
Matahari sudah menenggelamkan diri di ufuk barat sana. Cahayanya kini telah tergantikan oleh indahnya sinar rembulan.
Feli saat ini tengah berada di dalam mobil milik Jay yang sedang membelah jalanan ibu kota.
Jay menawarkan diri untuk mengantarkan Feli pulang, karena ia tahu betul, Feli tidak mungkin membawa kendaraannya sendiri.
Semenjak dua tahun yang lalu, Feli memutuskan untuk tidak lagi mengendarai kendaraan apa pun dengan tangannya sendiri, terutama mobil.
Kecelakaan yang merenggut nyawa sang ayah, sungguh menyisakan trauma mengerikan dan kesedihan yang mendalam bagi Feli.
Jangankan untuk mengendarai mobil, untuk menumpanginya saja, sebenarnya sudah memberi ketakutan tersendiri bagi Feli, terutama saat ia terpaksa harus duduk di kursi belakang.
Alasannya cukup bisa dipahami, karena saat kejadian kecelakaan dua tahun yang lalu, Feli dan sang ibu berada di dalam mobil yang sama dengan sang ayah.
Feli dan Luciana, saat itu duduk di kursi belakang dan menyaksikan bagaimana proses terjadinya kecelakaan yang telah merenggut salah satu orang terkasihnya tersebut.
Memiliki trauma pada kejadian mengerikan dan tidak bisa melupukannya, membuat Feli merasa hidupnya benar-benar terjebak di masalalu. Terlebih lagi, dirinya selalu menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu.
Jay yang saat ini tengah mengemudi sesekali menoleh ke arah Feli yang sejak awal perjalanan hanya berdiam diri.
Kepala gadis itu tertunduk, menatap jemari lentiknya yang ia mainkan di pangkuan dalam keadaan gemetar.
Jay membuang napas kasar. "Apa kau masih menjalani terapi dan meminum obat anti depressan?"
Feli menoleh sekilas ke arah Jay sambil tersenyum lirih. "Tentu. Apa kau pikir aku bisa masih ada di sini, jika tidak menjalani terapi dan rutin mengkonsumsi obat anti depresaan."
"Apa ada perkembangan yang berarti?" Jay menoleh ke arah Feli sekilas. "Misalnya, seperti berapa lama lagi kau harus menjalani kehidupan yang bergantung pada dua hal itu?"
Feli mendengkus lelah. "Entahlah."
Dahi Jay mengernyit keheranan. "Apa maksudmu dengan entahlah? Apa kau tidak menanyakan hal itu pada dokter yang menangani keadaanmu? Ini sudah dua tahun Feli. Tidak mungkin, tidak ada perubahan sama sekali, bukan?"
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kematian sang ayah menyisakan trauma mengerikan bagi Feli, hingga gadis itu tak jarang mengalami gangguan kecemasan yang cukup sulit dikendalikan.
Sampai akhirnya Feli harus berurusan dengan psikiatris dan obat anti depressaan yang sampai saat ini masih ia konsumi jika rasa panik berlebihannya menyerang.
Feli terkekeh getir sekilas. "Keadaanku tidak akan mudah membaik, jika setiap saat ada saja orang yang mengingatkanku pada kejadian hari itu," lirihnya perih dengan suara yang begitu pelan layaknya sebuah bisikan yang nyaris tak terdengar.
"Kau seharusnya tidak tinggal bersama Jane, jika seperti itu."
Ya, suara Feli memang sangat pelan, namun Jay masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Feli membuang napas kasar untuk kesekian kalinya. "Aku harap aku bisa. Tapi pada kenyataannya, semakin aku berusaha menghindarinya, semakin besar pula rasa bersalah yang aku rasakan."
Menoleh ke arah Jay yang masih fokus mengemudi., Feli menatap pria tampan di sampingnya itu dengan tatapan sendu, lantas ersenyum lirih. "Lagipula, aku tidak bisa meninggalkan rumah yang saat ini aku tempati, karena di sanalah kenangan indahku bersama ayahku tersimpan."
"Tapi bukankah rumah itu tidak hanya menyimpan kenangan indah? Tapi juga pasti kenangan menyedihkan?" Jay bertanya seraya menoleh ke arah Feli, sesaat.
Feli mengangguk samar. "Kau benar. Rumah itu tidak hanya memiliki kenangan indah, tapi juga memiliki kenangan yang menyedihkan. Namun, aku memilih untuk hanya mengengang kenangan indahnya saja dan melupakan kenangan menyedihkannya."
