Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Hanya Bagian dari Bunga Tidur


__ADS_3

"I-itu b-bukan salahku."


Kalimat itu terus ke luar dari bibir tipis Feli yang gemetar dan mulai pucat, keunguan.


Tubuh wanita cantik itu gemetar, dan juga dibanjiri peluh. Napasnya memburu, terdengar begitu berat dan sesak.


"FELISHA!"


Feli terperanjat manakala seseorang menyuarakan namanya dengan lantang. Matanya terbuka dalam keadaan membola dan sembab. Air matanya masih setia mengalir.


"Hey, Baby. Tenanglah."


Suara lembut nan manis itu. Feli sangat mengenal suara itu.


Feli menoleh dan mendapati Hayden tengah merengkuh tubuh gemetarnya dalam pelukan.


Degup jantung Feli semakin bertempo cepat, dan tidak terkendali. Serangan panik menyebalkan itu kembali, membuat tubuh Feli tidak bisa berhenti gemetar dan berkeringat.


Tentu hal tersebut berhasil membuat Hayden merasa cemas. Ia melihat manik mata wanitanya gemetar, bergerak acak tak tentu arah, penuh ketakutan.


Kedua telapak tangan besar Hayden menengkup wajah Feli, mencoba membuat atensi wanitanya tertuju padanya, seutuhnya.


Hayden menatap manik indah Feli yang gemetar dengan tatapan lembut dan dalam, penuh kasih pun kehati-hatian. "Baby, dengar. Tenangkan dirimu. Aku di sini. Aku di sini. Kau aman. Aku bersamamu. Fokus padaku, hanya padaku, hemm?"


Feli terdiam, ia tertegun tapi masih dalam keadaan tubuh gemetar dan napas yang memburu.


"I'm right here, Baby. Tenanglah. Aku bersamamu. Ikuti perkataanku, okay?"


Feli perlahan menganggukan kepalanya, membuat Hayden tersenyum, meskipun senyum getir, penuh kecemasan.


"Tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan secara perlahan," titah Hayden dengan suara yang begitu lembut.


Feli melakukan apa yang Hayden katakan tanpa perlawanan.


"Right, Baby. Teruskan. You're save with me. Tarik napas lagi, lalu buang secara perlahan."


Inhale ....


Exhale ....


Hayden menuntun Feli melakukan hal yang sama secara berulang, hingga napas Feli perlahan mulai stabil.


"Kau baik-baik saja, Princess?"


Manik hazel indah Feli masih bertemu di sana, memandang netra taduh Hayden yang masih menatapnya.


Feli menggeleng samar. Air matanya yang sempat reda beberapa saat, kembali berderai. "A-aku takut."


Hayden dengan cepat merengkuh tubuh Feli ke dalam pelukan hangatnya, tanpa membuang waktu sedetik pun.


Tubuh wanitanya masih sedikit gemetar. Ia bisa merasakan, detak jantung Feli pun, masih kacau dan tidak stabil.

__ADS_1


"It's ok, Baby. I'm here." Hayden berucap dengan nada angelic-nya, mencoba menenangkan seraya mengusap punggung Feli dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Pelupuk mata Feli terpejam, mencoba merasakan sensasi hangat dan nyaman yang Hayden berikan seraya mengatur napasnya secara perlahan.


Hayden mengecup lembut puncak kepala Feli. "Kau baik-baik saja. Itu hanya mimpi. Aku di sini. Aku bersamamu."


Kedua tangan Feli yang masih gemetar hebat, perlahan terangkat, menyentuh punggung Hayden, sampai meremat kaus putih polos yang suaminya itu kenakan, kuat-kuat. "J-jangan tinggalkan, aku. A-aku mohon."


Hayden mengusap surai panjang Feli, perlahan. Sentuhannya begitu lembut, penuh kasih sayang dan juga efeksi yang mampu menenangkan. "Sssh. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku janji."


"T-tapi kau p-pergi dan m-mengkhianatiku bersama Jane," lirih Feli, terbata dengan suara gemetarnya.


