Puspa penasaran bagaimana Binar bisa mengenal sosok lelaki perfect itu
"Siapa yang ngga kenal? Wajahnya menghiasi headline beberapa majalah bisnis. Keluarganya tanpa cacat di mata publik, benar-benar lelaki high class." ucap Binar dengan wajah masih terlukis angan untuk memiliki lelaki hebat itu. Niken merasakan nafasnya sesak.
Sungguh dia tidak menyangka lelaki yang mencium dan memeluknya dengan penuh cinta di menit pertama mereka bertemu di lift itu adalah sosok luar biasa.
Tiba-tiba Niken merasakan perutnya terasa kram.
"Aku ke toilet dulu ya." pamitnya spontan.
"Jangan kelamaan Ken, sayang pemandangan indah di pojokan itu." seloroh Gina. Niken tertawa sumbang sambil berdiri dan melangkahkan kaki nya ke toilet.
Tanpa Niken sadari Richard menyadari kehadirannya.
__ADS_1
Hanya berselang beberapa menit Niken menghilang menuju toilet, lelaki itu mengikutinya.
"Takdir mempertemukan kita selalu tanpa rencana."
Richard menarik tangan Niken sebelum gadis itu masuk ke toilet wanita.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Niken dengan bibir gemetar.
"Apalagi kalau bukan buat makan siang?"
Niken berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Richard, namun lelaki itu malah menariknya ke pojok terlindung.
"Kamu tidak rindu kepadaku Ken? Aku sangat rindu untuk memeluk dirimu dan mencium bibir manis ini."
Richard menyentuh bibir Niken dengan jempolnya. Niken tak kuasa menolak ciuman lelaki itu, nafasnya memburu, bahkan dia merasa sangat tidak rela ketika Richard mengakhiri ciumannya.
"Ken, tolong datang ke apartemenku ya, please, aku mau kita menikah walaupun nikah siri terlebih dahulu, aku ingin menghalalkan kamu secepatnya sayang. Aku takut ngga kuat menahan syahwatku kepadamu."
bisik Richard dengan suara parau.
Niken menitikkan air mata mendengar niat tulus lelaki itu.
Richard mengambil gawai di tangan Niken dan mengisi nomer teleponnya di sana. Dan memiscall teleponnya sendiri.
Mereka berpisah menuju meja masing-masing.
Sesekali mata elang itu menatap kearah Niken.
"Dia melihat kita lo."
ucap Binar girang.
Puspa menyikut bahu Niken.
"Dia ngeliatin kamu Ken."
Niken hanya menunduk.
To be continue ke BAB 3
__ADS_1