Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Cinta Berkedok Dendam


__ADS_3

Hayden tertegun. Ah tidak. Lebih tepatnya, pria tampan itu teramat terkejut setelah mendengar deretan pertanyaan yang sang istri lontarkan terhadap Jimmy.


Hayden menatap Feli dengan mata yang membola. Sungguh, saat ini ia dalam posisi, benar-benar kehabisan kata.


Apa keyakinan yang membuatnya meminta penjelasan pada Feli terkait kejadian dua tahun yang lalu, akan terjawab?


Jimmy terkekeh, meremehkan, memecah keheningan yang sesaat terjadi di sana. "Apa kau sungguh tidak mengingat apapun yang terjadi malam itu, Babe?"


Kening Feli mengernyit, membuat dua alisnya yang bersebrangan, hampir menyatu. Matanya sedikit memicing, mencoba menelisik raut wajah yang Jimmy tunjukan, mencari sebuah kebenaran.


Sementara Hayden. Ia menatap Jimmy dengan tatapan tajam tatkala panggilan 'Babe' lolos dari mulut pria itu. "Berhenti memanggilnya dengan nama menggelikan seperti itu. Kau pikir kau siapa? Apa kau buta? Kau tidak bisa melihat, sekarang Feli sudah menjadi milikku?"


Jimmy menoleh ke arah Hayden. Sudut bibir sebelah kirinya menukik tajam, mengulas seringaian ngeri penuh kepuasan. "Aku tidak percaya, kau masih bersedia menikahi wanita ini, setelah apa yang dia lakukan padamu dua tahun yang lalu, Tuan Wilson." Ia menoleh ke arah Feli, menatap wanita cantik itu dengan tatapan bengis sekilas. "Apa kau tidak bisa menemukan wanita yang lebih baik darinya?"


Jimmy terkekeh sinis sekilas seraya menatap tubuh Feli dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Menyedihkan!"


"Tutup mulutmu sialan!" Hayden memekik tidak terima seraya berjalan cepat menghampiri Jimmy, hingga ia berhasil mendaratkan sebuah pukulan cukup keras di wajah pria itu, membuat tubuh Jimmy sedikit terhuyung.


Feli memaku, menatap Hayden yang terlanjur tersulut emosi dengan mata yang membola, penuh keterkejutan luar biasa. Pasalnya, ia tidak pernah melihat Hayden sampai semarah ini, sebelumnya.


Jimmy terkekeh tidak percaya seraya menyeka kasar salah satu sudut bibirnya yang berdarah, efek dari pukulan yang Hayden lakukan. "Sepertinya kau sangat mencintai wanita ini, hingga kau buta dan tidak bisa melihat kesalahan yang dia lakukan."


Hayden menatap Jimmy dengan tatapan tajam, penuh kemarahan seolah Jimmy merupakan mangsa yang siap untuk ia habisi. "Kau mau menutup mulutmu sendiri, atau aku yang harus menutupnya?"


Hayden memiringkan kepala sekilas seraya terkekeh, meremehkan. "Atau kau ingin, aku membuatmu menutup usiamu juga, sekalian?" imbuhnya.


Jimmy menoleh ke arah Feli dan tidak mengkhiaraukan perkataan Hayden. "Nona Felisha. Kenapa kau baru menanyakan perihal apa yang terjadi di malam itu, setelah dua tahun berlalu?"


Feli menelan ludahnya dengan susah payah, tatkala tatapan tajam Jimmy pun Hayden, kini tertuju ke arahnya.


Manik mata wanita cantik itu gemetar, menunjukan betapa gugup dan takutnya ia. "K-karena aku masih t-tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi malam i-itu."


Jimmy terkekeh sekilas, meremehkan. "Apa kau yakin? Kau tidak mengingat apa pun?"


Kedua telapak tangan Feli yang berayun di kedua sisi tubuhnya mengepal, meremat kuat gaun yang masih melekat di tubuhnya. "Yang j-jelas, malam i-itu aku tidak melakukan apa pun denganmu."


Jimmy menyeringai ngeri, penuh arti. "Lantas, kenapa kau malah mengusir kekasihmu, daripada membela dirimu dan memberikan penjelasan?"


Oh tidak. Feli bisa menjawab apa saja. Tapi tidak dengan pertanyaan yang satu itu, karena ia tahu pasti, apa alasannya malam itu memilih bungkam dan menyuruh Hayden pergi, alih-alih memberi sebuah penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Wanita cantik itu menelan ludahnya dengan susah payah untuk kesekian kali. Tubuhnya mulai gemetar. Deru napasnya perlahan memberat dan tak stabil. Jantungnya berdebar dalam tempo yang begitu cepat. Pada titik ini, ia bisa saja kembali diserang rasa panik.


