Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Ayah dari Bayi Jane


__ADS_3

Hayden terlihat sedang duduk di salah satu kursi yang tertata mengitari meja makan sembari berbincang dengan seorang wanita paruh baya yang duduk tepat di hadapannya, saling bersebrangan.


Pria tampan itu terlihat begitu ramah tatkala bercengkrama dengan wanita paruh baya tersebut, seolah mereka sudah saling mengenal begitu lama.


"Hayden?" lirih Feli, memanggil sang suami dengan suara lembutnya.


Tentu, suara Feli itu berhasil membuat atensi Hayden dan wanita paruh baya di hadapannya, mengarah ke arah Feli.


Hayden tersenyum lembut, manakala manik matanya berhasil menangkap sosok Feli yang tengah berdiri memaku di ambang pintu ruang makan, menatap wanita paruh baya di sana dengan raut wajah bingung.


"Istrimu sangat cantik Hayden," puji wanita paruh baya itu sembari menatap Feli dengan raut wajah ramahnya.


Hayden terkekeh gemas sekilas. "Maka dari itu, aku tidak mencari wanita lain. Karena bagiku, dia yang paling cantik."


Feli menoleh ke arah Hayden, hingga manik hazel indahnya, beradu pandang dengan netra Hayden yang sudah tertuju ke arahnya.


Hayden tersenyum manis untuk kesekian kalinya. "Apa kau akan terus berdiri di sana? Cepatlah kemari. Sarapanmu sudah siap," titahnya.


"Sepertinya istrimu bingung, Hayden. Mungkin dia merasa canggung, karena kau belum memperkenalkanku padanya," terang wanita paruh baya.


Hayden menoleh sekilas ke arah wanita paruh baya yang masih menatap ke arah Feli tersebut. "Ah benar, aku lupa. Feli, perkenalkan, ini Bibi Rosa. Beliau adalah asisten rumah tanggaku sejak aku tinggal di sini."


Feli tertegun beberapa saat. Ia menoleh ke arah Rosa dan Hayden secara bergantian. "A-asisten rumah tangga?"


Rosa tersenyum ramah. "Benar Nona. Aku adalah asisten rumah tangga Tuan Wilson sejak beliau tinggal di sini, dua tahun yang lalu."


Mata Feli membola tatkala ia dengan cepat menoleh ke arah Hayden dengan raut wajah terkejutnya. "D-dua tahun? K-kau sudah tinggal di s-sini dua tahun?"


Hayden mengangguk samar sambil tersenyum tipis. "Hemmm. Aku sudah tinggal di sini selama dua tahun."


"Tuan Wilson pindah, setelah menerima penolakan dari kekasihnya. Atau lebih tepatnya pengkhianatan," tukas Rosa, tiba-tiba.


Saat itu juga, Feli tertunduk lesu, menatap gugup sandal rumah yang dikenakannya, tidak berani beradu tatap dengan Hayden lebih lama.


Hayden berdehem pelan. "Sebaiknya, kita tidak perlu membahas itu Bi," sergahnya, penuh penekanan, mutlak tidak menerima penolakan.


Hayden berucap tanpa menoleh ke arah Rosa sedetik pun. Tatapannya hanya terfokuskan pada sosok Feli yang masih memaku di ambang pintu.


Rosa membungkung sekilas. "Maaf Tuan."


"Feli. Baby. Kemarilah," titah Hayden dengan lembutnya.


Pria tampan itu terkekeh gemas sekilas tatkala melihat Feli tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. "Apa kau akan berdiri di sana, seharian?"


Rosa yang menyadari perubahan dari tingkah Feli semenjak ia membahas kehidupan masalalu Hayden pun, dibuat canggung, teramat sangat.


Beliau berdiri dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Feli. Ia berdiri tepat di hadapan Feli, membuat Feli perlahan menengadahkan pandangan.


Sementara Hayden hanya diam di tempat duduknya, memperhatikan dengan seksama.


Rosa tersenyum lembut, penuh rasa bersalah, sebelum membungkukan setengah tubuhnya di hadapan Feli. "Maafkan saya Nona. Jika perkataan saya sedikit lancang."


