Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Pengkhianatan


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Namun, terasa begitu menyiksa bagi seorang Felisha.


Setelah kejadian malam itu, Feli merasa hidupnya benar-benar sudah berada di ambang kehancuran, begitu kacau.


Katakan saja, jika ia merasa seolah menjadi mayat yang seakan hidup untuk menikmati waktu yang berjalan begitu cepat tanpa melakukan apa pun.


Jika ia tidak salah mengingat dan salah melihat, hari di mana malam terburuknya itu berlangsung jelas-jelas angka di kalender layar utama ponsel miliknya menunjukan tanggal dua puluh Februari, tapi saat ia melihatnya pagi tadi, tanggal tersebut sudah berganti.


Dua puluh tiga Februari ... dua menuju ke tiga hari sudah berlalu, dan ia sama sekali belum bertemu dengan Hayden. Apa yang dia lakukan selama tiga hari ini? Entahlah.


Yang jelas, ia hanya diam dan terbangun di atas tempat tidur yang sama, dengan tempat tidur yang ia tempati tiga hari lalu, pagi ini.


Ia menunggu, berharap Hayden akan kembali malam itu, atau mungkin satu hari, sampai dua hari setelahnya.


Namun, tidak ada keajaiban yang terjadi padanya. Hayden tidak kembali. Dan ia kesulitan untuk menghubungi prianya tersebut.


'Apa Hayden sampai sekecewa itu padaku? Apa hanya karena pertamaku sudah direnggut pria lain, dia pergi meninggalkanku begitu saja?'


Kejamnya.


Namun, ia tahu, ia tidak bisa menyalahkan Hayden seutuhnya. Ini salahnya. Yang Feli tahu, Hayden pergi karena kesalahannya.


'Tidak. Ini bukan salahku. Jika Hayden memang benar-benar mencintaiku, dia tidak akan pergi begitu saja hanya karena dia bukan menjadi pertamaku.'


Benak dan hati wanita cantik itu sibuk bergelut, saling mencoba mendominasi sangkaan-sangkaan antara satu dan yang lainnya, yang jelas saling berlawanan, membuat Feli merasa kesulitan untuk bernapas setiap detiknya.


Di titik ini, ia hanya bisa menangis dalam diam, karena manahan deraian air mata saja, baginya dirasa percuma, sia-sia dan tidak akan pernah bisa.


Air mata kepedihannya terus berderai tanpa ia sadari, dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak dan sakit.


Tubuh Felu sudah seolah mati rasa. Ia merasa seakan kakinya tak lagi menapak di tanah, melayang tak karuan.


Pandangannya yang sudah kabur karena terhalang air mata yang tak berhenti sedetik pun berproduksi, tertunduk, mengarah ke bawah sana, menatap sepasang sepatu dan ujung dress putih yang ia kenakan.


Kakinya yang kelu membawanya kemari, berdiri di hadapan teras rumah milik orangtuanya.


Entah sejak kapan ia berdiri di sana, karena jujur saja, Feli sama sekali tidak mengingat, bagaimana caranya ia bisa berada di sana saat ini.


Apa pantas ia kembali ke sana, menemui sang ibu setelah apa yang ia alami? Terlebih ia mengingat kenyataan yang berhasil memukul keras dirinya.


Kenyataan bahwa tanpa ia ketahui, ia telah menandatangani berkas kepemilikan seluruh harta kekayaan milik sang ayah, yang saat ini sudah berpindah tangan menjadi atas nama Jane, berikut dengan rumah yang saat ini ada di hadapannya.


Feli menarik napas dalam seraya mengatupkan pelupuk matanya, lalu mengembuskannya secara perlahan.


Ia menengadahkan pandangan, menatap rumah besar yang memiliki berjuta kenangan di hadapannya itu, beberapa saat, sebelum ia memutuskan untuk berjalan, menuju pintu utama.


Langkahnya lemah dan berat, bersamaan dengan sekujur tubuhnya yang mulai gemetar hebat.


