
"Astaga! Hayden!" Feli menjerit kaget begitu dirinya memasuki penginapan, sebab tiba-tiba, Hayden mengunci pergerakannya.
Menarik Feli melalui jemari tangan mereka yang bertaut saat berjalan, Hayden menyudutkan tubuh istri cantiknya itu ke dinding selepas kembali menutup pintu utama dari penginapan yang ditempatinya.
Feli sempat memejamkan pelupuk mata, karena saking kagetnya. Begitu kembali membuka pelupuk mata berbulu lentiknya itu, ia mendapati wajah Hayden sudah berada tepat di hadapan, dalam jarak yang begitu kelewat dekat.
Memukul jengkel dada Hayden, Feli menatap suami tampan yang tengah menunjukan senyum seringai itu dengan tatapan garang. "Kau suka sekali ya, mengagetkanku? Mau aku terkena serangan jantung, atau apa?" ocehnya, sebal.
Hayden terkekeh. Sebab alih-alih tampak seram, istri cantiknya itu malah terlihat begitu menggemaskan jika sedang marah dan menunjukan raut wajah masam.
Membawa wajahnya semakin dekat ke arah Feli, mengikis segala jarak yang masih terbentang sampai benar-benar habis, Hayden memejamkan lelupuk mata, sengaja membiarkan wajah tampannya menempel di permukaan pipi sebelah kiri sang istri.
Tanpa ragu melabuhkan kecupan manis di sana, pribadi tampan itu tersenyum. "Ayo lakukan."
"Lakukan apa?" Feli sempat menghindar, menelengkan kepala, sebab jika tidak, dapat dipastikan saat ini bibirnya sudah beradu dengan bibir Hayden.
Hayden membuka pelupuk mata, membiarkan manik jelaga indahnya menatap wajah cantik Feli yang sudah menunjukan semburat kemerahan, memancarkan kegugupan. "Kau jangan mencoba untuk pura-pura lupa dan mengingkari janjimu, ya?"
Feli menggigit sedikit kuat bibir bawahnya, lantas menoleh ke arah Hayden sambil sedikit menarik kepalanya agar agak menjauh, menciptakan beberapa inci jarak.
Manik mata hazel indah Feli gemetar, menatap lamat wajah tampan Hayden, tapi menghindari melakukan kontak mata secara langsung dengan suami tampannya itu. "Janji apa maksudmu?"
Terlalu merasa gemas, tahu jika sang istri sedang salah tingkah, bahkan pura-pura tidak mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan, Hayden mencuri kecupan dari bibirnya.
Tentu, tindakan yang Hayden ambil secara mendadak itu, sukses membuat Feli sedikit terhenyak, seketika menengadah, mempertemukan pandangannya dengan Hayden.
Hayden tersenyum senang penuh kepuasan mendapati mata Feli membola, mirip sepasang mata Rusa yang tampak begitu lucu juga menggemaskan dalam satu waktu. "Aku ingin menagih ci-umanku. Kau berjanji akan memberiku itu, saat kita sudah kembali."
Pelupuk mata Feli mengerjap cepat beberapa kali. "Benarkah? Aku mengatakannya?" tanyanya, tiba-tiba memiliki keberanian untuk melakukan godaan terhadap Hayden.
Hayden terkekeh sinis tidak percaya sembari menengadahkan pandangannya sekilas, lantas menatap Feli dengan tatapan lekat, setelahnya. "Kau mau mengingkari janjimu?"
Air muka pribadi tampan itu mendadak jadi dingin, membersamai tatapannya yang menyorotkan kesan serius, mengintimidasi.
Feli terkekeh kecil sembari menundukan pandangannya sekilas. "Tentu saja, tidak. Jangan marah, kau akan tetap mendapatkan apa yang memang berhak kau dapatkan," tuturnya dengan begitu lembut.
Mengulurkan tangan sebelah kanan, Feli membiarkan telapak mungil berjemari lentiknya berlabuh di wajah tampan Hayden, memberi usapan lembut penuh arti sambil tersenyum.
__ADS_1
Rona wajah Hayden dengan cepatnya berganti, jadi memancarkan semburat senang sumbringah, membersamai senyum manis yang seketika merekah indah di bingkai birainya.
Menengkup tangan Feli, Hayden mendaratkan kecupan manis di telapak tangan istri cantiknya itu. "Kalau begitu, cepat lakukan," pintanya, setengah merengek.
Feli mengangguk pelan sambil tersenyum dan menatap Hayden dengan tatapan hangat. "Akan aku lakukan, tapi tidak sekarang."
Permukaan kening Hayden spontan mengernyit, membuat kedua alisnya yang bersebrangan hampir saling bertaut, membersamai matanya yang memicing, menatap Feli, nanar. "Kenapa tidak sekarang? Kalau tidak sekarang, lalu kapan?"
