
Bab 5 Sadness
Setelah honey moon selama lebih dari setengah bulan di Paris dan beberapa kota di Eropa, Niken dan Richard kembali ke Jakarta. Richard membawa istrinya ke apartemennya.
Baru lima jam mereka sampai dan beristirahat, suara bel mengejutkan mereka.
Niken membukakan pintu dan dia tertegun, sosok wanita paruh baya yang cantik berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh selidik.
"Dimana Richard?" tanyanya singkat sembari melewati Niken yang berdiri terpaku karena kaget. Dia ingat pernah melihat Richard, Elfa dan wanita ini di restauran saat makan siang beberapa waktu lalu.
Richard yang hanya mengenakan celana under wear dan bertelanjang dada agak terkejut melihat kehadiran wanita yang ternyata adalah ibunya.
"Ibu, kenapa ke sini, bukankah Richard sudah bilang jangan pernah temui Richard disini. Ini privasi aku Bu."
Wanita yang dipanggil Richard ibu itu menatap tajam pada putranya.
"Kamu menyimpan wanita murahan di apartemen ini, untuk itu kamu ingin aku tidak datang kesini?" bentaknya dengan intonasi tinggi. Matanya tajam menatap Niken yang hanya memakai kemeja putih longgar milik Richard.
"Dia istriku Bu, bukan wanita murahan seperti yang Ibu bayangkan!" Richard menarik Niken ke sisinya.
"Kamu bilang apa barusan Richard, istri? Siapa yang memberi kamu hak untuk menikah diam-diam? Kamu mau seluruh hak waris perusahaan ayahmu terlepas? setelah semua perjuangan ibu bertahan di sisi ayahmu demi kamu, sekarang dengan mudahnya kamu bilang menikah? kamu letakkan dimana kewarasanmu!" bentak Ibunya Richard kalap dan putus asa berbaur menjadi satu.
Richard duduk terpaku di hadapan ibunya. Wanita itu menangis pilu. Seakan dia kehilangan segalanya. Seakan pernikahan Richard adalah berita buruk di telinganya. Niken segera mengganti pakaiannya dan duduk di samping Richard.
Lelaki dengan rahang kokoh itu meraih jemari istrinya, menggenggam erat seakan takut akan terpisah kalau dia tidak menggenggamnya.
"Sebelum ayahmu tahu, Ibu mohon hentikan kegilaanmu Rich." Ibu menatap mata Richard penuh harap.
"Maaf Bu, Rich sangat mencintai Niken, bahkan lebih dari yang bisa Ibu bayangkan."
"Tapi kamu bisa kehilangan kesempatan menjadi satu-satunya pewaris, ingat Rich Ayahmu punya anak lain selain kamu dari wanita lain!" ucap Ibu putus asa dan lirih suaranya seakan tercekat di tenggorokan.
"Aku ngga perduli Bu, kebahagiaanku adalah istriku, bukan harta milik Ayah. Aku akan membangun bisnisku sendiri." Richard tetap pada pendirian kokohnya.
__ADS_1
Ibu menghela nafas panjang. Seperti menyimpan beban yang teramat sangat berat di dadanya. Ibu pamit pada Richard dan tak sedikitpun menoleh pada Niken.
Sepeninggal Ibu yang mengguncang kedamaian rumah tangga seumur jagung yang di bina dua insan mabuk asmara itu, Niken duduk di sudut sofa, menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya.
Bahunya terguncang hebat. Seolah dia menelan madu yang nikmat kemudian muntah menjadi racun pahit yang kepahitannya mengalahkan empedu.
Richard meraih kepala Niken ke dalam dekap hangatnya. Dikecupnya puncak kepala Niken.
Dan temaram malam seakan menenggelamkan resah di puncak kesedihan yang menjalar di sela kalbu yang saling merengkuh dalam kepahitan.
Niken menyusupkan kepalanya di dada kokoh itu, menumpahkan buliran air mata yang menjadi lukisan putus asa dari jiwanya yang goyah dalam keraguan. Niken seakan merasa gamang dan tak mampu meyakinkan hatinya untuk merengkuh suami hebatnya di dalam puing asa yang berserak.
"Berjanjilah sayang, kamu akan kuat berdiri di sisiku, berjanjilah untuk tetap tak melepaskan genggamanmu pada hatiku."
Richard menatap tepat di mata kekasihnya. Mencoba menemukan keyakinan di sana, mencoba mencari kepastian cinta.
Niken mengangguk ragu, burai air mata terus merembes di pipi gadis itu. Richard mengecup kelopak mata itu dengan lembut.
*************************
Richard memberi kebebasan pada istrinya untuk melakukan apapun yang Niken sukai dan inginkan. Hal itu membuat Niken semakin mencintai suaminya. Pekerjaannya sebagai freelance make up juga terus ditekuni.