Degup jantungnya berpacu sangat cepat dan semakin cepat di setiap detiknya saat ia melangkah semakin dekat, sampai membuka pintu utama rumah tersebut, tanpa mengetuk.


"Felisha?"


Kedatangan Feli kala itu disambut oleh sang ibunda - Luciana, yang menatapnya nanar, penuh keterkejutan.


Luciana yang saat itu tengah berjalan menuju arah dapur dengan cepat mengubah tujuannya, berjalan cepat menuju Feli yang hanya terdiam menatapnya.


Wanita paruh baya itu lantas merengkuh tubuh gemetar sang putri ke dalam pelukannya. "Apa kau baik-baik saja?"


Bibir tipis Feli mulai gemetar, karena puncak dari tangis tanpa hentinya mulai kembali.


Memejamkan pelupuk mata, rapat-rapat, Feli menggeleng samar. "T-tidak, Bu. A-aku tidak b-baik-baik saja."

__ADS_1


Air matanya kembali berderai, menyentuh bahu sang ibu, membuat pakaian yang dikenakan beliau basah.


Luciana mengusap lembut surai hitam nan panjang Feli yang terurai. "Sshhh. Jangan menangis. Ibu di sini. Ibu akan selalu di sini. Semuanya akan baik-baik saja."


Membuang napas kasar seraya memejam sebentar, Luciana kemudian melepaskan tubuh Feli dari rengkuhannya.


Netra teduhnya menatap Feli yang seketika tertunduk, dengan tatapan sendu yang cukup sulit diartikan, tapi jelas memancarkan kesedihan juga rasa bersalah yang begitu mendalam, dalam satu waktu.


Bantalan jemari lentik Luciana yang bersuhu dingin, menyapu wajah cantik sang putri, mengusap air matanya secara perlahan meskipun air mata putri cantiknya itu tidak berhenti berderai.


"Apa kau sesedih ini, karena Hayden pergi meninggalkanmu?"


Feli seketika menengadahkan pandangan, menatap sang ibu dengan mata yang membola pun dengan raut wajah yang memancarkan betapa terkejutnya ia. "B-bagaimana I-Ibu bi-bisa tahu?"


Luciana terkekeh sekilas, meremehkan. "Tentu, Ibu tahu."


Raut wajah Luciana seketika berubah, yang awalnya terlihat begitu sedih, tiba-tiba nampak santai, bahkan kelewat acuh. "Inilah kenapa, Ibu tidak menyukai Hayden. Ibu tidak merestui Hayden saat dia meminta ijin pada Ibu untuk melamarmu."


Feli memaku, menatap sang ibu, masih dengan raut wajah terkejutnya. Satu pernyataan dan disusul pernyataan lainnya yang mencengangkan, cukup untuk membuat Feli mematung di sana.


Luciana membuang napas kasar sambil tersenyum, seolah menganggap masalah yang saat ini tengah ia perbincangkan dengan Feli, hanyalah masalah sepele.


"Hayden itu seorang playboy. Dia suka mempermainkan wanita, sama seperti ayahmu."


Telinga Felisha mulai berdengung. Kepalanya mulai berdenyut nyeri, luar biasa. Benaknya terlalu lambat untuk memahami dan mengerti keadaan ataupun situasi yang saat ini sedang terjadi.


Pandangan wanita cantik itu berpendar, menjalar ke segala penjuru arah, sedang manik matanya gemetar.


Seuluruh sudut ruang yang ia tatap, terlihat berputar dalam pandangan Feli, membuat wajahnya mengernyit dan tubuhnya sedikit limbung.


"A-Aku lelah. I-Ibu, aku akan p-pergi ke kamarku," ucap Feli datar, sembari berjalan menuju anak tangga rumahnya.


"Tunggu dulu, Feli. K-kau tidak bisa pergi ke k-kamarmu sekarang," tukas Luciana terbata, membuat Feli menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan heran.


