
Embusan napas kasar mencelos melalui celah antara bingkai birai Hayden yang berjarak, begitu pribadi tampan itu menarik diri, menundukan pandangan seusai melepaskan pagutan dengan sang istri.
Feli yang relungnya seketika didera kebingungan, sebab tidak tahu, mengapa Hayden memberi reaksi seperti itu, hanya bisa mengerjapkan pelupuk mata berbulu lentiknya dengan pergerakan cepat secara berulang.
Manik mata hazel indahnya yang tampak gemetar, menatap nanar sosok Hayden yang agaknya masih enggan melepaskan kungkungan, kendati tubuh mereka kini tidak sedekat seperti sebelumnya.
"Ayo kita hentikan," cetus Hayden tiba-tiba, sembari menengadahkan pandangan, membiarkan manik mata jelaga indahnya yang kelam, bersirobok pandang dengan mata Feli.
"Hentikan?" Feli menatap gugup wajah tampan Hayden yang berekpresi datar di hadapannya itu, mencoba menilik, ke arah mana maksud perkataannya tertuju.
Semakin kebingungan, Feli menelan ludahnya dengan sedikit kepayahan, lantas mengigit gugup bibir bawahnya cukup kuat.
Pelupuk mata berbulu lentik wanita cantik itu mengerjap cepat lagi dengan lugunya, menunjukan manik mata hazel indah yang berbinar serta membulat besar. "Apanya yang mau dihentikan?"
Agaknya serangan yang sebelumnya Hayden lakukan terhadap Feli, tak gagal membuat benak wanita cantik itu jadi agak lambat berfungsi, hingga tidak mampu menangkap maksud inti dari penuturan yang Hayden sampaikan.
Berusaha menahan rasa gemas yang seketika mengungkung dalam relung, sebab melihat keluguan yang Feli tunjukan di hadapan, tentu saja, usaha Hayden sangatlah sia-sia.
Niat hati ingin tetap menunjukan raut datar, juga tatapan dingin yang sulit diartikan, sejurus kemudian, gelak tawa renyah tanpa beban, menguar dari mulut pria tampan itu, hingga membuyarkan segala pertahanan.
Menunduk, Hayden terkekeh gemas, sampai-sampai tak kuasa halau harus terus menerus dirinya bersitatap dengan sepasang manik mata rusa yang tampak lucu milik istri cantiknya itu.
"Haydeeeeen!" Feli menyeru, setengah merengek seraya melabuhkan pukulan serta dorongan pelan di permukaan bahu sebelah kanan Hayden.
Alih-alih berhenti tertawa, tawa Hayden malah terdengar semakin nyaring, diringi tubuhnya yang agak terguncang, karena saking tak kuasa menahan kegemasan.
Feli yang berniat marah, karena merasa sudah sedikit dipermainkan oleh Hayden pun sampai ikut terkekeh, mendengar gelak tawa sang suami yang terdengar begitu renyah, juga merdu dalam rungunya.
"Hayden!" Di sela kekehan yang setia mengudara, Feli menyeru lagi.
Masih setengah merengek, wanita cantik itu melabuhkan beberapa kali pukulan di permukaan bahu Hayden, walau tak seberapa kencangnya.
"Ish! Kau ini kenapa, sih?" Feli mendorong tubuh Hayden, berusaha membuat suami tampannya itu berhenti tertawa, lantas segera memberi penjelasan terhadap situasi yang sempat membuatnya merasa kebingungan.
Menengadah, mempertemukan pandangan dengan Feli, sayangnya hal itu tak bisa Hayden lakukan dengan durasi lama, sebab begitu melihat wajah masam sang istri, ia malah kembali tertunduk sambil tertawa bahagia.
"Hayden!" seru Feli, sedikit diberi penekanan, mulai merasa dongkol, menghadapi tingkah random Hayden.
"Berhenti tertawa bisa tidak? Memangnya ada yang lucu apa?" rengek Feli, menyuarakan kejengkelan, kendati bingkai birainya tak bisa ia hentikan untuk merenggang, paling tidak memetakan senyum yang menyembul dengan sendirinya, atau kekehan kecil yang dipicu oleh gelakan tawa sang suami.
"Hayden!"
__ADS_1
"Ok, ok. Maaf. Aku akan berhenti tertawa sekarang," tutur Hayden sembari menghalau pukulan yang hendak kembali berlabuh di bahunya.
Mencebikan bibir, di detik Hayden benar-benar menengadah, Feli langsung memberi suami tampannya itu tatapan garang. "Kenapa tertawa setelah menciumku?"
Hayden menggeleng sembari memasang air muka tanpa dosa. "Aku tidak tertawa setelah menciummu."
"Iya. Kau tadi langsung tertawa setelah menciumku."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak, Sayang." Hayden menengkup wajah mungil Feli, memberi kedua sisi pipi istri cantiknya yang agak menyembul karena sedang cemberut itu usapan pelan, penuh kasih.
