
"Ah! Ya Tuhan! Kau mengagetkanku!" Hayden memekik saat ia berhasil menginjakan kakinya di anak tangga teratas di lantai dua dan melihat Feli berdiri tak jauh darinya.
Menbuang napas kasar seraya mengusap dadanya perlahan, pria tampan itu berusaha mengontrol dan menenangkan detak jantungnya yang menggila, karena cukup merasa kaget.
Feli terdiam seolah memaku. Ia menatap Hayden dengan tatapan kosong. Wajahnya dingin, terkesan datar, tidak memunjukan ekspresi apa pun.
Hayden menatap Feli, dahinya sedikit mengernyit, keheranan. Ia berjalan, mendekati Feli. "Kenapa kau masih di sini? Apa yang sedang kau lakukan?"
"I-itu." Feli terbata dengan perkataannya. Menatap Hayden dengan manik yang gemetar, wanita cantik itu lantas mendengkus sembari menundukan pandangan. "Aku tidak tahu, di mana kamarku," terangnya.
Hayden terkekeh gemas. Pria tampan itu berdiri tepat di hadapan Feli yang tidak berani beradu tatap dengannya lebih lama. "Hanya itu? Kau yakin? Kau bukan di sini untuk menungguku?"
Feli seketika menengadahkan pandangan, menatap Hayden dengan mata yang membola. "Menunggumu untuk apa?"
Sudut bibir sebelah kiri Hayden menukik tajam, menunjukan seringaian ngeri sekilas. "Mandi bersama, misalnya," gumamnya menggoda, seraya mengusap lembut lengan Feli dengan ujung jemari tangannya.
Feli sedikit terhenyak. Sentuhan Hayden yang terbilang cukup tiba-tiba itu, berhasil membuat napasnya tercekat sesaat, bersamaan dengan degup jantungnya yang menggila, bertempo begitu cepat.
Hayden menatap Feli dengan mata yang sedikit memicing, diiringi dengan alis sebelah kanannya yang agak terangkat, menunjukan kesan arogan juga genit, dalam satu waktu. "Kenapa kau hanya diam saja? Apa tebakanku, benar?"
Feli tersentak, manakala sang suami mengambil langkah besar, hampir mengikis habis jarak yang terbentang di antara mereka.
Tentu Feli tidak diam. Wanita cantik itu mengambil langkah mundur untuk mengimbangi dan tetap menjaga jarak antara tubuhnya dan Hayden.
Manik mata hazel indahnya gemetar, menatap Hayden dengan sorot syarat akan kegugupan. "A-apa yang kau l-lakukan?"
Hayden sedikit memiringkan kepala sekilas sembari menunjukan senyum licik yang terpatri di bibir indahnya. Ia tak menghentikan langkahnya untuk tetap mendekat dan mengikis segala jarak, hingga punggung Feli bertemu dengan dinding di belakangnya.
"Bagaimana jika aku, ingin membantumu mele-paskan pakaianmu sebelum pergi mandi?" Hayden kembali berucap dengan nada masih menggoda.
Nenelan ludah kasar dengan susah payah, kedua tangan Feli bergerak refleks, hingga telapak tangan mungilnya bertengger tepat di dataran dada bidang Hayden, mencoba menahan pergerakan sang suami agar berhenti mendekat. "Me-sum!"
Hayden terkekeh kecil. "Apa salahnya menjadi me-sum hanya di hadapan istriku sendiri?"
__ADS_1
Feli mendorong dada bidang Hayden dengan seluruh tenaganya, hingga Hayden mengambil dua langkah mundur tanpa disadari. "Berhentilah bercanda dan tunjukan kamarku!"
Hayden tertegun, karena tiba-tiba Feli berucap dengan nada suara penuh percaya diri, lebih terkesan seperti memerintah dan penuh tuntutan.
Napas Feli padahal sudah terdengar agak tidak stabil, terdengar berat dan terengah-engah. Iris matanya mulai memerah, ia menatap Hayden dengan tatapan tajam, seolah penuh dengan kemarahan yang tengah coba ia redam.
Hayden ngerjapkan pelupuk matanya berulang. Ia menatap Feli dengan raut wajah bingung pun terkejut secara bersamaan. "Baby, ada apa? Kenapa kau seperti ini?"
Feli membuang napas kasar seraya memejamkan pelupuknya sebentar. "Beritahu saja, di mana kamarku!" tegasnya.
"Maksudmu, kamar kita berdua bukan?"
"Kamar siapa pun itu. Beritahu saja aku dan tinggalkan aku sendiri untuk sementara," pinta Feli dengan suara yang sedikit melembut.
"Baby ...," lirih Hayden seraya mencoba meraih tangan Feli, akan tatapi, Feli menepisnya.
Menelan ludah dengan susah payah, Feli mengalihkan wajah sekilas, sebelum menatap Hayden dengan mata yang sudah benar-benar merah dan mulai berkaca-kaca, siap mengalirkan air mata kapan saja.
Mata Hayden sontak membola, lebih terkejut daripada sebelumnya. Tentu, rasa khawatir seketika menjalari relungnya, membuat ia menerka, apa sebenarnya yang terjadi pada Felisha.
