
"Apakah kamu merindukan aku, Kinan? Aku melihatmu beberapa hari yang lalu. Kamu mengintip dari jendela lantai dua rumah kamu"Arya berbisik seraya menempelkan bibirnya di telinga Kinan.
Kinan bergeming. Dia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Dia takut menambah dosa dengan mengatakan kebohongan ke Arya. Dia merindukan Arya, jujur, iya, dan jika ia membuka mulut ia hanya akan berkata, tidak.
Arya kembali berbisik, "Kenapa diam? Diam Berarti, iya, kan?"
Akhirnya Kinan terpaksa menambah lagi daftar dosa-dosanya dengan berkata, "Tidak"
Arya nekat mengecup leher Kinan dan kembali ke telinga Kinan, menempelkan bibirnya di sana untuk berbisik, "Benarkah? Kau diam beberapa saat yang laku. Kau tidak langsung menyangkalnya Berarti kamu memang merindukan aku. Kamu belum melupakan aku, Kinan. Aku bisa melihat dari reaksi tubuh kamu saat ini. Hati kamu boleh terus ingkar, mulut kamu boleh terus berkata tidak, tetapi aku bisa merasakannya. Kamu merindukan aku. Kamu juga mencintaiku. Katakan, Kinan! Katakan!"
Kinan sontak bangkit berdiri di saat dirinya tidak kuat lagi merasakan napas hangatnya Arya yang berhembus pelan di telinganya.
Arya langsung menarik tangan Kinan dan itu membuat Kinan terpelanting dan terduduk di atas pangkuannya Arya.
Kinan sontak bangkit berdiri dan Arya langsung menahan pahanya Kinan sambil berkata, "Kenapa wajah kamu merah seperti itu? Aku benar, kan? Kamu memiliki rasa yang sama denganku" Arya kemudian menarik bibir Kinan dan menciumi bibir merah alami nan ranum itu dengan penuh kelembutan.
Kinan tersentak kaget dan sebelum ia terbuai dengan ciuman itu, Kinan mendorong dada Arya dan langsung bangkit berdiri untuk berlari meninggalkan Arya dengan derai air mata dan sambil berlari wanita itu terus menggosok bibirnya dengan punggung tangannya.
Arya langsung mengejar Kinan dan di saat ia berhasil meraih tangan Kinan, dia menarik tangan Kinan dan memeluk tubuh ramping wanita pujaan hatinya itu dengan berkata, "Maafkan aku! Aku khilaf. Aku sungguh-sungguh tidak bisa menahan diriku untuk tidak mencium kamu kalau berada dekat denganmu, Kinan. Karena aku sungguh-sungguh mencintaimu"
Kinan menangis kencang di dalam pelukannya Arya. Dia menangis dengan perasaan yang rumit. Dia lelah dengan semua yang terjadi di dalam hidupnya. Dia sungguh-sungguh merasa lelah.
Arya mengusap punggung Kinan sambil berkata, "Aku akan selalu ada untukmu. Kalau kamu butuh pelukanku, butuh untuk aku hibur, butuh bahuku untukmu bersandar, butuh bantuanku untuk merawat suami kamu, aku bersedia"
Mendengar kata suami, Kinan langsung mendorong dada Arya untuk melepaskan diri dari pelukannya Arya.
Arya mengusap air mata di kedua pipi Kinan dan sambil menunduk ia berkata, "Beban kamu sangat berat jangan kamu tanggung sendiri! Jangan hanya diam dan berpura-pura kuat, Kinan. Mintalah tolong dan aku akan selalu siap menolong kamu. Tapi, aku mohon jangan mendorongku lagi untuk jauh darimu. Please?!"
__ADS_1
Kinan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan dan berkata, "Apakah kamu mau membantuku merawat suamiku?"
"Hmm" Arya menganggukkan kepala dengan wajah tulus dan penuh semangat.
"Sungguh?" Kinan mendongakkan wajahnya untuk menatap kedua bola mata Arya.
"Sungguh. Aku tahu Papa kamu sibuk dan sangat jarang bisa membantu kamu merawat suami kamu. Suami kamu juga menolak semua terapis dan perawat yang kamu bawa ke rumah, kan. Siapa tahu kalau sama aku dia mau"
"Lalu, pekerjaan kamu? Kata Ayu kamu sangat sibuk. Bahkan kamu nggak da waktu untuk Ayu dan......."
