
"Selamat siang, Tuan Wilson," sapa Anna tatkala ia memasuki ruang kerja Jay.
Jay yang saat itu tengah sibuk bergelut dengan berkas-berkas pekerjaan yang menumpuk di atas meja pun, akhirnya menengadahkan pandangan, menatap Anna yang sudah berdiri tepat di depan mejanya. "Siang. Ada apa?"
"Eum, tidak ada. Aku hanya ingin mengajakmu menikmati makan siang bersama."
Jay membuang napas kasar seraya menyandarkan tubuhnya di kepala kursi yang ia duduki. "Apa kau tidak memiliki teman untuk kau ajak makan siang?"
Bibir Anna mengerucut lucu, begitu gadis cantik itu menundukan pandangan. "Ya. Satu-satunya temanku baru saja menikah, jadi dia tidak masuk hari ini. Mungkin tidak akan lagi bekerja di sini," rajuknya.
Mata Jay memicing, menatap raut wajah lesu Anna yang nampak begitu lelah dengan pelupuk matanya yang sembab, seolah habis menangis semalaman.
Tentu, keadaan Anna di hadapannya seperti itu, membuat Jay merasa heran. "Nona Annatasia. Apa kau habis menangis semalaman? Kenapa matamu terlihat begitu sembab? Wajahmu juga sedikit pucat."
Anna menelan ludahnya dengan susah payah. Gadis itu sedikit tertegun oleh perkataan Jay. Ia perlahan menengadahkan pandangan, hingga manik hazelnya yang indah, berhasil beradu pandang dengan netra tajam Jay yang tertuju ke arahnya, syarat akan curiga.
"A-apa terlihat jelas?" tanya Anna, dengan nada canggungnya.
Jay mengangguk sebentar, mengiyakan. Tatapannya tak sedetik pun teralihkan dari sosok Anna, seolah tengah mencoba mencari sebuah jawaban.
Anna melemaskan bahunya seraya membuang napas kasar. "Ah, padahal aku sudah berusaha keras untuk menyembunyikannya."
Gadis itu berdecih kesal. Ia menatap Jay dengan tatapan tajam, mengejek. "Tidak bisakah kau berpura-pura seolah tidak melihatnya? Kau menyebalkan," imbuhnya, merengek.
Jay terkekeh sinis sekilas. "Apa sesulit itu bagimu untuk menjawab pertanyaanku? Kenapa kau menangis, ha?"
Anna menghentak-hentakan kakinya di tempat ia berpijak dengan pergerakan kasar, penuh rasa geram. Gadis itu memutuskan kontak mata bersama Jay. Ia tertunduk lesu. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan Feli. Aku mencemaskannya."
Kening Jay mengernyit, bersamaan dengan matanya yang memicing, menatap Anna penuh curiga, seakan tidak percaya pada perkataan gadis itu. "Apa hanya karena itu? Tidak ada yang lain?"
Anna mengangguk, sebelum akhirnya dengan percaya diri, menatap Jay. "Hemmm. Jadi ayo hibur aku. Makan siang bersamaku, agar aku tidak terlalu memikirkan Feli. Aku bekerja pun, sampai tidak bisa fokus."
Jay terkekeh seraya menundukan kepala. Ia menutup sebuah map berisikan berkas yang masih ia periksa sebelumnya di atas meja.
Pria tampan itu menatap Anna dengan tatapan sendu yang sangat sulit diartikan, lalu menoleh seolah tidak begitu yakin, dengan apa yang a katakan.
Jay justru meyakini hal lain. Ia yakin, Anna menangis bukan hanya karena Feli.
Namun, ia tidak bisa berbuat banyak, selain bertingkah seolah mempercayai perkataan Anna seutuhnya.
"Baiklah. Aku akan makan siang bersamamu," ucap Jay seraya membangkitkan diri dari duduknya. "Kau tidak perlu terlalu mencemaskan Feli. Dia pasti baik-baik saja, karena Hayden bersamanya," imbuhnya meyakinkan.
"Justru karena itu. Bagaimana jika Hayden melakukan yang tidak-tidak pada Feli? Kau tahu sendiri, hubungan Feli dan Hayden tidak dalam keadaan baik-baik saja," terang Anna dengan lantang dan cukup serius.
