
"Papa ijinkan kamu pergi ke Malang karena Arya ada kerjaan di sana dan Papa pikir kamu sama Arkan butuh refreshing sejenak. Papa lihat kamu sangat stres sejak Christian koma dan kamu mengurusi perusahaan suami kamu dan galeri lukis kamu. Papa sungguh bersyukur Christian akhirnya sadar. Namun, sayangnya pas dia sadar kamu pas nggak ada di sampingnya"
"Terima kasih, Pa. Kalau Mas Christian sadar dan aku ada di sampingnya, aku justru bingung harus bagaimana" Sahut Kinan.
"Papa mengerti perasaan kamu. Christian selingkuh di belakang kamu dengan sekeretaris pribadinya selama berbulan-bulan. Papa tidak akan kasih masukan untuk masalah kamu ini. Papa serahkan semua keputusan di tangan kamu"
Arya langsung bergumam di dalam hatinya, semoga kamu mengambil keputusan bercerai dengan Christian, Kinan dan memilih aku.
"Terima kasih banyak untuk pengertian dan support Papa selama ini" Sahut Kinan.
"Papa tidak bilang ke Ayu kalau kamu pergi ke Malang sama Arya. Papa nggak ingin Ayu berpikiran macam-macam. Jadi, pas nanti kalian bertemu dengan Ayu di rumah sakit jangan katakan kalau kalian habis berlibur di Malang"
"Lalu, Arkan? Kalau Ayu tanya sama Arkan?"
"Papa akan langsung mengajak Arkan bermain di taman bermain nanti"
"Baiklah, Pa" Sahut Kinan dengan nada lemas. Dia lelah. Lelah akan semuanya.
Arya yang duduk di jok sebelah kemudi hanya bisa diam mematung. Dia takut kehilangan kInan. Dia terus memikirkan Kinan dan lupa akan kepulangan Ayu.
Sesampainya di rumah sakit, Arkan langsung digendong oleh papanya Kinan dan diajak ke taman bermain. Setelah melepaskan Arkan ke dalam gendongan papanya Kinan, pria tampan itu langung berlari menyusul Kinan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah sakit. Arya berhasil menyusul Kinan masuk ke dalam lift.
Di dalam lift itu hanya ada mereka berdua dan Arya langsung memeluk Kinan dengan perasaan takut kehilangan kInan. Saat terdengar suara ting! Arya melepaskan pelukannya dan membiarkan Kinan melangkah terlebih dahulu saat pintu lift terbuka.
__ADS_1
Kinan langsung melangkah lebar ke kamar rawat inap nomer 505 yang berada di ujung selasar gedung VVIP. Arya mengabaikan lambaian tangan dan senyum Ayu. Bahkan pria tampan itu berjalan melintasi Ayu begitu saja.
Ayu tertegun melihat sikap Arya.
Sebelum Kinan masuk ke rawat inap suaminya, Arya mencekal lengan Kinan dan berbisik, "Apapun yang terjadi jangan lupakan cintaku padamu"
Kinan menatap Arya dengan sorot mata kosong dan hanya bisa berkata, "Lepaskan aku! Ayu melihat kita" Wanita itu kemudian menarik lengannya dan melangkah masuk ke kamar rawat inap suaminya.
"Apa yang kau bisikkan ke Kak Kinan?" Suara Ayu terdengar halus dan lembut.
Arya berputar badan dengan pelan dan saat ia menghadap Ayu, dia menatap lekat wajah manis wanita itu. Arya masih ingat kalau wanita tengah berdiri di depannya adalah calon istrinya. Dengan perasaan campur aduk, tetapi yang pasti rasa cinta dan kerinduan untuk Ayu tidak ada sama sekali, Arya mengulas senyum terpaksa di wajah tampannya di saat benaknya Arya justru tengah bertanya-tanya, kenapa dulu ia bisa berkata setuju untuk menikah dengan Ayu padahal seingat dia, dia tidak pernah mencintai Ayu. Lalu, rasa apa yang ada di hati Arya saat ia mengiyakan ajakan nikahnya Ayu. Rasa kasihan, rasa balas budi karena Ayu sudah memberikan keperawanannya? Entahlah. Namun, Arya mengatakan dirinya di saat itu adalah dirinya yang sangat tolol dan bodoh.
