Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Suami Mesum vs Istri Lugu


__ADS_3

Felisha berjalan, mundar-mandir di titik yang sama - di hadapan pintu kamar mandi. Ia baru saja selesai membersihkan diri.


Mendadak, wanita cantik itu tiba-tiba merasa begitu gugup untuk ke luar dari sana setelah ia mengingat-ingat perbincangan yang sempat terjadi antara dirinya dengan Hayden - sebelumnya.


Tubuh moleknya yang indah hanya terbalut bathrobe putih, sementara rambutnya yang basah tergulung, diselimuti handuk kecil.


Feli menggigiti kuku dari jemari lentiknya, mencoba melawan rasa gugup yang terlanjur membuncah.


Degup jantungnya yang bertempo cepat, sama sekali tidak membantu keadaan, justru membuat benaknya semakin kacau.


Ia bahkan tidak yakin, jika jantungnya itu akan selamat jika saat ini ia menemui Hayden.


Feli mengatupkan pelupuk matanya rapat-rapat. 'Tuhan, tolong selamatkan aku.'


Wanita cantik itu berhenti bergerak, berdiri dengan tegak, menghadap ke arah pintu. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan, mencoba mensugestikan dirinya agar sedikit tenang.


Feli menelan ludahnya dengan susah payah, mengairi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa begitu kering kerontang.


Perlahan, namun pasti, salah satu tangan mungilnya yang gemetar membuka kunci pintu tersebut sampai terdengar bunyi ceklek dua kali, dari sana.


"Gotcha!"


"Akh!"


Tergelak dan terperanjat, Feli terkejut bukan main tatkala tiba-tiba Hayden membuka pintu kamar mandi tersebut.


Tubuh Feli seketika melemas, membuatnya berlutut sembari memegangi area dada, karena detak jantungnya semakin menggila.


Hayden pun ikut terkejut, karena tidak mengira Feli akan bereaksi seperti ini. Ia dengan cepat berlutut di samping tubuh gemetar wanitanya. "Sayang, apa kau baik-baik saja?"


Pria tampan itu merengkuh tubuh gemetar wanitanya ke dalam pelukan secara perlahan. "Kau pasti sangat terkejut. Maafkan aku, Sayang."


"Aish. Kau menyebalkan!" Feli berucap dengan nada suara geram pun gemetarnya seraya memukul dada bidang Hayden dengan telapak tangan mungilnya yang sudah mengepal.


"Maaf, Sayang ...." Hayden berucap dengan suara lembut dan huskynya sembari mengusap punggung Feli secara perlahan, mencoba menenangkan.


"Ah, kau benar-benar membuatku terkejut." Suara Feli masih gemetar, bersamaan dengan deru napasnya yang tidak stabil dan memburu.


Feli tidak berbohong sama sekali saat ia mengatakan bahwa dirinya terkejut. Ia memang benar-benar terkejut, sampai persendiannya melemas dan jantungnya seolah akan meloncat dari dadanya.


Hayden menatap wajah cantik sang istri dengan tatapan lembut, syarat akan rasa bersalah yang tiba-tiba saja hadir, menelusup dan menghujam relungnya.


Pelupuk mata wanitanya yang berbulu lentik itu mengatup rapat. Kedua telapak tangan mungilnya mencengkram kuat bathrobe yang menutupi area dada. Napasnya memburu, terdengar berat dan terengah-engah.


"Apa kau mau aku membantumu berjalan?"


Feli menelan ludahnya dengan susah payah seraya menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja."

__ADS_1


"Tidak, Sayang. Kau masih merasa terkejut. Tubuhmu masih gemetar. Biar aku membantumu," ucap Hayden dengan lembut sembari perlahan menelusupkan salah satu lengannya di bawah kedua betis Feli.


Sementara Feli yang semula menolak, akhirnya pasrah, melingkarkan kedua lengan gemetarnya di area ceruk leher Hayden.


