
Jay dan Anna terlihat tengah duduk saling berdampingan di sebuah bangku area taman yang terletak tak jauh dari gedung pernikahan Hayden dan Feli dilangsungkan.
Pandangan Jay mengarah lurus ke depan dengan tatapan kosongnya. Kecemasan jelas tersirat di raut wajah tampan itu.
Sudah sekitar lima belas menit mereka di sana. Anna yang mengajak Jay ke luar untuk mencari udara segar sembari menunggu acara resepsi dilangsungkan.
Anna hanya bisa diam, menemani dan memperhatikan Jay yang sedari tadi hanya bungkam.
Ia tidak tahu betul, apa sebenarnya yang saat ini tengah memenuhi benak sahabat tampannya itu. Namun yang pasti, segalanya berkaitan erat dengan Feli. Anna yakin akan hal itu.
"Aku tidak tahu, jika Kakakku mengalami depresi setelah hubungannya dan Feli berakhir," gumam Jay, pelan.
Mata Anna membola. Gadis itu sedikit terhenyak tatkala Jay mulai bersuara. "A-apa maksudmu?"
Jay perlahan menoleh ke arah Anna. Matanya sudah memerah, memancarkan kemarahan dan kesedihan di saat bersamaan. Bukan karena ia marah atas pernikahan Feli dan Hayden, tapi ia merasa pantas untuk merutuki dirinya sendiri.
Selama ini, ia selalu berada di sisi Feli, di garda terdepan pertahanan sahabat dekatnya itu. Namun bodohnya, ia tidak menyadari akan luka yang sang kakak alami.
"Ibuku memberitahuku soal ini, sebelum perniakahan dilangsungkan." Jay membuang napas kasar. "Dua tahun yang lalu, ternyata Hayden berniat untuk melamar Feli."
"Maksudmu? Dua tahun yang la-" Perkataan Anna tak sempat terampungkan sebab kenyataan keburu memukul keras benak gadis itu, membuat napasnya tercekat dengan mulut sedikit menganga, tidak percaya. "Maksudmu, tepat saat Hayden melihat Feli sedang bersama pria lain di rumahnya?"
Jay mengangguk samar seraya membuang napas kasar, frustrasi. "Mungkin itulah sebabnya, Hayden tidak meminta penjelasan dari Feli dengan benar saat itu juga. Ia menerima keadaan di mana menurutnya Feli telah mengkhianatinya dengan pria lain dan membuat perasaannya sendiri terluka tanpa penjelasan pasti."
"A-apa Feli tahu tentang ini?"
"Hmm. Dia mendengar segalanya, karena Ibuku awalnya menceritakan itu pada Feli, agar Feli bersedia menggantikan Jane."
Dengan tangannya yang mulai gemetar, Anna menyentuh bahu Jay dan menepuknya berulang, dengan perlahan. Gadis itu tersenyum lirih sekilas. "Kau tidak perlu khawatir, mungkin dengan begini, Feli akan memiliki keberanian untuk angkat suara dan mencaritahu kebenarannya."
Jay mendesah lelah seraya menundukan pandangan sekilas. "Ya, semoga saja."
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau akan baik-baik saja melihat Feli menjadi istri dari Kakakmu sendiri?"
Jay terkekeh. "Apa maksudmu? Tentu aku baik-baik saja dan turut bahagia karena mereka, saat ini sudah kembali bersama." Ia mengangguk samar. "Walaupun masih banyak masalah yang harus mereka luruskan."
"Delapan tahun, Jay. Apa kau mulai bisa melupakan perasaanmu terhadap Feli?"
Jay tersenyum manis, menunjukan gigi kelinci dan eyes smilenya yang sangat menggemaskan, membuat Anna yang memperhatitannya berhasil terheran-heran.
"Sepertinya begitu. Perlahan perasaan sayangku terhadap Feli, lebih seperti perasaan sahabat yang sangat ingin melihat sahabatnya bahagia dan terus melindunginya, memastikannya agar tidak terluka."
