Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Penepatan Janji Hayden


__ADS_3

"Kalau begitu, ayo cepat, beri aku ciuman lagi," pinta Hayden sembari memberi sedikit guncangan pada tubuh Feli.


"Tadi sudah."


"Kapan?"


"Tadi, sebelum kita mandi."


"Itu aku yang memberimu ciuman, hanya sekedar contoh pula. Tidak masuk hitungan!" Kalimat terakhir Hayden ucapkan dengan begitu penuh penekanan.


"Tadi siapa yang menelponmu?"


Sengaja menanyakan hal lain, Feli ingin mengalihkan topik pembicaraannya dengan Hayden, tentu dalam rangka ingin menggoda suami tampannya itu.


Mendapati wajah tampan Hayden seketika merengut, membersamai bibirnya yang mencebik juga tatapan mata menyalang tajam, syarat akan kemarahan, Feli tak kuasa menahan kekehan.


Embusan napas kasar menguar melalui celah antara bingkai birai wanita cantik itu saat kepala dan pandangannya tertunduk untuk beberapa saat.


Melempar senyum manis terbaik, Feli menengkup wajah tampan Hayden yang sudah beraut masam, lalu perlahan mendekatkan wajahnya.


Tidak langsung mengabulkan apa yang Hayden minta, Feli berhenti tepat saat ujung hidung kecilnya dan ujung hidung sang suami hampir saling bersentuhan.


Membiarkan manik mata hazel indahnya yang gemetar menilik reaksi yang Hayden tunjukan, Feli refleks sedikit menarik diri saat Hayden bergerak cepat, begitu tidak sabaran, langsung hendak meraup bibir ranumnya


"Apa kau akan terus menggodaku seperti ini?"


Feli tersenyum. "Tidak."


"Kalau begitu kena-"


Tidak mengijinkan Hayden merampungkan perkataan yang jelas-jelas berisi sebuah protes bernada setengah merengek, Feli langsung menyumpal bibir suami tampannya itu dengan bibirnya.


Memberi apa yang Hayden inginkan, Feli mencium bibir sang suami tanpa memberi ancang-ancang, sampai tak gagal membuat Hayden dilanda keterkejutan.


Kendati begitu, tentu rasa senang dan bahagia lebih mendominasi dalam diri Hayden. Tersenyum di sela pagutan bibir yang sang istri awali, Hayden pun tidak berpikir panjang lagi, langsung membalas ciuman Feli.


"Sudah!" Feli berujar sembari membuang napas kasar, setelah berhasil mendorong tubuh Hayden yang masih saja ogah-ogahan menghentikan ciuman, di saat dirinya mulai agak kesulitan untuk bernapas dengan tenang.


Menyeka permukaan bibir yang basah akibat perpaduan saliva yang tertinggal menggunakan punggung tangan sebelah kanan, Feli menatap Hayden yang malah tengah asik tersenyum manis tanpa dosa dengan tatapan jengkel.

__ADS_1


"Agresif sekali," hardik Feli, tak lupa disertai pukulan yang tak seberapa keras di permukaan dada bidang sang suami.


Hayden terkekeh. "Wajar saja kalau aku agresif. Aku sudah menahan diri untuk tidak mencium bibirmu selama dua tahun lamanya, kau tahu? Itu belum seberapa." Hayden tersenyum miring. "Tunggu sampai aku berhasil memiliki dirimu seutuhnya."


Feli berdehem. "Aku sudah memberi apa yang kau mau. Kau tidak lupa kan, kalau bukan hanya aku saja yang memiliki hutang di sini, tapi kau juga?"


Kening Hayden spontan mengernyit, sampai kedua alisnya dibuat hampir saling bertaut, sementara matanya memicing, menatap Feli, nanar. "Aku memiliki hutang padamu?"


Mengangguk cepat juga dengan pergerakan mantap, Feli mendadak tampak antusias sekali, bahkan hingga tanpa ragu melempar senyum senang, padahal sebelumnya sudah memetakan air muka garang. "Ya. Kau juga memiliki hutang padaku. Masa lupa?"


"Hutang apa?"


"Kita membuat perjanjian semalam, bahkan dari saat kita masih di mobil, setelah kembali dari restauran."


Berdesis pelan, Hayden memiringkan kepalanya sekilas sembari menelengkan pandangan, menunjukan gelagat yang begitu syarat akan keraguan.


Sejurus kemudian, pribadi tampan itu terkekeh kikuk. "Maaf, Sayang. Tapi sepertinya aku lupa. Bisa kau beritahu aku saja secara langsung?"


Mendengkus, Feli merotasikan bola matanya, malas. "Kau sudah berjanji, akan memberitahu rahasiamu padaku, setelah aku memberimu ciuman. Kau mengatakan itu semalam. Masa tidak ingat?"


Kening Hayden mengernyit lagi. Kerutan yang ditimbulkan tampak lebih dalam dan lebih jelas daripada sebelumnya. "Rahasia?"


Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Feli mengangguk mantap. "Hemmm. Rahasia."


Pria tampan itu benar-benar lupa, bahwa semalam dirinya dan sang istri memang sempat membuat kesepakatan, mungkin karena saking terlalu fokusnya pada rasa bahagia yang dari semalam begitu membeludak dalam relungnya.