Feli membuang napas kasar seraya menundukan pandangan sekilas. "Tidak ada. Aku hanya lelah. Aku ingin beristirahat. Kumohon Hayden, bisakah kau beritahu, di mana kamarku dan tinggalkan aku sendiri untuk sementara?"
Feli memohon dengan mata sendu nan lelahnya yang menatap Hayden. Raut wajahnya jelas menunjukan, bahwa ia saat ini benar-benar lelah.
Dan Hayden pun menyadari hal itu.
Sebagian besar perasaan Hayden meyakini, bahwa ada sesuatu yang cukup mengganggu benak Feli sejak pagi tadi, lebih tepatnya, sejak ia kembali menemui istri cantiknya itu setelah selesai berkemas.
Sejak saat itu, Feli seolah berusaha untuk menghindarinya. Tidak sering bicara, bahkan beradu tatap.
Bergeming, selagi membiarkan benaknya sibuk menerka, Hayden berdiri mematung di sana, bersama Feli sembari bertukar pandang.
Tidak. Hayden tidak bisa terus membiarkan Feli bersikap seperti ini terhadapnya.
__ADS_1
Pria tampan itu pun akhirnya memutuskan untuk merengkuh tubuh Feli ke dalam pelukannya, tak perduli Feli meronta atau pun menolak, ia tetap memeluk sang istri dengan sangat erat, seolah tidak ada niatan sama sekali untuk melepaskan.
Feli berusaha mendorong dada bidang Hayden sekuat tenaga, tapi Hayden bergeming, tidak bergerak sedikit pun. "Lepaskan Hayden. Apa yang kau lakukan?"
Hayden menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Ia memejamkan mata seraya menenggerkan dagunya di bahu Feli secara paksa, karena Feli masih terus meronta. "Katakan padaku. Jangan memendamnya sendirian. Katakan padaku, apa yang mengganggu benakmu? Kau tahu bukan, kau bisa berbagi segala perasaanmu denganku mulai sekarang? Kita akan melaluinya bersama, tidak perduli senang atau pun sedih. Kita akan melaluinya bersama-sama, jadi tolong, jangan menghempasku terus menerus seperti ini."
Tubuh Felu melemas.
Wanita cantik itu akhirnya pasrah dan terdiam seketika begitu Hayden menyelesaikan penuturannya yang tulus itu.
Air mata yang sedari tadi sudah mengembun dalam pelupuknya, seketika berderai dengan sangat deras tak terkontrol.
"A-aku tidak ingin terus menghempasmu. A-aku i-ingin merengkuhmu, terlebih apa yang telah a-aku dengar dari Bibi Rosa."
Mata Hayden membola seketika. Ia dengan cepat menengkup kedua lengan Feli sembari melepaskan pelukannya, agar ia bisa menatap raut wajah wanitanya. "Jadi benar, Bibi Rosa mengatakan sesuatu padamu? Apa yang dia katakan?"
Felu mengangguk samar sembari tersenyum getir sekilas. "Hemm. Bibi Rosa menceritakan, betapa besarnya cintamu terhadapku, hingga kau memilih menepis kebenaran, bahwa malam itu, kau melihatku bersama pria lain."
Genggaman Hayden seketika lolos dari kedua lengan Feli. Tatapannya terlihat kosong, tertuju ke arah permukaan dinding yang berada di belakang tubuh sang istri.
Felu melingkarkan kedua lengannya di sekitar pinggang Hayden, memeluknya dengan sangat erat, membuat salah sisi wajah sebelah kirinya tenggelam di atas dada bidang sang suami.
Hayden memaku. Ia terdiam dan bergeming, seolah waktunya berhenti berputar saat itu juga.
"Terima kasih untuk cintamu, Hayden. Tapi, kenyataan bahwa kau bekerja sama dengan Jane untuk mendapatkan tanda tangan di atas berkas pengalihan kekayaan milik ayahku, membuatku ingin terus menghempasmu."
Tangis Feli benar-benar pecah tak dapat lagi terbendung. Sementara Hayden terdiam, mendengarkan setiap kata yang Feli loloskan dengan sangat hati-hati.
"K-kau tahu?"
Feli mengangguk perlahan. "Itu membuatku ingin menghempasmu, sangat jauh. Tapi di sisi lain, aku ingin bersikap sepertimu, mencoba memahami, bahwa dari semua yang terjadi, pasti memiliki alasan yang dapat dimengerti. Jadi, tolong beritahu aku, kenapa kau melakukan semua ini?"
"Sejak kapan kau tahu? Dan apa yang Bibi Rosa katakan padamu, sampai kau bersikap seperti ini?"
__ADS_1
"Pagi ini. Apa yang Bibi Rosa katakan, membuatku semakin merasa bersalah dan tidak ingin pergi dari sisimu, selamanya. Tapi di sisi lain, aku merasa aku ingin melepaskanmu, membiarkanmu menemukan kebahagiaan yang pantas kau dapatkan."
Tbc ....