Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Perubahan Rencana


__ADS_3

Jane tengah bersiap di kamar miliknya untuk segera pergi bekerja. Ia saat ini sedang duduk di hadapan meja rias dan cermin besarnya.


Gadis itu sibuk menata rambut dan penampilannya agar tetap tampil cantik dan berseri.


Jane memutar bola matanya malas seraya membuang napas kasar tatkala mendengar ponsel yang ia simpan di atas meja, terus berdering karena mendapatkan sebuah notifikasi panggilan suara.


Gadis itu bergerak malas, meraih ponselnya dan melihat siapa gerangan yang menelponnya sepagi ini.


Dahi gadis itu mengernyit, bersamaan dengan matanya yang sedikit memicing, menatap layar ponselnya dengan tatapan heran "Hayden?"


Ya, itu benar. Nama Hayden lah yang tertera di layar ponselnya. Dengan rasa penasaran pun bingung yang membuncah, akhirnya Jane pun tak membuang banyak waktu untuk menjawab panggilan dari Hayden tersebut.


"Datang ke butik yang sudah aku kirimkan lokasinya lewat pesan bersama Nyonya Luciana."


Baru saja mulut Jane sedikit menganga, hendak menyapa, namun Hayden tanpa basa-basi mengatakan maksud utama kenapa ia menghubunginya.


Hayden benar-benar tidak memberi Jane sedetik pun waktu untuk bertanya, karena ia langsung menutup sambungan telpon tersebut begitu ia merampungkan ucapannya.


Jane membuang napas kasar seraya menggeleng samar, tidak habis pikir. "Dasar, pria menyebalkan!"


...***...


"Anna, apa Feli tidak masuk hari ini?" Jay bertanya tatkala ia melewati meja kerja Feli dan tak menemukan keberadaan sahabatnya itu di sana.


Anna menoleh ke arah meja kerja Feli, sekilas. "Tidak tahu. Apa dia tidak mengabarimu?"


Dahi Jay mengernyit keheranan. "Tidak. Dia tidak mengabariku sama sekali."


"Apa Feli sakit? Semalam kau mengantarkannya pulang dengan selamat, bukan?"


Jay memiringkan kepalanya sekilas. "Sakit? Tapi semalam dia baik-baik saja. Dan tentu, aku mengantarkannya pulang dengan selamat."


"Mungkin dia datang terlambat hari ini. Aku akan menghunginya nanti, jika pukul sembilan dia tidak muncul juga."


Jay mendengkus kasar. "Baiklah. Kabari aku nanti. Atau aku sendiri yang akan menghubunginya."


Anna membungkukan setengah tubuhnya sekilas. "Baik Pak."


***

__ADS_1


Hayden memasuki sebuah butik mewah yang berada di pusat perkotaan dengan percaya diri, sementara Feli mengekori dengan malasnya.


Salah satu pekerja wanita yang name tag Lisa menyambut kedatangan mereka dengan keramah tahamahan luar biasa.


Lisa berdiri di hadapan Hayden tatkala pria itu menghentikan langkahnya. Ia membungkukan setengah tubuhnya sekilas di hadapan Hayden sembari mematrikan senyum manis. "Selamat datang Tuan Wilson."


Hayden hanya mengangguk malas, tanpa membalas senyuman atau sapaan Lisa.


Lisa menoleh ke arah Feli yang berdiri di belakang Hayden dengan pandangan tertunduk, sekilas. "Apa dia calon Istri anda, Tuan?"


Feli yang mendengar pertanyaan yang Lisa lontarkan itu pun, seketika menengadahkan pandangan, menatap Lisa dengan mata yang membola, bersamaan dengan raut wajahnya yang terlihat terkejut luar biasa.


Feli menggeleng cepat. "Tidak. Aku buk-" "Ya." Hayden memotong perkataan Feli tanpa menoleh sedikit pun ke arah gadis cantik itu, membuat Feli menatapnya tidak percaya.


Lisa terlihat bingung setelah mendengar jawaban yang berlawanan dari Hayden dan Feli. Ia menatap Hayden dan Feli secara bergantian, mencoba mencari sebuah jawaban.


"Cepat bantu dia untuk memilih baju pengantin!" titah Hayden dengan nada suara dingin, mutlak mengandung keharusan dan tak menerima penolakan.


Mulut Feli sedikit menganga. Ia masih menatap Hayden dengan tatapan tidak percaya. "Hey! Apa maksudmu? Aku kemari hanya untuk membantu Kakakku. Kenapa tidak menunggu dia sampai saja?"


