
Seketika mengalihkan pandangan, memutuskan kontak mata dengan Hayden, Feli sedikit kepayahan membangkitkan diri dari pangkuan suami tampannya itu, selepas mendengar penuturan yang tak gagal membuat pipinya seketika merona merah.
"Aku lapar, Hayden. Ayo pergi mencari makanan untuk sarapan," tutur Feli dengan suaranya yang terdengar agak sedikit gemetar.
Menelan ludah kasar, wanita cantik itu berdehem di detik pertama manik mata hazel indahnya yang gemetar, kembali bersitatap dengan Hayden.
Hayden tersenyum. Menatap gemas Feli yang sedang salah tingkah, ia lantas membangkitkan diri. "Apa yang sedang ingin kau makan untuk sarapan?"
Pelupuk mata berulu lentik Feli mengerjap. "Apa saja."
"Kalau begitu, mau memakan aku saja tidak?"
Terbatuk-batuk, Feli menunduk akibat tersedak oleh ludahnya sendiri.
Hayden yang semua tersenyum, sontak seketika panik. Menyingkirkan kursi di hadapan, gegas ia mendekat ke arah sang istri.
"Hey, kau baik-baik saja, Sayang?" Hayden menatap cemas ke arah Feli sembari agak membungkukan tubuh dan menengkup kedua bahu istri cantiknya yang sedikit terguncang itu.
"Y-ya." Gelagapan, Feli mengangguk cepat sambil menengadah, balas menatap Hayden meski hanya sesaat. "Aku baik-baik saja."
Wajah wanita cantik itu kali ini bukan hanya sekedar merona saja, tapi benar-benar merah, menyerupai tomat masak yang siap dipetik dari pohonnya.
"Semalam aku tidak sempat membawa air minum ke kamar ini." Hayden berujar sembari mengedarkan pandangan.
"Aku baik-baik saja, Hayden."
Memokuskan atensi yang dimiliki ke arah Feli, Hayden membuang napas kasar. "Tenggorokanmu pasti agak perih karena habis tersedak barusan. Ayo cari air minum di dapur."
Tanpa berpikir panjang, Hayden mengangkat tubuh Feli menggunakan kedua lengannya dengan gaya khas pengantin.
Tentu tindakan yang dilakukan secara refleks itu tak gagal membuat Feli kaget bukan main, sampai-sampai terkesiap.
Kedua lengannya spontan melingkar di ceruk leher Hayden, terutama saat suami tampannya itu bergegas berjalan, membawanya pergi meninggalkan kamar.
"Hayden, aku bisa berjalan sendiri. Aku hanya tersedak, dan hal itu sama sekali tidak berpengaruh pada kakiku."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau mengendongku?"
"Karena dengan begitu, kita bisa lebih cepat sampai di dapur."
Feli terkekeh kecil. "Kau terlalu berlebihan. Tidak perlu sampai seperti ini, Hayden."
Melirik Feli, air muka Hayden tampak datar sekali, bahkan lebih terlihat begitu dingin, tanpa ekspresi. "Kau tersedak karena diriku, jadi biarkan aku bertanggung jawab untuk itu."
__ADS_1
"Dengan cara menggendongku?"
"Kau tidak suka?"
"Bukan tidak suka, tapi takut ada orang lain yang melihat saja."
Tersenyum, Hayden melirik Feli lagi saat dirinya harus membagi atensi, antara tetap memperhatikan sang istri, juga pijakan kedua kaki, terutama saat ia menuruni anak tangga menuju lantai dasar. "Di sini hanya ada kita berdua saja, jadi kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Aku jamin, tidak akan ada orang lain yang melihat kita."
Mengangguk paham, bingkai burai Feli perlahan merenggang memetakan senyum senang, sebelum kemudian menundukan pandangan. "Hati-hati dengan langkahmu. Aku tidak mau kita terjatuh," rengeknya sembari memererat lilitan lengan.
Hayden terkekeh. "Iya. Tenang saja."
Begitu tiba di area dapur, Hayden langsung membawa Feli mendekat ke meja pantry, lalu membuat istri cantiknya itu mendudukan dirinya di sana, sedang dirinya bergegas mengambil air.
Feli memperhatikan setiap gerik yang dilakukan Hayden dengan seksama. Bibir tipisnya tak henti memetakan senyum yang mewakilkan rasa senang yang saat ini sedang bergejolak dalam relungnya.
Sungguh, Feli masih merasa bahwa apa yang saat ini terjadi dalam hidupnya adalah sebuah mimpi yang terlalu indah untuk ia jadikan sebagai kenyataan.
Melihat pria yang dua tahun terakhir ini sudah ia anggap sebagai mantan kekasih, bahkan sempat melontarkan kata-kata tajam yang menyayat hatinya beberapa hari yang lalu, justru sekarang menunjukan sikap yang begitu manis, membuat Feli tidak bisa mempercayai penglihatannya seutuhnya.
Tidak menampik, sejak kemaren, rasa takut itu juga tetap ada, Feli rasakan, meski samar-samar sebab tertutupi rasa senang dan bahagia, juga haru yang kadung membeludak dalam relung.
