Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
yang Terjadi Dua Tahun Lalu


__ADS_3

Dua tahun yang lalu. Tepatnya dua bulan setelah kecelakaan Feli mengalami kecelakaan.


Dua bulan setelah hari ulang tahun Feli yang terakhir dirayakan bersama kedua orangtua tercinta.


Dua bulan setelah hari yang paling Feli benci itu terjadi.


Saat itu, satu bulan tepatnya, Hayden merasa Feli dengan sengaja menghindar darinya.


Satu bulan sudah Hayden mencoba untuk mengajak Feli bertemu, namun selalu berakhir dengan kebungkaman, tidak mengiyakan ataupun memberikan penolakan.


Hayden tahu, bahwasannya, kala itu gadisnya sedang berduka dan teramat sangat kehilangan sosok ayah tercinta.


Hingga pada akhirnya, ia memutuskan hal besar dengan membeli sebuah cincin, berniat untuk melamar sang kekasih, dianggap pengganti sosok sang ayah daripada sosok suami pun, baginya tak apa.


Sebenarnya, dari awal Hayden memang sudah merencanakan hal tersebut. Lebih tepatnya, ia berniat melamar Feli pada keesokan hari, setelah hari ulang tahun gadis cantiknya itu.


Namun, karena musibah yang tak diduga-duga menimpa sang pujaan, Hayden mau tidak mau harus mengurungkan niatnya.


Disitulah titik terendah yang membuat Hayden dilema. Ia tidak tahan karena harus menahan kekhawatirannya sendirian terus menerus tanpa tahu keadaan Feli yang sebenarnya. Mungkin memutuskan melamar sang gadis dalam keadaan kacau seperti saat itu, bisa dibilang cukup egois dan tidak masuk akal.


"Setidaknya, jika aku segera menikahimu, kau bisa berbagi duka denganku. Aku berhadap, bisa mengisi kekosongan hatimu. Tidak harus dianggap sosok suami, anggap saja, sosok pengganti ayahmu," Hayden bergumam lirih tatkala ia menoleh sekilas ke kursi di sebelah kemudi.


Ya. Hayden tengah mengemudi di sore hari, berniat mengunjungi sang ibunda terlebih dahulu, sebelum melaksanakan niatannya malan nanti, berkunjung ke rumah sang kekasih.


Senyum senang bercampur haru dan sedikit sedih tak sedetik pun memudar dari bibir pria tampan itu.


Terutama bila mana ia menoleh ke kursi di sampingnya, di mana ia meletakan satu bucket mawar putih bersama sebuah kotak kecil berwarna merah, berisi cincin indah pilihannya sendiri.


Hayden terkekeh gemas sekilas. "Uwah. Aku sangat gugup. Bagaimana kira-kira Ibu akan bereaksi soal ini?" monolognya, antusias.


Ketika sesuatu seperti ini disebut hal besar, bagi Hayden ini benar-benar besar. Pasalnya, untuk pertama kalinya, ia akan memberitahu sang ibu, bahwa hatinya telah dicuri oleh Felisha, gadis cantik yang empat tahun terakhir sudah ia kencani.


Kebenaran besarnya adalah, tidak satu pun dari keluarga Hayden, kecuali Jay, mengetahui bahwa ia berkencan cukup lama dengan satu gadis saja, yakni Felisha.


Bukan tanpa alasan Hayden tidak memberitahu hubungannya dengan Feli pada anggota keluarga lainnya. Semua anggota keluarga Hayden tahu, bahwa Hayden seringkali berkencan dan berganti wanita setiap waktu.


Hayden tidak mungkin memperkenalkan satu wanita dengan mudah pada keluarga tercintanya, kecuali ia benar-benar akan menjalin hubungan serius dengan wanita tersebut.


Jika pun iya, Hayden yakin, pengakuannya akan dianggap sebagai gurauan semata saja, tanpa keseriusan sedikit pun.


Hayden sudah memikirkan keputusan tersebut secara matang. Sangat matang dan berulang dari jauh-jauh hari, sebelum hari ini, ia bertekad untuk segera melakukannya.


Demi Tuhan. Memikirkan bagaimana proses pengakuan pada sang ibu saja, sudah mampu membuat pria tampan itu gugup, teramat.


