
Bagaimana sebenarnya Felisha bisa tahu, bahwa Hayden dan Jane bekerja sama untuk mendapatkan tanda tangannya?
Anggap saja, itu sebuah kebetulan, kebetulan yang berhasil membuat hati Feli terkoyak, namun ia berusaha untuk tetap terlihat tegar di hadapan Hayden dan Rosa.
Pagi tadi tepatnya satu kebenaran itu telah Feli ketahui.
Saat itu ... Feli hendak bertanya pada Hayden, tentang letak pakaian miliknya yang ia bawa ke rumah Hayden.
Pasalnya, Feli belum begitu hapal, tepatnya di lemari sebelah mana, pakaiannya ditata, karena Hayden lah yang menyimpannya semalam.
Terlebih lagi, mengingat ruang walk in closet milik Hayden yang begitu luas, membuat Feli yang terbilang tidak suka membuang waktu, lebih memilih cara instan dengan bertanya.
Namun siapa sangka, niatnya itu ternyata membawa Feli dengan tidak sengaja mendengar perkataan Hayden yang mengejutkan, karena kala itu Hayden tengah melakukan panggilan suara dengan Jane.
Feli ingin marah.
Namun, apakah ia berhak?
Setelah ia mengetahui apa yang Hayden alami dari sang mertua - Emely, semenjak kejadian malam itu, atau lebih tepatnya malam yang disebut malam pengkhianatan dua tahun yang lalu, apakah ia berhak untuk marah?
Pada akhirnya, untuk yang kesekian kalinya, Feli lebih memilih untuk memendam segalanya sendirian, seperti biasanya.
Saat itu juga, Feli mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Hayden dan memilih untuk pergi ke kamar.
"Apa sebenarnya yang sedang kalian rencanakan Hayden, Jane?" Feli terus bertanya-tanya.
Baik dalam benak atau pun bergumam tanpa ia sengaja. Pertanyaan yang sama terus berputar di dalam kepalanya, bak sebuah rekaman abadi yang mampu membuat dirinya gila kapan saja.
'Haruskah aku bertanya? Haruskah aku menanyakan segalanya?'
Feli berakhir dengan menangisi semua pertanyaan menyebalkan dalam benaknya itu. Ia cukup lama berdiam diri di dalam kamar dan meloloskan semua rasa bingung sekaligus kecewanya, bersama dengan air mata yang tak berhenti tumpah.
Lalu, hal lainnya yang membuat Feli bimbang adalah, ketika ia berbincang dengan Rosa saat sarapan.
Saat Feli mengatakan, "karena aku, adalah gadis yang mengkhianatinya dua tahun yang lalu pada hari di mana Hayden akan melamarku."
Tentu Rosa teramat sangat terkejut, sekaligus tidak percaya. Mata Rosa membola, menatap Feli, kaget.
Feli membuang napas kasar seraya mengulum senyum lirih sekilas. Ia melepaskan kedua telapak tangan Rosa yang masih ia tengkup sembari menyenderkan tubuh ke kepala kursi yang ia duduki. "Mengejutkan, bukan Bi?"
Rosa terdiam, memaku atau lebih tepatnya membeku dalam posisi yang sama.
"Jadi, Hayden tinggal di sini semenjak dua tahun yang lalu?"
Rosa terhenyak. Beliau mengerjapkan pelupuk matanya berulang sebelum akhirnya menganggukan kepala, sebagai jawaban.
Kening Feli mengernyit. Matanya sedikit memicing, menatap Rosa, penuh terka. "Apa Bibi Rosa cukup dekat dengan Hayden? Sampai Hayden menceritakan perihal kisah cintanya?"
Sebuah embusan napas kasar berhasil lolos dari mulut Rosa. "Anggap saja begitu."
Feli mengangguk samar seraya membenarkan posisi duduknya. Ia siap melontarkan berbagai macam pertanyaan terharap Rosa, sembari menikmati sarapannya.
