
Matahari perlahan muncul, menduduki singga sananya di ufuk timur sana. Sinarnya yang terang masuk melalui celah-celah kecil jendela kamar, menyapa pelupuk wanita cantik yang tengah tertidur lelap dalam pelukan pangerannya.
Wanita itu menggeliat, mencari posisi yang nyaman seraya menelusupkan kepalanya di balik dada bidang nyaman sang suami.
"Apa kau tidak akan bangun?" Suara manis nan parau, berhasil menyapa rungunya, bak kicauan burung yang bernyanyi di pagi hari dengan alunan sendu nan mendayu di sebuah pedesaan, sungguh menyejukan.
Detik berikutnya, dengan pergerakan cukup cepat, si wanita membuka pelupuk mata, tatkala ia berhasil mengenali suara manis tersebut.
Hal pertama yang ia tatap adalah, dada bidang pria yang semalaman tidur di sampingnya, memeluknya dengan sangat erat.
Pelupuk mata berbulu lentiknya mengerjap, secara berulang, kemudian terbuka sepenuhnya. Ia menengadahkan pandangan, hingga netra teduhnya beradu pandang, dengan manik hazel yang sedari tadi menatapnya.
Sang pria tersenyum lembut, penuh kasih. "Kau bisa tidur lebih lama dalam pelukanku," gumamnya menggoda seraya merengkuh tubuh mungil sang istri kembali ke dalam pelukan erat.
Mata si wanita semakin membola. Napasnya sedikit tercekat. Jantungnya berdebar dalam tempo yang begitu cepat. "H-Ha-Hayden. Apa y-yang terjadi?"
Hayden memejamkan mata seraya membuang napas kasar. "Kau tidak ingat?"
"A-apa?"
Bibir Hayden sedikit merenggang, mengulas senyum senang sekilas. "Ingat-ingat saja nanti."
Menelan ludah kasar dengan susah payah, Felisha Kylie Jordan menyadari sesuatu yang berbeda dari Hayden - sang suami.
'Apa sebenarnya yang terjadi semalam?' Feli membatin heran, sebab merasa sikap Hayden tiba-tiba berubah menjadi begitu manis, padahal ia masih ingat betul, bagaimana pria itu memperlakukannya akhir-akhir ini.
Namun, tanpa Feli sendiri sadari, ia merasa senang, hatinya merasakan kehangatan yang begitu familiar dan sangat ia rindukan.
Di titik ini, Feli benar-benar merasa Hayden'nya sudah kembali.
Pelukan hangat, suara manis dan sentuhannya yang lembut, membuat hatinya seolah disapa oleh pelangi yang siap kembali mewarnai hidupnya.
Ia bisa menikmati semuanya seperti sedia kala, seperti saat, Hayden dan dirinya saling berbagi cinta dengan terbuka.
Namun, tentu Feli menyadari, jika hal tersebut tidak bisa ia lakukan dengan semudah itu.
Perubahan Hayden yang cukup seginifikan dan dapat langsung Feli sadari, membuat Feli yakin, ada sesuatu yang terjadi antara mereka, semalam.
Feli terdiam. Ia tertegun, ketika benaknya berhasil memutar ulang momen di mana kemarin malam, ia tidak sengaja menyuguhkan pemandangan menyegarkan untuk Hayden.
"Tapi apa kau tahu, mungkin br-a dan celana da-lam hitammu itu, akan lebih terlihat indah jika berserakan di lantai kamar tidur kita, nanti malam."
Napas wanita cantik itu tercekat untuk beberapa saat. Matanya membola, membulat sempurna.
__ADS_1
Kembali menelan ludah kasar dengan susah payah, Feli akhirnya memutuskan untuk mendorong dada bidang Hayden dengan sekuat tenaga, membuat sedikit jarak terbentang antara tubuh mereka yang hampir saling bertekanan, satu sama lain.
Feli lantas memendarkan pandangan, menelisik keadaan sekitar, sementara Hayden menatapnya dengan tatapan penuh terka pun bingung.
Menggigit bibir bawahnya sedikit kuat, guna meredam kegugupan yang seketika menjalar dalam relung, Feli kemudian mengintip keadaan tubuhnya beberapa saat di bawah selimut yang kini tengah menaunginya bersanama Hayden.
Embusan napas kasar mencelos melalui celah antata bingkai birainya, menenamani pelupuk mata yang seketika mengatup, sedang rasa gugup juga takut yang terlanjur hinggap dalam relung, seketika sirna.
"Ada apa denganmu? Kau tidak berpikir aku mencari kesempatan di saat kau mabuk, bukan?" Hayden bertanya dengan nada sedikit tidak percaya.
Membuka pelupuk mata, dengan cepat Feli menoleh ke arah Hayden. "A-aku mabuk?"
Hayden mengangguk samar. "Ya. Kau mabuk berat semalam."
"B-benarkah?"
Hayden memutar bola matanya malas, tidak begitu suka jika perkataannya, diragukan begitu saja oleh sang istri. "Iya. Kau bahkan memukul wajah tampan dan berhargaku dengan sangat keras."
Feli mengerjapkan pelupuk matanya berulang. "A-aku melakukannya?" Dahinya mengernyit, matanya sedikit memicing tatkala ia sibuk menelisik keadaan wajah Hayden.
Sedikit terkesiap, mata Feli membola untuk kesekian kalinya pagi ini manakala ia melihat, di sekitar tulang pelipis Hayden, ada area yang sedikit nampak kemerahan, lebam, seperti habis terkena baku hantam.
