
Rangkaian demi rangkaian acara pesta resepsi sudah Feli lewati dengan sempurna.
Sungguh, bukan perkara mudah bagi wanita cantik itu untuk tetap tersenyum pada semua orang demi melalui detik-detik terakhir pesta pernikahannya.
Dari mulai melalui sesi foto bersama sebelum acara pesta dilangsungkan, guna menghemat waktu saat acara pesta dilangsungkan, menunggu pesta dimulai, perkenalan antara kedua keluarga mempelai, pengumuman mempelai wanita yang kini telah resmi menjadi bagian keluarga Wilson, begitu pun dengan sebaliknya.
Masih banyak lagi rangkaian acara yang berhasil Feli lewati dan itu sungguh membuat Feli merasa lelah. Terlebih mengingat kondisinya yang tidak begitu baik.
Dan setelah sekitar dua jam bersabar melalui segalanya, akhirnya wanita itu bisa sedikit bernapas lega. Ia bisa sedikit bersantai, karena sudah hampir tiba di penghujung acara.
Keluarga dari kedua belah pihak mempelai tengah disibukan untuk berkeliling, menyapa tamu undangan yang hadir.
Jangan tanya bagaimana Luciana bersikap saat ia diharuskan untuk mendampingi Feli dan memperkenalkan dirinya sebagai mertua Hayden di hadapan semua orang, terutama teman-teman media.
Dengan berat hati dan terpaksa, beliau harus bersikap normal, memancarkan senyum bahagia karena tidak ingin rasa resahnya terhadap pernikahan sang putri yang terkesan sangat mengejutkan baginya, tercium oleh orang lain dan berakhir memberi efek buruk pada nama baik keluargaya, pun keluarga Hayden.
Berbanding terbalik dengan keluarga dari pihak mempelai pria yang terkesan lebih santai dan memancarkan rona bahagia, tanpa adanya paksaan dan kepalsuan.
Feli dan Hayden juga saat ini tengah melakukan hal yang sama, yakni berkeliling menyapa tamu-tamu yang datang sembari menunggu acara pesta itu berakhir, seutuhnya.
"Hayden, kau memang benar-benar cerdas dalam memilih seorang gadis." Salah satu teman Hayden yang saat itu sedang berkumpul bersama Hayden pun Feli bersuara, sembari menatap Feli yang tentu tengah berdiri di samping Hayden. "Dia sangat cantik," imbuhnya.
Hayden terkekeh senang seraya menoleh ke arah Feli sekilas, sebelum ia melingkarkan lengan kekar sebelah kirinya di pinggang mungil sang istri. "Dia tidak hanya cantik, tapi sangat sempurna."
Feli sedikit tersentak sebab sentuhan Hayden yang dirasanya begitu tiba-tiba, tapi bukan itu alasannya. Ia sedikit tersentak karena ia tidak begitu fokus pada apa yang terjadi di sekelilingnya.
Di sepanjang acara berlangsung, benak Feli tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi di dalam kamar hotel yang Hayden tempati.
Oh tidak. Hanya memikirkan kecerobohan dan kebodohannya yang membuat Hayden dengan senang hati menikmati pemandangan indah yang ia suguhkan tanpa disengaja, sudah mampu membuat pipi wanita cantik itu merona. Lebih dari itu. Pipinya bisa saja memerah bak kepiting rebus, karena ia merasa sangat malu.
Feli menggigit bibir bawahnya, mencoba melawan rasa gugup yang terlanjur mengungkung, ia benar-benar tidak mendengar apa yang tengah Hayden perbincangkan dengan temannya itu.
Feli lantas menoleh ke arah Hayden dan menatapnya dengan raut wajah bingung yang tampak lugu juga menggemaskan dalam satu waktu.
Wanita cantik itu sedikit menjinjitkan tumit, agar bisa menyamai tinggi badan sang suami yang cukup timpang jika dibanding dengan tubuhnya. "Apa kau membicarakan sesuatu tentangku?" bisiknya lembut, tepat di dekat daun telinga Hayden.
Hayden terkekeh gemas sekilas seraya menoleh ke arah Feli, lalu menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
Feli tertunduk saat itu juga. "T-tidak ada."
Dua orang pria tampan yang tengah berdiri di hadapan Hayden dan Feli, menatap mereka dengan tatapan heran.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat marah Hayden?" Salah satu pria angkat suara sembari tertawa. "Apa kalian bertengkar di hari pernikahan kalian?"
