Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Negosiasi | FlashBack


__ADS_3

Berkas pengalihan harta kekayaan? Tanda tangan Feli? Bagaimana dan kapan Hayden membuat Feli mendatanganinya?


Jika pria tampan itu berkata 'semalam', bukankah itu artinya tepat di malam pertama pernikahannya? Malam di mana Feli menyatakan perasaannya yang sesungguhnya terhadap Hayden dalam keadaan mabuk?


Ya, tepat sekali. Anggap saja, Hayden telah mengambil kesempatan dalam kesempitan malam itu, malam di mana Feli hilang kendali, karena terkontrol oleh minuman beralkohol yang ia minum, sebelum memasuki kamar Hayden, atau lebih tepatnya kamar mereka berdua.


Namun, sungguh bukan perkara mudah bagi Hayden untuk membuat Feli mendatangani berkas-berkas yang berisikan pernyataan pengalihan harta kekayaan tersebut.


Malam itu, tidak tidak terima pernyataan cintanya yang hanya dijawab oleh Hayden dengan kalimat, 'Hemmm, aku tahu'.


Feli yang kala itu tengah menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, seketika menengadah, menunjukan raut wajah keheranan yang diiringi mata yang memicing, menatap Hayden penuh terka.


Feli terdiam beberapa saat, tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan, membuat Hayden menatapnya sembari mengerjapkan pelupuk mata dengan pergerakan cepat, beberapa kali. "A-apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Feli diam, bergeming, tak kunjung angkat suara, setia membiarkan manik matanya masih beradu dengan manik jelaga indah milik sang suami.


Raut wajah dan tatapannya, jelas, menunjukan bahwa Feli sudah benar-benar terpengaruhi oleh alkohol.


Ada semburat kemerahan yang timbul di kedua sisi pipi Feli, ayalnya sedang tersipu, sementara tatapannya sendu, khas orang mabuk.


Pelupuk mata wanita cantik itu acap kali mengatup dengan pergerakan lamban, bebersamai senggukan dalam yang sesekali menguar.


Kedua lengan Feli yang masih melingkar di sekitar leher jenjang Hayden, perlahan terlepas. Namun, hal selanjutnya yang ia lakukan, berhasil membuat Hayden terkejut, bukan kepalang.


Kedua telapak tangan berjemari lentik Feli, meremat kuat kerah bath robes yang masih melekat pada tubuh Hayden. "Hanya itu? Jawaban atas pernyataan cintaku, hanya seperti itu?" protesnya, bertanya dengan nada merengek.


Hayden terdiam, atau lebih tepatnya memaku, menatap Feli dengan manik mata yang masih menyorotkan keterkejutan yang sama.


Feli terkekeh sinis seraya mengalihkan pandangan sekilas, sebelum akhirnya menundukan kepala. Ia membuang napas kasar secara perlahan, bersamaan dengan melepaskan rematan tangannya dari bath robes yang Hayden kenakan. "K-kau pasti, s-sangat membenciku."


Menengadahkan pandangan, Feli menatap manik jelaga indah Hayden yang membola dengan pupil yang gemetar dan mulai dikelilingi iris yang memerah. "K-kau sangat membenciku, ya? Tu-Tuan Hayden Brent Wi-Wilson?"


Feli berucap dengan nada lirih, jelas menyiratkan kepedihan yang saat itu juga, mampu Hayden sadari.


Hayden tersenyum lembut. "Tidak Baby. Aku tidak membencimu."


"Lalu, k-kenapa kau t-tidak membalas pernyataan cintaku?"


Sudut bibir sebelah kiri Hayden menukik tajam, mengulas seringaian ngeri, penuh arti, sekilas. "Anggap saja, karena aku belum memaafkanmu."

__ADS_1


Pelupuk mata Feli mengerjap berulang. Ia menatap wajah tampan Hayden dengan seksama, seolah mencoba menerka, apa sebenarnya maksud dari perkataan sang suami.


Membuang napas kasar, Feli menundukan pandangan. Permukaan bibirnya mencebik lucu, sedang kedua pipinya agak sedikit menyembul. "K-kau b-belum memaafkanku, k-karena aku meminum minumanmu tadi?"


Sekali lagi, perkataan Feli berhasil membuat Hayden terkejut dan menghapus senyuman arogan yang masih terpatri di bibirnya.


Mata Hayden membola, menatap sosok wanita di hadapannya itu dengan tatapan syarat akan tidak percaya.


Hayden benar-benar sama sekali tidak mengira, jika Feli akan menarik kesimpulan sesepele itu terhadap pernyataannya.


Hayden terkekeh sinis seraya mengalihkan pandangan sekilas. Merasa begitu gemas, juga tidak habis pikir, pada saat yang bersamaan. "Seriously, Felisha? Apa kau- ah lupakan, kau sedang mabuk saat ini."


Hayden mendengkus kasar, tatkala ia menyadari, berdebat dengan Feli, sementara keadaan sang istri yang sedang mabuk, benar-benar akan sia-sia, buang-buang waktu saja.


