Sweet Sin

Sweet Sin
Bab 11 Terrible Secreet


__ADS_3

Richard duduk bersandar pada kursi pesawat, sembari menutup matanya dengan kaca mata hitam, di telinganya terpasang headset. Sementara


Niken duduk sambil matanya menekuri jendela pesawat, melihat ke luar, hamparan awan bagaikan kapas. Sesekali matanya melirik ke samping, kepada sosok yang sangat dirindukannya. Rasa perih tiba-tiba menyeruak dan menyiksa batinnya, dia seakan merasa sangat tak berdaya karena harus berpura-pura menjadi orang lain demi keselamatan diri dan anaknya bahkan mungkin demi suaminya.


Rasa takut pada maut untuk dirinya sendiri mungkin tak akan membuat dia bersembunyi, namun melindungi buah cintanya dengan Richard adalah keniscayaan yang mengharuskan dia menelan semua duri dan menikmati luka berdarah akibat menahan hati untuk merengkuh kekasihnya


****


Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pertemuan dengan klien, meninjau proyek yang sedang digarap kemudian penanda tanganan kontrak kerja sama, seminggu terlampaui dalam kesibukan luar biasa. Natasya sangat mampu mendampingi Richard baik  sebagai sekretaris hingga assisten pribadi.


Hari ini hari terakhir mereka di Bali, pekerjaan sudah selesai, hanya tinggal dua kota dan terakhir ke Korea Selatan, tepat nya Seoul.


Niken menemani Richard makan siang. Terlihat sikap dan tutur kata Richard terhadap Niken mulai mencair. Sesekali dia mengajak Niken membicarakan hal di luar pekerjaan. Bahkan sesekali Richard mengeluh batapa ingin dia mengakhiri hidupnya yang penuh penderitaan. Kehilangan istri yang sangat dicintainya semakin membuat guratan luka itu bersimbah darah dan sulit untuk mengering. Richard bilang dia bernafas hanya untuk bisa menyaksikan orang yang merenggut satu-satunya wanita yang dicintainya meringkuk di penjara .


Niken  menitikkan air mata. Gurat luka dan kepedihan yang maha terukir jelas di mata elang lelaki itu.


Richard sesekali meminta Niken menghubungi detektive yang menangani penyelidikan tentang pelaku pembunuhan istrinya. Walaupun kasus itu nampak berjalan di tempat, Richard tidak berputus asa.


Dan siang ini berita yang diterima Richard dari Samuel, detektive yang menangani kasusnya sangat mengejutkan.


Mobil hitam yang mencelakai Niken di puncak telah di temukan di pembuangan mobil bekas dan hampir dihancurkan. Namun kesigapan Samuel dan tiga rekannya membuat mobil yang hampir dihancurkan dapat di selamatkan. Ketika diselidiki pemilik mobil itu dua orang lelaki bernama Bimo dan Sakti namun ketika hendak ditangkap ternyata keduanya ditemukan gantung diri di apartemen masing-masing. Kejanggalan bunuh diri itu sedang diselidiki pihak berwajib.


Richard semakin yakin ada hal lebih besar dari menyembunyikan pembunuhan istrinya.


Niken bergidik mendengar cerita Richard tentang nasib dua lelaki suruhan itu.


"Maaf Mr. Rich, boleh saya bertanya sesuatu yang sangat pribadi, mungkin saya akan bisa membantu menyelidiki menghilangnya istri anda dan juga siapa dalang di balik semua ini."


Richard  terdiam, ragu dia menatap mata Niken. Sejenak Richard seperti tenggelam di telaga mata itu, mata Niken yang selalu membuat Richard jatuh cinta setiap menatapnya.


Mungkin pesona telaga bening di sorot mata Niken ini satu-satunya yang tidak mampu Niken sembunyikan dalam penyamarannya.


Namun Richard seperti menyadari kesalahannya, itu bukan mata istrinya, tapi mata Natasya, Sekretaris sekaligus assisten pribadi dan bodyguardnya.


"Apa yang ingin kamu tahu Natasya!"

__ADS_1


Richard mengalihkan tatapannya kearah lain agar tidak langsung bersitatap dengan Niken.


Niken bergetar saat menyadari betapa suaminya sangat merindukannya.