Raut wajah Luciana kembali berubah dengan sangat cepat, terlihat begitu gugup dan cemas, membuat Feli berasumsi bahwa sang ibu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Dengan seluruh tenaganya yang tersisa, Feli menghempas tangan Luciana yang masih mencengkram tangannya. Lalu dengan cepat, dan penuh usaha, ia melangkah, menuju tujuannya yang sebelumnya.


"Feli! T-tidak. K-kau tidak boleh ke atas!" Luciana mencoba sembari berusaha menghentikan Feli, tapi Feli tentu tidak mengkhiraukannya.


Dengan langkahnya yang limbung, Feli terus melangkahkan kakinya yang sudah gemetar dan kehilangan tenaga, menuju kamar miliknya.


Dan begitu tiba, ia tidak membuang waktu dan langsung membuka pintu kamar miliknya tersebut.


Hal pertama yang ia lihat, membuat benaknya kembali bergelut, untuk bersyukur, atau marah saat ini.


Hatinya hancur untuk kesekian kalinya, lebih hancur daripada sebelumnya. Di sana. Di dalam kamarnya ia melihat Hayden.


Feli melihat Hayden tengah bercu-mbu dengan seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan merupakan kakaknya sendiri, yakni Janessa.


Kegiatan menjijikan suami dan kakaknya itu terhenti, ketika mereka menyadari keberadaan Feli, di sana.


Hayden dan Jane, serempak menoleh ke arah Feli. Mereka tidak terlihat begitu terkejut, justru terlihat begitu tenang, bahkan terlihat senang.


Gila memang.


Air mata kepedihan Feli lagi-lagi mengalir, menguras seluruh tangis kepedihannya yang masih membuncah, tak terelakan.


Tubuh gemetar wanita cantik itu tidak lagi memiliki tenaga. Ia tersungkur, terjerembab, mengikuti hatinya yang lebih dulu hancur di sana.


Jane terkekeh, melihat Feli dalam keadaan memprihatinkan seperti itu, ia lantas menoleh ke arah Hayden sambil menyeringai, penuh kepuasan. "Babe, sepertinya kita ketahuan."

__ADS_1


Sudut bibir sebelah kiri Hayden menukik tajam, hingga memetakan seringaian yang begitu kejam. "Menyedihkan!"


"B-bagaimana - Bagai-bagaimana b-bisa kalian me-melakukan ini padaku?" Pertanyaan Feli lolos dengan suara lirih yang terdengar begitu perih.


Wanita cantik itu, susah payah sekali menyuarakan kepedihannya.


Jane yang kala itu tengah berada di posisi berbaring - menindih tubuh Hayden, bangkit.


Gadis itu berjalan, mendekati Feli yang menatapnya dengan tatapan yang penuh akan kekecewaan.


Jane berlutut di hadapan Feli, lalu menyeringai ngeri. "Thanks to you. Berkat dirimu, aku akan hidup bahagia bersama Hayden, menikmati kekayaan yang ditinggalkan ayahmu."


Feli mengalihkan atensinya ke arah Hayden yang saat itu sudah mendudukan dirinya di tepian tempat tidur, mencoba menatap manik mata jelaga indah sang suami, mencari rasa bersalah, atau setidaknya rasa iba terhadap dirinya.


Tapi tidak. Feli tidak menemukannya sedikit pun. Tidak ada tanda-tanda rasa bersalah, atau pun iba, apalagi rasa cinta sama sekali.


Dalam manik jelaga indah milik pria tampan yang dulu sekali selalu menatapnya penuh cinta itu, kini Feli lihat, hanya ada tatapan penuh kebencian.


Tentu satu kenyataan menyakitkan itu berhasil membuat Feli kembali hancur untuk kesekian kalinya.


"Ha-Hayden. Bukankah k-kau mencintaiku? K-kenapa kau melakukan ini padaku?" Feli bertanya dengan nada getir, selagi membiarkan manik matanya yang berkaca juga dikelilingi iris yang memerah, menatap Hayden, lamat.