Jay memutar bola matanya malas seraya berjalan ke arah Anna. "Mereka sudah dewasa Anna. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah mereka."
"Menurutmu begitu?"
__ADS_1
"Tentu saja. Sekarang, ayo kita pergi." Jay berucap sambil merangkul bahu Anna, membuat mata gadis itu membola.
"Hey Tuan Jayden! Apa kau gila?!"
Bibir Jay merenggang, mematrikan senyum tipisnya yang manis. Ia menyeret Anna berjalan, berdampingan. "Hemmm?"
Anna meronta, mecoba melepaskan diri dari cekalan lengan kekar Jay. "Hey! Lepaskan. Kau lupa, kita masih berada di kantormu? Bagaimana jika ada yang melihat?"
Jay mendengkus sembari memutar bola matanya malas. "Aku tidak perduli. Biarkan semua orang di kantor ini tahu, bahwa aku sudah tertarik pada seseorang, jadi mereka akan berhenti menggodaku."
Anna menoleh ke arah Jay, mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang. "A-apa maksudmu?"
Jay menoleh ke arah Anna, hingga netra mereka beradu pandang. Pria tampan itu tersenyum manis sekilas. "Kau akan mengerti, nanti."
***
"Tuan Hayden. Aku pikir, kau harus menjelaskan sesuatu padaku," sarkas Feli sembari menatap Hayden yang tengah menurunkan beberapa koper dari dalam bagasi mobil.
Sementara Feli berdiri tepat di sampingnya sembari menyilangkan kedua lengan di atas dada. Tatapan tajam Feli, tertuju ke arah Hayden, penuh dengan rasa geram.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua, di siang hari. Hayden dan Feli, baru saja tiba di sebuah penginapan yang bisa dipastikan, bertempat di daerah tempat tinggal Emma - nenek dari Hayden dan Jay tinggal.
Hayden terkekeh gemas sekilas, tatkala ia melirik bagaimana geramnya raut wajah Feli. "Apa maksudmu, Baby?"
Feli membuang napas kasar sembari memutar bola matanya jengah. "Bukankah kau bilang, kita akan berkunjung ke rumah Nenekmu? Lalu, kenapa kita di sini?"
"Tapi ini bukan rumah nenekmu!" pekik Feli geram, sebab wanita cantik itu tak lagi sanggup meredam emosinya yang terlanjur terpantik.
Hayden terkekeh, meremehkan. "Tapi setidaknya, kita sudah berada di kota yang sama dengannya."
Pribadi tampan itu menutup pintu bagasi mobil, setelah semua koper dan beberapa tas yang ia dan Feli bawa, sudah selesai ia keluarkan.
Melirik Feli yang masih menatapnya dengan tatapan tajam, Hayden tersenyum. "Masuklah. Kau pasti lelah setelah melewati perjalanan panjang."
Feli tidak tahu lagi harus berkata apa, atau bersikap bagaimana dalam menghadapi Hayden.
Sepanjang jalan menuju ke sana, Feli tidak banyak bicara, ataupun bertanya, karena setahunya, Hayden akan mengajaknya berkunjung ke rumah sang nenek mertua.
Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat Hayden memarkirkan mobil yang ia tumpangi di area penginapan, atau lebih tepatnya vila yang memang terletak tak jauh dari rumah milik Emma, atau neneknya Hayden.
Feli membuang napas kasar seraya melangkah mendekati Hayden, berniat membantu sang suami untuk membawa barang-barangnya ke dalam.
"Tidak perlu. Aku yang akan membawakan semuanya ke dalam," sergah Hayden, menghentikan pergerakan Feli.
Feli menatap Hayden dengan tatapan heran. "Sendirian?"
Hayden tersenyum, lalu menggeleng samar. "Tentu tidak. Pengurus vila ini akan membantu. Jadi pergilah ke dalam dan beristirahat."
__ADS_1
"Kenapa kita tidak menginap di rumah nenekmu saja? Kenapa kita kemari?"
Sudut bibir sebelah kiri Hayden menukik tajam, mengulas seringaian ngeri penuh arti sekilas. "Oh Baby. Aku tidak ingin membuat rumah nenekku terasa canggung, jika kita menghabiskan waktu bulan madu kita di sana."
