
"Aku tidak akan keberatan jika harus membuat puluhan bahkan ratusan tanda merah di sana," ujar Hayden, menggoda.
Tangan sebelah kanan Hayden terangkat, hingga telapak tangannya menyentuh leher jenjang Feli, lalu perlahan turun, semakin perlahan dan perlahan, kemudian berhenti di kerah bathrobe yang Feli kenakan.
Pergerakan pria tampan itu sungguh luar biasa menggoda, mampu membuat wanita mana pun yang disentuhnya bertekuk lutut, menuntut tindakan yang lebih jauh lagi.
Tatapan Hayden kembali lagi ke atas, menatap manik hazel sang istri yang sudah menatapnya dengan nanar. "Kau mau aku melakukannya?"
Kedua alis Feli yang bersebrangan, berhasil dipersatukan karena perkataan Hayden yang baginya cukup membingungkan. "Melakukannya? Melakukan apa?"
"Kau benar-benar tidak mengerti?"
Telapak tangan nakal milik pria tampan bernama Hayden itu kembali bergerak, begitu perlahan, merayap dan menelusup dengan pergerakan yang sangat amat halus ke dalam bathrobe yang Feli kenakan.
"Apa kau sungguh-sungguh tidak mengerti?"
"Akh! Hayden!" Feli mengerang agak tertahan, hampir lebih menyerupai sebuah lenguhan, manakala telapak tangan Hayden yang bersuhu dingin itu meremas salah satu gundukan kenyal miliknya.
Dengan cepat, Feli menggenggam pergelangan tangan Hayden yang masih bertengger di area dadanya, kuat-kuat.
Bingkai bidai Hayden merenggang, mengulas senyum penuh kepuasan. "Baby, kau sangat sensitif."
Feli menggeleng samar. "Jangan lakukan lagi, atau aku akan membunuhmu, Hayden!"
Hayden tersenyum seringai, membuat Feli menatapnya dengan mata yang menyalang tajam, jelas menyorotkan sebuah peringatan.
"**** you!" sarkas Feli yang mulai merasa sedikit kesal dengan tingkah nakal sang suami.
Hayden terkekeh. "Yes Baby, please."
Feli dengan cepat membangkitkan diri dari pangkuan Hayden, menatap suaminya yang tengah tersenyum seperti orang bodoh itu, masih dengan tatapan tajam. "Dasar, mes-um!"
Kedua telapak tangan mungil Feli meremat kuat-kuat kerah bathrobe putih yang ia kenakan.
Hayden bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Feli, lalu meraih pinggang ramping wanitanya. Ia membawa tubuh mungil wanitanya itu mendekat, bahkan saling bertekanan dengan tubuhnya.
Bibir indah Hayden merenggang, manakala manik jelaga indahnya menatap mata Feli yang membola, balas menatapnya penuh waspada.
Hayden mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Feli, lalu melepaskan tubuh mungil wanita cantiknya itu. "Aku akan membersihkan diri dulu. Kau tahu, Baby? Aku sebenarnya ingin melakukan hal itu saat ini juga, sampai rasanya aku bisa gila jika harus terus menahannya. Tapi aku akan menunggu. Aku akan menunggumu menyerahkan dirimu seutuhnya padaku. Jadi mulai sekarang, setidaknya biasakan diri dengan sentuhanku."
Penuturan Hayden yang sebenarnya menyelipkan sebuah keluhannya itu ia akhiri dengan sebuah senyum hangat. Ia mengusap lembut puncak kepala Feli, sebelum akhirnya pergi memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Feli tertegun dan memaku. Ia mengerjapkan pelupuk matanya berulang, beberapa kali.
"Baby, jangan coba-coba menutupi lukisan milikku dengan riasan. Biarkan semua orang melihatnya dan tahu bahwa kau adalah milikku, atau aku tidak akan segan-segan melakukannya di hadapan semua orang yang kita temui malam ini jika kau berani menutupinya," tukas Hayden seraya mencondongkan bagian kepalanya di balik pintu kamar mandi, lalu kembali ke dalam.
Suara pintu kamar mandi yang tertutup, berhasil membuat Feli sedikit terhenyak. Wanita cantik itu dengan cepat mendudukan dirinya di kursi yang berada di hadapannya.
Namun, seketika matanya membola, manakala lukisan yang Hayden maksud berhasil mengait atensinya.
Hayden serius. Pria tampan itu benar-benar serius saat mengatakan bahwa ia ingin semua orang tau, bahwa Feli adalah miliknya.