Hayden menghela napas dalam-dalam, tatkala ia menghentikan laju mobilnya tepat di halaman depan rumah orangtuanya.


Jangan lupakan fakta, bahwa Hayden dan Jay sudah hidup terpisah dari kedua orangtua mereka sejak mereka SMA.


Hayden dan Jay tinggal bersama di sebuah apartement mewah yang berada di pusat kota.


Membuka sabuk pengaman yang masih melintang ditubuhnya, Hayden lalu mengambil bucket bunga dan kotak cincin yang ia siapkan untuk ditunjukan pada sang ibunda sebelum melakukan eksekusi secara nyata.


Oh Tuhan. Jantungnya berdebar begitu cepat tatkala benaknya sibuk menerka, apa reaksi pertama yang akan ia saksikan dari sang ibu kala ia memberitahu kebenaran bahwa dirinya ingin mempersunting gadis yang sudah empat tahun ini ia kencani.


Bibir indah itu merenggang, mengulas senyum senang di wajahnya yang rupawan. Embusan napas kasar berhasil lolos melewati celah antara kedua bingkai birainya yang sedikit berjarak, tatkala Hayden membuka pintu mobilnya.


"Sekarang, atau tidak selamanya." Ia bergumam, penuh tekad.


Setiap langkah yang ia ambil untuk memasuki rumah sang ibu, terlihat begitu mantap, penuh ambisi.


"Oh astaga, Hayden!" Eemely menyapa dengan penuh keterkejutan, saat dirinya membuka pintu lebih dulu, bahkan sebelum Hayden sempat mengetuknya.


Emely merengkuh singkat tubuh sang putra ke dalam pelukan.


Sementara Hayden menatapnya dengan tatapan heran. "Apa Ibu akan pergi ke suatu tempat?"


Emely tersenyum hangat. "Ibu berniat untuk mengunjungi ayahmu di kantor, lalu makan malam bersama di luar."


Menyadari bahwa saat itu, Hayden datang tidak dengan tangan kosong, tapi membawa bucket mawar putih yang indah beserta satu kotak merah kecil berisi cincin masih digenggam, Emely menatap nanar sang putra. "Apa itu untuk Ibu?"


Hayden terkekeh gemas. "Sayangnya bukan. Ibu, bisa kita bicara sebentar, sebelum Ibu pergi menemui Ayah?"


Emely mengangguk ragu. Ia menatap sang putra pertama dengan tatapan penuh telisik, syarat akan curiga. "Tentu. Ayo masuk."


Hayden pun melangkah, mengekori Emely yang lebih dulu pergi menuntunnya menuju ruang keluarga.


"Kau ingin minum sesuatu? Katakan. Ibu akan mengambilkannya untukmu."


Hayden tersenyum simpul. "Tidak perlu. Aku hanya perlu waktu Ibu sebentar."


Kening Emely mengernyit keheranan saat ia dan Hayden menghentikan langkah, tiba di ruang keluarga, lantas mendudukan diri, saling berhadapan. "Wajahmu terlihat berseri-seri. Kau juga terlihat lebih sering tersenyum. Ada apa?" Emely tersenyum antusias. "Apa kau membawa berita baik?"

__ADS_1


Hayden terkekeh seraya menundukan pandangan sekilas. Ia mengangguk samar. "Hemmm. Seperti apa yang Ibu lihat." Ia sedikit mengangkat bucket bunga dan kotak cincin yang masih ia genggam sesaat. "Aku ingin melamar seorang gadis. Aku ingin menikah, Bu."


Emely terhenyak. Matanya membola, bersamaan dengan mulutnya yang sedikit menganga, tidak percaya. "Apa kau serius?"


Hayden tak bisa menahan gelak tawa kecilnya tatkala ia melihat bagaimana terkejutnya sang ibu. Namun yang ia tahu dengan pasti, ada kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata sang ibu yang menatapnya tidak percaya.


"Aku sangat serius, Bu."


Emely menatap Hayden penuh curiga. "Siapa gadis itu? Apa kau selama ini menjalin hubungan dengannya? Kenapa kau tidak pernah memperkenalkannya pada Ibu?"


