Sweet Sin

Sweet Sin
Bab 7 Connecting Line


__ADS_3

Bab 7 Connecting Line


Pagi begitu indah, sinar mentari pagi menyeruak di kisi jendela kaca apartemen mewah milik Richard. Niken masih terlelap di bawah selimut, sementara Richard asik memasak di dapur, walaupun hanya memasak nasi goreng spesial untuk mereka berdua. Richard menghidangkan makanan yang di masaknya di meja makan dan beranjak menuju tempat tidur, membangunkan Niken yang masih tampak lelap. Mungkin  kelelahan sehabis hipnoterapi kemarin.


Richard menyingkap gorden yang menutupi kaca jendela dan semburat mentari menyeruak ke peraduan. Niken mengerjapkan mata karena silau


Saat membuka matanya dia mendapati wajah Richard yang tersenyum di hadapannya.


"Bangun sayang, sarapan sudah siap, telur mata sapi tanpa putihnya udah siap beserta nasi goreng kesukaan kamu."


Richard menarik Niken untuk bangun. Namun Niken menariknya ke tempat tidur, Richard jatuh menindih kekasihnya.


"Kamu sexi banget dengan celemek itu honey." goda Niken.


Richard tertawa geli dan melemparkan celemek beserta seluruh pakaiannya. Niken tertawa senang. Mereka memadu keindahan pagi dengan sempurna di bawah semburat mentari yang hangat menyentuh kulit.


Keduanya terpana saat melihat jam dinding, sudah lewat jam 12 siang. Beruntunglah ini weekend, tak ada scedule penting bagi keduanya.


Niken mengambil t-shirt dan celana pendek kemudian mengenakannya, mengikat tinggi dan asal-asalan rambutnya, berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Richard beranjak dari peraduan hanya dengan celana pendek, mengambil handuk dan segera menarik Niken yang sedang menyeruput kopi panas.


Keduanya mandi bersama dengan niat untuk mempersingkat waktu, namun yang terjadi sebaliknya.


Pengantin baru ini seakan melupakan ancaman Ayah Richard dan mengabaikan peringatan Ibunya. Mereka menikmati kebersamaan tanpa memperdulikan semua kesulitan yang mungkin saja akan segera mengintai mereka.


Setelah mandi keduanya menghadapi nasi goreng yang di panaskan kembali.


Niken dengan lahap memakan nasi goreng dan kuning telur mata sapinya, sementara putihnya di habiskan suaminya.


"Dulu saat masih kecil aku punya sahabat yang menyukai telur mata sapi hanya kuningnya seperti kamu, dan aku selalu kebagian hanya putihnya." tutur Richard sembari tersenyum.


"Lelaki atau perempuan?" tanya Niken singkat.


"Perempuan, cinta pertamaku." sahut Richard cuek.


Niken merengut cemburu. Wajahnya cemberut.


"Hem, awas kalau kamu berpaling padanya lagi, atau jangan-,jangan itu Elfa?"

__ADS_1


Richard menggeleng, sorot matanya berubah kelam.


"Dia sudah meninggal dalam kebakaran hebat bersama orang tuanya."


"I am sorry honey." ucap Niken pelan. Dia beranjak mendekati suaminya dan memeluk kepala lelaki itu di dadanya.


"It's oke dear, semua sudah lama berlalu, hanya saja rekaman ingatan saat dia melepaskan tanganku demi membiarkan aku selamat  membuatku merasa sangat bersalah. Saat itu hanya satu orang lagi yang bisa ikut dengan team penyelamat, dan dia mendorongku masuk, dan melepaskan genggaman jemari mungilnya. Setelah itu aku tak sadarkan diri


Aku tak tahu apa yang kemudian terjadi pada gadis kecil itu. Namanya Kinan."


Niken dan Richard kembali melanjutkan sarapan pagi. Cerita sedih tentang gadis kecil itu tiba-tiba membuat Niken seperti terganggu, berkali-kali dia ingin bertanya namun di urungkan.


"Sayangku, Niken, jangan pernah menghilang dari hidupku ya, aku ngga tahu caranya untuk kembali hidup normal kalau itu kamu lakukan, jangan mati tanpa izinku."  Richard menatap lembut wajah istrinya. Sembari sebelah tangannya menggenggam jemari istrinya. Niken mengangguk dan menuntaskan suapan terakhir nasi gorengnya, meneguk orange jus dan berpindah duduk di pangkuan Richard.


