
Feli membuang napas kasar. Memutar bola mata, wanita cantik itu lantas menatap Hayden dengan tatapan penuh hardik sambil tersenyum simpul. "Aku sudah mengira, kau akan mengatakan itu."
Senyuman yang masih terpatri di bingkai birai Hayden, meski sempat terjeda saat berucap, sukses dibuat semakin merekah, begitu Feli merampungkan perkataan. "Benarkah? Itu artinya ... kau sudah mempersiapkan diri?"
Feli berdecih pelan sembari menggeleng tak habis pikir. Sedikit gemas, ia tak angkat suara, hanya diam bergeming, tanpa mengalihkan sedikit pun atensinya dari Hayden.
"Ayo lakukan," pinta Hayden tiba-tiba, bernada setengah merengek, tapi juga terdengar begitu penuh antusias pada saat bersamaan.
Menaikan alis sebelah kiri, Feli menatap Hayden dengan tatapan heran. "Ayo apa? Lakukan apa?"
"Kiss, kiss. Masa tidak mengerti?"
"Kau serius?" Feli mengedarkan pandangannya sebentar. "Sekarang juga? Di sini?" tanyanya sambil menatap Hayden, tidak yakin.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda, bagimu?"
Feli mengerjap. "Tapi, Hayden-" menjeda perkataan, wanita cantik itu menelan ludah kasar dengan sedikit kepayahan, lalu kembali mengedarkan pandangan, memperhatikan area sekitar dengan harap-harap cemas, "bagaimana jika ada yang melihat?"
"Siapa yang mau melihat? Lagi pula, kalau memang ada yang mau melihat, biarkan saja."
Melongo, manik mata Feli melebar menatap Hayden dengan tatapan tidak percaya. Wajah cantiknya memetakan keterkejutan, membersamai mulut kecilnya yang sukses dibuat menganga. "Kau tidak sedang serius kan, Hayden?"
"Apanya?"
"Kau benar-benar tidak masalah, jika nanti ada yang melihat?"
Kening Hayden mengernyit. "Melihat apa? Kita berciuman?"
"Hemmm." Feli mengangguk cepat. Pelupuk mata berbulu lentiknya mengerjap lucu.
Mendengkus, Hayden terkekeh sinis. "Tidak. Aku sama sekali tidak masalah. Biarkan saja, jika memang ada yang melihat. Bila perlu, kita berciuman sambil melakukan live streaming, agar selu- aduh!"
Belum sempat merampungkan perkataan, atau lebih tepatnya ocehan nyeleneh yang hendak dipaparkan pada sang istri, perkataan Hayden terhenti, berganti jadi sebuah aduhan pelan, tepat ketika sebuah pukulan mendarat telak di permukaan lengan bagian atasnya.
Cukup tercengang mendengar Hayden bertutur dengan begitu gamblang, Feli refleks melabuhkan pukulan di permukaan lengan Hayden, memang sengaja, ingin membuat suami tampannya itu berhenti mengoceh.
Mencebikan bibir, Hayden menatap Feli dengan tatapan memelas, ayalnya anak laki-laki berusia tiga tahun yang bari terkena omelan dari sang ibu dan mencoba membujuknya.
Feli memberi Hayden tatapan lekat. "Berhenti bicara, jika kalimat yang ke luar dari mulutmu hanyalah hal yang tidak berguna."
Bibir Hayden semakin mencebik. "Apa harus, sampai memukulku seperti itu? Aku memintamu untuk menciumku, kau ingat? Bukan memukulku," rengeknya.
Feli memicingkan mata, menatap wajah tampan Hayden yang sedikit merengut, agaknya sengaja, ingin menunjukan, bahwa dirinya sedang merajuk. "Seingatku ... tadi kau tidak minum minuman berarkohol, tapi kenapa tiba-tiba, tingkahmu mirip seperti orang yang sedang mabuk. Kenakan-kanakan sekali."
__ADS_1
"Aku memang sedang mabuk."
Mata Feli sontak membola, menatap Hayden kaget. Raut wajahnya memetakan keterkejutan. "Kau serius? Hey! Kenapa kau tidak bilang dari awal? Kau ingin terkena masalah, karena menyetir dalam keadaan mabuk, atau apa?"
Alih-alih merasa bersalah, mendapati Feli seketika dilanda kepanikan juga kecemasan karena dirinya, Hayden malah terkekeh dan tersenyum manis, ayalnya seseorang yang mendadak kehilangan akal.
"Baby ... tenangkan dirimu. Aku saat ini memang sedang mabuk, tapi bukan mabuk karena minuman beralkohol, melainkan karena dimabuk cinta," celetuk Hayden dengan santainya, sesekali diselingi kekehan kecil.
Cukup kesal, Feli akhirnya kembali melabuhkan pukulan lagi di permukaan lengan bagian atas Hayden, tidak hanya sekali, tapi beberapa kali, sampai Hayden berulang kali mengaduh kesakitan sambil mencoba menghalau pukulan dari istri cantiknya tersebut.
"Kau ini memang tidak bisa diajak bicara serius, ya?!" omel Feli sambil terus menerus memukul lengan Hayden.
"Aw! Ah, sakit. Ampun, ampun, Sayang. Maafkan aku. Aku hanya bercanda."
"Rasakan!"
Sensasi perih juga kebas pada akhirnya tak terelakan, mulai dirasakan oleh Hayden akibat dari pukulan bertubi yang diterimanya dari Feli.