"Jelas-jelas kau tertawa. Apa mulutku bau?" Feli mencoba mengendus aroma mulutnya melalui udara yang ia embuskan dengan kasar, sengaja dihalangi telapak tangan.
"Tidak. Mulutmu wangi. Wangi mint."
"Lalu kenapa kau tertawa setelah menciumku?"
"Aku tidak tertawa setelah menciummu. Aku tertawa, setelah kau bertanya padaku."
Permukaan kening Feli mengernyit dengan sangat instan, mewakilkan keheranan yang seketika relungnya rasakan. "Kenapa kau tertawa?"
"Tadi kau mengajakku berhenti. Apa yang mau kau hentikan?"
"Eummmm-" menjeda perkataan, Hayden memiringkan kepalanya sekilas sembari mengatupkan bingkai birai cukup rapat untuk beberapa saat, lalu tersenyum simpul. "apa ya?"
"Kenapa malah balik bertanya?"
Hayden terkekeh kecil. "Aku lupa. Tadi apa ya, yang mau aku hentikan?"
Mencebikan bibir, Feli memicingkan mata, memberi Hayden tatapan sangar. "Berhenti mempermainkanku, Tuan Wilson!" tegasnya seraya mencubit jengkel puncak dada Hayden.
Hayden sampai meringis pelan, lalu refleks mengusap permukaan dadanya yang terkena cubitan. "Aku ingin membalasmu."
"HAYDEN!" Feli menjerit kaget, tepat saat Hayden mengulurkan tangan sebelah kanan, menujukan telapak berjemari jenjangnya tepat ke area dada.
Spontan menyilangkan kedua lengan untuk menutupi gunung kembar berharga miliknya sembari memejam, saat mendengar Hayden menguarkan kekehan, Feli langsung menatap Hayden dengan tatapan tajam menyalang.
"Kenapa kau bisa seenaknya mencubit choco cipsku, sedangkan aku tidak boleh?" Hayden berdesis pelan sembari memiringkan kepalanya sekilas. "Bukannya itu tidak adil?"
__ADS_1
"Karena kau itu pria, sedangkan aku wanita!"
"Itu namanya diskriminatif. Pokoknya tidak adil. Harusnya ... kalau wanita saja boleh seenaknya mencubit choco cips atau puncak dada pria, pria juga boleh melakukan hal yang sama pada wanita."
Feli mendengkus kasar sembari memutar bola matanya jengah. "Aku tahu kau tidak selugu itu, sampai aku harus repot-repot memberi penjelasan mendetail padamu, kan?"
Hayden mengerjap. "Aku memang lugu."
Feli memeletkan lidahnya sekilas. "Pendusta."
"Hey, kalau berani lakukan itu sedikit lebih lama."
"Apa?" Feli mendongakan dagunya dengan begitu percaya diri, menunjukan postur seakan tengah menantang sang suami.
"Memeletkan lidahmu."
"Untuk apa aku memeletkan lidahku sedikit lama?"
Sudut bibir sebelah kiri Hayden menukik agak tajam, hingga seringaian ngeri penuh arti sukses tercipta dengan begitu sempurna di sana. "Agar aku bisa menggigitnya."
"Hayden!" Feli memukul permukaan dada suami tampannya itu. "Stop mengalihkan topik pembicaraan. Sekarang beri tahu aku, apa maksud dari perkataanmu tadi?"
Hayden terkekeh. "Perkataanku yang mana, Cantik?" tanyanya, dengan nada suara yang terdengar begitu lemah lembut, bahkan manis, menggoda.
Mendekatkan wajahnya ke wajah Feli, Hayden mencuri kecupan singkat tapi manis di permukaan birai istri cantiknya yang tampak agak mengerucut dengan lugunya itu.
"Apa yang tadi ingin kau hentikan? Kau belum memberi jawaban, malah langsung tertawa begitu saja."
Tersenyum simpul penuh arti, Hayden menelusupkan lengan sebelah kirinya di area pinggang sang istri. "Tadinya aku ingin berhenti bermesraan denganmu."
"Kenapa? Kau tidak suka, bermesraan denganku?"
"Suka. Aku sangat suka." Suara bariton Hayden mengudara dengan begitu parau, bahkan terkesan agak sensual kali ini.
Mendekatkan wajahnya ke permukaan pipi sebelah kiri Feli, Hayden melabuhkan kecupan manis di area pelisip, sembulan pipi, dekat daun telinga, bahkan sudut bibir sang istri.
"Lalu kenapa kau mau berhenti?"
Menelusupkan wajah tampannya di area ceruk leher Feli, Hayden menghela napas dalam-dalam, menghirup aroma wangi yang tubuh sang istri suguhkan, lantas memejam.
Melabuhkan kecupan, dari yang singkat sampai yang basah, bahkan hingga tak gagal membuat tubuh Feli meremang karenanya, Hayden tersenyum. "Karena kalau tidak berhenti, aku tidak yakin, aku bisa menahan diri."
__ADS_1
Tbc ....