Mata Feli membola, menatap Hayden tidak percaya, sekaligus terkejut, luar biasa. "B-bulan madu?"
Senyum sinis nan arogan sebagai tanda kemenangan, berhasil terukir di bibir pria tampan itu. "Hemmm. Bulan madu. Kita berlibur tepat setelah hari pernikahan kita. Bukankah, itu namanya bulan madu?" gumamnya menggoda seraya berjelan mendekati Feli, mengikis habis jarak yang terbentang di antara mereka.
Jantung Feli berpacu begitu cepat dan gila. Napas wanita cantik itu hampir saja tercekat. Pelupuk matanya mengerjap secara berulang.
Waktu dan dunia Feli seolah terhenti dan terfokus pada satu titik saja, yakni manik jelaga indah milik Hayden - sang suami.
"Apa kau gugup?" Hayden bertanya sambil membelai lembut pipi mulus wanitanya dengan pergerakan menggoda.
Feli terhenyak. Ia kembali tersadar dan terpaksa menghadapi kenyataan yang membuatnya gugup pun cemas luar bisa.
Menelan ludahnya dengan susah payah, Feli mengalihkan pandangan dan menolehkan wajahnya. "A-aku akan masuk s-sekarang," kilahnya, menghindari percakapan lebih jauh bersama Hayden terkait masalah bulan madu.
Wanita cantik itu dengan cepat menjauhkan diri dari Hayden dan memasuki vila berkonsep minimalis modern di hadapannya tanpa basa-basi.
Hayden terkekeh gemas manakala netranya tak berhenti menatap sosok Feli yang pergi darinya begitu saja.
"Aku akan menyusulmu nanti. Bersiaplah, karena aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja dariku lagi. Kita akan menghabiskan waktu bersama di sini, Wifey. Hanya kita berdua!" Hayden berucap dengan suara yang begitu lantang, memastikan agar Feli bisa mendengarnya dengan sangat baik.
"Terserah!" Feli menyahuti perkataan Hayden dari dalam dengan suara yang tak kalah lantang dan jelas.
Hayden tertunduk seraya terkekeh senang, sekilas. "Dia sangat menggemaskan."
...***...
Emely terlihat tengah duduk di tepian tempat tidur. Pandangannya tertunduk, menatap sendu sebuah bingkai foto indah yang tengah ia genggam dengan salah satu tangannya di atas pangkuan. Sementara tangan lainnya menahan ponsel yang bertengger di dekat daun telinga.
Emely atau ibunda dari Hayden dan Jayden saat ini tengah berbincang dengan Emma - sang ibu.
Emely membuang napas kasar seraya menengadahkan pandangan, atau lebih tepatnya, memendarkan pandangan, menelisik setiap sudut ruangan di dalam kamar lama milik Hayden.
Kamar yang dulu pernah Hayden tempati, sebelum memutuskan untuk hidup terpisah, bersama Jay di sebuah apartemen yang tak kalah mewah.
"Ibu, aku masih tidak percaya. Jika Hayden kecilku, saat ini sudah menikah," gumam Emely, penuh haru.
Emma terkekeh senang, di sebrang sambungan sana. "Aku pun masih tidak percaya. Seingatku, baru kemarin ia menangis karena mengompol di celananya."
Emely terkekeh gemas sembari meneteskan air mata haru pun bahagia tanpa ia sadari. "Dia tumbuh terlalu cepat, bukankah begitu, Bu?"
"Hemmm. Sangat cepat. Tapi aku tidak menyesal dan merasa sangat bangga padamu, karena kau sudah melakukan yang terbaik untuk pernikahan putramu. Terima kasih, karena telah mengijinkan Hayden, menikah dengan gadis pilihannya," tutur Emma, dengan lembut penuh kasih.
Emely terkekeh getir sekilas. "Anak nakal itu. Jika saja hari itu Ibu tidak memberitahuku, bahwa Hayden pernah berkencan dengan Feli, mungkin Hayden tidak akan memberitahuku rencana pernikahannya yang sesungguhnya. Dan mungkin saja ... aku akan membatalkan pernikahannya saat itu juga, jika sejak awal aku tidak tahu, bahwa pengantin wanita Hayden yang sesungguhnya adalah Felisha"
__ADS_1
Tbc ....