Bahkan Niken semakin ahli, bukan hanya menyulap wajah biasa-biasa saja menjadi sangat cantik, namun juga mampu merubah tampilan seseorang menjadi sangat berbeda, dari sangat cantik menjadi sangat jelek hingga tak bisa dikenali karena riasannya. Beberapa kali Niken di sewa untuk salah satu Production House ternama untuk make over wajah artisnya untuk keperluan membentuk karakter tokoh.
Niken di samping Richard bukan hanya sebagai istri namun juga menjadi diri sendiri. Richard mulai membawa Niken terapi mental bersamanya menggunakan Psikiater yang sama.
Walaupun kemajuan ingatan masa kecil Niken tetap tak tergali dengan mudah, namun ketakutannya berada di ruang sempit dan gelap mulai sedikit teratasi saat di sampingnya ada Richard.
Saat dia mencoba sendirian menaiki lift menuju apartemen mereka, tanpa Richard di sisinya, Niken akan memejamkan mata dan membayangkan kenangan manisnya bersama Richard saat pertama kali mereka bertemu di dalam lift. Walaupun saat keluar dari lift dia tetap berkeringat dingin dan sedikit sesak nafas. Namun itu jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Richard sudah menumbuhkan kenangan manis di dalam ingatan bawah sadar Niken untuk menekan trauma mendalam yang dimiliki Niken.
Siang itu Niken hendak beranjak dari kursi di ruang kerjanya, ketika gawainya berdering.
__ADS_1
Niken tertegun karena tidak mengenali nomer yang memanggil. Meskipun ragu mendera hatinya, Niken tetap mengangkat panggilan itu.
"Halo Niken, ini Ibunya Richard, tolong temui Ibu, nanti ada mobil warna silver menjemputmu di tempat kerjamu, tidak usah kasih tahu Richard, kalau kamu sungguh-sungguh ingin mendapat dukunganku."
Ibu nya Richard menutup sambungan telepon itu tanpa mendengar jawaban Niken.
******************
Wanita paruh baya yang tetap cantik di usianya mempersilahkan Niken duduk.
Mereka bertemu di sebuah private room sebuah restoran. Niken menatap langsung pada wajah Ibu mertuanya.
Hening sejenak ketika Ibu Minati, nama ibu mertuanya itu mulai membuka percakapan.
"Kamu mencintai suamimu Niken?" tanya Bu Minati serius dengan wajah tampak sangat lelah oleh kekhawatiran, entah tentang apa.
Niken mengangguk.
"Sangat Bu, saya sangat mencintai Richard." sahut Niken pelan namun nampak terlukis ketegasan di kalimat itu.
"Kamu tahu kalau Richard memiliki trauma mendalam karena sebuah sebab? Itu karena ayahnya. Kamu bisa bayangkan bukan? bagaimana reaksi Ayahnya Richard seandainya tahu Richard menikah diam-diam? Menikah tanpa meminta restu darinya? Semua pengorbanan saya, Ibunya, untuk melindungi Richard akan sia-sia, kamu pun akan berada di dalam bahaya yang tidak pernah bisa kamu bayangkan Niken. Menyerah lah, lepaskan Richard. Demi kebaikan kalian. Kamu tidak tahu siapa ayah Richard."
Bu Minati meraih tangan Niken yang berada di atas meja.
"Tolong Niken, pergilah diam-diam dari hidup Richard." mohon Bu Minati penuh iba.
Niken menggeleng pelan. Dilepaskannya genggaman Bu Minati pelan.
"Saya tidak akan mengingkari janji saya pada Richard Bu, mohon maafkan saya." Niken hendak beranjak meninggalkan Bu Minati, ketika beliau menangkap tangan Niken dan membawanya tergesa meninggalkan restoran dan bergegas menariknya masuk kedalam mobil dengan setengah berlari.
Nafas Bu Minati terengah hingga sulit berbicara. Sejenak hanya keheningan di dalam mobil yang melaju membelah jalan raya.
"Seseorang sedang mengikuti kita, kamu melihat dua orang yang berada di seberang ruang VVIP kita? Mereka nampak nya terus berada di sekitar kita sejak mulai dari parkiran restoran, mungkin mereka diminta seseorang mengintai kita berdua. Saya yakin suamiku, ayah dari Richard yang mengirim orang-orang itu." Bu Minati menjelaskan. Kemudian dia memerintahkan sopirnya untuk mengantarkan Niken sampai apartemen Richard.
__ADS_1
Niken bergidik. Dia mulai merasakan perasaan terancam. Walaupun Niken bukan gadis lemah, dia menguasai beberapa tehnik bela diri, namun situasi yang saat ini melingkari kehidupannya dan Richard sungguh mencekam.
To be continue ke BAB