Mata Feli membola. Dengan pergerakan cepat, Feli menengkup kedua bahu Rosa, sebelum Rosa bisa membungkukan setengah tubuhnya dengan sempurna.

__ADS_1


"B-Bibi tidak perlu melakukan itu."


Rosa menatap Feli beberapa saat dengan tatapan sendu. "Tapi Nona."


Feli menggelengkan kepalanya dengan pergerakan cepat. "Feli. Panggil saja aku Feli, Bibi Rosa."


Bibir tipis wanita cantik itu merenggang, mengulas senyum manis, penuh kehangatan, membuat Rosa tidak bisa menolak permintaannya.


Rosa membalas senyum yang Feli tunjukan, beberapa saat. "Baiklah Non- maksduku, Feli."


Feli menoleh ke arah Hayden yang sedari tadi masih menatapnya. Keningnya mengernyit keheranan. "Kenapa semalam aku tidak bertemu dengan Bibi Rosa?"


Feli melepaskan tengkupannya dari kedua bahu Rosa, tatkala ia berjalan, mendekati meja makan di depan sana.


Hayden terkekeh, sekilas. "Bibi Rosa tidak tinggal di sini. Beliau hanya datang pada pagi dan malam hari untuk melakukan tugasnya."


Feli mendudukan diri di kursi yang berada tepat di samping Hayden.


Wanita cantik itu mengangguk paham, sebelum menoleh ke arah Rosa yang masih berdiri di tempat di mana ia berdiri sebelumnya. "Bi, duduklah kembali."


Rosa membungkuk sekilas, sebelum melakukan apa yang Feli katakan. Beliau kembali mendudukan diri, di kursi yang berada tepat di hadapan Hayden dan Feli.


Feli melempar senyum manis nan ramahnya terhadap Rosa. "Terima kasih Bi. Karena Bibi sudah mengurus kebutuhan Hayden selama ini."


Rosa tersenyum senang, mendengar perkataan Feli yang tulus itu. "Bukan masalah, Feli. Itu sudah menjadi kewajiban Bibi."


Feli melirik Hayden sekilas dengan tatapan sinis. "Pasti sulit, bekerja dengan pria menyebalkan seperti Hayden, bukan begitu Bi?"


Rosa terkekeh gemas, menyaksikan tingkah Hayden dan Feli yang terkesan saling mengejek, seperti anak kecil itu. "Tidak begitu sulit. Hanya sesekali saja," terangnya.


Hayden mendengkus kasar, membuat Feli dan Rosa menatapnya dengan tatapan heran.


Pria tampan itu, tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia menatap Feli dengan tatapan tajam, namun kemudian tersenyum senang.


Hayden menepuk-nepuk puncak kepala Feli perlahan. "Nikmati sarapanmu. Bibi Rosa akan menamanimu selagi aku bersiap. Hari ini, kita akan pergi ke rumah nenekku."


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Feli, bingung.


"Tidak tiba-tiba. Aku sudah merencanakannya dari kemarin, karena Nenek tidak hadir di acara pernikahan kita."


Feli mengangguk paham. "Baiklah. Aku akan membantumu berkemas setelah sarapan."


Senyum senang, seketika merekah di bibir indah Hayden. "Tidak perlu. Kau bisa bersantai di sini bersama Bibi Rosa, selagi aku berkemas."


Feli membuang napas kasar. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan."


Hayden tersenyum manis untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Feli di sana, berdua saja, bersama Rosa.


"Dia sangat mencintaimu," tukas Rosa yakin, tatkala ia melihat sosok Hayden pergi, menghilang dari pandangannya.


Feli yang saat itu masih menatap ke arah di mana Hayden menghilang pun, dibuat terkekeh sembari menoleh. "Aku tahu."


Feli dan Rosa beradu tatap.

__ADS_1


Menarik napas dalam-dalam, Feli membuangnya secara perlahan. Ia mencoba mengumpulkan keberanian, sebelum meraih kedua telapak tangan Rosa yang berada di atas meja makan.