Mengulurkan tangan sebelah kiri yang tiba-tiba gemetar, Feli menyentuh pelan wajah Hayden yang memerah tersebut.
Sedikit menengadah, manik mata wanuta cantik itu gemetar, tatkala beradu tatap dengan manik jelaga Hayden yang menatapnya dengan tatapan hangat. "Apa ini sakit?"
"Sedikit."
"Jika aku memukulmu, lalu kenapa kau bersikap manis padaku sekarang? Bukankah kau membenciku?"
Hayden membuang napas kasar. Ia kembali merengkuh tubuh mungil Feli ke dalam pelukan.
Menelusupkan wajah tampannya di ceruk leher Feli, Hayden mengendus aroma tubuh sang istri yang baginya begitu membuat candu. "Kau mungkin tidak ingat. Tapi kita sudah membuat keputusan semalam. Kau meminta maaf padaku dan aku sudah memafkanmu. Jadi mari kita mulai segalanya dari awal."
Jantung Feli yang malang, berdup begitu kencang hingga membuat sang pemiliknya kesulitan untuk berkata-kata.
Tidak dapat dipungkiri. Keadaan yang saat ini Feli alami memang berhasil membuatnya bingung bukan main.
Bagaimana tidak? Ia baru saja bangun dari tidurnya, tapi disambut dengan perubahan yang begitu besar, dari mulai sikap Hayden, hingga hubungannya yang sudah bisa dibilang, cukup menunjukan perkembangan.
'Apa aku benar-benar melakukannya?' Feli membatin, tidak yakin.
Ia benar-benar linglung dan tidak mengingat apa pun tentang sebenarnya terjadi semalam, pada dirinya dan juga Hayden.
__ADS_1
Seingatnya, semalam ia pergi ke dapur setelah membesihkan diri, saling bergantian dengan Hayden. Sekaligus melihat-lihat rumah yang kedepannya, akan ia tinggali.
Sampai kemudian, ia mengambil satu kaleng minuman dari sebuah lemari es besar yang ia pikir, merupakan minuman biasa.
'Apa itu beer?'
Jika pun benar, Feli tidak merasa menyesal karena telah menenggak minuman yang salah, jika paginya berakhir dalam keadaan indah, seolah semalam telah ada badai, dan berakhir dengan pelangi yang menyejukan mata di pagi harinya.
"Hayden. Bisakah k-kau melepaskanku?" Feli berucap dengan suara manisnya.
Namun, alih-alih melepaskan, mengindahkan permintaan sang istri, Hayden malah mempererat pelukan, membuat tubuhnya dan Feli, benar-benar saling bertekanan. "Bagaimana jika, aku tidak mau?"
Feli mencoba mendorong tubuh Hayden, menggunakan sedikit tenaga, tapi hal itu tidak berpengaruh, Hayden tidak bergerak sama sekali.
"Kau harus mengobati wajahmu, agar tidak bengkak." Feli menoleh ke arah jendela kamar yang kini tengah ditempatinya, sekilas. "Lagipula ini sudah siang. Kau harus bangun, Hayden."
Hayden mendengkus kasar, membuat embusan napas hangatnya menyapu kulit di area leher Feli, hingga wanita cantiknya itu, sedikit merinding, geli.
"Aku sangat lelah. Kau tahu? Saat kau mabuk, tingkahmu sangat merepotkan. Itulah sebabnya, aku tidak pernah mengijinkanmu untuk meminum minuman beralkohol," celoteh Hayden, yang agaknya memang tidak sedikit pun memiliki niatan untuk melepaskan tubuh Feli.
Feli tersenym lirih sekilas.
Ya, tentu ia masih mengingat, bagaimana kerasnya Hayden melarang dirinya minum, setelah melihat bagaimana tingkah yang ia tunjukan saat mabuk untuk pertama kalinya, lima tahun yang lalu.
Jika tidak salah ingat, hal itu terjadi saat hari ulang tahun Jay. Ulang tahun yang kebetulan diadakan di apartemen tempat Jay dan Hayden tinggal.
Di penghujung acara. Saat semua tamu undangan sudah pergi dari sana, menyisakan beberapa teman Jay dan Hayden, yang di mana salah satunya adalah Feli, mereka mengadakan sebuah permainan yang bernama Trut or Dare.
Hingga pada akhirnya semua orang di sana dibuat bingung kalang kabut tatkala melihat sikap Feli yang berubah seperti anak kecil dalam hitungan detik.
Jika saja saat itu Anna tidak mengabadikan momen tersebut dalam sebuah bentuk rekaman video, mungkin Feli tidak akan pernah tahu, bagaimana tingkahnya dikala sedang mabuk.
Tersenyum simpul, Feli lantas mendengkus kasar dengan pelupuk matanya yang terpejam sebentar, membuat lamunan berisi ingatan manis di masa lalunya itu buyar. "Tapi tadi kau bertanya padaku, 'kapan kau akan bangun?' Sekarang aku ingin bangun, tapi kau menghalangiku."
"Benarkah? Apa aku berkata begitu?" Hayden bertanya dengan begitu acuh seolah mengalami amnesia dalam hitungan detik.
Feli memutar bola matanya jengah. "Iya. Kau mengatakannya."
Hayden merengkuh tubuh Feli, benar-benar erat, bahkan lebih erat daripada sebelumnya. "Mungkin aku dalam keadaan setengah sadar tadi."
Feli membiarkan manik matamya menatap langit-langit kamar, dengan tatapan bingung. "Setengah sadar? Lalu sekarang?"
Hayden terkekeh kecil. "Sekarang ... mungkin aku benar-benar sudah tidak sadar."
__ADS_1
Tbc....