Hayden mengangkat tubuh Feli di atas kedua lengan kekarnya dengan gaya pengantin, membawa wanitanya itu memasuki kamar.


Feli perlaha membuka pelupuk matanya dan disambut oleh netra teduh Hayden yang sudah menatapnya dengan tatapan cemas, ia tersenyum lembut, sekilas. "Aku baik-baik saja."


Hayden membuang napas kasar. "Maafkan aku, karena aku membuatmu sangat terkejut."


Pria tampan itu mendudukan dirinya di kursi yang berada tepat di hadapan meja rias dengan Feli yang ia dudukan di atas pengkuannya.


"Apa yang kau lakukan?"


Hayden tersenyum lembut, penuh kasih. "Aku akan membantumu mengeringkan rambutmu."


"Aku bisa melakukannya sendiri," tukas Feli seraya mencoba bangkit dari atas pengkuan Hayden.


Namun, Hayden dengan sigap menahannya, melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Feli, memeluk tubuh wanita cantiknya itu dengan sangat erat.


Kedua telapak tangan mungil Feli bergerak refleks, bertengger di kedua bahu Hayden.


Permukaan bingkai birai Hayden perlahan mulai merenggang, mengulas senyum senang. "Aku hanya akan mengeringkan rambutmu. Aku janji."


Kening Feli mengernyit, bersamaan dengan matanya yang memicing, menatap Hayden dengan tatapan yang menyorotkan penuh kewaspadaan. "Kau tidak akan melakukan apa pun?"


Feli mendengkus lega. "Baiklah. Lakukan dengan benar."


Hayden memperlonggar rengkuhan, memberi Feli akses untuk membenarkan posisi duduknya, lalu mengambil pengering rambut yang sudah ia siapkan di atas meja rias dari sebelumnya.


"Kau sudah menyiapkan pengering rambutnya?"


Hayden membuka lilitan handuk kecil yang masih digunakan untuk menggulung rambut basah Feli, lalu melemparkannya ke atas tempat tidur. Ia mulai mengeringkan surai panjang Feli yang indah.


Pria tampan itu tersenyum, manis. "Aku bahkan sudah menyiapkan dressmu."


Alis sebelah kiri Feli terangkat, agak sedikit menukik, membersamai permukaan keningnya yang mengernyit, sedang matanya memicing, ia menatap Hayden melalui pantulan cermin di hadapannya, dengan tatapan penuh telisik. "Benarkah?"


Hayden mengangguk antusias, tanpa ragu. "Hemmm. Baby blue. Warna kesukaanmu. Sudah kusiapkan di atas tempat tidur."


Feli mengalihkan atensinya ke arah belakang dari tubuh Hayden, masih melalui pantulan cermin. Bibir tipisnya perlahan merenggang, mengulas senyum senang manakala manik hazelnya berhasil menangkap sebuah kotak besar berwarna putih dengan hiasan vita biru cantik di atasnya, tersimpan di atas tempat tidur. "Kenapa repot-repot? Apa ada acara spesial malam ini?"


Hayden terkekeh gemas, sekilas. "Tidak repot sama sekali."


Tersenyum manis, Hayden menatap wajah cantik Feli melalui pantulan cermin besar di hadapan dengan tatapan penuh damba untuk beberapa saat, sebelum kemudian menundukan pandangan. "Hemm, tentu malam ini adalah malam yang spesial, karena hubungan kita sudah seperti dulu, baik-baik saja."


Feli kembali menatap wajah tampan sang suami dalam cermin di hadapannya dengan tatapan sendu yang sulit diartikan. "Kau pikir begitu?"

__ADS_1


Hayden kembali menengadahkan pandangan, hingga menik jelaga indahnya beradu tatap dengan manik hazel Feli.


Hayden tersenyum lembut untuk kesekian kalinya, mencoba meyakinkan kecemasan yang ia tahu, masih selalu Feli rasakan, jika mereka sedang membahas perihal hubungan mereka. "Tentu. Aku berjanji."