"Apa Bibi Rosa tidak keberatan, jika aku bertanya, apa saja yang Hayden ceritakan pada Bibi?" tutur Feli, bertanya dengan sangat hati-hati seraya mulai menikmati sarapannya yang sudah tertata di atas meja.
Feli dan Rosa tak lagi melakukan kontak mata. Hanya Rosa saja yang sibuk memperhatikan Feli dengan seksama dan penuh kehati-hatian.
Suasananya sedikit terasa tegang juga agak canggung, seolah sesi sarapan, sudah diubah menjadi sesi tanya jawab, tak ayal seperti sesi investigasi seorang polisi pada seorang tersangka kejahatan.
"Tuan Muda Hayden tidak begitu saja menceritakan kisah pilunya. Bibi yang memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu, karena Bibi tidak kuat, melihat tingkah Tuan Hayden yang semakin hari, semakin terlihat kacau."
Felisha yang tengah mengunyah makanan dengan pandangan tertunduk pun, seketika menengadahkan pandangan, menatap Rosa sembari menunjukan raut wajah tenang. "Apa maksud Bibi?"
"Bibi bekerja dengan Tuan Hayden, setelah dua bulan dia tinggal di sini. Setiap harinya, Tuan Hayden selalu pulang dalam keadaan mabuk berat dan terlihat begitu frustrasi. Bibi kira, itu karena mungkin masalah pekerjaan. Tapi pada suatu malam ...."
Dua tahun yang lalu ....
Rosa menyaksikan betapa hancurnya hidup Hayden, selepas mengetahui bahwa kekasihnya tidur dengan pria lain.
Mungkin, lebih tepatnya, malam itu merupakan tepat tiga bulan, setelah kejadian yang menghancurkan hati seorang Hayden Brent Wilson, terjadi.
Anggap saja, malam itu merupakan puncak dari rasa frustrasi Hayden yang terlanjur membuncah, akhirnya meledak.
__ADS_1
Malam itu Hayden kembali ke rumah, sementara Rosa masih di sana, menyiapkan makanan untuk makan malam.
Rosa tahu betul, jam berapa biasanya Hayden akan pulang, karena rumah Rosa terletak tak jauh dari rumah yang Hayden tempati.
Hampir setiap hari, Rosa selalu menunggu Hayden pulang terlebih dahulu, sebelum beliau pulang ke rumahnya.
"SIAL!"
Rosa dibuat terhenyak dan sedikit tersentak karena mendengar pintu utama rumah Hayden terbuka dengan suara bantingan yang cukup keras, diikuti dengan umpatan Hayden yang sangat lantang.
Rosa yang kala itu tengah berada di ruang makan pun, tak membuang banyak waktu untuk segera menghampiri Hayden.
"Astaga, Tuan Hayden. Apa kau baik-baik saja?" Rosa bertanya seraya berlutut di hadapan Hayden yang saat itu sudah mendudukan diri di lantai dengan tubuh yang bersandar di dinding.
Matanya mengatup. Keadaannya kacau. Wajahnya penuh luka lebam, seperti habis baku hantam dengan seseorang. Sungguh, mengkhawatirkan.
Rosa dibuat panik, bingung dan juga cemas, dalam satu waktu. Beliau mencoba menyentuh bahu Hayden, memastikan, bahwa Hayden masih sadarkan diri. "Hayden?"
Hayden membuka matanya perlahan. Netra sayunya yang terlihat lemah, layaknya orang mabuk, beradu tatap dengan netra Rosa yang menatapnya, penuh kecemasan. "Baby, kenapa kau membuatku seperti ini? Kau membuat hidupku kacau."
Rosa dibuat semakin bingung. Ia mencoba mengguncang bahu Hayden secara perlahan. "Sadarlah Nak Hayden, ini Bibi Rosa."
Air mata kepedihan seketika lolos dari pelupuk mata Hayden yang lebam. Pria tampan itu tertunduk lesu. "Aku tahu."
"Kenapa kau pulang dalam keadaan seperti ini? Apa kau berkelahi dengan seseorang?"
