
"Sudah bangun?"
Sibuk menggeliat sembari mengerjapkan pelupuk mata yang masih ogah-ogahan untuk diajak terbuka, Feli sedikit terhenyak kaget, saat tiba-tiba Hayden angkat suara.
Menengadah, menoleh cepat ke arah Hayden, Feli lantas tersenyu. "Aku ketiduran ya? Kau sudah selesai mandi?"
Tersenyum, sebab terlalu merasa gemas, mendengar Feli bertanya, bahkan sambil menunjukan raut tanpa dosa, Hayden mencubit pelan ujung hidung mungil istri cantiknya itu. "Ini sudah pagi, Baby. Bukan malam lagi."
"Ha?" Feli tergekak kaget. Membulatkan mata, wanita cantik itu lalu mengedarkan pandangan.
Kerutan samar memeta di permukaan kening Feli, membersamai matanya yang agak sedikit memicing, sebab mendadak bingung, selepas mendapati kamar yang saat ini sedang ditempatinya bersama Hayden, masih tampak gelap.
Tidak ada terlihat cahaya matahari yang membias melalui tirai jendela yang memang masih tertutup, membuat Feli meragukan perkataan Hayden.
"Kau bohong, ya?" Feli bertanya sambil menoleh, memokuskan atensinya lagi ke arah Hayden, menatap suami tampannya itu, penuh curiga.
Hayden mengernyitkan kening. Ia menatap Feli, nanar. "Bohong? Aku? Kenapa aku harus berbohong padamu, ha?" ujarnya, balik bertanya sembari memperat rengkuhan pada tubuh Feli.
Feli refleks menenggerkan kedua telapak tangan berjemari lentiknya di permukaan dada bidang Hayden, guna mempertahankan jarak, agar tubuhnya tidak terlalu saling bertekanan dengan tubuh suami tampannya itu. "Kau bilang, ini sudah pagi."
"Memang sudah pagi."
"Lalu kenapa, masih gelap? Kalau memang sudah pagi, seharusnya cahaya matahari sudah terlihat dari jendela."
"Tapi tirai jendelanya belum dibuka."
"Tetap saja ... setidaknya pasti terlihat agak terang, walaupun tirai jendelanya masih belum dibuka."
Mendengkus, Hayden melepaskan lilitan lengan sebelah kirinya, lantas ia gunakan telapaknya untuk meraba permukaan nakas samping tempat tidur.
Hayden meraih sebuah rimot kecil yang ada di sana. Tanpa mengalihkan pandangan, terus memokuskan seluruh atensi yang dimiliki ke arah Feli, pria tampan itu lantas mengulurkan tangannya ke depan.
Ditekannya salah satu tombol yang berada di permukaan rimot kecil yang diraihnya tadi, kemudian ... tirai jendela yang masih tertutup itu, seketika terbuka.
Feli menoleh, mengalihkan pandangan dari Hayden, tepat di detik pertama cahaya matahari yang cukup menyilaukan, berhasil menyapa pelupuknya.
Saking silaunya, Feli sontak memejam. "Oh, ok, ok. Baiklah. Aku percaya sekarang. Tutup lagi tirainya, Hayden. Mataku perih," rengeknya.
Hayden terkekeh gemas sambil langsung menuruti permintaan sang istri. Menekan tombil lain dari rimot yang tengah digenggam, pribadi tampan itu kembali membiarkan tirai jendela yang sempat ia buka meski hanya sedikit tadi, tertutup lagi dengan sempurna.
Menaruh rimot ke tempat semula, Hayden melingkarkan lengannya lagi di area pinggang Feli, memeluk tubuh istri kecilnya itu dengan posesif.
"Kemarin turainya tidak seperti itu," keluh Feli sembari membuka mata dan melirik tirai jendela yang memang bisa dikatakan, sempurna menghalau cahaya matahari, agar tidak tersorot sama sekali ke dalam kamar.
"Karena kemaren, aku tidak menutup tirai utamanya."
