Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Sikap Kekanak-kanakan Hayden


__ADS_3

Felisha dan Hayden sudah berada di dalam mobil, seusai menikmati makan malam romantis mereka, sepasang pengantin baru itu memutuskan untuk kembali ke penginapan.


Feli sesekali melirik ke arah Hayden yang sedang memokuskan hampir seluruh atensi untuk mengemudi, melihat air muka suami tampannya itu tampak cerah, membersamai sorot matanya yang berbinar, memancarkan antusiasme, Feli tersenyum.


"Hayden?" menyeru pelan, wanita cantik itu menatap Hayden dengan tatapan lembut.


"Hemm?" Hayden bergumam seraya menyempatkan dirinya untuk melirik ke arah Feli.


Feli terkekeh kecil, mendapati Hayden tersenyum, menunjukan raut wajah senang, sumbringah. "Aku lihat, dari saat kita masih menikmati makan malam, tadi ... kau jadi lebih sering tersenyum. Kau terlihat lebih bahagia. Kau tidak berniat membagi kebahagiaanmu denganku?"


Mengernyitkan kening, Hayden melirik Feli lagi. "Benarkah?"


Feli mengangguk, mantap. "Hemmm. Kau tidak menyadarinya?"


Hayden menggeleng, samar. "Tidak." Melirik Feli lagi untuk kesekian kali, pribadi tampan itu tersenyum. "Tapi ... aku memang sedang merasa sangat bahagia saat ini."


"Kenapa?" bertanya, Feli menggeser sedikit tubuhnya, merubah posisi duduk, jadi agak sedikit menghadap ke arah Hayden.


Wanita cantik itu memokuskan seluruh atensi yang di miliki ke arah sang suami, memasang telinga, sangat siap, untuk mendengarkan keterangan, yang mungkin saja akan Hayden paparkan.


"Kau sangat ingin tahu?"


Sadar jika Feli merasa penasaran terhadap perubahan moodnya yang bisa dibiliang cukup begitu segnifikan, Hayden tidak ingin melewatkan kesempatan sama sekali, untuk setidaknya melakukan godaan.


Tersenyum sambil melirik Feli, setelahnya Hayden mengatupkan bingkai birainya dengan cukup rapat, beberapa saat.


Feli mengernyitkan kening, membuat kedua alisnya yang saling bersebrangan, hampir saling bertautan. Kedua matanya memicing, menatap Hayden lekat, juga penuh telisik. "Kau tidak mau memberitahuku?"


Melirik Feli, Hayden tak kuasa menahan kekehan, sebab terlalu gemas, mendapati air muka juga sorot mata istri cantiknya itu memancarkan rasa penasaran.


Bibir Feli mencebik lucu, sedang manik mata bak mata rusanya tampak gemetar, menatap Hayden dengan tatapan memelas, kali ini.


"Aku harus tahu dulu, apa kau memang sangat ingin tahu, apa alasan di balik, kebahagiaanku."


"Tentu saja aku sangat ingin tahu."


Hayden menaikan alis sebelah kirinya, lantas mempertemukan pandangan dengan Feli melalui pantulan kaca spion yang ada di bagian depan. "Sungguh?"


Feli sontak mengangguk, antusias. "Tentu. Jadi cepat beritahu aku, hemm?"

__ADS_1


Hayden terkekeh kecil. "Sebentar."


Mengedarkan pandangan, Hayden menepikan mobil yang sedang dikendarainya bersama Feli ke dekat bahu jalan, sebelum kemudian lajunya dihentikan.


Memperhatikan setiap gerik yang Hayden lakukan, permukaan kening Feli mengernyit, sedang matanya memicing lagi, menatap suami tampannya itu, nanar. "Kenapa tiba-tiba menepi?"


Setelah mamastikan mobil miliknya sudah menepi dengan sempurna, Hayden membuang napas kasar. Menyandarkan tubuhnya ke kepala kursi kemudi, ia lantas menoleh ke arah Feli.


Hayden tersenyum manis. "Bukankah, kau mengatakan, jika kau ingin aku memberitahumu soal alasan kebahagiaan yang saat ini sedang aku rasakan?"


Mengerjapkan pelupuk mata dengan begitu lucu, Feli mengangguk lugu. "Ya. Itu benar. Lalu, apa hubungannya itu, dengan dirimu yang tiba-tiba menepi'kan mobil?"


"Tentu saja ada hubungannya. Aku kan harus bicara denganmu dulu. Kalau tetap mengemudi, nanti kan jadinya bisa membahayakan keselamatan kita."


Menatap Hayden dengan tatapan tidak begitu yakin, Feli berdesis pelan, memiringkan kepalanya sekilas sembari mengalihkan pandangan. "Begitu, ya?"


Hayden terkekeh, lagi-lagi dibuat merasa gemas bukan main oleh tingkah Feli, terutama saat wanita cantiknya itu menunjuka raut wajah juga sorot mata bingung. "Tentu saja. Keselamatan kan harus selalu diutamakan, jadi sebaiknya aku menepi dulu, baru bicara denganmu."


