
'Apakah Jimmy benar-benar menyentuhku dan merenggut kehormatanku malam itu?' Feli membatin lirih.
Pertanyaan menyesakan itu terus berputar dalam benak Feli. Ia tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang sudah terjadi padanya dua tahun yang lalu.
Pemikiran-pemikiran negatif terkait tindakan Jimmy malam itu, terus menghantui benaknya.
Kenapa ia terlalu bodoh untuk bisa mengingat segalanya? Kenapa tidak ada satu petunjuk pun yang ia ingat terkait kejadian malam itu?
Wanita malang itu kini tengah duduk di atas tempat tidur sembari memeluk lutut. Tubuh gemetarnya bersandar di kepala tempat tidur.
Air mata dari kepedihan dan keputus asaan yang tak berhasil membuatnya jengkel terus mengalir, membasahi wajah cantiknya yang nampak begitu pucat.
Feli yang malang. Ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri di sana, di tengah keheningan malam yang sesekali disapa oleh suara guntur dari atas langit sana.
Suasana malam ini terasa begitu mencekam, seolah merasakan apa yang saat ini tengah Feli rasakan.
Gemuruh guntur seolah menjadi perwakilan hatinya yang ingin menjerit, mencoba menghapus sekelumit kemungkinan buruk yang terus berputar dalam benaknya, membuatnya gila.
Seharusnya ia bisa saja tidak terlalu perduli, jika pun iya memang, Jimmy menyentuhnya malam itu. Toh, Hayden sudah mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan Feli apa pun yang terjadi.
Tapi di salah satu sudut hati Feli yang tedalam, entah kenapa ia merasa begitu kesulitan untuk menemukan alasan yang mampu membuatnya percaya pada apa yang telah Hayden katakan.
Ia justru menemukan berjuta alasan untuk tidak meyakini perkataan Hayden tersebut.
Lantas, apa yang harus ia lakukan?
Ia tahu, di abad ke dua puluh satu ini, keperawanan tidaklah menjadi tolak ukur yang begitu penting dalam sebuah pernikahan baru.
Banyak pasangan di luaran sana justru sudah sama sekali tidak terlalu memperdulikan hal tersebut.
Tapi tidak dengan Felisha.
Baginya ... hal itu sangatlah berharga. Pertamanya, hanya ingin ia berikan pada seseorang yang ia cintai dan sudah pasti akan menjadi teman hidupnya, selamanya.
Empat tahun berkencan, bahkan Hayden sekali pun tidak pernah melihat tubuh polos Feli, apa lagi menikmatinya, karena Feli berkomitmen untuk melakukan hubungan penyatuan tersebut di saat mereka sudah menikah saja.
Namun, jika sampai Jimmy sudah merenggut pertamanya, sedangkan Hayden selama ini menghormati komitmennya, apa itu tidak masalah?
Feli tahu, Hayden sendiri pun sepertinya tidak begitu yakin jika pertamanya itu sudah direnggut oleh pria lain.
'Apa dia akan benar-benar menetap jika pertamaku sudah direnggut oleh Jimmy malam itu?'
Ini bukan hanya sekedar masalah pertama dan siapa yang mengambilnya, tapi pertama Feli, adalah kehormatan bagi Feli.
Bukankah, Hayden juga setidaknya pasti merasa kecewa jika sampai pertama Feli ternyata bukan dengan dirinya?
Karena selama empat tahun berkencan dengan Feli, bukanlah perkara mudah bagi Hayden untuk menahan hasratnya agar tidak menjamah setiap inci dari tubuh indah sang pujaan.
Bukan perkara mudah bagi Hayden untuk menahan keinginannya untuk bercu-mbu dengan pujaannya lebih jauh, daripada hanya sekadar melakukan sebuah ciu-man belaka.
Lalu setelah menikah, kehormatan wanitanya yang selama ini juga ia jaga, ternyata sudah hilang direnggut pria lain, apa Hayden tidak marah?
Apa ia masih tetap akan bertahan dan mencintai Feli seperti sebelumnya?
"Baby ...."
Feli terhenyak. Seketika segala pemikiran dalam benaknya buyar saat itu juga kala ia mendengar suara lembut Hayden mengudara, menyapa rungunya.
Feli menengadahkan pandangan, ia menoleh, hingga manik hazel indahnya beradu tatap dengan netra teduh Hayden yang sudah menatapnya dengan tatapan lembut.
Hayden membuang napas kasar seraya berjalan, menghampiri Feli dan mendudukan dirinya di hadapan sang istri.
Pribadi tampan itu baru saja selesai membersihkan diri. Surai hitamnya yang indah nampak sedikit basah, bahkan masih meneteskan air ke pelipisnya.
__ADS_1
Pakaian yang ia kenakan bahkan jelas menunjukan bahwa dirinya siap untuk memalui malam mendung ini dengan mengistirahatkan diri dengan nyaman, sembari memeluk tubuh sang istri.
Hayden hanya mengenakan kaus putih polos yang dipadu padankan dengan sweet pants berwarna hitam. Sederhana, tapi manis.