Bercak merah gelap yang Hayden tinggalkan tidaklah berukuran kecil. Ukurannya cukup besar, lebih mirip seperti stempel bibirnya yang tertinggal di sana daripada hisapan.
__ADS_1
Dan lebih parahnya, bercak tanda kepemilikan itu berada tepat di titik yang sangat mudah terlihat, bahkan saat Feli menundukan kepalanya sekali pun.
...***...
"Ah, aku sangat merindukan Feli," tukas Anna yang kala itu tengah duduk saling berdampingan dengan Jay di salah satu bar favoritnya.
Jay menatap gadis setengah mabuk itu sambil tersenyum dengan kepala dalam keadaan sedikit miring, ditopang oleh salah satu tangannya. "Kau tidak bertemu dengan Feli, baru sehari. Apa kau sudah sangat merindukannya sampai separah ini?"
Bibir Anna mengerucut lucu, diiringi dengan wajah cantiknya yang sedikit mengernyit, sangat menggemaskan. "Oh. Aku sangat ... merindukannya."
"Tidak bisakah kau juga merindukanku?"
Dahi Anna mengernyit. "Kau ada bersamaku. Aku bisa menemui kapan pun. Kenapa aku harus merindukanmu?"
"Tapi delapan jam dari dua puluh empat jam sehari - semalamku, aku bisa merindukanmu."
Anna terkekeh seraya mengalihkan pandangan sekilas. "Kau lucu sekali. World wide, funny guy."
Bingkai birai Jay merenggang, mengulas senyum gemas. "Tidak bisakah kau tinggal bersamaku, agar aku bisa melihatmu setiap waktu?"
Pelupuk mata Anna mulai mengatup dan terbuka dalam tempo yang begitu lambat, seperti orang mabuk pada umumnya.
Gadis itu mengangguk samar, sambil tertawa kecil. "Aku akan memikirkannya."
Jay mengangguk. Tangan sebelah kirinya bergerak, mengusap lembut pipi Anna, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik gadis itu. "Baiklah. Beritahu aku, saat kau siap pindah ke apartementku."
Anna berusaha keras untuk membuka pelupuk matanya lebar-lebar, agar bisa menatap Jay. "Tuan Muda Jayden. Apa kau mencintaiku?"
Jay terkekeh seraya menundukan pandangan, sekilas. "Hemmm. Aku mencintaimu."
Jay mengangguk, paham. "Entahlah. Jika aku bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa, aku pasti akan memilih untuk tetap jatuh cinta padamu."
Wajah Anna mulai mengernyit, siap untuk membuat raut wajah seperti gadis kecil yang sedang menangis. "Kau tidak boleh seperti itu. K-kau tidak b-boleh mencintaiku. I-itu bisa menghancurkan p-persahabatan kita. K-kau tahu?"
Jay tersenyum lirih sekilas. Ia menatap Anna dengan tatapan sendu yang begitu sulit diartikan. "Hemmm. Aku tahu. Maka dari itu, aku mengatakannya padamu sekarang, saat kau sedang mabuk, karena dengan begitu, hanya aku yang akan selalu mengingatnya, kau tidak."
...***...
Feli dan Hayden saat ini sudah berada di restoran mewah yang telah Hayden pesan untuk makan malam romantis mereka.
Butuh waktu sekitar lima belas menit bagi Hayden membelah jalanan menggunakan mobilnya agar ia bisa sampai di sana.
Lima belas menit yang begitu terasa menyebalkan bagi dirinya, karena Feli terus mengabaikannya dan tidak mengajaknya bicara.
Bahkan saat tiba di sana dan ke luar dari dalam mobil pun, Feli berjalan sembari menundukan pandangan, meskipun Hayden menautkan tangan mereka dan berjalan beriringan.
Makanan dan minuman sudah Hayden pesankan, tapi meja yang Hayden dan Feli tempati terasa begitu canggung, karena Feli hanya diam saja dengan pandangannya yang tertunduk.
Hayden berdehem pelan seraya merapikan kerah kemeja hitam yang ia kenakan. "Sayang, apa kau marah padaku? Kenapa dari tadi kau hanya diam, hemm?"
Feli perlahan menengadahkan pandangan, kemudian tersenyum manis dan berhasil membuat Hayden bingung. "Tidak. Aku tidak marah."
Kening Hayden mengernyit, bersamaan dengan matanya yang memicing, menatap Feli, menelisik wajah cantik wanitanya itu.