Feli tertunduk sekilas seraya menggigit bibir bawahnya. "Jangan berjanji tentang sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan, Hayden. Kau tidak bisa memastikan bahwa hubungan kita akan tetap baik-baik saja."


Hayden mengangguk setuju sembari tersenyum lirih, sekilas. Ia membuang napas kasar, lalu menyimpan pengering rambut yang masih ia genggam, kembali ke atas meja setelah ia selesai.


Kedua lengan kekar pria tampan itu menelusup di pinggang Feli, membuat sang istri memutar setengah tubuh dengan cepat, menghadap ke arahnya.


Hayden meremat gemas pinggang Feli, memberi wanitanya sedikit remasan lembut di sana. "Tapi aku sudah berjanji, aku akan selalu bersamamu, apa pun yang terjadi. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, selamanya. Sampai aku mati."


Manik mata hazel indah Feli yang mirip seperti sepasang mata rusa yang begitu menggemaskan, gemetar, bergerak acak, menatap mata Hayden, lekat. "Tolong, tepati janjimu."


Hayden tersenyum. "Tentu, Baby."


Tangan sebelah kiri Hayden perlahan terangkat, hingga telepak tangannya berlabuh di pelipis Feli, mendaratkan sentuhan lembut berkala bahkan seakan sedang menggoda, sebelum kemudian dipergunakan untuk mengumpulkan surai panjang istri cantiknya itu, untuk di sisihkan seluruhnya di area bahu sebelah kanannya.


Perlahan, Hayden mendekatkan kepalanya, menelusupkan wajahnya diceruk leher Feli, membiarkan aroma wangi bunga lavender yang segar, menyeruak di indra penciumannya.


Sementara tangan Hayden yang lainnya bergerak lembut di punggung Feli, menekannya perlahan, membuat tubuh wanitanya bertekanan dengan tubuhnya, membuat Feli sedikit terkesiap.


Hayden mendaratkan bibirnya di permukaan leher Feli, menyesap sebagian kecil kulit leher wanitanya itu dengan lembut, memastikan bahwa dirinya meninggalkan bercak merah tanda kepemilikannya yang terpampang nyata dan sempurna di sana.


Feli memejamkan pelupuk mata seraya meremat kuat bahu Hayden dengan kedua telapak tangan mungilnya manakala ia merasa sekujur tubuhnya meremang, bersamaan dengan persendiannya yang menegang.


"Ah, aku bisa gila." Hayden mengerang geram seraya menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Feli.


Napas Feli mulai tidak stabil dan memburu, membuat Hayden menatapnya dengan tatapan lembut. "Sayang, kau baik-baik saja?"


Feli menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk samar. "Hemmm."


Pandangan Hayden perlahan bergerak turun, hingga terfokuskan di titik terindah. "Sangat cantik."


Pria tampan itu tersenyum penuh kepuasan manakala netranya terkunci di sana, di area leher Feli, atau lebih tepatnya di bercak merah tanda kepemilikan yang ia tinggalkan tadi, berada.


Hayden kembali menengadahkan pandangan, membuat netranya dan sang sitri bertemu. "Kau boleh bersiap lebih dulu, selagi aku membersihkan diri."


Feli mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang, sedikit merasa bingung, terkait apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Sudut bibir sebelah kiri Hayden naik, hingga agak menukik tajam, mengulas seringaian ngeri, penuh arti sekilas. "Apa kau mengharapkan aku bertindak lebih jauh?"


"Huh? A-apa maksudmu?"


Pandangan Hayden perlahan turun, dari yang sebelumnya terfokus ke wajah juga mata Feli, menuju ke hidung, lalu ke bibir, kemudian ke leher dan berakhir di area lekukan dada indah milik istri cantiknya itu. "Aku tidak akan keberatan jika harus membuat puluhan bahkan ratusan tanda merah di sana."


Tbc ....

__ADS_1


__ADS_2