"Kau tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh itu." Hayden berucap seraya berjalan menghampiri Feli dan meraih tangannya, membuat Feli memokuskan seluruh atensi ke arahnya.


Ia membuat jemari tangannya yang jenjang, bertaut dengan jemari tangan Feli yang lentik. "Ayo kita pergi dari sini."


Hayden membawa Feli pergi dari sana, meninggalkan Jimmy yang masih menatap sosok mereka perlahan menjauh. Sudut bibir sebelah kirinya menukik tajam, mengulas seringaian ngeri penuh arti. "Mengesankan."


Jimmy merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari sana untuk menghubungi seseorang. "Aku sudah bertemu dengan adikmu," ucapnya mengawali pembicaraan tatkala panggilan suaranya berhasil tersambung dengan seseorang.


'Adikmu?' Bukankah sudah jelas dapat dipastikan, siapa yang Jimmy hubungi saat ini?


"Sialan. Harus berapa kali aku katakan, dia bukan adikku?" Seorang wanita membalas perkataan Jimmy dengan nada geram.

__ADS_1


Jimmy terkekeh sekilas. "Tapi pada kenyataannya, kau dan Feli memang kakak beradik, meskipun berbeda ibu. Bukan begitu, Nona Janessa?"


Ya. Yang saat ini tengah Jimmy hubungi, tidak lain dan tidak bukan merupakan Jane, kakak satu-satunya yang Feli miliki.


Jane membuang napas kasar di sebrang sambungan sana. "Apa rencana pernikahannya berjalan lancar?"


"Sepertinya begitu. Aku baru saja selesai berbincang dengan Feli dan suaminya, Hayden."


"Berbincang? Apa yang kalian perbincangkan?"


Jimmy memutar bola matanya malas. "Soal kejadian dua tahun yang lalu." Dahi Jimmy mengernyit, keheranan. "Tapi apa kau yakin, jika Hayden menikahi Feli hanya untuk balas dendam?"


"Apa maksudmu?"


Jimmy mengusap sudut bibirnya yang masih berdarah dengan ibu jari tangannya. Ia mendesah jengah tatkala melihat bercak darahnya di sana. "Sepertinya kau salah Jane. Hayden menikahi Feli, bukan karena ingin membalaskan dendam terhadap pengkhianatan yang adikmu lakukan dua tahun yang lalu. Pernikahan ini terjari, murni karena Hayden, memang masih mencintai Feli."


...***...


Feli dan Hayden sudah sampai di rumah yang akan mereka tempati setelah menikah.


Hayden memutuskan untuk segera membawa Feli pulang setelah berpamitan dengan orangtua mereka.


Feli dibuat terkagum-kagum saat pertama kali, ia memasuki rumah yang akan ia tempati bersama dengan Hayden mulai serakang.


Rumahnya berkonsep modern minimalis. Interiornya terkesan mewah, namun tidak berlebihan. Dinding bangunannya, didominasi oleh kaca-kaca tebal, hingga jika Feli pergi ke sudut manapun di dalam rumah tersebut, ia bisa melihat pemandangan indah yang tersuguhkan di luar rumah.


Feli saat ini tengah berada di area ruang keluarga, berdiri menghadap jendela, menatap kolam renang yang berada di halaman belakang, sendirian.


Tidak ada gaun dan sepatu higheels yang membuatnya merasa tidak nyaman. Wanita cantik itu sudah berganti pakaian, memakai jumper oversize berwarna putih, milik Hayden.


Sementara Feli sibuk dengan semua pemikirannya di lantai bawah, Hayden sudah berada di dalam kamar tidurnya.


Pria tampan itu duduk di tepian tempat tidur. Tubuhnya hanya terbalut oleh bathrobes berwarna putih. Rambutnya sedikit basah, karena ia baru saja ke luar dari kamar mandi.


Salah satu tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan haduk kecil, sementara tangan lainnya bertugas untuk menahan ponsel yang menempel di dekat daun telinga.


Ya. Saat ini, Hayden tengah berbincang dengan seseorang melalui sambungan suara.


Hayden mendengkus kasar. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan melakukannya malam ini juga."


"Itu memang sudah seharusnya." Suara wanita yang terkesan santai, menimpali perkataan Hayden dari sebrang sambungan sana.


"Jane. Apa kau mengenal pria bernama Jimmy?"


Jane terkekeh di sebrang sambungan sana. "Tentu. Ada apa?"


Hayden memang sedang berbincang dengan Jane, karena begitu ia ke luar dari kamar mandi, ia mendapati ponselnya berdering, menunjukan sebuah notifikasi panggilan masuk dari gadis yang merupakan kakak iparnya itu.


Menurunkan salah satu tangannya yang masih menggenggam handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut, Hayden menunduk sembari menggigit bibir bawahnya gugup, sekilas. "Apa itu rencanamu?"


"Apa maksudmu?"