Hayden menoleh ke arah dua pria yang dapat dipastikan merupakan temannya itu. Ia tersenyum simpul. "Tentu saja tidak."
Pria lainnya menyikut si pria yang tadi angkat suara. "Sam, berhentilah menggoda mereka."
Pria yang dipanggil Sam itu terkekeh, sekilas. "Baiklah. Aku tidak akan lagi menggoda pengantin baru ini."
__ADS_1
Hayden dan kedua temannya tertawa bersama, sementara Feli hanya diam, memperhatikan, seperti orang bodoh.
Feli menatap Hayden dan kedua temannya secara bergantian. "Siapa mereka? Sepertinya aku baru kali ini bertemu dengan mereka," celetuknya tanpa disadari.
Ketiga pria tampan yang sibuk tertawa itu, seketika menoleh ke arah Feli yang tengah menatap mereka dengan raut wajah bingung.
Sam menoleh ke arah Hayden. "Astaga. Apa kau menikahi gadis yang selama ini kau rahasiakan dari teman dekatmu, Hayden?"
Hayden mengindikan bahu, acuh. "Aku tidak punya pilihan lain, karena kalian tidak pernah menganggap aku bisa menjalani hubungan serius dengan satu wanita saja."
Kenyataan memukul benak Feli, membuatnya menyadari bahwa selama ia berkencan dengan Hayden, Hayden tidak pernah memperkenalkan dirinya pada teman-temannya sebagai kekasih atau semacamnya.
Hayden justru seringkali memperkenalkan Feli sebagai sahabat dekatnya, tidak lebih.
Namun, Feli tidak pernah merasa keberatan akan hal itu. Ia yakin, Hayden pasti memiliki alasan.
"Tentu saja. Siapa yang akan mempercayai playboy dan juga fuckboy ulung sepertimu begitu saja?"
Sam tertawa renyah setelah mendengar pernyataan temannya yang seketika mampu membuat Hayden terkekeh, tidak percaya.
"Aku setuju dengan Ryan," timpal Sam.
Feli yang tak paham akan apa yang sedang menjadi inti permasalah pun, memilih untuk mengabaikan mereka.
Wanita itu berusaha mencari keberadaan Anna. Ia memendarkan pandangan, menelisik keadaan sekitar, namun pandangannya tiba-tiba terfokus pada seorang pria bersetelan jas serba hitam, tengah menatapnya dari kejauhan.
Feli tertegun. Manik hazelnya beradu tatap dengan manik pria asing yang menatapnya dengan tatapan aneh dari kejauhan itu.
Feli menoleh cepat ke arah Hayden. "Hayden, boleh aku pergi ke toilet sebentar?"
Hayden sedikit menundukan pandangan, menatap wajah cantik Feli. "Mau aku temani?"
Feli menggeleng samar. "Tidak perlu," sanggahnya seraya melepaskan diri dari rengkuhan Hayden. "Aku akan segera kembali."
Tidak membuang lebih banyak waktu, Feli dengan cepat pergi dari sana, meninggalkan Hayden dan kedua temennya.
Hayden menatap sosok istrinya yang perlahan menjauh, pergi ke arah di mana pria asing yang sempat beradu tatap dengan Feli tadi, menghilang.
"Apa kau tidak akan menyusulnya?" Ryan bertanya seraya menoleh ke arah Hayden.
"Aku akan menyusulnya nanti, jika dia lama tidak kembali."
Sedang Feli, selepas bergegas pergi meninggalkan Hayden, ia memokuskan seluruh atensinya ke depan, menatap punggung si pria asing yang terus menjauh dari pandangannya.
'Aku yakin, aku tidak salah lihat dan salah ingat. Dia orangnya.'
Feli mempercepat ayunan kakinya tatkala ia melihat si pria merubah arah, berbelok di sebuah lorong yang cukup sepi.
"Hey kau! Berhenti di situ!" Feli memberi sebuah titah dengan intonasi yang agak sedikit meninggi di sela deru napasnya yang mulai terengeh, mutlak penuh tuntutan, inginnya sama sekali tidak mendapatkan penolakan.
__ADS_1
Si pria asing yang membelakanginya pun, seketika menghentikan langkahnya di sebuah koridor panjang yang nampak sepi, tidak ada siapa pun yang berlalu lalang di sana.
Feli dengan penuh kehati-hatian terus melangkah, mendekati pria tersebut tanpa mengalihkan pandangan. "Kau bukan? Kau orangnya!"