Feli menengadah, membiarkan manik mata hazel indahnya bersitatap dengan manik jelaga indah Hayden. "Begitu, ya?"
Hayden membuang napas kasar. "Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun padaku?"
"Merasa bersalah?" Feli bertanya sembari mengernyitkan kening. Ia menatap Hayden, nanar. "Kenapa aku harus merasa bersalah padamu?" tanyanya, dengan begitu santai sembari menunjukan raut wajah lugu, tanpa dosa.
"Karena kau sudah meninggalkanku, semalam. Kau tidur lebih dulu, sebelum kau sempat melunasi janjimu."
__ADS_1
Saat kenyataan berhasil memukul kesadaran Feli kelewat kuat, mulut mungil wanita cantik itu menganga, membersamai matanya yang lagi-lagi membola, seperti sebelumnya. "Ah, benar."
"Ah, benar." Hayden mengejek Feli dengan mengulangi apa yang dikatakan istri cantiknya itu, menggunakan nada suara yang terdengar begitu menyebalkan.
Wajah Feli seketika tampak memelas, mengingi tatapannya yang meluruh, jadi tampak menyorotkan rasa bersalah. "Maaf. Aku tidak sengaja. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk meninggalkanmu tidur lebih dulu."
Membuang napas kasar, Hayden memejamkan pelupuk matanya sesaat. Dan tepat kala kembali terbuka, bersitatap dengan manik hazel indah Feli, Hayden memberi istri cantiknya itu tatapan dingin yang tampak cukup mengintimidasi. "Kalau begitu, cepat lakukan."
"Apa?"
Hayden mempererat pelukan, memastikan tidak ada sedikitpun celah yang memisahkan tubuhnya dan sang istri. "Kau janji, mau memberiku sepuluh kali ciuman," terangnya, setengah merengek.
Manik mata hazel indah Feli, gemetar. Ia menatap wajah tampan Hayden dari jarak kelewat dekat dengan tatapan lekat.
"Apa yang kau tunggu?" Hayden angkat suara lagi, bertanya setelah melihat Feli hanya diam bergeming.
Guna mengait atensi Feli yang tengah menunjukan gelagat seperti orang yang sedang melamun, Hayden menggunakan telapak tangan sebelah kirinya untuk memberi tekanan pelan di permukaan punggung istri cantiknya itu.
Pelupuk mata Feli mengerjap cepat beberapa kali. "Kau mau aku melakukannya sekarang?"
Hayden mengangguk mantap. "Hemmm."
"Tapi aku baru bangun tidur."
"Lalu apa masalahnya?"
"Aku belum menggosok gigi."
Berdecih pelan sembari mendelikan mata, menatap Hayden dengan tatapan mencibir, Feli melabuhkan pukulan di permukaan dada bidang suami tampannya itu. "Dasar."
"Cepat lakukan. Jangan coba-coba mencari berbagai macam alasan untuk berkilah," sindir Hayden dengan begitu terang-terangan.
Feli terkekeh kecil. "Baiklah. Akan aku lakukan, tapi sebelum itu, beri aku senyuman manis dulu. Jangan memasang raut dingin seperti itu. Kau membuatku takut," bujuknya, setengah merengek.
Membuang napas kasar, Hayden merenggangkan bingkai birai sembari memejam.
"Senyum yang benar," ujar Feli, memberi titah, sebab melihat Hayden memetakan senyum yang jelas-jelas menunjukan penuh keterpaksaan.
Membuka pelupuk mata, Hayden menatap Feli kesal sambil mencebik. "Aku sudah melakukannya."
"Tapi tidak tulus. Jadinya tidak terlihat manis, malah menyeramkan."
"Kau ini sedang mempermainkanku atau a-"
Tidak memberi Hayden kesempatan untuk merampungkan ocehan berisi sebuah protes, Feli membuat suami tampannya itu seketika bungkam, hanya dengan satu kecupan di bibir saja.