Pria tampan itu mengusap wajah cantik sang istri, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi. "Bukankah aku sudah memberitahumu, untuk tidak menangis, hemm?"
Feli terdiam. Manik hazelnya tak sedetik pun teralihkan, masih beradu tatap dengan netra teduh Hayden.
Hayden menghapus air mata wanitanya dengan sangat lembut, penuh kasih. "Jangan menangis, terutama saat kau sendirian."
Merengkuh tubuh gemetar sang istri ke dalam pelukan, Hayden mencoba memberikan rasa aman dan tenang. Ia mengusap lembut punggung Feli menggunakan telapak tangan lebarnya.
Kecupan singat. Namun, penuh arti dan efeksi berhasil mendarat di puncak kepala Feli.
"Kau bisa menangis, jika aku berada di sisimu."
Feli menenggerkan dagunya di bahu Hayden sembari mengatupkan pelupuk matanya beberapa saat, lantas menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba melawan rasa gugupnya. "Ha-Hayden ...."
"Hemmm?"
"Boleh aku m-memintamu melakukan sesuatu?"
Dahi Hayden mengernyit, mewakili rasa heran yang menelusup begitu saja dalam relungnya. Ia melepaskan rengkuhannya dan menatap sang istri dengan tatapan penuh terka. "Melakukan apa?"
Manik mata hazel indah Feli yang berkaca, nampak gemetar, menelisik wajah tampan Hayden dengan tatapan yang begitu sulit diartikan. "A-aku ingin membuktikan s-sesuatu."
Hayden mengangguk, ragu. "Apa itu?"
"Let's do it!"
Hening .... hanya ada keheningan yang mengelilingi kamar tidur yang saat ini tengah Hayden dan Feli tempati.
Telinga mereka seketika kaku. Pendengarannya seolah menghilang. Mereka seakan menjadi tuli saat itu juga.
Dunia dan waktu mereka berhenti di titik yang sama, yakni manik mata satu sama lain yang saling bersitatap.
Hayden mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang. Benaknya seketika blank - kosong.
Namun, Hayden tentu amat sangat mengerti, terkait apa sebenarnya yang saat ini tengah Feli bicarakan.
Ia tentu sangat mengerti dan bisa menebak dengan pasti, ke mana pembicaraan istri cantiknya itu mengarah.
Menundukan pandangan sebentar, Feli meraih salah tangan sebelah kiri Hayden, memggenggamnya dengan sangat erat seolah tidak ada niatan sama sekali untuk melepaskan. "Kumohon. Aku ingin membuktikan, bahwa malam itu Jimmy tidak menyentuhku sampai sejauh itu. Kumohon, Hayden."
Tatapan Hayden yang semula lembut, seketika berubah, menjadi begitu gelap dan dingin, mengintimidasi, membuat Feli merasa bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang salah.
Manik mata Feli kembali gemetar, bergerak ke sana - ke mari, menelisik wajah merah padam Hayden, lekat.
"Kau yakin?" Hayden berucap - bertanya dengan nada dingin juga terkesan cukup mengintimidasi.
Feli menelan ludah kasar dengan susah payah untuk ke sekian kali, mencoba membasahi tenggorokan yang mendadak terasa begitu kering kerontang.
Mengatupkan bingkai birai cukup rapat sembari menghela napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan, Feli mati-matian berusaha untuk mensugestikan diri agar tetap tenang, di sela kegugupan juga ketakutan yang sudah terlanjur mengungkung dalam relung.
Tersenyum simpul, wanita cantik itu lantas menganggukan kepalanya secara perlahan. Jelas, ada keraguan yang terpancar dari tatapan mata dan juga raut yang ia tunjukan.
Hayden tersenyum senang, seakan tidak menyadari keraguan yang jelas Feli tunjukan tersebut.
Pria tampan itu merengkuh tubuh mungil Feli ke dalam pelukan, seperti sebelumnya. "Kau tidak tahu, berapa lama, aku sudah menunggu hal ini untuk terjadi, Baby."
Sudut bibir sebelah kiri Hayden menukik tajam, mengulas seringaian ngeri, penuh arti. "Tentu, aku akan melakukannya dengan senang hati."
Feli terhenyak, bersamaan dengan matanya yang membola manakala salah satu telapak tangan besar Hayden berhasil masuk, menelusup secara perlahan di bawan ujung kaus hingga melakukan kontak dengan kulit perutnya.
__ADS_1
Napas Feli tercekat. Degup jantungnya menggila, begitu hebat. Pelupuk matanya perlahan mengatup dan terbuka, kala Hayden mengusap permukaan perutnya dengan pergerakan menggoda.
Wajah Hayden sudah berada di ceruk leher Feli, menelusup, membiarkan bingkai birainya bersentuhan dengan kulit wanita cantik itu.
Hayden menye-sap sebagian kecil kulit leher Feli, meninggalkan sebuah mahakarya kepemilikannya di sana, membuat tubuh mungil Feli meremang, bersamaan dengan seluruh persendiannya yang menegang.