Hayden tersenyum haru. "Aku sudah berkencan dengannya sekitar empat tahun lamanya. Dia salah satu sahabat terdekat Jay. Ibu tahu aku sering berkencan dengan banyak wanita, aku takut Ibu tidak menganggapku serius, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menikah." Senyum senang sumbringah tak mampu ia tahan untuk berkembang di bibirnya. "Aku ingin menikah dengannya, Bu."


"Sahabat dekat Jay? Apa itu Anna? Atau Laura?"


Hayden menggeleng samar sambil tersenyum. "Bukan keduanya. Aku akan memberitahu Ibu saat aku berhasil menerima jawaban 'Ya' darinya. Aku akan memperkenalkannya secara resmi pada semua orang."


Emely tersenyum, menggoda. "Sepertinya kau sangat mencintai gadis itu?"


Hayden terkekeh kecil seraya menundukan pandangan sekilas. "Sangat. Aku sangat mencintainya. Aku sudah berkencan dengannya selama empat tahun dan itu kencan terlama bagiku, hanya dengan satu wanita saja."


"Ibu bisa melihat itu. Pantas saja akhir-akhir ini Ibu merasa kau banyak berubah. Ibu jarang mendengar kau pergi ke club atau mengencani banyak wanita, atau mabuk-mabukan." Emely tersenyum penuh rasa syukur. "Rupanya kau sudah menemukan tambatan hati."


Senyum manis penuh arti berhasil terukir di bibir indah Hayden untuk kesekian kali. "Dia wanita yang luar biasa. Tidak dapat dipungkiri, semenjak aku mengenalnya, aku berhasil merubah banyak kebiasaan burukku. Dia berhasil menyembuhkan luka lamaku. Dia sangat sempurna bagiku, Bu. Aku sangat-sangat mencintainya."


"Kalau begitu jangan membuang banyak waktu. Cepat bawa dia ke hadapan Ibu dan jadikan dia milikmu." Emely berucap seraya tersenyum, penuh dukungan.


"Tentu Ibu, aku akan melakukannya!"


***


Tepat pukul sepuluh malam, Hayden pergi dari kediaman orangtuanya. Pribadi tampan itu bahkan sudah berada tepat di depan rumah Feli, baru saja tiba di sana, masih di duduk di dalam mobilnya.


Mengedarkan pandangan, Hayden menelisik keadaan rumah Feli di hadapannya.


Pria tampan itu menatap bangunan rumah milik orangtua Feli dengan tatapan heran, pasalnya rumah tersebut terlihat begitu gelap, tidak ada satupun lampu yang menyala.


"Apa tidak ada siapapun di dalam?" Hayden bergumam heran.


Tidak membuang waktu untuk ke luar dari dalam mobilnya, Hayden tak lupa membawa kotak cincin dan bucket bunga yang sudah ia siapkan sejak awal.


Tidak ingin niatnya langsung di ketahui. Pria tampan itu memasukan kotak kecil merah berisi cincin tersebut ke dalam saku celana bagian belakangnya.


Perasaan heran serta khawatir berkecamuk dalam benak pria tampan itu tatkala ayunan tuntkainya menuntun dirinya semakin dekat dengan pintu utama.


Bell rumah milik orangtua Feli tersebut ia bunyikan sekali lagi, namun masih sama. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terdengar dari dalam sana.


"Tidak dikunci?"


Pintu utama rumah itu berhasil terbuka saat Hayden memberanikan diri untuk mencoba mengecek keadaan rumah tersebut.


"Hallo! Apa ada orang di dalam?" Hayden berucap seraya mengambil langkah masuk dan kembali menutup pintu.


Merasa tidak enak hati karena memasuki rumah tanpa ijin sang pemilik, Hayden memutuskan untuk menghubingi nomor telpon Feli untuk memastikan keberadaan gadisnya itu.


Menenggerkan ponsel di dekat daun telinga, Hayden terus memendarkan pandangan, menatap keadaan sekitar, siapa tahu ada orang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Tepat saat panggilan suara yang dilakuka Hayden itu mulai terhubung, suara dering ponsel menggema dari salah satu ruangan yang berada di lantai atas.