"Arya, apa yang kau pikirkan? Kau bahkan mengabaikan aku barusan dan kau membisikkan sesuatu ke Kak Kinan. Apa yang kau bisikkan?" Ayu masih bertanya dengan nada halus dan lembut.
"Itu bukan urusan kamu" Sahut Arya dengan nada lelah.
"Tidak semua hal perlu kamu ketahui. Bahkan suami dan istri pun ada hal yang tidak dibagi. Apalagi kamu masih calon istriku" Arya mulai meninggikan suaranya karena ia merasa stres. Dia takut kehilangan Kinan dan dia takut Ayu memandang rendah Kinan kalau Ayu sampai tahu pengkhianatan yang sudah ia lakukan dengan Kinan.
"Kau berubah Arya. Kau kasar sekarang. Ada apa denganmu? Aku cuma bertanya dan aku bertanya dengan nada halus dan lembut. Kenapa kamu........."
"Maafkan aku. Aku lelah. Jadi, tolong jangan banyak nanya dan jangan ceriwis dulu, oke?" Arya duduk dan langsung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi tamu yang ada di depan ruang rawat inapnya Christian.
Dokter Kenshin memberikan penjelasan ke Kinan, "Saya sudah berhasil membuat suami Anda sadar dari komanya. Namun, dia masih belum bisa merespons dengan sempurna. Dia masih perlu terapi"
__ADS_1
"Terima kasih banyak Dokter Kenshin"
"Sama-sama. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter. Anda tidak perlu berterima kasih lagian Anda membayar saya dengan sangat mahal"
Kinan tersenyum dan bertanya, "Apa saya boleh melihat suami saya dan berbicara dengan Suami saya, Dok?"
"Boleh. Tetapi untuk saat ini, dia hanya bisa menatap, menggerakkan bola mata, dan mengangguk pelan. Suami Anda masih belum bisa berbicara, menggerakkan kedua tangan dan kedua kakinya"
"Baik, Dok"
"Silakan temui dan berbincang dengan suami Anda. Saya permisi dulu"
"Terima kasih, Dok" Sahut Kinan.
Sepeninggalnya Dokter Kenshin, Kinan melangkah pelan menghampiri bed suaminya. Dia kemudian duduk di tepi bed dan menatap wajah tampan suaminya yang bermata sipit, berhidung mancung sempurna dan dulu Kinan mau diajak berkencan untuk pertama kalinya saat ia dan Christian masih sama-sama kuliah karena Christian, mirip dengan aktor Korea favoritnya dan karena Christian, pria terpopuler di kampusnya saat itu. Kinan merasa bangga bisa berkencan dengan cowok terpopuler di kampusnya saat itu. Dan akhirnya cowok terpopuler itu menjadi suaminya dan sudah memberinya seorang putra yang sangat tampan.
Dia bangga menjadi Istri seorang CEO muda yang sangat tampan dan sukses. Dia melambung dan merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini karena Christian selalu memuja memanjakannya. Dia sungguh tidak pernah menyangka kalau pria tampan yang tengah ia tatap dalam-dalam itu tega mengkhianatinya.
Kinan tersentak dari lamunannya saat ia melihat air mata tiba-tiba mengalir turun dari pelupuk mata Christian. Kinan mengusap air mata itu sambil bertanya, "Kenapa kamu menangis, Mas?"
Christian menggerakkan bibir dan ingin mengeluarkan banyak kata, namun tidak ada satu pun kata yang terdengar. Pria itu kemudian menangis sesenggukkan dan Kinan langsung memeluk tubuh suaminya sambil berkata, "Mas masih belum pulih benar. Mas akan diterapi mulai besok. Yang sabar, ya, Mas"
Setelah berhasil menangkap Christian dan berhasil membuat Christian kembali tertidur dengan belaian dan senandung merdunya, Kinan melangkah keluar dari kamar rawat inap itu tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
Arya langsung bangkit berdiri dan bertanya, "Apa keputusan kamu?"
Kinan dan Ayu sontak melotot ke Arya secara bersamaan.