Feli mengatupkan pelupuk mata juga bibirnya yang agak gemetar rapat-rapat, menahan erangan yang mendesak, minta diloloskan, ketika ia merasakan tangan Hayden melakukan sentuhan di permukaan bukit kembarnya.
Perlahan, tapi pasti ... Hayden membuat tubuh Feli berbaring.
Hayden menatap wajah Feli. Ia mendaratkan kecupan manis di kening, pelupuk mata, ujung hidung, hingga setiap inci terkecil dari wajah cantik sang istri.
Hingga bibir penuhnya mendarat di bibir tipis Feli, mera-upnya dengan pergerakan sedikit kasar, penuh tuntutan.
Hayden tidak perlu menunggu dengan kesabarannya yang sudah di penghujung untuk mendapatkan respon dari Feli, karena wanitanya itu membalas ciu-mannya saat itu juga.
Jelas tindakan Feli itu berhasil membuat bibir Hayden merenggang, mengulas senyum di tengah-tengah pagutan mereka.
Mata sendu Hayden menatap pelupuk mata Feli yang masih mengatup, hingga terbuka seketika, terbelalak bersamaan dengan sebuah erangan pelan manakala tangan Hayden berhasil menelusup di bawah sana.
Kedua telapak tangan mungil Feli mencengkram bahu Hayden kuat-kuat, mencoba menahan sensasi aneh dalam dirinya yang seakan sudah membuncah.
Hayden melepaskan pagutannya, menatap wajah cantik Feli beberapa saat, sebelum menelusupkan wajahnya di ceruk leher Feli.
Tersenyum senang penuh kepuasan, Hayden mendaratkan kecupan manis di sana, di permukaan leher sang istri. "Aku mencintaimu, Felisha. Sangat mencintaimu."
"Akh! Hayden" Felisha terhenyak dan juga tersentak. Erangan itu herhasil lolos dari mulut mungilnya manakala Hayden menenggelamkan dirinya secara perlahan di bawah sana.
Sangat cepat. Semuanya berlalu sangat cepat, sampai Feli tidak mengetahui, kapan Hayden mulai menanggalkan pakaiannya.
Hayden mengecup lembut bahu Feli, menyisakan sensasi hangat di sana, membuat Feli benar-benar kehilangan kendalinya.
Feli menggigit bibir bawahnya seraya memejamkan pelupuk matanya erat-erat. Ia menahan erangannya dengan susah payah, agar tidak kembali mengudara.
Namun, tiba-tiba ia merasa Hayden menghentikan semua pergerakannya. Pria tampan itu menjatuhkan tubuhnya, membuat Feli merasa kebingungan.
Tubuh Hayden sedikit gemetar, dan Feli tentu bisa merasakannya saat itu juga.
Feli membuka pelupuk matanya, menatap bahu Hayden dengan tatapan bingung. "K-enapa? Ad-" "Mari berhenti."
Belum sempat Feli merampungkan perkataan, Hayden sudah langsung angkat suara, menyela perkataan wanita cantik itu sembari membangkitkan diri, membuat Feli merasakan kekosongan dan kehilangan suhu hangat dari tubuhnya.
Feli tertegun. Ia terdiam memaku, menatap Hayden yang kala itu dengan cepat memakai pakaiannya.
"Aku pikir, pernikahan ini memang tidak akan berhasil." Hayden berucap seraya menoleh sekilas ke arah Feli.
Feli mendudukan dirinya tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Hayden. "A-apa maksudmu, Ha-Hayden?"
Hayden membuang napas kasar. "Kau! Pengkhianat. Kau sudah mengkianatiku dengan Jimmy. Dia sudah merenggut kehormatanmu, Felisha!"
Dengan begitu, Hayden pun pergi meninggalkan Feli, ke luar dari kamar tersebut, membuat hati Feli seketika hancur, tak tersisa.
Tangis Felisha pecah, begitu pun dengan dunianya yang saat itu seketika berhenti berputar. Ah tidak. Itu terlalu sederhana. Dunianya hancur, sehancur-hancurnya hingga tidak memiliki kepingan sekecil apa pun.
Tak lama kemudian ... Feli mendengar suara mesin mobil menyala dan menjauh dari rumah yang saat ini ia tempati.
Ia dengan cepat bangkit dari duduknya dan berlari ke arah jendela. Di sana, ia melihat mobil milik Hayden menjauh dan menghilang dari pandangannya.
Tubuh mungil Feli yang sudah gemetar hebat, terjerembab, jatuh tersungkur, menyapa lantai dingin di bawah sana.
Semuanya berlalu begitu cepat. Bahkan terlalu cepat. Apa hubungannya dan Hayden berakhir begitu saja?
Feli menggelengkan kepala dengan pergerakan cepat secara berulang. "T-tidak. T-tidak. S-seharusnya t-tidak seperti ini. K-kau berjanji untuk tidak akan meninggalkanku."
__ADS_1
Air mata kepedihan wanita malang itu mengalir begitu deras, membanjiri pipi dari wajah cantiknya. "HAYDEN!"
Tbc .....