
Feli terkekeh kecil, seolah menganggap perkataan Hayden yang tiba-tiba terdengar begitu dingin itu, hanyalah sebuah guyonan belaka.
Wanita cantik itu berusaha menatap Hayden dengan tatapan tajam, berusaha membuka pelupuknya selebar mungkin, meskipun pada kenyataannya, tatapan mabuknya itu, sungguh terlihat menggemaskan, alih-alih menyeramkan. "Bukankah, kau marah padaku karena aku meninum beer-mu? K-kenapa kau membahas masalah yang terjadi dua tahun yang lalu? M-memang apa yang aku lakukan, hah?"
Hayden tidak sanggup mempertahankan raut wajah dingin nan seriusnya lagi lebih lama, hingga sebuah kekehan gemas berhasil lolos begitu saja, menguar dari mulutnya, membuat rona bahagia terpancar seketika.
Bagaimana Hayden tidak gemas, Feli berucap begitu polosnya, seolah ia benar-benar tidak berdosa.
Mencoba mengatur emosi, Hayden tertunduk sekilas, sebelum akhirnya menatap Feli yang tengah menatapnya kebingungan, dengan tatapan lembut, penuh pengertian. "Tanda tangani saja ini, dan aku berjanji, aku akan memafkan semua kesalahanmu padaku."
Feli mengerjapkan pelupuk matanya berulang. "H-hanya itu?"
Hayden mengangguk, pelan. Bingkai birainya merenggang secara perlahan, hingga mematrikan senyum lembut. "Hemmm. Hanya itu."
"B-baiklah." Feli pun mengambil berkas dan balpoin yang sedari tadi sudah Hayden ulurkan padanya.
"Kau bisa membacanya terlebih dahulu, jika kau mau."
Kembali menenangadah, menoleh ke arah Hayden, Feli menatap suami tampannya itu sebentar, sebelum memokuskan seluruh atensinya pada berkas yang sudah ia genggam.
Wanita cantik itu berusaha sangat keras untuk membaca setiap hurup yang terdapat di atas lembar demi lembar berkas tersebut. Namun, karena alkohol sudah mengambil alih dirinya, penglihatannya terhadap hurup-hurup kecil di sana, buram dan sedikit berbayang.
Mendengkus kesal, Feli memicingkan matanya, geram. "Ugh. Aku tidak bisa m-membaca apa pun."
Hayden hanya terdiam, menatap ruat wajah cantik Feli, sedang dalam benaknya ada bebedapa hal tengah berkecamuk dengan begitu hebat, hingga ia tidak begitu memperhatikan apa yang istri cantiknya ity ucapkan.
"D-dari Felisha Kylie Jo-Jordan." Feli bergumam pelan, mencoba membaca hurup yang sepertinya memang sengaja agak ditebalkan di permukaan berkas yang tengah digenggamnya tersebut.
Memicingkan mata, sampai membuat wajah cantiknya mengernyit dan kedua alisnya yang bersebrangan hampir bertaut, sesekali Feli mendengkus gusar. "U-untuk Ja-Janessa Kennely Jo-Jordan?!"
Suara Feli mengeras di penghujung kalimat, mengutarakan nama sang kakak dengan lantas, lebih mirip memekik, geram, membuat Hayden sedikit terhenyak dan tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Hayden mengerjap dan mendapati istri cantiknya itu, sudah menatapnya dengan tatapan tajam, syarat akan kemarahan.
Pria tampan itu menelan ludahnya dengan susah payah. "A-apa? K-kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau!" Feli memekik sekali lagi, bersamaan dengan salah satu telapak tangannya yang melayang, mendaratkan sebuah tamparan cukup keras pada salah satu sisi wajah Hayden, membuat Hayden terdiam, memaku, tidak percaya.
"Apa kau begitu membenciku, sampai kau ingin, aku menyerahkanmu pada Jane, Kakakku sendiri?!"
Mungkin karena terlalu marah juga kesal, suara Feli kali ini jadi terdengar begitu lancar saat berucap, tidak terjeda sama sekali, seperti sebelumnya.
Tangis Feli pecah saat itu juga, begitu wanita cantik itu merampungkan penuturan berisi pertanyaan terjadap Hayden, membuat Hayden bingung dan panik, bukan main.
Hayden berusaha mengabaikan sensasi panas yang menjalar di pipinya akibat tamparan yang Feli daratkan, cukup keras.
Pria tampan itu berusaha menenangkan sang istri sebisa mungkin. "Tidak seperti itu Baby. Kau salah paham."