Hayden perlahan menengadahkan pandangan. Ia tersenyum. Tersenyum lirih, penuh kepedihan. "Aku berkelahi dengan hatiku sendiri. Aku tidak bisa melupakannya, Bi."
Dahi Rosa mengernyit. Matanya sedikit memicing, menatap Hayden, heran. "Melupakan siapa?"
Hayden menyeka kasar air mata yang masih menggenang di pipinya. "Aku tidak bisa lagi memendam semua ini sendirian. Bisakah Bibi mendengarkanku? Hanya dengarkan saja. Bibi tidak perlu melakukan apa pun."
Rosa hanya mengangguk, mengiyakan. Bagaimana ia bisa menolak, setelah melihat Hayden kacau seperti itu.
Sebenarnya, Rosa sudah biasa melihat Hayden pulang dalam keadaan mabuk, bahkan tak jarang beliau mendengar Hayden menangis di dalam kamarnya, mengurung diri setelah menikmati makan malam.
Hayden terkekeh getir sekilas. Pandangannya lurus, menuju ke arah depan. Namun, terlihat begitu kosong. "Ada seorang gadis yang sangat aku cintai, Bi. Sekitar tiga bulan yang lalu, aku berniat melamarnya, tapi aku justru mendapatinya tengah bersama pria lain di dalam kamarnya."
Hayden membuang napas kasar. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, tapi hatiku ...-" Ia menjeda perkataannya cukup lama, seraya mengalihkan pandangan, menatap Rosa dengan tatapan sendu, "hatiku yang bodoh ini, terus menolak kebenaran itu. Hatiku masih mempercayainya. Hatiku meyakini, bahwa dia tidak mungkin mengkhianatiku. Aku sangat ingin membencinya dan melupakannya, tapi hatiku yang bodoh ini, justru memintaku untuk tetap mencintainya," imbuhnya.
Hayden terkekeh getir untuk kesekian kalinya. "Rumah ini." Ia berucap seraya memendarkan pandangan, menelisik setiap sudut ruang. "Aku bahkan pindah ke rumah ini, hanya untuk membayangkan, bagaimana kehidupan rumah tanggaku akan berjalan, jika malam itu aku berhasil melamarnya dan mengajaknya menikah."
"M-maksudmu, kau membeli rumah ini, untuk kau tinggali bersama istrimu?"
Hayden mengangguk samar sembari melempar senyum manis. "Hemmm. Rumah ini, merupakan rumah yang ingin aku tempati bersamanya selepas kami menikah. Desain dan interior di dalamnya, bahkan kusesuaikan dengan seleranya."
"Kau hanya menyakiti perasaanmu sendiri Hayden. Kau seharusnya tidak melakukan ini, jika kau memang berniat untuk melupakannya," tutur Rosa dengan nada lemah lembut, penuh kasih dan pengertian, layaknya seorang ibu.
Hayden terkekeh getir. "Aku tahu." Ia menatap Rosa dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, bahkan air mata sudah lolos dari pelupuknya sejak awal ia berucap, menceritakan kisah pilunya. "Lalu, apa yang harus aku lakukan, Bi? Aku tidak bisa melupakannya, tapi di sisi lain, aku tidak ingin mengingatnya."
"Apa kau sudah meminta penjelasan darinya? Seperti, kenapa dia mengkhianatimu?"
Hayden mangangguk samar. "Dia hanya diam. Tidak mengatakan apa pun tentang itu. Dia justru mengusirku."
Rosa mendengkus. "Kau menanyakannya secara langsung? Saat itu juga? Di waktu yang sama, saat kau melihatnya dengan pria lain?"
Hayden mengangguk sekali lagi.
Rosa tersenyum, membuat Hayden keheranan.
"Apa setelah itu, kau tidak mencoba menanyakannya lagi?"
"Tidak. Dan aku tidak mau," tegas Hayden.