Feli menengkup kedua telapak tangan Rosa dan menggenggamnya dengan sangat erat.


Wanita cantik itu menatap Rosa sembari tersenyum, penuh rasa syukur pun lega. "Terima kasih, karena telah menemani Hayden di masa depresinya selama ini, Bi."


Mata Rosa mebola, membulat sempurna, menatap Feli dengan keterkejutan luar bisa. "B-bagaimana kau tahu?"


Feli terkekeh getir sekilas. "Karena aku, adalah gadis yang mengkhianatinya dua tahun yang lalu pada hari di mana, Hayden akan melamarku."


...***...


"Apa kau sudah membuat keputusan?" tanya Jane, pada seseorang yang tengah ia hubungi melalui sambungan suara.


Gadis itu, kini tengah berdiri di sebuah balkon yang nampak seperti sebuah balkon yang terletak di area hotel atau gedung penginapan yang menghadap ke arah lautan lepas.


Semilir angin, menyapu wajah dan surai panjangnya yang lembut, terurai. Salah satu tangannya melingkar di area dada, sedang yang lainnya menahan ponsel yang bertengger di dekat daun telinga.


"Apa tawaranmu lebih menarik, daripada tawaran Nyonya Luciana?" tukas pria yang sedang melakukan panggilan dengan Jane di sebrang sana.


Salah satu sudut bibir Jane menukik tajam, mengulas seringaian ngeri yang mematikan. "Apa yang wanita tua itu tawarkan padamu, Jimmy?"


Jimmy terkekeh, meremehkan. "Dia akan membayarku, berapa pun jumlahnya."


Jane terkekeh sinis sekilas. "Apa yang bisa dia berikan padamu, di saat semua harta kekayaannya sudah menjadi milikku?"


"Apa maksudmu?"


Senyum sinis yang tetkesan begitu arogan itu semakin merekah di bibir tipis Jane, tatkala ia mendengar betapa bingungnya Jimmy berucap di sebrang sana. "Nyonya Luciana. Wanita tua itu tidak memiliki harta apa pun sekarang, karena semua kekayaannya sudah menjadi milikku. Jadi sebaiknya, kau berpihak padaku kali ini."


Jimmu terdiam di sebrang sana, tak lagi bersuara begitu Jane menyelesaikan perkataannya.


"Lihat Jim, kau tidak akan dirugikan dalam hal apa pun jika kau berpihak padaku. Justru, kau akan mendapatkan banyak keuntungan. Jika kau berpihak padaku dan menjelaskan segalanya pada Feli, aku akan memberikanmu uang yang sangat banyak. Pikirkan itu baik-baik."


Dengan begitu, Jane pun memutuskan sambungan telpon tersebut saat itu juga, tidak memberi waktu bagi Jimmy untuk angkat suara.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" Seorang pria berucap seraya berjalan, menghampiri Jame.


Jane menoleh ke arah belakang, arah di mana pria yang bicara tadi datang. Senyum indah penuh rasa senang, seketika tertoreh di bibir kecilnya. "Hemmm. Aku baik-baik saja. Sangat baik."


Pria itu membuang napas kasar. "Kau nampak frustrasi semalaman. Syukurlah, jika kau merasa lebih baik sekarang."


Pria itu merengkuh tubuh Jane ke dalam pelukan hangat nan nyamannya, membuat Jane tak bergeming dan hanya diam, menikmatinya.


Pria itu mengecup singkat puncak kepala Jane, penuh kasih. "Satu bulan lagi, adalah hari pernikahan kita. Jangan biarkan dirimu tertekan, atau itu akan mepengaruhi bayi kita," tuturnya dengan suara lembut, memberi pengertian dengan sangat hati-hati.


Jane terkekeh gemas sekilas seraya menenggerkan dagunya di bahu jenjang sang pria. "Calvin ...."


"Hemmm?"


Jane memejam. "Aku ingin Feli dan Hayden datang, menghadiri acara pernikahan kita."


Tbc ....

__ADS_1


__ADS_2