Suasana di rumah itu gelap dan benar-benar sunyi, hingga Hayden bisa mendengar deru napas dan degup jantungnya sendiri.


Jadi bukanlah hal aneh jika suara dering ponsel yang biasanya tak cukup terdengar, begitu menggema bahkan jika berasal dari ruangan yang bedbeda.


Bibir Hayden perlahan merenggang, mengulas senyum senang tatkala kenyataan berhasil menyapa benaknya.


"Feli ada di rumah."


Pribadi tampan dengan cepat memutuskan panggilan yang sudah terhubung dengan nomor Feli. Ponselnya ia gunakan sebagai penerang langkahnya menuju kamar sang kekasih yang berada di lantai dua, tepatnya di mana dering ponsel sebelumnya menggema.


"Baby ...." Hayden memanggil Feli dengan suara manis seraya membuka pintu kamar milik kekasihnya tersebut.


Hayden menyalakan penerang utama dan mendapati Feli tengah berbaring di tempat tidur, berbalut selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.


Gadis itu tertidur pulas. Raut wajahnya terlihat begitu lelah dengan mata yang sedikit sembab.


Hayden tersenyum lega. Ia mengambil langkah untuk mendekat dan mendudukan dirinya tepat di samping gadisnya.


Ia menyimpan bucket bunga dan ponsel pintar yang masih ia genggam ke atas nakas yang berada di samping tempat tidur Feli.


Menatap sendu wajah lelah gadisnya yang tengah terlelap, Hayden memiringkan kepala. "Kau masih sering menangis, hemm?"


Telapak tangan berjemari jenjang Hayden perlahan menyentuh dan membelai lembut wajah Feli.

__ADS_1


"Eungh!" Feli mengerang pelan kala merasakan sensasi dingin dari sentuhan tangan Hayden.


Hayden terkekeh gemas sekilas, selagi melihat wajah Feli mengernyit. Mata gadisnya perlahan terbuka.


"Apa aku mengganggu tidurmu?"


"Ah! Kepalaku." Feli berucap seraya menjambak gemas surai panjangnya yang terurai.


"Hey. Apa kau baik-baik saja?" Rasa khawatir seketika menungkung dalam relung Hayden tatkala ia melihat gadisnya meringis, menahan rasa sakit.


"Babe! Ada apa? Apa kau baik-baik saja?"


Atensi Hayden seketika teralihkan ke arah pintu kamar mandi yang ada di kamar Feli, begitu ia mendengar pintu tersebut terbuka, diiringi seorang pria jangkung, berbalutkan sehelai handuk di pinggang muncul dari sana.


Hayden menatap si pria dengan tatapan tajam. "Siapa kau? Dan apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Si pria yang sejak awal hanya memokuskan seluruh atensinya ke arah Feli yang masih meringis sembari memegangi kepala, seketika menoleh dan beradu tatap dengan Hayden. "Kau siapa? Apa yang kau lakukan pada kekasihku?"


"K-kekasih?" Hayden terbata. Ia menatap Feli dan sosok pria asing itu secara bergantian dengan tatapan tidak percaya.


Hayden menatap Feli yang perlahan terlihat tenang dengan tatapan sendu yang sangat sulit diartikan. Ada kemarahan, kekecewaan dan keraguan yang tersirat di sana. "B-baby, siapa dia?"


Feli menatap Hayden dengan tatapan kosong. Ia bungkam. Seolah tidak tahu harus mengatakan apa sebagai pembelaan.


"Apa benar dia kekasihmu? Apa kau mengkhianatiku, Felisha?!"


"Hey. Kenapa kau membentaknya. Memangnya kau pikir, kau siapa? Ha?" Si pria asing menimpali, sementara Feli masih tetap bungkam.


Gadis itu seolah kehilangan akal. Tidak ada emosi apapun yang ia tujunjukan di raut wajahnya. Terlihat begitu kosong dan linglung.


Hayden tidak menggubris perkataan si pria tadi. Ia hanya memokuskan seluruh atensinya ke arah Feli yang masih menatapnya tanpa angkat suara.


"Felisha!" Jimin memekik, penuh kegeraman.