__ADS_1
"Lalu, kenapa kau tidak mencoba melupakan kenangan buruk soal kecelakaan ayahmu juga? Jika kenangan menyedihkan di rumahmu saja, bisa kau lupakan?"
Feli terkekeh seraya menundukan pandangan sekilas. "Apa kau pikir aku bisa memilih, mana yang bisa aku lupakan dan yang tidak?"
Gadis cantik itu berdecak pelan. "Itu hal yang berbeda Jay. Ada beberapa hal yang bisa kau lupakan dengan mudah tanpa kau berusaha, ada hal yang bisa kau lupakan dengan alasan hanya karena kau ingin melupakannya, dan ada pula hal yang sangat ingin kau lupakan, tapi kau tidak pernah bisa melupakannya tak perduli seberapa keras pun kau berusaha."
Jay mengangguk paham. "Hemm. Aku mengerti. Aku memiliki satu hal yang tak bisa aku lupakan, tak perduli sekeras apa pun aku sudah berusaha."
Dahi Feli mengernyit. Mata kecilnya sedikit memicing, menatap Jay keheranan. "Apa itu?"
Jay menghentikan mobilnya, lalu menoleh ke arah Feli dan menatapnya dengan tatapan sendu. "Cinta pertamaku saat SMA."
Feli terkekeh gemas. "Ah maksudmu gadis yang tidak sensitif yang sering kau ceritakan padaku?"
Bibir tipis Jay merenggang, mengulas senyum lirih, bersamaan dengan kepalanya yang mengangguk samar. "Hmmm. Entah tidak sensitif, atau memang dia bodoh." Ia menggindikan bahu. "Aku masih tidak mengerti."
"Seharusnya kau memiliki inisiatif sendiri. Nyatakan perasaanmu secara langsung." Feli membenarkan posisi tubuhnya, agar ia bisa menghadap ke arah Jay dengan posisi sedikit lebih baik. "Tapi kau tidak pernah memberitahuku, siapa gadis itu. Apa dia satu kelas denganku?"
Jay terkekeh gemas. Ia sangat menyukai momen seperti sekarang ini. Momen di mana ia bisa melihat rasa penasaran dan semangat ingin tahu dari bagaimana sorot mata Feli menatapnya. Sangat menggemaskan.
Memendarkan pandangan sembari membungkukan sedikit tubuh sebentar, Jay tersenyum setelahnya. "Kita sudah sampai. Apa kau tidak ingin turun? Atau kau mau ikut bersamaku, ke apartementku?"
Bibir Feli mengerucut lucu bersamaan dengan wajahnya yang menunjukan raut kecewa yang menggemaskan.
Feli membuka sabuk pengaman yang masih menyilang di tubuhnya seraya membuang napas kasar. "Kau selalu seperti ini. Menghindari pertanyaan yang selalu aku tanyakan selama delapan tahun terakhir."
Jay terkekeh tatkala netranya sibuk memperhatikan setiap pergerakan Feli. "Itu tidak penting. Untuk apa aku memberitahumu?"
Membuka pintu mobil Jay, Feli tersenyum manis sekilas. "Bagaimanapun, terimakasih karena sudah mengantarku pulang, pak Boss."
Dengan begitu, Feli pun beranjak dari mobil milik Jay dan kembali menutup pintunya. Gadis itu membungkukan sedikit tubuhnya agar bisa beradu tatap kembali dengan Jay yang masih duduk di kursi kemudi. "Apa kau tidak mau mampir dulu?"
Jay tersenyum tipis. "Tidak. Mungkin lain kali."
Feli mengangguk samar. "Baiklah. Kalau begitu aku masuk. Hati-hati di jalan dan sampai jumpa besok." Ia mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyum manis seraya melambaikan tangan ke arah Jay.
Jay tersenyum sambil membalas lambayan tangan Feli sebelum akhirnya mulai kembali mengendarai mobilnya dan pergi, meninggalkan halaman rumah milik kedua orangtua Feli.
Feli menggelengkan kepala tatkala netranya menatap betapa cepatnya mobil Jay melaju dari sana, tak seperti saat Jay mengantarkan dirinya pulang. "Dia selalu bisa membuatku merasa aman."
***
"Ibu, apa Feli belum pulang?" Jane bertanya tatkala ia mendudukan dirinya di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan.
Luciana yang saat itu tengah menghidangkan makanan di atas meja pun menoleh ke arah Jane. "Belum. Mungkin masih di jalan."