"Itu hanya mimpi, Baby. Aku dari tadi di sini, beramamu. Tenangalah."


"M-mimpi?"


Hayden membuang napas lega seraya memejamkan pelupuk matanya. Ia menenggerkan dagunya di bahu Feli, tapi tetap memastikan, jika ia tidak memberi sedikit pun penakan di sana, apalagi jika sampai memberi efeksi menyakitkan bagi sang istri. "Hemmm. Kau hanya mimpi."


Feli membalas pelukan Hayden, mengikis sedikit jarak yang masih tersisa, membuat tubuh mereka saling bertekanan. "Itu mi-mimpi yang sangat me-menakutkan."


Hayden menyingkirkan rambut wanitanya yang terurai ke sisi yang lain. Ia menelusupkan wajahnya di ceruk leher Feli, mendaratkan sebuah kecupan lembut di sana, membuat Feli sedikit terhenyak. "Aku tidak tahu, apa yang kau mimpikan. Tapi jika itu tentang aku yang pergi meninggalkanmu, itu tidak akan pernah jadi kenyataan, apa pun alasannya."


Feli memejamkan pelupuk mata sembari menenggelamkan wajahnya di dada bidang Hayden. "Tolong j-jaga janjimu. J-jangan tinggalkan aku, apa pun yang t-terjadi."


Embusan napas kasar berhasil lolos dari celah antara kedua sisi bibir Hayden.


Kedua lengan kekar pria tampan itu melingkar di tubuh mungil sang istri, memeluknya dengan sangat erat, seolah tidak berniat melepaskannya, selamanya.


Feli membuang napas kasar yang berasal dari rasa lega yang seketika menyeruak begitu saja dalam relungnya, lalu menganggukan kepala tanpa berprotes.


Tentu Feli mengenal Hayden dengan sangat baik.


Ia sudah mengencani pria tampan yang saat ini tengah memeluknya itu selama empat tahun lamanya, tidak ada alasan baginya untuk tidak mempercayai Hayden.


Hal itu, tentu membuat benak dan hati Feli merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Mengingat apa yang ia rasakan dalam mimpi buruk yang dialaminya beberapa menit yang lalu, tentang sulitnya ia mempercayai Hayden, berbanding jauh terbalik di kehidupan nyatanya.


Feli akui, Hayden memang terkenal sebagai pria baji-ngan. Tapi seburuk apa pun Hayden ... suaminya itu tidak pernah melanggar janji yang ia ucapkan. Baik sesepele apa pun janji tersebut.


Bukan tanpa asalan bagi Feli untuk bisa dengan mudahnya mempercayai Hayden. Ia sudah mengenal dengan baik pria tersebut, bahkan mungkin jauh lebih baik daripada Hayden, mengenali dirinya sendiri.


Itulah sebabnya, saat Hayden mengatakan bahwa Jane sedang mengandung anaknya waktu itu, Feli dengan lugunya langsung mempercayai dusta Hayden tersebut.


Walau terkadang, sikap me-sum dan menjengkelkan Hayden, memang tidak terelakan dan agak sulit untuk Feli hadapi, tapi baginya ... Hayden adalah pria yang memiliki sisi berbeda.


Hayden sangat baik, bahkan bisa dikatakan sosok sempurna, yang bisa ia jadikan sebagai patokan dari type suami ideal.


Jika di luaran sana Hayden bisa jadi pria terbe-rengsek yang bisa menghancurkan hati dan hidup wanita mana pun dalam waktu singkat, bagi Feli ... Hayden bisa jadi tempat ter-amannya.


Hayden perlahan melepaskan rengkuhannya dari tubuh Feli, membuat sedikit jarak antara mereka, agar ia bisa melihat wajah cantik sang istri.


Feli pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Mereka beradu tatap beberapa saat dengan manik mata yang sama-sama bergerak acak, menelisik setiap inci dari wajah satu sama lain.


"Kau sudah merasa lebih baik?" Hayden bertanya, memastikan.