Mengabaikan pandangan yang sebenarnya mengabur, sebab terhalang oleh genangan air mata yang juga tak berhenti mengalih membasahi pipi, bahkan sampai membentuk aliran anak sungai, Feli tak memiliki niatan sedikit pun untuk berpaling.


Jane menoleh ke arah Hayden, membuat Hyden juga mengalihkan atensinya ke arah Jane.


Pandangan mereka berdua beradu beberapa saat, sebelum akhirnya sama-sama teralihkan ke arah Feli.


Gelak tawa Hayden dan Jane pecah, seakan menikmati kekacauan Feli yang menjadi hiburan bagi mereka.


"Kau konyol Felisha. Kau pikir, setelah apa yang kau lakukan pada Hayden, Hayden masih akan tetap mencintaimu?" sarkas Jane.


Terdiam, bergeming beberapa saat, selagi masih membiarkan pandangannya tertuju ke arah Hayden, Feli menggigit bibir bawahnya yang gemetar dengan sedikit kuat.


Menunduk sembari memejam, meski hanya sesaat, membuat air mata yang menggenang, seketika tumpah ruah, wanita cantik itu perlahan menoleh ke arah Jane yang masih berlutut di hadapannya. "K-kenapa Kakak tega melakukan ini padaku? K-kenapa Kakak tega menghancurkan perasaanku?!"


Jane terkekeh sinis, sekilas. Meremehkan. "Tidak, Sayang. Bukan aku yang tega menghancurkan perasaanmu. Hanya saja ... perasaanmu yang terlalu lemah dan mudah untuk dihancurkan. Kau tidak akan sehancur ini jika perasaanmu sedikit kuat."


Tersenyum miring, Jane mendekatkan wajahnya ke permukaan daun telinga Feli, memastikan hanya menyisakan beberapa inci saja jarak terbentang di sana.


Ruat wajah Jane seketika berubah jadi dingin dan datar, bahkan beraura gelap, membersamai tatapannya yang tajam, cukup mengintimidasi, kendati terarah pada permukaan ambang pintu. "Jangan pernah mempercayai orang-orang di sekitarmu dengan mudah, karena sekalinya mereka menghkianatimu, pengkhinatan merekalah yang akan terasa paling menyakitkan dari apa pun. Yang terlihat baik, belum tentu benar-benar baik Feli. Jangan terlalu naif," bisiknya.


Membuang napas kasar seraya menundukan pandangannya sebentar, Jane kemudian kembali tersenyum. "Kau tahu, aku memilki alasan kuat untuk menghancurkanmu kapan saja. Tapi seseorang yang saat ini menghancurkanmu bukanlah aku, tapi orang tedekatmu yang mengatakan, bahwa dialah orang yang paling menyayangimu di dunia ini."


Feli menoleh ke arah Hayden yang hanya diam menatapnya. "K-kenapa kau melakukan ini padaku?"


Menjauhjan wajah dari Feli, Jane menoleh ke arah Hayden, menatap pria tampan itu dengan tatapan yang cukup sulit diartikan, lalu kembali memokuskan atensinya lagi ke arah Feli.


Jane tersenyum simpul. "Bukan dia yang harus kau salahkan Feli. Tapi dirimu sendiri, karena kau telah mempercayai orang yang salah, sampai akhirnya kau merenggut kebhagaiaanku. Kau merenggut satu-satunya orang yang menyayangiku, Felisha!"


Feli tertegun. Telinganya kembali berdengung. Kepalanya berdenyut lagi, semakin kacau dan lebih sakit daripada sebelumnya.


Wanita cantik itu menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan yang sudah gemetaran. Air matanya masih setia, menemani kehancuran dunia dan hatinya.


Feli menggelengkan kepala dengan cepat. "T-tidak. Itu bukan salahku."


Dada Feli mulai sesak, seakan ratusan kilo gram beban telah menimpanya di sana, membuatnya kesulitan untuk bernapas. "I-itu b-bukan salahku."


"FELISHA!"


Tbc .....

__ADS_1


__ADS_2