
Embusan napas kasar mencelos melalui celah antara bingkai birai Jayden yang agak sedikit berjarak, bersamaan dengan tubuh Anna yang ia jatuhkan ke permukaan tempat tidur.
Mencoba mengatur deru napas yang memang terengah - terkesan berat, Jay berkacak pinggang selagi membiarkan manik mata jelaga indahnya gemetar, menilik sosok Anna yang menggeliat sembari sesekali mengerang pelan.
Terkekeh, Jay menyugar surai hitamnya yang tampak agak berantakan ke belakang seraya menengadahkan pandangan, sesaat. Mengulum bibir bawahnya, saat kembali menunduk, senyum miring terulas di bibir pria tampan itu.
"Jay, aku gerah." Anna mengeluh dengan rengekan khas mabuknya.
Merubah posisi berbaring jadi duduk, gadis cantik itu meraih tepian gaun hitam selutut yang tengah digunakan, merematnya cukup kuat, sebelum kemudian disingkabnya dengan pergerakan cukup cepat.
"Anna, no!" Bergerak tak kalah cepat, Jay buru-buru mendudukan dirinya tepat di hadapan Anna, menengkup kedua punggung tangan gadis cantiknya itu, membuat pergerakannya terhenti.
Pelupuk mata Anna yang sedari tadi memejam, terbuka sebentar. Ia melirik Jay, menatap sahabat sekaligus boss tampannya itu dengan tatapan khas mabuknya, kemudian terkekeh kecil. "Kenapa? Lepaskan! Aku mau membuka pakaianku."
Mencoba melanjutkan pergerakan, ingin menyingkab gaun yang tengah dikenakan, pergerakan Anna tentu mendapatkan pencegahan secara instan dari Jay yang memberi tekanan di kedua punggung tangannya yang mengepal.
Jay menatap lekat wajah cantik Anna yang memerah karena efeksi dari minuman beralkohol yang sudah ditenggaknya cukup banyak, saat mereka masih di club tadi.
"Aduh!" Anna merengek tanpa membuka pelupuk mata. Mengguncang pelan tubuhnya, bibir gadis cantik itu mencebik lucu. "Jay, aku gerah. Biarkan aku membuka pakaianku!" imbuhnya, masih saja dengan nada merengek khas mabuknya.
"Boleh. Kau boleh membuka pakaianmu, tapi tidak di sini."
Membuka pelupuk mata, Anna menatap Jay dengan tatapan sebal. Wajah cantiknya yang memerah ayalnya kepiting rebus yang baru diangkat dari kuali, merengut kesal. "Kenapa kau pelit sekali?"
Menundukan pandangan sebentar, Jay terkekeh tak habis pikir. "Pelit apa?"
"Kenapa kau tidak membiarkanku membuka pakaianku di sini?"
Jay tersenyum manis, cukup merasa gemas, mendapati sikap Anna ternyata tak jauh berbeda dengan Feli jika sedang mabuk, sama-sama mendadak berubah jadi seperti anak kecil. "Kau mau aku melihat tubuhmu?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau kau melihat? Kau kan punya mata. Mata memang gunanya untuk melihat, kan?" Terkekeh setelah merampungkan ocehan, Anna memejam saat senggukan dalam menguar dari mulut kecilnya. "Auh! Dadaku panas sekali," imbuhnya, kembali merengek, kali ini sembari mengusap permukaan dadanya beberapa kali.
Jay menunduk, mengikuti gerak tangan Anna. Matanya sukses dibuat membola, kala mendapati lekukan dada gadis cantik di hadapannya itu cukup terkekspose, sampai ia bisa melihat ada celah diantara dua bulatan besar penuh itu.
Berdehem kikuk, Jay menengedahkan kepala dan pandangan, megerjapkan pelupuk mata secara berulang dengan pergerakan cukup cepat, ia membiarkan manik mata jelaganya menatap permukaan langit-langit dari kamar yang saat ini menaungi dirinya dan Anna.
Sejatinya, pria tampan itu tengah mati-matian mempertahankan kewarasan, sebisa mungkin menahan keinginan untuk kembali menunduk, menatap keindahan yang sedang disuguhkan oleh Anna, secara tidak sengaja, di hadapannya.
Bagaimanapun, Jayden adalah pria normal. Ia memiliki hasrat. Dihadapkan dengan Anna yang mabuk dan bertingkah tanpa menggunakan akal sehat, membuat Jay cukup kewalahan, sebenarnya.