Meraih pergelangan tangan Feli, membuat pergerakan istri cantiknya itu terhenti, Hayden tersenyum manis sambil menatap Feli yang sedang mencoba mengatur deru napasnya dengan tatapan lembut. "Cukup, okay?"
Feli mendelikan mata, menatap Hayden dengan tatapan jengkel luar biasa.
Membuang napas kasar, wanita cantik itu menghentakan tangan, melepaskan diri dari cekalan Hayden. "Menyebalkan!" keluhnya.
Menundukan pandangan, Feli menatap kedua telapak tangannya yang berada di pangkuan dalam keadaan terbuka dengan sempurna, tampak begitu merah.
Membuang napas kasar, Feli lantas menoleh lagi, mempertemukan pandangannya dengan Hayden. "Bagaimana dengan lenganmu? Baik-baik saja?"
"Aku bertanya lebih dulu. Kenapa malah dijawab dengan pertanyaan juga?" Hayden membuang napas kasar, lalu menepuk permukaan lengannya beberapa kali dengan sombongnya. "Aku kuat, aku baik-baik saja."
Feli terkekeh kecil. "Kalau aku bilang, tanganku sakit, itu artinya aku lemah?"
"Tentu saja tidak." Hayden menundukan pandangan, mengulurkan tangan, ia meraih kedua telapak tangan Feli, menariknya pelan, membawanya untuk mendekat.
Hayden meniup lembut permukaan telapak tangan Feli yang masih memerah, sebelum kemudian ia mendaratkan kecupan manis secara bergantian, beberapa kali di sana. "Lain kali, jangan memukul menggunakan tanganmu secara langsung, jika itu membuatmu sakit. Cari benda atau apa, untuk kau gunakan sebagai senjata, hemmm?"
Feli tersenyum. Hatinya menghangat setelah melihat juga merasakan tindakan manis yang Hayden lakukan, disusul oleh perkataan sederhana suami tampannya itu. Ia merasa cukup tersetuh.
Jelas, dari bagaimana Hayden bertutur, memperlakukannya dengan sangat baik dan lembut, Feli bisa merasakan, betapa besarnya cinta yang dimiliki oleh pribadi tampan itu untuk dirinya.
Tak heran, kendati sudah dua tahun lamanya mereka berpisah, perasaan saling mengasihi, saling membutuhkan itu, masih saja tetap tertata di lubuk hatinya yang terdalam.
Feli masih sangat mencintai Hayden. Tidak pernah berhenti, meskipun hubungan mereka pernah berada di pase, sama sekali tidak memiliki kejelasan.
__ADS_1
"Apa itu artinya ... aku boleh memukulmu, lain kali?" tanya Feli dengan lugunya sambil melempar senyum manis terbaik ke arah Hayden.
Hayden menengadah, membiarkan manik mata jelaga indahnya bersitatap dengan netra teduh Feli. Ia menatap istri cantiknya itu dengan tatapan lembut, hangat juga penuh damba, lantas tersenyum. "Lakukan saja. Aku tidak akan melarang, apalagi ... jika saat aku melakukan kesalahan."
Feli terkekeh sembari menundukan pandangannya, sebentar. "Baiklah. Lain kali, aku akan membasa stik golf ke manapun aku pergi, saat bersamamu."
Hayden ikut terkekeh. "Apa kau sedang berencana untuk membunuhku?"
Tersenyum, Feli menggeleng. "Ayo kita pulang."
Hayden mengangguk setuju sambil tanpa ragu membalas senyuman yang Feli tunjukan. "Tentu, kita akan pulang. Tapi bagaimana dengan ciumanku?"
Feli memutar bola matanya malas, kendati senyuman masih memeta di bibirnya. "Kita lakukan itu nanti, jika sudah di rumah."
"Kau benar-benar akan melakukannya?"
"Tergantung dirimu. Kau mau aku melakukannya, atau tidak?"
"Tentu saja mau. Sangat mau."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo pulang."
"Kalau di rumah, aku mau lebih dari sekali, ya? Dua, ah tidak." Hayden dengan cepat menggelengkan kepala, saat ia berniat untuk mengoreksi perkataannya. "Lima kali," imbuhnya sambil menunjukan telapak tangan sebelah kiri yang terbuka ke dekat wajah Feli.
Feli terkekeh. "Terserah."
"Hey, aku serius."
Feli memejam, sesaat. "Iya, iya."
"Benar ya, kau akan menciumku sebanyak lima kali? Awas kalau bohong."
Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Feli berusaha untuk menehannya agar tidak merenggang, apalagi kembali menguarkan kekehan saat melihat Hayden begitu antusias.
"Kalau lebih dari ciuman, apa boleh?" celetuk Hayden, tiba-tiba.
Kening Feli mengernyit, sampai membuat kedua alisnya yang bersebrangan hampir saling bertautan, sedang matanya memicing, menatap Hayden, nanar. "Lebih dari ciuman?"
Hayden mengangguk penuh semangat sambil tersenyum. "Hemmm. Lebih dari ciuman."
Melihat air muka milik suami tampannya terlihat begitu cerah, lebih cerah dari sebelumnya, menyorotkan keantusiasan juga kebahagiaan - dalam satu waktu, Feli tak kuasa manahan senyum haru juga senang, untuk tidak terulas di bibirnya.
"Lihat saja nanti. Untuk sekarang, ayo pulang dulu."
__ADS_1
Tbc ....