Feli terkekeh kecil. "Nanti, setelah aku dan dirimu selesai membersihkan diri."
Menyalah artikan maksud dari perkataan Feli, Hayden jadi senang juga bersemangat sendiri, sampai tak kuasa menahan bingkai birai agar tidak seketika merenggang, memoleskan senyum senang.
Mata pribadi tampan itu masih sedikit memicing, menatap Feli dengan tatapan nakal juga genit menggoda. "Apa kau sedang secara tidak langsung, mengundangku untuk mandi bersamamu?"
Terkekeh, Feli menundukan pandangan sesaat, lantas menggeleng. "Tidak. Siapa yang mengatakan itu?"
"Kau."
"Kapan?"
"Baru saja. Belum ada satu menit. Kau bilang, 'nanti, setelah aku dan dirimu selesai membersihkan diri' begitu."
"Itu artinya ... benar, kau mengajakku untuk mandi bersama?"
Feli menggeleng tidak percaya. Berdecak pelan, wanita cantik itu menatap Hayden dengan tatapan penuh penghardikan sembari menepuk wajah tampan suaminya itu beberapa kali dengan pelan. "Kau dan otakmu yang mesum."
Kening Hayden mengernyit keheranan. "Apa maksudnya, itu?"
"Maksudnya, aku sama sekali tidak mengajakmu untuk mandi bersama."
"Kenapa? Padahal, aku sama sekali tidak keberatan, jika memang kau ingin mengajakku mandi bersamamu."
"Memang bukan kau yang akan keberatan, tapi aku."
"Kenapa kau keberatan?"
Feli mendelikan mata, menatap Hayden dengan tatapan yang terkesan mencibir. "Kalau kita mandi bersama, durasinya akan lama. Dan lagi, aku tidak yakin, kau tidak akan melakukan yang tidak-tidak padaku."
__ADS_1
Hayden terkekeh kecil. "Kau selalu saja memiliki pemikiran negatif terhadapku. Aku sungguh tidak akan melakukan yang tidak-tidak padamu. Aku hanya akan melakukan yang iya-iya dan yang enak-enak saja."
Feli memukul gemas permukaan dada Hayden menggunakan telapak tangannya. "Mesum!" hardiknya.
"Aku mesum pada istriku sendiri. Kalau pria tidak memiliki sikap mesum, bukankah itu wajib dipertanyakan?"
"Apa memiliki sikap mesum menjadi sebuah keharusan bagi seorang pria?"
Hayden menggeleng, tidak begitu yakin. "Sepertinya tidak juga. Membicarakan hal yang berhubungan dengan keintiman kan tidak melulu dianggap mesum. Aku pria normal yang memiliki kebutuhan. Aku hanya mengungkapkannya secara terang-terangan. Mesum atau tidaknya, itu tergantung dari sudut pandang siapa yang mendengarnya."
Feli mengangguk paham. "Begitu ya?"
Hayden mendengkus. "Kau sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan atau apa?"
Feli terkekeh. "Kenapa kau langsung menyadarinya?" godanya.
Hayden berdecak kesal. "Sayang ....!" serunya, setengah merengek sembari menundukan pandangan.
Menenggerkan kedua telapak tangan di area pinggang ramping Feli, pribadi tampan itu menarik tubuh sang istri agar lebih mendekat.
Feli refleks menenggerkan kedua telapak tangannya di permukaan dada Hayden.
"Ayo beri aku ciuman yang kau janjikan," rengek Hayden lagi sambil menengadah, membiarkan manik mata jelaga indahnya bersitatap dengan manik mata sang istri.
Feli tersenyum simpul. "Aku akan melakukannya, tapi nanti, kalau kita sudah selesai mandi."
"Kalau begitu, ayo mandi bersama."
Merotasikan bola mata, Feli membuang napas kasar, lantas menatap Hayden dengan tatapan tajam, syarat betul akan sebuah peringatan. "Kau sangat ingin mandi bersamaku?"
Hayden tersenyum. Menatap Feli dengan tatapan penuh harap juga antusias dalam satu waktu, pribadi tampan itu menganggukan kepala dengan pergerakan cukup cepat. "Hemmm. Aku sangat-sangat ingin mandi bersamamu."
Mengatupkan bingkai birai cukup rapat untuk beberapa saat. Feli mengalihkan pandangan, menatap sudut ruang di belakang tubuh Hayden yang anehnya mendadak terlihat lebih menarik.
Wanita cantik itu diam bergeming beberapa saat, sampai membuat Hayden keheranan.
"Sayang ...!" Hayden menyeru sembari memberi guncangan pelan pada tubuh Feli yang masih setia ia kunci dalam rengkuhan.
__ADS_1
Feli mengerjap, menoleh ke arah Hayden, ia lantas tersenyum dengan begitu manisnya sembari mengangguk samar. "Baiklah. Ayo kita mandi bersama."
Tbc ....