"Salah paham?" Feli bertanya dengan polosnya, hingga mampu membuat Hayden bingung, harus bersikap serius, atau santai menghadapi istri mabuknya itu.
Bibir Feli mencebik, pipinya yang bersemu, menyembul, lucu.
Hayden mengangguk dengan cepat, mengiyakan. "Hemmm. Kau salah paham. Bukan seperti itu maksudnya."
"Lalu?" Feli bertanya sembari mengusap kasar permukaan wajahnya menggunakan kedua punggung tangah, secara bergantian.
Hayden menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal, mencoba meredam rasa geram dan frustasinya di sana seraya mengalihkan pandangan dari Feli, beberapa saat. "Anggap saja, kau menyerahkan kemarahanku terhadapmu, pada Jane. Bagaimana?"
Kening Feli mengernyit, sedang matanya memicing, menatap Hayden, keheranan. "Maksudmu?"
Hayden menyugar surai hitamnya ke belakang menggunakan jemari tangan, seraya menggigit bibir bagian bawahnya, sedikit kuat. "Bisakah kau tanda tangani saja? Tidak usah banyak bertanya."
Pria tampan itu berusaha tersenyum semanis mungkin di hadapan istri cantiknya yang sedang mabuk, seperti hilang akal itu. "Kau ingin aku memaafkanmu, bukan?"
__ADS_1
Feli mengangguk antusias, membuat senyum Hayden semakin merekah dengan sendirinya tanpa sang pemilik sadari.
"Kalau begitu tanda tangani berkas itu."
Feli menunduk, menatap berkas yang masih ia genggam di atas pangkuannya beberapa saat, sebelum kembali menatap Hayden dengan tatapan lembut. "Setelah aku menandatangani ini, kau akan memaafkanku, kan? Kau juga tidak akan meninggalkanku, kan? Kau adalah milikku. Hanya milikku. Kau tidak akan berubah, menjadi milik Jane, kan?"
Untuk beberapa saat, perkataan Feli yang terdengar seperti rengekan anak kecil menggemaskan itu, berhasil membuat Hayden tertegun, bersamaan dengan hatinya yang terenyuh, menemani jantungnya yang berdegup begitu cepat, luar biasa.
Bibir pria tampan itu merenggang, mengulas senyum senang terbaiknya, hingga matanya menyipit dan hanya terlihat segaris. "Tentu Baby. Aku hanyalah milikmu dan akan selalu menjadi milikmu."
Feli tertawa kecil, menggemaskan seperti anak perempuan berusia lima tahun yang baru saja mendapatkan hadiah yang sangat ia idamkan.
Wanita cantik itu lantas tanpa ragu membubuhkan tanda tangan pada setiap berkas yang sudah Hayden persiapkan, meskipun harus kepayahan, karena efeksi dari alkohol yang bersarang di tubuhnya, membuat tangannya sedikit gemetaran.
"Sudah selesai!" Feli berucap seraya mengembalikan berkas beserta balpoinnya pada Hayden dengan raut wajah senang, sumbringah.
Hayden terkekeh gemas sekilas, setelah mengambil berkas itu dari genggaman Feli, lantas membelai lembut puncak kepala Feli, penuh kasih. "Anak baik."
"Ah, aku mengantuk," cicit Feli seraya merayap di atas tempat tidur, sebelum menelusupkan dirinya ke dalam selimut dan tertidur.
Netra Hayden, mengikuti setiap pergerakan Feli, meniliknya dengan seksama sangat hati-hati, memastikan tidak ada hal sekecil apa pun terlewatkan.
Menunduk, Hayden menatap map berisikan berkas yang baru saja Feli tanda tangani setelah melihat istri cantiknya itu memejamkan pelupuk mata dan tak lagi bersuara.
Pria tampan itu kembali menatap Feli yang saat itu seketika terlelap, dengan tatapan sendu yang begitu sulit diartikan.
Ada beberapa emosi yang terpatri di sana, seperti rasa sedih, bersalah, lega dan bahagia di saat bersamaan.
"Maafkan aku, Sayang. Aku melakukan semua ini, demi dirimu, karena aku sangat mencintaimu." Hayden tersenyum getir, sekilas. "Kau tidak perlu cemas soal harta dan kekayaan, karena aku bisa memberikan apa pun yang kau mau. Aku bisa memberikan segalanya untukmu, untuk kebahagiaanmu, bahkan nyawaku sekalipun, jika perlu."
Tbc ....
__ADS_1