Terlebih selepas ia mengalami mimpi buruk kemarin malam. Hal itu sebenarnya tak gagal membuat hati Feli diselimuti enigma yang tak berkesudahan.
"Minum ini."
Terhenyak dan juga terkesiap, Feli agak kaget saat tiba-tiba mendapati Hayden sudah berdiri tepat di hadapannya sembari mengulurkan segelas air mineral.
Mengerjap, Feli menunduk.
"Kau mau minum sendiri, atau mau aku bantu minumkan?"
Feli menangadah, lantas tersenyum manis saat pandangannya dan Hayden bersitatap. "Bantu minumkan," titahnya, manja.
Hayden tersenyum, lalu mengambil satu langkah besar untuk maju, mengikis jarak yang sebenarnya tidak terlalu banyak tersisa antara dirinya dan Feli.
Berdiri di antara kedua kaki Feli yang terbuka, telapak tangan sebelah kanan Hayden bertengger di tepian meja.
"Hayden!" Feli menjerit kaget saat tiba-tiba Hayden mengecup bibirnya beberapa detik, bahkan memberinya sesapan.
Hayden terkekeh. "Kau yakin, mau aku membantumu minum, meski melalui cara dari mulut ke mulut, Baby?"
Menatap Hayden yang tengah menunjukan sisi genitnya dengan tatapan tajam, syarat akan kejengkelan, Feli lalu dengan cepat merampas segelas air mineral dari genggaman suami tampannya itu.
"Aku ralat. Biar aku minum sendiri saja."
__ADS_1
Terkekeh gemas, Hayden menatap Feli dengan tatapan penuh damba sembari menenggerkan telapak tangannya yang lain juga di tepian meja, sengaja mengapit tubuh istri kecilnya di antara kedua lengannya yang begitu kekar dan berotot itu.
"Sudah?" Hayden bertanya selepas melihat Feli selesai menenggak isi dari gelas yang telah dirampas darinya tadi.
Feli mengangguk cepat sembari menolehkan pandangan, menatap tangan yang bergerak pelan, menyimpan gelas kosong yang dinggenggam ke permukaan meja.
Manik mata jelaga indah Hayden ikut menatap ke mana gelas bening berukuran sedang itu mendarat.
"Kau belum memberitahuku, tentang siapa yang tadi sempat menelponmu." Feli bertutur sembari kembali meluruskan pandangan, membiarkan manik mata hazel indahnya menatap Hayden.
Hayden balas menatap Feli, lalu tersenyum. "Yang menelponku tadi itu, Toni. Teman lamaku."
Tatapan mata Hayden teralihkan ke permukaan bibir Feli, bersamaan dengan tangan sebelah kirinya terangkat, sampai bantalan ibu jarinya berlabuh di bibir sang istri yang tampak agak mengkilap karena basah itu.
Hayden menyeka lembut sisa air minum yang tertinggal di bibir Feli. "Dia mengajakku bertemu malam ini," katanya sambil mengarahkan tatapannya ke arah manik mata sang istri.
"Malam ini?"
Hayden mengangguk. "Hemmm."
"Lalu, kau jawab apa? Kau setuju untuk bertemu dengannya?"
"Aku bilang, aku akan bertanya padamu dulu."
Permukaan kening Feli mengernyit. "Bertanya padaku? Kenapa?"
"Karena Toni ingin aku mengajakmu juga. Itu juga kalau kau mau. Sekalian, aku ingin memperkenalkanku pada teman-temanku."
Feli tersenyum. "Malam ini?"
"Hemmm. Kalau tidak mau malam ini juga tidak masalah, besok malam, atau besok malamnya lagi, Toni tidak akan keberatan. Bahkan kalau kau menolak pun, itu tidak aka-"
Tidak mengijinkan Hayden merampungkan ocehan tanpa memberi waktu baginya untuk memberi pendapat, Feli yang gemas, menbungkam suami tampannya itu dengan cara mengecup permukaan bibirnya.
Mendapati Hayden seketika terdiam dengan manik mata yang agak membulat, Feli terkekeh. "Aku mau. Ayo pergi menemui teman-temanmu malam ini."
Diam bergeming, tidak langsung memberi respon pada perkataan maupun tindakan yang telah Feli lakukan, Hayden bungkam beberapa saat, sampai kemudian, pria tampan itu membuang bapas kasar sambil menundukan pandangan.
Feli keheranan, menilik reaksi juga setiap gerik yang Hayden tunjukan, sampai Hayden kembali menengadah, menunjukan air mukanya yang merah padam dan tatapannya yang tajam, mengintimidasi.
Pelupuk mata Feli mengerjap dengan begitu lugunya. "Kenapa? Apa aku melakukan kesala-"
Kali ini, Feli yang tidak diijinkan untuk merampungkan perkataan oleh Hayden, sebab pria tampan itu dengan pergerakan cepat, membawa wajahnya mendekat, meraup bibir Feli yang acap kali membuat buyar seluruh fokus yang dimiliki.
Tbc ....
__ADS_1