
Menguarkan kekehan canggung, Feli lantas meloncat pelan, turun dari meja pantry sembari mengalihkan pandangan, memutuskan kontak mata dengan Hayden meski hanya beberapa saat. "Baiklah, kalau begitu, memang sebaiknya kita hentikan saja," cetusnya, membubuhkan kekehan canggung lagi di penghujung kata.
Tersenyum miring, lebih ke menyeringai, Hayden menaikan alis sebelah kiri, menunjukan tatapan juga air muka arogan. "Kenapa? Kau tadi terlihat keberatan, saat aku memberi usulan untuk berhenti."
"Ya ... karena tadi aku belum mengetahui, alasan mengapa kau ingin berhenti."
"Maka dari itu kau langsung setuju begitu saja?"
"Ya. Apa seharusnya aku menolak?"
"Tidak juga." Hayden mendengkus pelan, lalu tersenyum manis, menggoda. "Tapi jika kau memberi usulan untuk tetap melanjutkan, kupikir itu akan jauh lebih baik dan aku akan dengan sangat senang hati, menurutinya."
"Hayden, kau tidak lapar?" Sengaja sekali sepertinya Feli bertanya, tanpa mengkhiraukan ocehan sang suami sebab ingin mengalihkan topik pembicaraan.
Hayden yang langsung menyadari tujuan sang istri detik itu juga pun tersenyum gemas. "Aku lapar. Sangat lapar. Maka dari itu, aku sangat ingin memakanmu," celetuknya, menggoda.
"Ha, bercandamu lucu sekali, Hayden." Feli berucap sembari berjalan mengitari Hayden, mengabaikan tatapan mata genit suami tampannya itu, untuk menghampiri lemari es yang terletak tak jauh dari tempat ia sebelumnya berdiri.
Hayden tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Feli, membiarkan manik mata jelaga indahnya menilik pergerakan yang di lakukan sang istri, bahkan sampai ia sendiri sadari, ia telah memutar badannya. "Siapa yang sedang bercanda?"
Menghentikan langkah, tepat di hadapan pintu lemari es, Feli menoleh, lalu melempar senyum manis terbaik miliknya pada sang suami. "Kau pikir aku yang sedang bercanda?"
"Aku bertanya padamu lebih dulu, kenapa malah balik bertanya lagi, bukannya memberi jawaban?"
Terkekeh kecil, Feli menggeleng tak habis pikir, kemudian meluruskan pandangan. "Ya tentu saja dirimu."
"Perkataanku yang mana yang di telingamu terdengar seperti sedang bercanda?"
"Yang kau bilang, bahwa kau ingin memakanku."
"Aku serius tentang itu."
Mendengkus, Feli memutar bola matanya malas, lalu menoleh lagi ke arah Hayden sebelum dirinya membuka pintu lemari es yang terpampang di hadapan, padahal saat itu, tangan sebelah kanannya sudah terulur. "Haydeeeeen! Apa kau akan terus bersikap seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Seperti pria tua yang sangat menyebalkan."
Terkekeh kecil, Hayden mulai mengayunkan tungkai, berjalan menghampiri Feli. "Aku bersikap romantis, kau tidak suka."
Mengerjapkan pelupuk mata dengan pergerakan yang begitu lugu, Feli menggeleng ragu. "Aku tidak pernah mengatakan, kalau aku tidak suka jika kau bersikap romantis."
Menghentikan ayunan tungkai, Hayden berdiri tepat di belakang tubuh Alyn. Sedikit membungkukan tubuh, pribadi tampan itu menelusupkan kedua lengan kekarnya di area pinggang sang istri.
Melabuhkan kecupan singkat tapi manis di permukaan bahu sebelah kiri Alyn, Hayden lantas menenggerkan dagunya di sana, lalu agak memutar kepala.
__ADS_1
Memposisikan wajahnya menghadap ke area ceruk leher Alyn, pria tampan itu mengendur aroma wangi nan segar yang seketika menyeruak memenuhi indra penciumannya dari tubuh sang istri.
Terkekeh geli, Feli agak memiringkan kepalanya sembari menengkup punggung tangan Hayden yang berada di permukaan perutnya, memberinya usapan lembut penuh makna. "Ada apa denganmu? Kenapa sepertinya suka sekali menempel padaku dari tadi?"
"Memangnya tidak boleh kalau aku mau menempel terus pada istriku sendiri?"
"Tidak ada yang mengatakan seperti itu."
Hayden mengecup dagu Alyn. "Lalu?"
Berdesis pelan, Feli melirik Hayden melalui ekor matanya. "Kau mau membiarkanku kelaparan? Aku sudah mengatakan padamu dari tadi, kalau aku lapar. Kenapa kau tidak menggubris hal itu dengan serius?"
"Sebelumnya aku sudah berbaik hati menawarkan diri. Kenapa sekarang malah berprotes?"
Mendengkus, Feli terkekeh sinis, meremehkan. "Menawarkan diri? Maksudmu, saat kau bertanya padaku, maukah aku memakanmu?"