Melihat Hayden diam, Feli tersenyum gemas. "Lakukan dengan manis. Apa kau lupa, bagaimana caranya untuk tersenyum dengan manis? Mau aku ajarkan?" celetoknya, mengejek.
Hayden mengerjap. "Tapi aku sudah melakukannya. Aku sudah tersenyu."
Feli mengangguk cepat. "Iya, aku tahu. Kau memang sudah melakukannya. Tapi senyum yang kau tunjukan, masih belum terlihat manis. Jadi, ayok ulangi."
"Tidak bisakah kau langsung lakukan saja. Beri aku ciuman yang kau janjikan, hemm? Aku sudah sangat sabar menunggu dari semalam, kau tahu?"
__ADS_1
Feli terkekeh, begitu gemas melihat Hayden merengek di depannya. "Akan aku lakukan, tapi setelah kau memberiku senyuman yang manis. Wajahmu terlihat menyeramkan, jika belum tersenyum. Kau mau aku melakukannya, karena aku merasa takut padamu, bukan karena aku memang ingin melakukannya?"
Hayden menggeleng samar. "Tentu saja tidak."
"Maka dari itu, ayok beri aku senyuman."
Menghela napas panjang sambil memejam sesaat, Hayden lantas mengembuskannya secara perlahan, guna mempersiapkan diri, agar ia bisa menyuguhkan senyum manis yang memang sedang sang istri inginkan.
Feli tersenyum senang juga menatap Hayden dengan tatapan penuh damba, begitu suami tampannya itu, akhirnya berhasil memetakan senyum manis terbaiknya.
"Kau sangat tampan, kalau sedang tersenyum seperti itu. Ketampananmu bertambah jadi dua kali lipat," tutur Feli, memuji.
"Apa jantungmu aman?"
Feli terkekeh. "Sebenarnya tidak, karena berdebat cukup cepat, begitu aku melihat senyumu."
Senyum manis itu kembali memeta di bingkai birai Hayden, tapi dengan sendirinya kali ini. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Sekarang, berikan apa yang aku inginkan."
Tersenyum manis, Feli mengulurkan kedua tangan, membiarkan telapak berjemari lentiknya berlabuh di wajah tampan Hayden, memberinya usapan lembut, penuh kasih.
"Kau sudah siap?" Feli bertanya sambil menatap Hayden dengan tatapan lembut.
Tersenyum, Hayden mengangguk cepat, penuh antusias. "Hemm. Sangat siap."
Feli terkekeh untuk kesekian kalinya karana terlalu merasa gemas melihat tingkah penuh semangat Hayden.
Mencondongkan wajah, untuk lebih mendekat dengan wajah Hayden, Feli lantas mendaratkan bingkai birainya di permukaan bibir suami tampannya itu.
"Satu," ucap Feli selepas menarik diri, membuat sedikit jarak kembali terbentang antara wajahnya dan wajah Hayden.
Hayden agaknya tidak merasa puas, meskipun sudah mendapatkan kecupan manis dari Feli. Pria tampan itu mengernyitkan kening, selagi matanya dibiarkan memicing, menatap Feli, nanar. "Satu apa?"
"Satu ciuman. Aku sudah melakukannya."
Mendengkus, Hayden tersenyum miring, meremehkan. "Apa itu yang kau sebut ciuman?"
Mengerjap, Feli mengangguk dengan lugunya. "Tentu saja."
"Itu bukan ciuman, Baby. Itu hanyalah kecupan."
"Sama saja, kan?"
"Tentu saja berbeda."
"Apa bedanya?"
Sudut bibir sebelah kiri Hayden sedikit tertarik, agak menukik hingga memetakan seringaian ngeri penuh arti. "Mau aku tunjukan?"
"Silakan."
Seringaian ngeri itu kembali tertoleh, meski sempat terjeda pada saat Hayden bicara, kali ini dibersamai dengan tatapan lekat, penuh arti. "Akan kuberi contoh. Setelah ini, kau harus melakukannya dengan benar."
Tbc ....
__ADS_1