__ADS_1
Mata Hayden membola manakala kenyataan berhasil memukul keras dirinya. "Kau menutupi lukisanku?"
Feli menahan senyum yang seketika ingin merekah di bibir tipisnya kala raut wajah Hayden terlihat begitu masam. "Maaf. Itu terlalu besar dan membuatku tidak nyaman. Lain kali, buat yang lebih kecil dan manis, hemm?"
"Uwah, kau benar-benar." Hayden berucap dengan nada suara yang terkesan dramatis seraya menengadahkan pandangan, sekilas.
Pria tampan itu mengulum bibir bawahnya sembari menatap Feli yang masih tersenyum padanya dengan tatapan tajam. "Aku bersumpah, aku akan membuatnya secara langsung di hadapan semua orang nanti, agar semua orang tahu bahwa kau adalah milikku."
"Kenapa kau harus melakukan itu? Semua orang sudah tahu bahwa aku adalah milikmu, Hayden."
Hayden terdiam beberapa saat, sebelum menurunkan pandangan, ke area dada dan bahu Feli yang bisa dibilang cukup terekspose.
Pria tampan itu membuang napas kasar seraya membangkitkan diri dari duduknya. Ia membungkukan setengah tubuhnya, mencondongkannya ke arah Feli, lalu menarik kedua sisi pakaian bagian bahu Feli agar bisa menutupi dadanya. "Kenapa gaun ini terlalu terbuka?"
Feli terkekeh kecil sembari memutar bola matanya malas. "Kau yang memilihkannya untukku. Jadi jangan salahkan aku."
Hayden berdecih, kesal. "Aku tidak tahu jika ukuran dadamu semakin besar."
Wajah Feli tersipu, bersumbu merah muda manakala Hayden berucap dengan enteng dan acuhnya. "Hey! Biarkan saja. Dressnya bagus. Memang begini kan modelnya?"
Feli menepis tangan Hayden dari bahunya, membuat Hayden mendengkus geram seraya kembali mendudukan diri.
"Maka dari itu, aku membuat lukisan indah di lehermu, agar itu bisa terlihat dengan jelas. Tapi kenapa kau menutupinya?"
"Hayden, apa kau serius?"
Hayden menyedekapkan kedua lengannya di dada. Pria tampan itu mengulum lidah di dalam mulutnya, mencoba meredam rasa kesalnya di sana. "Aku sangat serius."
Hayden benar-benar merasa kesal dan geram, bukan karena Feli menutupi bercak tanda kepemilikannya, sebenarnya .., tapi karena di sana banyak pria yang juga datang bersama pasangan mereka, tapi pandangan nakal mereka tak jarang Hayden tangkap, tertuju ke arah Feli.
Pria tampan itu memendarkan pandangan, menelisik keadaan sekitar sembari menatap tajam satu persatu pasang mata yang menatap wanitanya.
Di titik dan keadaan seperti ini, raut wajah dingin Hayden yang beraura gelap dan mengintimidasi, terlihat sangat menyeramkan, bahkan seolah mampu membunuh siapa pun yang berani macam-macam dengannya, terutama pada wanitanya.
"Hayden, aku ingin ke toilet sebentar."
Hayden dengan cepat meluruskan pandangan tatkala suara lembut nan manis Feli berhasil menyapa rungunya. "Biar kutemani."
Feli menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri."
Feli membangkitkan diri dari duduknya, lalu tersenyum manis, mencoba meyakinkan Hayden bahwa dirinya akan baik-baik saja. "Aku akan segera kembali."
"Lain kali kalau sedang ke luar seperti sekarang ini, jangan berdandan terlalu cantik."
Feli tersenyum. "Kenapa?"
"Karena aku benci, jika ada pria lain yang menatapmu, selain diriku."
Tersenyum manis, Feli berjalan menghampiri Hayden, berdiri di samping kursi yang diduduki suami tampannya itu, lalu membungkukan tubuhnya.
Feli mendaratkan kecupan manis di permukaan bibir Hayden, tanpa mengkhiraukan kenyataan, bahwa ada cukup banyak pasang mata yang melihatnya melakukan tindakan tersebut.
Hayden sendiri bahkan cukup merasa terkejut, sama sekali tidak mengira, jika Feli akan bersikap seberani itu.
__ADS_1
Feli tersenyum manis, selagi membiarkan manik mata hazel indahnya bersitatap dengan manik jelaga indah Hayden yang agak membola. "Mereka hanya bisa menatapku, sedangkan kau, bisa melakukan lebih dari itu."
Tbc ....