Feli perlahan menengadahkan pandangan, menatap Hayden sembari menunjukan raut wajah lugu dan puppy eyes-nya yang seketika, berhasil membuat Hayden luluh. "A-apa kau, tidak a-akan memaafkanku?"


"Apa kau ingin, aku memafkanmu?"


Feli mengangguk cepat dengan polosnya.


Sikap wanita cantik itu, benar-benar seperti anak kecil saat ini, hingga membuat Hayden bingung sendiri, bagaimana ia harus mengatasinya.


'Mungkin ini kesempatanku. Sekarang, atau tidak sama sekali.'


Menghala napas cukup panjang, Hayden mengembuskannya dengan pelan, lantas menggigit bibir bawahnya sedikit kuat.


Mengangguk setuju pada idenya sendiri, pria tampan itu lantas menatap Feli sambil mematrikan senyum manis dan raut wajah cerah. "Baiklah. Aku akan memaafkanmu, asal kau, mematuhi perkataanku dan menjadi anak yang baik. Bagaimana?"


Feli tersenyum sembari mengangguk antusias dengan begitu polosnya.


Senyuman yang masih terpatri di bibir indah Hayden semakin merekah. "Baiklah."


Hayden membangkitkan diri dari duduknya sembari mengankat tubuh Feli, lalu membuat Feli terduduk di atas tempat tidur, sementara ia berdiri di hadapan istrinya tersebut.


"Kau janji, kau akan menjadi anak yang baik dan menuruti perkataanku?" Hayden kembali bertanya, memastikan.


Feli mengangguk sambil tersenyum manis, menunjukan betapa lugu juga menggemaskannya ia, jika sedang mabuk dan bertingkah ayalnya seorang anak kecil yang manis.


Hayden tersenyum. Ia menepuk-nepuk gemas, puncak kepala Feli. "Baiklah. Tunggu di sini sebentar, aku akan kembali."

__ADS_1


"Hemmm."


Hayden pun pergi meninggalkan Feli untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kembali, membawa sebuah map berwarna merah, berisikan beberapa berkas.


Bibir pria tampan itu merenggang, mengulas senyum senang tatkala ia mendudukan dirinya kembali, tepat di samping Feli yang tengah tertunduk, menatap jemari tangan lentiknya yang ia mainkan di pangkuan.


"Ini dia." Hayden berucap pelan, mencoba mengait atensi Feli.


Menengadah, menoleh cepat ke arah Hayden, Feli menatap suami tampanbya itu dengan manik hazelnya yang tampak begitu sendu nan sayu, dikelilingi iris yang sedikit merah, pelupuknya beberapa kali mengatup dengan pergerakan lemah dan lambat.


Dapat dipastikan, Feli saat ini sudah benar-benar mabuk, hingga tak ada lagi kesadaran yang tersisa dalam diri wanita cantik itu


Kandungan alkohol yang terdapat dalam minuman yang sebelumnya ia tenggak, sebab berpikir minuman tersebut hanyalah minuman biasa, telah berhasil mengambil alih kendali Feli, seutuhnya.


Terkekeh lucu, raut wajah Feli memancarkan rona senang, sedang manik matanya berbinar, menatap Hayden, meski harus sedikit kepayahan agar mempertahankan pelupuknya tetap terbuka selebae mungkin. "K-kau kembali?"


Hayden mengangguk samar sambil tersenyum lembut, sebelum akhirnya menundukan kepala sembari membuka map merah yang masih ia genggam.


Embusan napas kasar, mencelos begitu saja melalui celah antara bingkai birai Hayden yang sedikit berjarak.


Pria tampan itu lantas menoleh, kembali memokuskan pandangannya ke arah Feli.


Ada senyum simpul yang tersirat di permukaan bibirnya, sedang manik matanya menatap lekat wajah bersemu Feli, menyorotkan begitu banyak arti yang cukup sulit diprediksi "Baiklah. Kau ingin aku memaafkanmu, kan? Babygirl?"


Feli mengangguk dengan pelupuk mata yang mengatup, berat. "Hemmm."


"Kalau begitu, kau harus menandatangani berkas ini." Kembali menundukan pandangan meski hanya sebentar, Hayden lantas mengulurkan berkas yang terbalut map merah, beserta sebuah balpoin.


Manik jelaga undah Hayden, akhirnya beradu pandang dengan bola mata indah Feli yang kini sudaj terlihat begitu lelah.


Kening Feli mengernyit, keheranan. "B-berkas?"


Hayden mengangguk, mengiyakan. Raut wajahnya tidak menunjukan ekspresi apa pun, terkesan dingin, bahkan sangat datar, tidak ada sedikit pun emosi yang tergambar.


Feli menundukan pandangan, menatap berkas dan balpoin yang masih Hayden genggam dan ulurkan padanya dengan mata yang begitu berat untuk tetap terbuka. "Berkas apa?"


"Anggap saja, perjanjian. Perjanjian, bahwa kau tidak akan kembali melakukan apa yang membuatku marah padamu, dua tahun yang lalu."


Tbc ....

__ADS_1


__ADS_2