Arya meletakkan jari telunjuknya di bibir Kinan, "Kalau untuk kamu, aku akan selalu luangkan waktu. Aku akan datang ke rumah kamu setiap Sabtu dan Minggu. Aku akan tutup klinikku di hari itu agar kamu bisa beristirahat penuh dan aku yang akan mengurus suami kamu" Arya tersenyum dan mengusap rambut Kinan.
"Baiklah. Kita coba sekarang. Kita temui Mas Christian apa dia mau kalau kamu membantuku merawat dia. Tapi, dengan catatan kamu jangan melakukan hal-hal yang aneh lagi padaku. Lupakan aku! Kita nggak mungkin bersama"
"Oke. Aku nggak akan lakukan hal yang aneh-aneh padamu" Arya mengulas senyum dan menyilangkan kedua jarinya di punggung agar Kinan tidak melihatnya.
"Ayo kita ke rumah kamu sekarang" Ucap Arya.
"Hmm" Kinan mengangguk lemah dan berputar badan dengan pelan.
Beberapa menit kemudian, Arya dan Kinan sampai di depan pintu megah rumah mewahnya Christian. Di saat Arya nekat menggandeng tangannya, Kinan sontak menarik tangannya dan berkata, "Jangan menggandeng tanganku! Ada Ayu di dalam. Aku tidak mau membuat Ayu sedih"
"Maaf. Aku refleks melakukannya" Sahut Arya sambil menggaruk kepalanya dan meringis di depan Kinan.
Kinan hanya bisa menghela napas panjang.
Ayu membukakan pintu dan langsung memeluk Arya dengan pekik, "Ah! Kamu mau masuk ke rumah ini lagi, Sayang! Aku senang sekali"
__ADS_1
Alih-alih membalas pelukannya Ayu, Arya justru melirik Kinan.
Kinan melangkah terus tanpa menoleh ke Arya dan Ayu.
Arya mendorong pelan kedua bahu Ayu dan berkata, "Aku ingin menjenguk Kak Chris. Mumpung aku longgar, hehehehe. Aku ke kamarnya Kak Chris dulu, ya"
Ayu langsung menggelungkan tangannya di lengan Arya dan berkata, "Aku akan mengantarmu ke sana"
"Oke" Sahut Arya dengan senyum terpaksa.
Papanya Kinan tengah membantu Christian minum obat saat Kinan masuk ke dalam kamarnya.
Wanita cantik itu duduk di tepi ranjang dan saat ia menatap suaminya dengan wajah sedih, suaminya langsung menarik dia dan memeluknya tepat di saat Ayu dan Arya masuk ke dalam kamar itu.
Arya refleks mengepalkan kedua tangannya di saat hatinya didekap rasa cemburu melihat Kinan dipeluk oleh Christian.
Christian mencium pucuk kepalanya Kinan, kening Kinan, dan kedua pipi Kinan sambil berkata, "Maafkan aku, Sayang. Aku nggak akan berniat bunuh diri lagi. Aku harus kuat menghadapi semua ini demi kamu dan Arkan. Terima kasih atas kesabaran kamu selama ini dalam menghadapi aku dan kondisiku ini"
Papanya Kinan mengusap air matanya begitu juga dengan Ayu.
Sedangkan Arya semakin mengepalkan kedua tinjunya sambil berkata di dalam hatinya, tidak! Aku tidak akan sanggup merawat dia. Lebih baik aku pergi dari sini secara diam-diam mumpung semuanya tidak memerhatikan aku saat ini.
Saat Arya membuka handle pintu dan hendak keluar, pria tampan itu dikejutkan dengan teriakan Kinan, "Arya! Mas Christian mau kalau kamu akan merawatnya di hari Sabtu dan Minggu. Mas Christian sangat berterima kasih untuk itu"
Arya melepas handle pintu, berputar badan dengan pelan, dan dengan sangat berat hati dia mengulas senyum lebar, kemudian berkata, "Ah! Iya, Kak. Hai! Mari kita semangat bareng, berjuang bareng, mulai besok, ya. Biar Kak Chris cepat pulih seperti sedia kala"
"Amin" Sahut semuanya.
__ADS_1
"Terima kasih Arya" Sahut Christian dengan genangan air mata di kedua pelupuk matanya.