Tatapan Hayden seketika berubah menjadi dingin, beraura gelap dan mengintimidasi. Tatapannya tertuju pada sebuah meja panjang yang berada di hadapannya. "Pengkhianatan Feli dua tahun yang lalu. Apa itu rencanamu?"

__ADS_1


Jane terkekeh di sebrang sana, meremehkan. "Jadi sekarang kau menuduhku?" Gadis itu membuang napas kasar. "Tidak Hayden. Itu bukan rencanaku. Jika kau tidak mempercayaiku, kau bisa mencaritahunya sendiri."


Hayden meremat kuat handuk kecil yang masih ia genggam, melampiaskan kemarahannya di sana. "Jika sampai terbukti, kau dalang di balik semua kejadian malam itu, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu."


Hayden memberi ancaman cukup tegas pada Jane sebelum ia mengakhiri sambungan telpon tersebut.


"Ja-Jay- ah maksudku, Ha-Hayden? Boleh a-aku masuk?"


Suara manis nan lembut Feli menyapa rungu Hayden, membuat raut wajah Hayden yang sebelumnya didominasi kemarahan, melembut. "Masuk saja!" titahnya seraya melempar handuk kecil dan ponsel yang masih ia genggam ke atas tempat tidur.


Pintu kamar Hayden pun terbuka dan kembali tertutup begitu Feli memasuki kamar tersebut.


Dengan pandangan tertunduk dan jemari tangan saling bertaut di depan tubuh, Feli berjalan menghampiri Hayden dan berdiri tepat di hadapannya.


Sungguh bukan perkara mudah bagi Hayden untuk menahan diri tatkala ia melihat jumper oversize miliknya melekat pada tubuh sempurna sang istri, nampak begitu seksi dan menggoda, seolah meminta untuk segera diterkam.


Hayden tanpa ancang-ancang, menarik pergelangan tangan Feli, membuat wanita cantik itu kehilangan keseimbangan dan berakhir duduk di pangkuannya.


Melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Feli, Hayden memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat. "Apa kau berusaha menggodaku dengan memakai pakaianku dan berdiri diam, dihadapanku? Hemm?"


Feli masih tertunduk, tidak berani untuk beradu tatap dengan netra Hayden yang sejak awal sudah menatapnya.


"M-maafkan aku," gumam Feli, lirih.


Dahi Hayden mengernyit, keheranan. "Maaf? Maaf untuk apa?"


Feli perlahan menengadahkan pandangan, membuat manik hazelnya yang sudah berkaca-kaca, beradu tatap dengan netra Hayden. "Untuk segalanya. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku malam itu, karena aku tidak tahu sama sekali." Feli bertutur dalam satu kali embusan napas tanpa jeda.


Hayden terkekeh gemas sekilas. "Kau benar-benar membuatku gila, Felisha."


Tanpa ancang-ancang, Hayden meraup lembut bibir manis Feli, ********** dengan pergerakan perlahan.


Salah satu tangan kekarnya menahan tengkuk Feli, mencoba tetap membuat jarak antara dirinya dan sang istri tetap dekat.


Feli spontan menenggerkan kedua telapak tangannya pada kedua bahu Hayden, meremat gemas bathrobe yang suaminya itu kenakan.


Sedang tangan Hayden yang lainnya, mempererat cekalan pada pinggang ramping Feli, membuat tubuh mereka saling bertekanan.


Pelupuk mata Feli terpejam, merasakan sensasi dari setiap sentuhan yang Hayden labuhkan.


Hayden menggigit bibir bawah Feli, untuk memperdalam ciuman. Pria tampan itu sedikit terhenyak, tatkala tiba-tiba Feli membalas lumatannya dengan tempo yang seimbang.


Namun, sejurus kemudian, mata Hayden membola manakala kenyataan berhasil memukul keras dirinya. Hal itu tentu berhasil membuat Hayden tidak membuang banyak waktu untuk melepaskan pagutannya.


Mata Hayden sedikit memicing, menatap raut wajah Feli yang sedikit mengernyit. Pelupuk mata istri cantiknya itu masih mengatup rapat. Bibir tipisnya mengerucut lucu.


"Felisha. Apa kau sedang mabuk?"


Feli seketika membuka matanya, tersenyum manis sembari menunjukan raut wajah lugunya yang menggemaskan.


Hayden terkekeh gemas sekilas. "Aish. Kau ini benar-benar."


Feli melingkarkan lengannya di sekitar leher jenjang Hayden. Kepalanya tertunduk, bertengger di bahu bidang suami tampannya itu. "Aku mencintaimu Hayden. Sangat mencintaimu."

__ADS_1


Hayden mempererat rengkuhannya pada tubuh Feli. Ia mengecup singkat puncak kepala Feli dengan penuh kasih. "Hemmm. Aku tahu."


Tbc ....


__ADS_2