Hayden mengangguk dengan lugunya. "Hemmm. Itu kau masih ingat."
Membuang napas kasar, Feli memutar badan, membuat Hayden spontan agak memperlonggar pelukan dan menegakan tubuh. "Hayden, aku serius. Aku lapar."
"Kau mau memakanku?"
Feli memukul jengkel permukaan dada bidang Hayden. "Aku serius."
"Eummmm." Mendelikan mata, Feli menunjukan air muka khas orang yang sedang berpikir begitu keras. "Bagaimana kalau kita pergi ke rumah nenekmu saja?" tanyanya sambil dibubuhi senyum manis di penghujung kata juga tatapan mata yang berbinar, menatap Hayden penuh antusias.
Permukaan kening Hayden mengernyit dengan sangat instan. "Kau mau meminta makan di sana?"
Feli menghentak kesal. "Bukan seperti itu. Kau pikir aku ini tidak tahu malu apa?"
Hayden tersenyum senang. "Lalu kenapa tiba-tiba ingin pergi ke rumah nenekku?"
"Kau ingan Bakeri yang sering kita kunjungi dulu, jika kau mengajakku pergi ke rumah nenekmu?"
Kepala Hayden mengangguk samar, bersamaan dengan pandangan yang teralihkan sebentar. "Ya. Tentu."
"Ayok pergi beberapa roti di sana. Aku rindu dengan rasa roti khas di Bakeri itu."
"Tapi kita mengunjungi Bakery itu sekitar dua setengah tahun yang lalu, Baby. Kau yakin, Bakerinya masih ada?"
Mengernyitkan kening sampai membuat kedua alisnya hampir saja saling bertautan, Feli memicingkan mata, menatap Hayden, penuh terka. "Memangnya, kau tidak pernah pergi lagi ke sana, selama ini?"
Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Hayden menggeleng. "Tidak. Kau tahu aku tidak terlalu suka roti. Dulu, alasanku pergi ke sana, karena aku tahu kau suka. Itu juga Bakeri terkenal yang direkomendasikan nenekku."
Mendengar jawaban yang Hayden paparkan dengan penuh kesungguhan, tentu tak gagal membuat Feli cukup merasa terkejut.
__ADS_1
Diam bergeming, wanita cantik itu membiarkan manik mata hazel indah gemetarnya menatap wajag tampan Hayden, dengan tatapan penuh makna.
Hayden tersenyum lembut. "Kenapa kau jadi diam seperti ini?"
Feli mengerjap. "Jadi dulu kau sering mengajakku ke sana setiap kali mengunjungi nenekmu, hanya karena aku?"
Kekehan kecil menguar dari mulut Hayden. "Sembilan puluh sembilan persen.".
"Sembilan puluh sembilan persen?" Feli menatap Hayden, nanar.
"Hemmm. Sembilan puluh sembilan persen alasanku mengajakmu ke sana, karena memang karena dirimu. Dan yang satu persennya, karena aku suka kopi yang mereka jual juga di sana."
"Lalu kenapa, kau tidak pernah ke sana lagi, sejak dua setengah tahun yang lalu?"
Bingkai birai Hayden perlahan merenggang, memetakan senyum simpul tapi terlihat sedikit getir. "Karena aku kehilangan sembilan puluh sembilan persen alasanku untuk pergi ke sana. Kalau hanya ada satu persen saja, mana mampu membuat kakiku mau pergi lagi ke sana."
Menyadari suasana yang menyelimuti perbincangannya dan Feli mendadak berganti, Hayden mencoba mencairkannya kembali dengan sebuah kekehan renyah. "Jadi kau ingin pergi ke sana sekarang?"
"Hemmm. Kalau saja Bakerinya masih ada."
"Kita bisa mengeceknya terlebih dahulu, kalau sudah tidak ada, ya sudah, kita minta makan di rumah nenek saja."
"Kita bisa membeli makanan lain saat diperjalanan, Hayden. Kau ini kenapa, sepertinya memang ingin sekali mempemalukanku di hadapan nenek?"
Hayden terkekeh. "Aku bercanda, Baby."
Feli mencebikan bibir. "Sangat tidak lucu."
"Benarkah?"
"Iya. Sudah lah, aku lelah menghadapi sikap menyebalkanmu. Kita langsung pergi saja."
"Nanti dulu, ada syaratnya." Hayden menahan pergerakan Feli yang kala itu hendak melepaskan diri dari rengkuhan.
"Apa lagi?"
"Cium aku dulu. Di sini," titah Hayden sembari menolahkan kepala ke samping kiri dan menunjuk permukaan pipi sebelah kanannya.
Feli mendengkus. "Baiklah."
Menjijitkan tumit sembari mencengkram kedua lengan Hayden sebagai tumpuan, Feli mengerucutkan bibirnya, untuk memberi kecupan di pipi Hayden.
Akan tetapi, tentu Hayden dengan sikap usilnya, malah sengaja meluruskan wajah dengan pergerakan cepat, hingga bibir ranum sang istri mendarat di bibirnya, alih-alih di pipinya.
Tbc ....
__ADS_1