Feli mengangguk samar. "Sedikit, lebih baik."


Telapak tangan berjemari jenjang Hayden bergerak, menyentuh wajah pucat istrinya dengan lembut sembari menyingkirkan anak rambut yang menghalangi. "Kau tidak membutuhkan obatmu?"


Feli tertegun. Matanya sedikit membola. Ia baru menyadari bahwa efek dari keberadaan Hayden baginya memang luar biasa.


Biasanya, jika dia mengalami serangan panik, ia tidak akan kembali normal dan setenang seperti sekarang ini, begitu saja tanpa mengkunsumsi obat terlebih dahulu.


Ia pasti membutuhkan obat yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama dua tahun terakhir ini.


Hayden menatap nanar wanitanya yang tiba-tiba terdiam, bergeming. "Hey, Baby. Kau benar-benar baik-baik saja?"


Feli sedikit terhenyak. Ia menatap Hayden beberapa saat, lalu mengangguk. "Aku baik-baik saja, kurasa."


Kedua telapak tangan mungil Feli bertengger di area dadanya, merasakan degup jantungnya yang masih memompa dengan cepat, tapi bukan karena serangan panik yang baru saja ia alami, malainkan karena adanya Hayden di sana, di dekatnya.


"Hey, apa kau serius? Kau membuatku khawatir. Haruskan aku mengambilkan obatmu, atau mambawamu ke rumah sakit terdekat untuk memastikan?" racau Hayden, cemas.


"Tidak. Aku baik-baik saja, sungguh," tukas Feli seraya mencengkram lembut salah satu lengan Hayden, membuat Hayden yang kala itu hendak merayap dan turun dari tempat tidur, terhenti.


Hayden terdiam, menatap wajah cantik wanitanya dengan mata yang memicing, penuh terka. "Kau sungguh-sungguh?"


Feli tersenyum lemah, seraya mengangguk samar. "Hemmm. Jadi kumohon jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri."


Hayden membuang napas kasar, syarat akan rasa lega luar biasa yang seketika menjalari rongga dadanya. "Kau membuatku khwatir sejak kau masih tertidur tadi, kau tahu?"


"Maaf. Apa aku tertidur cukup lama?" Ferli bertanya seraya memendarkan pandangan, menelisik keadaan sekitar.


Ia masih berada di kamar yang sama. Kamar yang ia dan Hayden tempati saat Hayden menceritakan apa yang terjadi padanya dua tahun yang lalu.


"Kau tidak berhenti menangis setelah aku menceritakan apa yang aku alami dua tahun yang lalu, terutama soal Jimmy."


Feli meluruskan pandangan, menatap Hayden yang sudah membenarkan posisi duduk, menghadap ke arahnya.


Felu tertunduk sekilas. "Soal Jimmy. Apa kau sungguh-sungguh, tidak akan meninggalkanku, walau pun aku pernah disentuh olehnya?"


Hayden membuang napas kasar. Ia sebenarnya sudah merasa bingung, bagaimana dan dengan cara apa lagi ia harus meyakinkan wanitanya.


Pria tampan itu mendekat, kembali memeluk Feli dengan sangat erat. "Aku sangat sungguh-sungguh. Menurutmu, untuk apa aku menikahimu jika pada akhirnya aku akan pergi meninggalkanmu, hemm?"


"Tapi kau menikahiku dengan cara yang tidak wajar."


"Aku tidak perduli tentang seperti apa caraku menikahimu. Yang terpenting, kau kembali menjadi milikku dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, selamanya."


Feli tersenyum simpul.


Tangan wanita cantik itu terangkat perlahan, hingga telapaknya berlabuh di permukaan punggung gagah milik sang suami, melabuhkan tepukan-tepukan lembut penuh arti di sana. "Tolong jangan lepaskan aku lagi. Apapun yang terjadi, bahkan sekalipun aku sendiri yang memintanya. Tolong jangan pernah lepaskan aku."

__ADS_1


Tbc ....


__ADS_2