"Baiklah. Jangan lakukan itu. Jangan sekarang, tapi nanti, setelah kau berhasil mengalahkan egomu sendiri." Rosa membuang napas kasar. "Kau masih sangat mencintainya, Nak. Itulah sebabnya, hatimu masih menginginkannya. Tidak perduli seberapa keras egomu terus menyuruhmu membencinya dan melupakannya, kau akan tetap mencintainya, mempercayainya, karena cintamu terhadapnya, sangat tulus. Kau mencintainya dengan sepenuh hatimu. Satu kesalahan yang dia perbuat, sebesar apa pun itu, hal itu tidak akan menggoyahkan cintamu, karena hatimu masih merasakan, betapa hangat dan kuatnya cinta kalian, antara satu dan yang lainnya. Biar kutebak, kau cukup lama mengencani gadis ini?"
"Empat tahun."
Rosa terkekeh gemas sekilas. "Lihat? Empat tahun, bukankah itu waktu yang cukup lama? Sekarang katakan padaku, apa gadismu itu sering membuat kesalahan patal, selama kau berkencan dengannya?"
Hayden menggeleng samar. "Tidak. Justru sebaliknya. Aku yang seringkali melakukan kesalahan, tapi dia selalu memaafkanku."
__ADS_1
Rosa membuang napas kasar seraya melempar senyum simpul. "Lalu, kau tidak bisa memaafkannya?"
Hayden mengepalkan kedua telapak tangan, hingga urat nadi dan pembulu darah yang merambat di sana, juga di pergelangan tangannya jelas terlihat mengerat. Sorot matanya tajam, syarat akan kebencian. "Bagaimana aku bisa memaafkannya begitu saja, jika aku melihat dia bersama pria lain di dalam kamarnya, dan ketika aku meminta penjelasan, dia malah mengusirku?"
"Lihat. Itu egomu. Hatimu bisa memaafkannya, karena kau masih sangat mencintainya. Tapi egomu tidak, karena egomu merasa perbuatannya telah melukai egomu tersebut. Kau harus bisa mengontrol itu Hayden, jika kau ingin memperbaiki segalanya. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti, saat egomu sudah tidak menguasai dirimu. Tapi pastikan, kau bisa memperbaiki segalanya, sebelum terlambat."
Sejak saat itu, Hayden mulai membaik. Tidak dengan cara instan memang, karena seperti apa yang Rosa katakan, Ego Hayden terlalu menguasai dirinya, hingga mampu menutupi perasaanya yang sesungguhnya pada Feli.
Hayden masih sering mabuk-mabukan, tapi setidaknya, semakin hari, semakin berkurang, tidak separah di awal ia pindah - menempati rumah barumya.
...***...
"Maaf, karena butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk melawan egoku sendiri," lirih Hayden, terdengar begitu perih.
Feli dan Hayden kini tengah duduk di tepian tempat tidur mereka. Feli mengatakan, hal apa saja yang Rosa ceritakan padanya pagi tadi. Dan ia tidak berhenti menangis.
Rasa bersalah, rasa syukur, marah dan terima kasih, bekecamuk dalam relungnya, dalam satu waktu. Mencoba saling menonjolkan diri, hingga membuat Feli merasa bimbang dan tidak tahu, apa yang harus ia lakukan.
Hayden mengusap lembut punggung Feli, mencoba menenangkan dan memberi rasa nyaman, sebisa mungkin. "Apa sudah merasa lebih baik?"
Feli mengangguk samar. Air mata tak henti-hentinya mengalir, membasahi wajah cantiknya.
Hayden tersenyum gemas sebelum akhirnya, merengkuh tubuh mungil sang istri ke dalam pelukannya.
"Kau percaya p-padaku, kan? Bahwa aku tidak m-mengkhianatimu?" Feli berucap - bertanya dengan terbata di sela tangisnya.
Hayden mengangguk samar seraya mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Feli. "Tentu."
"L-lalu k-kenapa kau seolah b-berusaha menyakiti perasaanku s-sebelum menikah denganku? K-kau bahkan datang ke rumahku dan mengatakan, kau ingin melamar Kakakku. Kau juga b-berkata, bahwa k-kau membenciku. D-dan yang paling p-parah, kau membuatku mengira, bahwa kau telah menghamili Ja-Jane. U-untuk apa semua itu?"