"Ya sayang, aku ngga akan mati dengan mudah." Niken menunduk dan mengecup kening Richard.


Mereka saling berpelukan.


*****--------*******---######_____


Setibanya di rumah, Richard membawa Niken menemui Ibunya.


Bu Minati hanya menggelengkan kepala dan tampak sangat khawatir.


"Dimana ayah Bu?" Richard menatap lembut pada wanita yang sudah menghadirkannya ke muka bumi ini.


"Dia menunggumu di ruang makan, semua sudah berkumpul termasuk Om Hardy dan Septian sepupumu."


Ibu menarik Niken dan berbisik di telinganya.


"Kamu sangat berani menceburkan diri ke dalam keluarga ini, andai bukan karena Richard, aku sudah lama melarikan diri."


Niken menatap lembut pada mertuanya. Kemudian membalas bisikannya.


"Satu hal yang sama dari kita Bu, kita melakukannya demi orang yang sama, saya beranikan diri demi Richard."


Richard tersenyum melihat kedua wanita yang sangat dicintainya tampak sangat dekat. Walau Richard tidak mengetahui apa yang keduanya bicarakan, namun dengan melihat raut wajah Niken yang tampak tanpa tekanan itu membuatnya percaya semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


Baru saja mereka hendak masuk ke ruang makan ketika Niken nampak terkejut melihat seseorang berdiri di sudut meja makan dengan pakaian resmi blezer hitam, wanita yang dilihat Niken itu tidak menyadari kehadiran Niken.  Meja panjang di penuhi aneka makanan yang tertata sangat rapi, beberapa pelayan wanita berdiri di sudut ruangan. Sementara Ayah Richard, dan beberapa anggota keluarga duduk menunggu Richard. Ayah terkejut karena Richard tidak sendirian seperti perintahnya, namun bersama Niken istrinya.


"Berani sekali kamu membawa wanita tidak jelas ini kemari." Ayah berdiri dengan telunjuk mengacung pada Niken. Matanya berapi-api.


Wanita yang mengenakan blezer hitam menoleh ke arah Niken. Dia tersentak kaget seakan melihat hantu di siang bolong. Niken dan wanita itu saling menatap namun wanita itu pura-pura tidak mengenal Niken, dia berbalik meninggalkan ruang makan di ikuti beberapa pelayan.


"Dia istriku, bagian sangat penting di hidupku, bukan wanita ngga jelas seperti yang Ayah katakan."


Pertengkaran hebat terjadi di ruang makan, tak ada satu orang pun yang menyentuh makanan lezat yang terhidang di meja,  oh salah Ibu Minati ternyata menyendokkan nasi dan lauk pauk kedalam Piringnya. Dengan cuek beliau menyuap makanan itu seakan tidak terpengaruh dengan kekacauan yang terjadi. Ayah beranjak pergi meninggalkan meja makan dengan wajah merah padam.


"Kutunggu kamu di ruang kerjaku Richard, tanda tangani surat pelepasan hak warismu!"


Ayah melemparkan serbet ke wajah Bu Minati. Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu tidak menggubris dan tetap menikmati makan malamnya.


Richard mengikuti ayahnya, sementara Om Hardy dan Septian pulang. Niken beranjak menuju dapur dan menemui wanita yang di kenalnya dengan baik. Sepertinya wanita itu kepala pelayan di rumah megah ini.


"Tante Cintya, kenapa Tante bisa ada di sini?"


Niken menyapa wanita yang ternyata adalah Ibu sambungnya yang sudah lama meninggalkannya dan mengaku telah menikah.


"Niken tolong, berpura-puralah tidak mengenalku. Kamu tidak akan tahu apa yang bisa menimpa dirimu kalau ...."


Niken tertegun mendengar ucapan Tante Cyntia yang tidak selesai karena tiba-tiba Richard datang menggenggam jemarinya.


"Kalian saling mengenal?" tanya Richard.


Tante Cyntia menggeleng cepat.


"Nona ini meminta segelas teh Tuan muda." sahut Tante Cyntia. Richard menatap Niken dan Niken mengangguk.


"Aku sangat terkejut dengan pertengkaran di ruang makan. Jadi rasanya segelas teh bisa menenangkan." elak Niken dengan sempurna.


Richard mengangguk dan mengambil gelas kemudian menyeduh teh terbaik untuk istrinya.


Keduanya pulang tanpa berpamitan dengan Ayah. Hanya Ibu Minati yang mengantar mereka sampai gerbang.


To be continue ke BAB 8

__ADS_1


__ADS_2