Si pria memutar tubuh, memposisikan diri untuk saling berhadapan dengan Feli manakala ia menyadari, jarak Feli berdiri, sudah cukup dekat dengannya.
Sudut bibir sebelah kiri pria itu menukik tajam, mengulas seringaian ngeri sekilas. "Kau masih mengingatku?"
Feli menelan ludahnya dengan susah payah. Kegugupan, ketakutan dan kemarahan, jelas tergambar di raut wajah dan sorot matanya. "J-jadi benar? K-kau Jimmy?"
Pria asing itu terkekeh senang, sekilas. "Wah. Kau bahkan masih mengingat namaku?"
Kedua telapak tangan Feli yang mulai sedikit berkeringat, mengepal kuat, meremat gaun yang ia kenakan di kedua sisi tubuhnya. "Kenapa kau ada di sini? Siapa yang mengundangmu?"
Pria bernama lengkap Jimmy Maxwell Griffin itu mendengkus kasar seraya tersenyum sinis, penuh kebengisan. "Aku diundang oleh kakakmu, Janessa"
"Ja-Jane? A-apa k-kau juga mengenal kakakku?"
Jimmy terkekeh gemas, sekilas. "Tentu saja, Babe. Aku sangat mengenal Kakakmu."
Jimmy menatap Feli dengan tatapan tajam seraya mengambil langkah maju perlahan, membuat Feli mengiringi setiap langkah yang ia ambil, dengan melangkah mundur untuk tetap menjaga jarak.
"Berhenti di situ!" titah Feli seraya menunjuk sosok Jimmy dengan jari telunjuknya yang mengacung.
Jimmy menyeringai ngeri penuh kepuasan. "Aku tidak mengira, kau akan menikah dengannya. Padahal, aku mulai tertarik padamu sejak malam itu. Aku berharap, bisa memilikimu, menjadikanmu milikku, Nona Felisha."
"Tapi sayangnya, dia sudah menjadi milikku sekarang," tukas seseorang, menginterupsi perbincangan yang terjadi antara Feli dan Jimmy, menyela perkataan Jimmy dengan suara bariton bernada dingin.
Feli dan Jimmy sontak menoleh secara bersamaan, memokuskan seluruh atensi mereka ke arah sumber suara yang berasal dari arah belakang Feli.
Mata Feli membola, begitu berhasil menangkap sosok pria tampan yang kini tengah berjalan menujunya. "Ha-Hayden?"
Ya, itu benar. Pria yang ikut angkat suara, menginterupsi perbincangan mereka secara tiba-tiba, tidak lain, adalah Hayden Brent Wilson.
Hayden berjalan, mendekat ke arah Feli dengan begitu percaya diri.
Sudut bibir sebelah kiri pribadi tampan itu menukik tajam, mengulas seringaian ngeri sekilas. Ia menatap Jimmy dan Feli secara bergantian, sebelum memokuskan seluruh atensinya ke arah Feli.
Hayden menatap Feli dengan tatapan tajam, penuh kemarahan. Raut wajahnya terlihat begitu dingin, mengintimidasi. "Jadi kau pergi meninggalkanku hanya untuk menemui pria yang pernah melalui hubungan one night stand denganmu, dua tahun yang lalu?"
Hayden terkekeh sinis sekilas, seraya menyisir surainya ke belakang, menggunakan jemari tangannya yang jenjang, meluapkan rasa frustrasinya di sana. "Wah ... kau memang istri yang sangat luar biasa, Nyonya Felisha. Apa kau akan lari dariku bersamanya dan mengkhianatiku, seperti apa yang pernah kau lakukan dua tahun yang lalu? Kau akan melakukan kesalahan yang sama?"
Air mata seketika mengembun dalam pelupuk Feli, tatkala hatinya tidak bisa lagi menerima semua tuduhan yang Hayden lontarkan.
Sementara Jimmy hanya diam di sana, memperhatikan dan seolah menikmati pertunjukan menarik yang terjadi di hadapannya.
Feli menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Hayden. Aku tidak ingin melakukan hal yang sama," lirihnya perih.
Wanita cantik itu lantas menoleh ke arah Jimmy dan menatapnya dengan tatapan tajam, mengintimidasi. "Jelaskan padaku, Tuan Jimmy. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Kenapa kau bisa ada di kamarku? Apa Jane yang menyuruhmu?"
__ADS_1
Tbc ....