Hayden terkekeh gemas sembari memejam, sekilas. "Maafkan aku. Aku hanya ingin melihat, apakah kau masih mencintaiku atau tidak."
Feli dengan cepat melepaskan diri dari dalam pelukan Hayden, menatap Hayden yang masih menunjukan rona bahagia di wajahnya dengan tatapan tajam. "Apa maksudnya itu? Bagaimana bisa kau mengetahui, bahwa aku masih mencintaimu atau tidak, dengan cara seperti itu?"
Hayden menggindikan bahu, acuh. "Entahlah. Mungkin itu egoku yang meminta. Anggap saja, itu pembalasan."
Tangis Feli kembali pecah. "Kau keterlaluan, Hayden," rengeknya seraya memukuli dada bidang Hayden dengan kedua telapak tangannya yang mengepal.
Tawa Hayden pecah, melihat bagaimana kesalnya Feli terhadapnya. "Aku tahu, aku tahu. Maafkan aku."
Hayden meraih kedua tangan Feli, menggenggamnya dengan sangat erat, namun tetap mengutamakan kelembutan.
"Berhentilah menangis dan menyuruhku untuk pergi meninggalkanmu, karena aku tidak akan pernah melakukannya." Hayden berucap seraya menghapus airmata Feli dengan bantalan ibu jari tangannya.
"Kau merencanakan semua ini dengan Jane? Untuk apa?"
Hayden membuang napas kasar. "Tentu untuk mejadikanmu milikku. Tapi Jane mengira, bahwa aku membencimu, jadi dia mengajakku melakukan kerja sama, dengan keuntungan, aku bisa balas dendam padamu, sementara dia, mendapatkan seluruh kekayaan ayahmu."
Feli tertegun. Air mata kembali berderai dari pelupuknya.
Hayden menggenggam kedua telapak tangan Feli, sembari mengusapnya dengan sangat lembut. "Tapi aku menerima tawarannya, hanya karena aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa menikah denganmu dan berusaha memperbaiki segalanya. Kau percaya padaku, kan?"
Feli menundukan pandangan sekilas. "Entahlah. Aku tidak tahu. Bagaimana jika kau ternyata benar-benar ingin balas dendam padaku? Kau bisa melakukan segala hal untuk membuat egomu puas bukan?"
Hayden membuang napas kasar lagi. "Baby. Kau tahu aku sangat mencintaimu, bukan? Kau pikir satu kesalahan yang tidak kau sengaja saja, bisa membuat cintaku padamu hilang begitu saja?"
Dahi Feli mengernyit. Matanya sedikit memicing, menatap Hayden, keheranan. "Tidak ku-kusengaja?"
Hayden mengangguk samar. "Hemm. Aku sedikit tahu, apa yang dua tahun lalu terjadi, itu bukan salahmu, tapi salah pria baji-ngan itu."
"B-bagaimana kau yakin akan hal itu, s-sedangkan aku sendiri saja, tidak me-mengingat apa pun yang terjadi malam itu?"
Sudut bibir sebelah kiri Hayden menukik tajam, hingga memetakan seringaian ngeri penuh arti. "Kau tidak ingat, Bibi Rosa menceritakan padamu bahwa dua tahun yang lalu, aku pulang dalam keadaan babak belur? Aku berkelahi dengan seseorang malam itu."
Mata Feli membola. Napasnya tercekat untuk beberapa saat. Jantungnya berdegup dalam tempo yang begitu cepat.
Satu terkaan, muncul begitu saja dalam benaknya.
Terkekeh lirih, wanita cantik itu menggeleng, tidak percaya. "T-tidak mungkin?"
Hayden mengangguk samar sembari mengulum senyum sinis, penuh kepuasan. "Ya, malam itu..., aku berkelahi dengan Jimmy."
__ADS_1
Tbc ....