"Apakah anda sudah mencoba menyelidiki kehidupan anda sendiri? orang-orang di sekitar anda bahkan orang tua anda? dan mungkin bisa dimulai dari mengingat masa kecil anda yang menurut cerita anda barusan, sangat menyedihkan."


Niken menatap wajah Richard yang berubah kelabu, dan mata elang itu berubah kelam.


"Ya, Natasya, aku akan memulai semua penyelidikan ini dari situ, dan akan aku serahkan padamu, selama ini aku tidak memiliki orang yang benar-benar di pihakku, namun saat mengenalmu aku yakin kamu bisa aku percaya. Berhati-hatilah memulai penyelidikan ini, sebagai referensi pertama kamu harus mengenal mereka satu persatu. Aku memiliki paman yang selalu berpura-pura baik dan sok akrab bahkan terkadang lebay. Aku punya ibu tiri yang tinggal di rumah lain, namun adik tiriku tinggal di rumah kami.


Di sisi ibu ada kepercayaan beliau, Om Helmi Subrata, dia sudah lama ikut di sisi ibu, ada beberapa orang lagi yang aku tidak begitu familiar, di sisi ayah ada Ayahnya Ersa, dia Politikus yang sangat di kenal dan akan mencalonkan diri sebagai Gubernur. Dan seorang pengacara ternama  juga seorang hakim yang saat ini berkuasa. Nanti aku akan berikan kepadamu rincian mereka di satu buku, agar kamu bisa memulai mengenal mereka."


Richard menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi di  VVIP room, tempat mereka makan siang.


"Bagaimana dengan Miss


Cyntia?"


Richard menghela nafas dalam.


Niken termenung memikirkan kenyataan bahwa Tante Cyntia mengaku sebagai ibu sambungnya selama puluhan tahun. Memang terasa sangat janggal, kenapa Tante Cyntia yang bekerja sambilan sebagai akuntan freelance bisa membiayai hidupnya dengan layak. Padahal pekerjaan itu tidak benar-benar ditekuninya.


Seolah-olah rekening bank miliknya tidak pernah kosong. Niken yakin ada keterkaitan antara Tante Cyntia dengan masa lalunya yang hilang.


"Natasya, kenapa kamu melamun sampai tidak mendengar kata-kataku."


Richard menatap marah pada Niken


Niken terkesiap dan meminta maaf.


"Aku sedang memikirkan dari mana aku mulai menyelidiki ini."


Niken memberi alasan.


"Untuk hari ini cukup sampai di sini, ingat jangan khianati kepercayaanku, aku bisa kalap dan gelap mata. Dan aku tidak menjamin kamu selamat kalau berani main dua kaki."

__ADS_1


Richard berdiri dan meninggalkan Niken yang masih memikirkan situasi yang di hadapinya.


Richard tiba-tiba berbalik arah kepada Niken dan menunjukkan ponselnya yang berdering.


Richard kembali duduk dan menerima panggilan itu yang ternyata dari  Samuel.


"Ya Sam, ada apa?"


Richard me loudspeaker ponselnya.


"Bimo dan Sakti memang di bunuh, kami menemukan liontin  berukir bunga di apartemen Bimo, seperti liontin tidak biasa,  setelah aku cek harganya sangat fantastis. 1M, dan ini limited edition hanya ada tiga diproduksi di dunia."


Samuel terdiam sejenak.


"Maksudmu, pemilik liontin itu adalah pembunuh mereka?"


Samuel mengiyakan.


Niken dan Richard saling bertukar pandang.


"Sudah ketemu pemiliknya?" tanya Richard dengan gelisah dan resah tak terukur.


"Sulit, designernya orang asing, dan menurut info yang kami tahu dia berlibur di Korea Selatan. Tapi kami akan menunggu dia kembali ke Jakarta."


Samuel meminta Richard bersabar.


Sebelum Samuel menutup sambungan telepon, Richard meminta identitas designer perhiasan itu. Dan selanjutnya dia meminta jadwal pertemuan  di dua kota besar di Indonesia di tangguhkan, untuk di dahulukan


ke Korea Selatan, yang seharusnya ke Korea Selatan di akhir perjalanan bisnisnya.


To be continue,


Lanjut?!


Sisakan jejakmu dengan like dan komen.

__ADS_1


Salam kenal dari Kadariah Burhan.


__ADS_2