Feli mengangguk paham. "Baiklah. Kalau begitu, ayo bicara. Beritahu aku, alasan di balik senyum yang sedari tadi tanpa kau sadari, memeta di bibirmu."


"Tidak semuda itu," goda Hayden sembari menyedekapkan kedua lengannya di dada.


Manik mata jelaga indah milik pria tampan itu agak sedikit meneleng, menatap Feli dengan tatapan congkak juga memberi kesan menantang, pada saat yang bersamaan.


Hayden tersenyum, penuh kepuasan. "Aku tidak bisa langsung memberitahumu begitu saja, karena ini sifatnya cukup rahasia."


"Apanya yang rahasia? Alasan kebahagiaanmu?" Feli menatap Hayden dengan tatapan tidak bercaya.


Jelas wanita cantik itu merasa sedikit kecewa, karena sudah terlanjur penasaran, juga begitu bersemangat, untuk mendengarkan keterangan dari Hayden.


"Hemmm." Hayden mengangguk mantap, membenarkan pertanyaan yang sudah Feli lontarkan.


"Tapi, tadi kau bilang, kau akan memberitahuku!"


"Aku mengatakan itu?" Hayden membulatkan mata, menunjukan gelagat seakan ia sedang merasa bingung.


Tentu hal itu Hayden lakukan, semata karena ia ingin menggoda sang istri.


"Seingatku ... aku tidak pernah mengatakan itu," imbuh Hayden sembari memiringkan kepala, mengalihkan pandangannya dari Feli sesaat, membiarkan matanya meneleng ke samping kiri.

__ADS_1


"Itu kan asalan, kenapa kau sampai menepi. Kalau memang tidak berniat memberitahuku, kenapa tidak bilang dari tadi? Dasar menyebalkan!"


Hayden terkekeh gemas, begitu melihat Feli mencebikan bibir. Wajah wanita kesayangannya itu, tampak begitu masam.


"Aku memang berniat memberitahumu, tapi dengan satu syarat."


Feli menatap Hayden dengan tatapan penuh curiga juga waspada. "Syarat?"


Hayden mengangguk, penuh semangat. "Hemmm. Di dunia ini kan tidak ada yang gratis. Jadi ... untuk mengetahui rahasia di balik kebahagiaanku, kau harus memberiku imbalan terlebih dahulu."


Terkekeh sinis, Feli menganggap remeh perkataan Hayden. "Kekanak-kanakan sekali."


"Jadi, kau mau tahu atau tidak?"


Feli memutar bola matanya malas. "Baiklah. Apa syarat atau imbalan yang harus aku berikan padamu? Kau ingin aku memberimu uang? Berapa banyak?"


Tersenyum manis, Hayden menggeleng. "Tidak. Aku tidak ingin dan tidak butuh uangmu sama sekali."


Kening Feli mengernyit, keheranan. "Lalu, kalau bukan uang, apa yang kau inginkan?"


Senyum yang sempat memudar di permukaan bibir Hayden kembali terpatri, lebih ceria daripada sebelumnya, membersamai wajahnya yang memancarkan rona senang sumbringah. "Mudah saja."


Feli membuang napas kasar, mulai kesal, sebab Hayden seakan sengaja sekali ingin menguji kesabarannya, sedang dirinya sudah terlanjur merasa begitu penasaran. "Iya, apa?"


Hayden tersenyum senang lagi. "Mulutku secara otomatis terkunci, jika sedang membicarakan hal yang kuanggap cukup rahasia. Jadi ... jika kau ingin aku memberitahumu, kau harus membuka kunci di mulutku terlebih dahulu.".


Mengernyitkan wajah, mata Feli mendelik, menatap Hayden dengan tatapan penuh hardik. "Kalau memang terkunci, kenapa dari tadi kau masih bisa bicara?"


"Baby ...!" Hayden menyeru dengan nada setengah merengek.


Membuang napas kasar, pria tampan itu membiarkan persendian di kedua bahunya yang sempat menegang, agak sedikit melemas, hingga bahu gagahnya tersebut, tampak sedikit terkulai.


Hayden menatap Feli dengan tatapan memelas. "Turuti saja perkataanku, bisa tidak?"


Berdecih pelan sambil menggeleng tak habir pikir, Feli mendengkus, lantas berdehem pelan. "Baiklah, baiklah. Beritahu aku, cara untuk membuka kunci di mulutmu itu. Agar aku bisa membuatmu bicara soal hal yang kau anggap rahasia."


Bingkai birai Hayden merenggang, memetakan senyum manis terbaiknya. "Caranya sangat mudah, Sayang."


Feli terkekeh kikuk, berusaha meladeni sikap kekanakan Hayden, sedang sebenarnya ... ia mulai merasa sedikit kesal. "Apa itu?" tanyanya, setengah mencemooh.

__ADS_1


"Kau hanya perlu memberiku ciuman, tepat di bibirku."


Tbc ....


__ADS_2