Hayden membuang napas jengah seraya menoleh ke arah Feli. Manik hazel pria itu menelisik tubuh sempurna Feli dari ujung rambut, hingga ujung kaki.


Menyisir surai hitamnya ke belakang, menggunakan jemari tangannya yang jenjang Hayden menggigit bibir bawahnya, pelan.


Hayden menoleh ke arah Lisa yang hanya diam dan memperhatikannya dan Feli. "Sekarang bantu dia memilih baju pengantin terindah."


Lisa membungkuk sekilas. "Baik Tuan."


Gadis itu berjalan menghampiri Feli yang tak sedetik pun mengalihkan atensinya dari sosok Hayden yang mulai melangkahkan kaki ke arah ruang tunggu.


Raut wajah Feli terlihat begitu gusar. Ia benar-benar merasa kesal pada Hayden yang seolah bisa bersikap dan memberinya perintah seenaknya.


"Nona, mari ...."


Feli terhenyak tatkala Lisa menyentuh pelan lengannya, memberinya tarikan lembut, membuat Feli menoleh, balas menatap Lisa yang tengah tersenyum ramah.


Feli tersenyum kikuk sekilas. "B-baiklah."


"Kau beruntung bisa menikah dengan pria seperti Tuan Wilson, Nona." Lisa berucap seraya menuntun Feli menuju ruangan utama butik tempatnya bekerja tersebut.

__ADS_1


Feli tersenyum lirih. "Sayangnya, aku bukanlah gadis beruntung itu."


Dahi Lisa mengernyit, bersamaan dengan matanya yang sedikit memicing, menatap Feli keheranan. "Maksud Nona?"


Feli membuang napas dalam satu kali hentakan kasar. "Aku kemari hanya untuk membantu Kakakku memilih baju pengantin." Ia tersenyum getir seraya menundukan pandangan sekilas. "Gadis yang menurutmu beruntung itu, merupakan Kakakku."


Sementara Feli sibuk memilih baju, Hayden menunggu dengan sabar di ruang tunggu butik tersebut.


Ia duduk dalam keadaan kaki jenjangnya menyilang, menunjukan sikap dinginnya yang dominan.


Pandangannya tertunduk, menatap layar ponsel yang ia mainkah dalam genggaman.


"Hayden!"


Hayden menengadahkan pandangan tatkala ada seseorang yang menyerukan namanya. Manik jelaga indahnya berhasil menangkap sosok Jane yang tengah berjalan ke arahnya.


Jane menghentikan langkahnya tatkala ia berada tepat di hadapan Hayden. Dahi Hayden mengernyit, keheranan. Ia menoleh ke arah belakang Jane sekilas. "Nyonya Luciana, tidak ikut?"


Jane memutar bola matanya malas. "Aku sudah mengajaknya, tapi dia menolak. Dia sama sekali tidak ingin terlibat."


Hayden membuang napas kasar seraya mengangguk paham. "Baiklah. Feli sedang memilih baju pengantin. Kau susul saja dia."


"Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku kemari?"


Alis sebelah kiri Hayden terangkat, agak menukik, bersamaan dengan matanya yang memicing. "Bukankah sudah jelas, untuk memilih baju pengantin?" Pria tampan itu lantas kembali menundukan pandangan. "Aku mempercepat acara pernikahan ini. Pernikahan ini akan dilangsungkan besok. Kau tidak perlu banyak bertanya dan ikuti saja apa yang aku katakan."


Jane mendelikan mata, pertanda tidak terlalu ambil pusing dengan keputusan yang sudah Hayden ambil secara mendadak itu. "Terserah!"


...***...


"Apa kau sungguh, akan membiarkan Hayden menikah dengan Jane?" Liam - orang kepercayaan keluarga Feli, bertanya pada Luciana yang tengah duduk di hadapannya.


Saat ini, Liam dengan sengaja datang menemui Luciana untuk menanyakan kebenaran perihal rencana pernikahan Hayden dengan salah satu putri dari Ken.


Luciana membuang napas kasar. "Ini keputusan Hayden dan Jane. Aku tidak bisa mencegahnya."


"Tapi bagaimana dengan Feli? Apa dia baik-baik saja dengan pernikahan ini?" Liam bertanya dengan nada lembut, penuh perhatian.


Luciana menggeleng samar. "Sepertinya tidak."

__ADS_1


Liam membuang napas jengah seraya mengalihkan wajah sekilas. Ia berusaha sebisa mungkin mengontrol emosi, yang hampir saja menguasai diri. "Lihat Luciana. Karena ketakutan konyolmu, kau membuat purtimu satu-satunya, kehilangan cintanya, kehilangan kebahagiaannya."


Tbc....


__ADS_2