"Bisakah kau pergi dari sini?" Feli berucap dengan nada dingin dan datar.


Hayden terkekeh tak habis pikir seraya menatap Feli dengan tatapan tidak percaya. Matanya sudah merah dan berkaca-kaca.


Hayden menelisik keadaan Feli, seluruhnya. "Jelaskan padaku, apa yang terjadi padamu, Felisha? Kenapa kau bersikap seperti ini? Kenapa kau melakukan ini?"


"Tinggalkan aku sendiri!" Feli berucap dengan intonasi yang meninggi seraya dengan cepat membangkitkan diri dari tempat tidur.


Saat itu, mata Hayden membola. Ia memperhatikan tubuh gadisnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Di sana lah Feli. Gadis itu berhasil membuat Hayden tercengang dan kehabisan kata.


Hayden terkekeh sinis, meremehkan. "A-apa kau benar-benar mengkhianatiku dan bersetubuh dengan pria lain?"


Bukan tanpa asalan Hayden berucap demikian. Pasalnya, ia melihat tubuh gadisnya dibalut oleh kemeja putih oversize yang ia yakini milik pria asing yang masih berada di sana, memperhatikan Hayden beradu argumen dengan Feli.


Dua kancing teratas terbuka, menunjukan dada mulus Feli yang terekspose dengan sempurna.


Ada bercak merah di sana yang jelas-jelas membuat Hayden yakin untuk berasumsi, bahwa gadisnya telah berkhianat dengan pria lain.


Hati Hayden hancur saat itu. Benar-benar hancur menjadi ribuan keping. Namun, ada sedikit keraguan yang menahannya untuk segera pergi dari sana begitu saja, meninggalkan Feli.


Hayden menatap sendu gadisnya dengan mata yang sudah memerah. "Dengar! A-aku mungkin bisa memaafkanmu, asal kau memberi penejelasan padaku."


Hayden bisa melihat bagaimana tubuh Feli gemetaran sangat hebat. Peluh mulai mengembun di kening gadis itu. Air mata sudah menggenang di dalam pelupuknya. Napasnya berat, terengah-engah.


"P-pergi dari sini. Kumohon," lirih Feli, perih.


Hayden mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat. Pupil matanya gemetar, menatap Feli penuh kemarahan.


Pribadi tampan itu lantas dengan cepat membangkitkan diri dari duduknya dan pergi meninggalkan Feli di sana, bersama pria asing tadi.


"Ah sial!" Hayden melampiaskan seluruh amarahnya manakala ia tiba di dalam mobilnya.


Kedua telapak tangannya meninju setir mobilnya dengan sangat keras. Air mata yang selama ini ia tahan, akhirnya berderai, membasahi pipinya.


Ia hancur. Perasaannya benar-benar hancur. Kurang baik apa dia sebenarnya? Bukankah jelas ia melihat Feli bersama pria lain? Dan memiliki bercak merah di dadanya sebagai tanda kecupan? Ah tidak. Itu buka kecupan, tapi hisapan.


Namun, ia tetap memberi Feli kesempatan untuk memberi penjelasan. Secinta itu Hayden pada Feli. Tapi kenapa Feli mengkhianatinya dan tetap memilih bungkam saat Hayden memintanya untuk memberi penjelasan? Tidak masuk akal.


Hal pertama yang Hayden lakukan malam itu adalah pergi dari rumah Feli dengan segera. Ia kembali ke rumah orangtuanya dalam keadaan kacau dan mabuk berat.


Seperti apa yang dikatakan Emely sebelumnya pada Feli, Hayden mengalami depresi sejak malam itu.


Kebiasan lamanya terulang. Ia sering berkencan dan menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan, bergonta-ganti wanita. Sering melalui hubungan one night stand dengan wanita yang ia pilih secara acak.


Hayden mengalami titik terendahnya dalam kehidupan saat hubungannya dan Feli tidak memiliki kejelasan.

__ADS_1


Jelas Hayden menganggap hubungannya berakhir dengan Feli malam itu juga, malam di mana ia mendapati pria lain berada di dalam kamar yang sama, bersama gadisnya.


Tbc ....


__ADS_2