Mungkin, jika gadis yang terpkasa ia bawa pulang dalam keadaan mabuk ke apartementnya itu bukanlah Anna - sahabat sekaligus karyawan dari perusahaan yang ia pimpin, yang beberapa waktu terakhir ini, perlahan mulai mengisi ruang kosong dalam relung, akan sedikit berbeda kasusnya.
Jayden pastinya tidak akan perlu repot-repot melakukan pencegahan saat Anna hendak membuka pakaian, malah ... mungkin ia sendiri yang akan dengan senang hati, langsung melucutinya, begitu mereka tiba di sana.
"Jay!" Anna menyeru pelan, membuat Jay ragu-ragu, memberinya lirikan.
Mata Jay membola lagi, menyorotkan keterkejutan, begitu juga dengan air mukanya yang seketika menegang.
"Mataku berat sekali, Jay." Anna lagi-lagi merengek.
Gadis cantik itu menelusupkan kepalanya di bahu Jay, sampai wajahnya berhadapan dengan ceruk leher sahabat tampannya itu. "Ayo tidur bersama," imbuhnya.
Membuang napas kasar dengan satu kali hentakan, Jay tersenyum, sebab geli sendiri mendapati dirinya sudah salah mengartikan maksud dari perkataan mabuk Anna.
Menunduk, Jay memberi permukaan punggung Anna usapan lembut penuh makna, lantas mengangguk setuju. "Baiklah. Ayo tidur bersama."
...***...
"Sayang, ak-" Hayden menjeda, atau lebih tepatnya menghentikan penuturan.
__ADS_1
Hendak melancarkan aksi dalam menggoda sang istri, sekaligus menagih janji dari apa yang telah disepakati, begitu ke luar dari kamar mandi, Hayden mendapati Feli sudah tertidur, tampak begitu lelap sekali.
Terkekeh kecil sembari menundukan pandangan, Hayden menutup pintu kamar mandi secara perlahan, memastikan dirinya sama sekali tidak membuat kebisingan, apalagi sampai mengganggu tidur sang istri.
Berjalan menghampiri tepat tidur, Hayden membuang napas kasar begitu ia berdiri tepat di samping tempat tidur, dari sisi yang saat ini sedang Feli tempati.
Tersenyum. Alih-alih merasa kecewa, sebab tidak bisa menagih janji dari Feli saat itu juga, Hayden malah merasa gemas sendiri, apalagi saat ia melihat wajah damai istri cantiknya yang terlelap.
Pipi Feli agak sedikit menyembul, membuat bibirnya tertekan, sampai mencebik begitu lucu. Terlihat sangat menggemakan dalam pandangan Hayden, mirip seperti anak perempuan berusia lima tahun.
Terkekeh pelan, Hayden lantas mendudukan dirinya tepat di samping tubuh Feli. Mengulurkan tangan, ia membiarkan bantalan jemari jenjangnya menyentuh permukaan kening hingga pelipis sang istri, menyingkirkan anak rambut yang jatuh di sana, dengan pergerakan penuh kelembutan juga kehati-hatian.
Membungkukan tubuh, mencondongkan diri ke arah Feli, Hayden melabuhkan kecupan manis penuh arti di permukaan kening istri cantiknya itu.
Manik mata jelaga indah Hayden gemetar, menilik wajah cantik Feli dari jarak yang begitu dekat, menatapnya dengan tatapan penuh damda juga penuh cinta.
Bingkai birai milik pria tampan itu perlahan merenggang, mematrikan senyum manis.
Kembali mendaratkan kecupan, kali ini ... Hayden tidak hanya membiarkan bibirnya berlabuh di permukaan kening Feli, tapi juga di ujung hidung mungil sang istri, lantas berakhir di permukaan bibirnya yang mencebik.
Setelahnya, Hayden membenarkan posisi duduk. Usapan lembut penuh kasih dan sayang, tak lupa ia labuhkan pula di puncak kepala Feli.
Terdiam cukup lama selagi membiarkan seluruh atensinya masih tertuju ke arah Feli, mendadak, tatapan Hayden berubah jadi lekat, membersamai air mukanya yang memetakan keseriusan, tapi tampak cukuk dingin dan mengintimidasi.
Mengulum permukaan bibir bawahnya sejenak, Hayden membuang napas kasar sambil memejam, sesaat.
Tatapan matanya berganti lagi dalam hitungan detik, kali ini tampak begitu sendu, menyorotkan banyak arti yang cukup sulit diperdiksi. "Semoga aku tetap bisa menjaga prinsip dan tekadku, untuk tidak merasa kecewa, apalagi pergi meninggalkanmu, tidak perduli benar atau tidaknya ... kau disentuh oleh Jimmy malam itu."
Tbc ....
__ADS_1