"Aku tidak memiliki rahasia apa pun darimu. Rahasia apa yang kau maksud, By?"


Feli menarik napas panjang sembari memejamkan pelupuk mata berbulu lentiknya sekilas, lalu mengembuskan napasnya tersebut secara perlahan seraya melempar senyum simpul yang jelas-jelas tampak dipaksakan. "Alasan kenapa dari semalam, lebih tepatnya saat kita masih berada di restauran, kau terlihnat bahagia sampai tidak berhenti tersenyum. Itu yang kau janjikan, akan kau beritahu padaku, kalau aku sudah memberi ciuman," rengeknya, sesekali diselangi kaki yang menghentak, kesal.


"Ah, itu!" Hayden spontan tersenyum.


Merasa gemas juga dalam satu waktu akhirnya ia bisa mengingat apa yang sedang dibicarakan oleh sang istri.


"Mereka hanya bisa menatapku, sedangkan kau, bisa melakukan lebih dari itu."


Sekonyong-konyongnya sekelibatan kilas balik yang sempat dilaluinya bersama Feli semalam, melintas dalam ingatan Hayden, membentuk sebuah gambaran kelewat jelas, beserta suara yang seakan mengudara tepat di dekat kedua sisi daun telinga.


Sebenarnya, alasan sederhana itulah yang membuat Hayden merasa senang sampai terus menerus tersenyum semalam di hadapan Feli.

__ADS_1


Perkataan singkat yang Feli ucapkan guna menenangkan Hayden yang tengah menunjukan sikap posesifny semalamlah yang membuat Hayden tak kuasa menahan gejolak kebahagiaan yang mendadak membuncah, sampai-sampai membuat Feli keheranan.


Terkekeh, Hayden menatap Feli yang tengah balas menatapnya sambil tersenyum dengan tatapan penuh damba, lalu bergerak cepat, mencuri kecupan manis nan singkat dari bibir istri cantiknya itu.


Feli mengerjap. Keheranan dengan tingkah yang Hayden tunjukan, ia tersenyum sembari mengernyitkan kening. "Ada apa denganmu? Kenapa mirip seperti semalam? Cepat jawab!"


Hayden terkekeh lagi. "Suasana hatiku sangat bagus sekali dari semalam, setelah aku mendengar kalimat sederhana yang kau ucapkan."


"Kalimat yang aku ucapkan?"


Hayden mengangguk mantap. "Hemmm."


"Kalimat apa?"


"Saat aku mengatakan, kalau aku membenci momen di mana ada pria lain yang menatapmu selain diriku, kau menjawab, bahwa aku bisa melakukan hal lebih dari itu. Kalimat itu yang membuatku merasa sangat senang."


Bingkai birai Feli merenggang dengan sangat instan, memetakan senyum senang bercampur gemas setelah mendengar penjelasan yang Hayden katakan. "Hanya karena itu?"


"Hemmm."


"Kau pasti bohong." Feli mendelikan mata, menatap Hayden dengan tatapan penuh terka.


Hayden menggeleng cepat. "Tidak. Aku sama sekali tidak berbohong. Memang itu rahasia yang aku maksud semalam."


Memicingkan mata, Feli mendekatkan wajahnya ke wajah Hayden sembari mengatupkan bingkai birai. "Kenapa kau bisa sangat senang sampai-sampai terus menerus tersenyum semalam, hanya karena perkataanku itu?"


Mengusap wajah cantik Feli dengan penuh kelembutan dan penuh kasih, menyingkirkan anak rambut yang jatuh terurai sampai agak menutupi pandangan, Hayden membuang napas kasar, lalu tersenyum.


Manik mata jelaga indah pribadi tampan itu menatap lamat manik mata hazel sang istri, menyorotkan kelembutan juga cinta kasih yang kembali menggebu setelah sempat terpaksa padam selama dua tahun silam.


Feli terkekeh setelah beberapa saat menunggu, tapi yang ia dapatkan hanyalah sebuah kebungkaman dari sang suami. "Kenapa malah diam lagi, bukannya menjawab pertanyaanku?" tanyanya sambil melabuhkan cubitan gemas di permukaan dada bidang Hayden.


Hayden meringis pelan, lalu terkekeh renyah, tanpa beban. "Kau ingin tahu sekali, kenapa kalimat sederhana yang kau ucapkan semalam, berhasil membuatku senang?"


Tidak berpikir panjang, Feli mengangguk cepat, penuh semangat. "Tentu saja."


Teraenyum manis, sedang sorot matanya mendadak tampak sendu, memetakan rasa senang juga haru dalam satu waktu, Hayden mencuri kecupan manis lagi dari bibir Feli, entah untuk yang ke berapa kalinya pagi ini. "Karena kalimat yang kau ucapkan semalam, sudah secara tidak langsung memberiku sebuah clue, bahwa secepatnya, aku bisa ...-" menjeda perkataan cukup lama, Hayden tersenyum senang sambil menenggerkan keningnya di kening Feli.


Refleks, karena senang juga gemas melihat reaksi yang Hayden tunjukan, Feli ikut tersenyum. "Bisa apa?"

__ADS_1


"Bisa segera mengajakmu, make a real Baby."


Tbc ....


__ADS_2