"Aku pulang!" Suara Feli mengudara, bersamaan dengan suara pintu utama yang terdengar terbuka.
Luciana menoleh ke arah sumber suara dengan raut wajah senang, sumbringah. "Itu dia."
__ADS_1
Dengan cepat menyelesaikan aktifitasnya, Luciana sangat bersemangat sekali untuk menyambut kepulangan Feli. "Feli Sayang, kau sudah pulang?" tanyanya, berbasa-basi
Feli yang saat itu tengah melepaskan higheelsnya pun menengadahkan pandangan, hingga netra teduhnya dan Luciana berhasil beradu tatap.
Feli tersenyum senang. "Ibu, jika aku belum pulang, aku tidak mungkin ada di sini," ejeknya.
Luciana tersenyum lirih sesaat. "Kenapa kau berangkat lebih awal pagi ini?"
"Aku hanya ingin." Feli memendarkan pandangan, sekilas. "Apa Kak Jane sudah pulang?"
Luciana mengangguk samar. "Hemm. Dia sedang berada di ruang makan."
Dahi Feli mengernyit, bersamaan dengan matanya yang sedikit memicing, menatap sang ibunda keheranan. "Di ruang makan?"
Gadis itu lantas tersenyum senang. "Pasti suasana hatinya sedang baik. Dia tidak pernah ikut makan bersama, bukan? Aku akan menemuinya sebelum ganti pakaian."
Hendak berjalan menghampiri Jane ke ruang makan, pergerakan Feli berhasil dihentikan oleh Luciana yang dengan cepat meraih pergelangan tangannya.
Feli tertegun, ia menatap cengkraman sang ibu sekilas. "Ada apa, Bu?"
Luciana menatap sendu sang putri. "Sebaiknya, tidak perlu. Malam ini, Ibu akan mengantarkan makan malammu ke kamar."
Rasa bingung seketika mengungkungi relung Feli. Pasalnya, tidak biasanya sang ibu membiarkan dirinya menikmati makan malamnya di dalam kamar.
Terkekeh canggung, Feli perlahan melepaskan genggaman Luciana dari tangannya. "Ibu, sikapmu sangat aneh."
Gadis itu tak memberi sedikit pun waktu bagi ibunya untuk memberikan penjelasan. Ia pergi begitu saja, menuju ruang makan tanpa rasa curiga sedikit pun.
Ia berjalan dengan semangat. Rasa senang terpatri jelas di raut wajah gadis itu. Ia sangat tidak sabar untuk bisa segera menikmati makan malamnya bersama sang kakak.
Feli bisa merasakan perutnya yang mulai keroncongan, karena ia tidak memakan makanan apapun sejak sore tadi.
Namun, sejurus kemudian, langkah Feli tiba-tiba terhenti seketika tatkala netranya berhasil menatap Jane dan Hayden tengah menikmati makanan mereka di meja makan.
Raut wajah Feli seketika terlihat dingin dan beraura gelap dalam satu kali kedipan mata.
Matanya membola, menatap Jane dan Hayden dengan rasa keterkejutan sekaligus ketidak sukaan di saat bersamaan.
"Feli." Luciana memanggil namanya untuk memberi sebuah peringatan, namun sudah terlanjur terlambat, karena hal itu, kini atensi Jane dan Hayden tertuju ke arah Feli.
Hayden tersenyum sinis sekilas. "Hey Adik Ipar. Kau baru pulang? Mau bergabung?"
Feli tersenyum manis, penuh kepalsuan seraya mencoba meredam kemarahan. "Tidak perlu. Aku sudah kenyang."
"Kau yakin?" Hayden bertanya untuk memastikan. Ia menatap Feli dengan mata yang sedikit memicing seraya menaikan alis sebelah kirinya.
Felu membuang napas jengah seraya memutar bola matanya malas. Ia memutar tubuhnya dan dengan cepat berjalan ke lantai atas, menuju kamarnya. Gadis itu sebisa mungkin mengabaikan Hayden.
Tak dapat dipungkiri bahwa kehadiran Hayden akhir-akhir ini seringkali membuat Feli benar-benar merasa jengkel. Terlebih lagi, Hayden selalu ada di mana pun ia berada.
__ADS_1
Jane terkekeh puas tatkala melihat bagaimana masamnya raut wajah Hayden saat menatap kepergian Feli. "Sepertinya kau harus berusaha lebih keras. Lihat, bukannya Feli yang merasa kesal, tapi justru sebaliknya."
Tbc ....