Jay tersenyum seraya menatap Anna dengan tatapan lembut. "Tapi, sepertinya perasaanku terhadapmu juga mulai sedikit demi sedikit berubah. Bagaimana jika aku mulai melihatmu sebagai seorang wanita, bukan seorang sahabat?"
Anna menelan ludahnya dengan susah payah. Detik berikutnya, tiba-tiba tawa gadis itu pecah. "Nice joke aniway."
Jay menatap Anna dengan raut wajah dingin pun seriusnya, membuat Anna berhenti tertawa seketika. "Aku tidak bercanda."
"K-kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?" Gadis itu tertawa canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali. "Berhenti membuat susana menjadi canggung!"
Jay terkekeh gemas seraya mengacak-acak surai lembut Anna yang terurai. "Baiklah. Aku mengerti."
***
"Ada apa? Kenapa kau menelponku lagi?" tanya Hayden pada pria kedua yang berhasil menyelamatkannya dari suasana menegangkan bersama Feli.
Ya, panggilan tersebut merupakan panggilan kedua yang ia terima setelah pergi dari kamar yang Feli tempati.
__ADS_1
Hayden meninggalkan Feli ke kamar hotel lainnya yang sudah ia sewa. Lebih tepatnya, kamar yang sebenarnya diperuntukan untuk kedua mempelai beristirahat sejenak, sebelum acara resepsi di laksanakan malam ini.
Kini pria tampan itu tengah duduk di tepian tempat tidur berukuran king size, berbalut seprei indah berwarna abu gelap dan selimut senada.
"Kenapa kau terdengar sedikit kesal?"
Hayden membuang napas kasar seraya menyisir surai hitamnya ke belakang, frustrasi. "Calvin, katakan saja apa alasanmu kembali menghubungiku?"
Calvin terkekeh, meremehkan di sebrang sambungan sana. "Maaf jika aku mengganggu waktumu bersama istri cantikmu itu." Hembusan napas kasar terdengar, saat Calvin menjeda perkataannya, sebentar. "Aku hanya ingin memastikan, bahwa kau melakukan semuanya sesuai dengan apa yang sudah direncanakan."
Hayden memutar bola matanya jengah. "Tidak perlu cemas. Aku akan melakukannya malam ini juga."
Termenung sesaat, suara ketukan yang mengudara saat Hayden tengah bergeming, berhasil menginterupsi.
"Aku harus pergi sekarang." Hayden berucap untuk terakhir kalinya, sebelum menutup panggilan tersebut, tanpa membuang banyak waktu.
Pria tampan itu melempar ponselnya ke atas tempat tidur, sebelum dengan cepat membangkitkan diri dari duduknya dan berjalan menuju pintu, melihat siapa yang datang.
"Iya. Ada ap-" Hayden tidak berniat untuk merampungkan perkataannya tatkala ia membuaka pintu kamar tersebut dan melihat siapa yang saat itu, tengah berdiri di hadapannya.
Hayden menyeringai ngeri, penuh arti manakala netranya sibuk menelisik penampilan wanita cantik, berbalut hoodie hitam yang berdiri tepat di hadapannya dengan pandangan tertunduk.
Pria tampan itu tidak membuang banyak waktu untuk memutuskan menarik pergelangan wanita tersebut, membawa tubuhnya masuk, lalu kembali menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Kau tidak seharusnya berpenampilan seksi seperti ini di lorong hotel pada hari pernikahanmu," gumam Hayden, menggoda.
Hayden terkekeh gemas sekilas, karena menemukan wanita yang ditariknya itu tak juga menengadahkan pandangan. "Jadi, apa yang kau lakukan di sini, Istriku?"
Ya, wanita yang datang ke kamar yang tengah Hayden tempati tak lain dan tak bukan adalah istrinya sendiri, yakni Felisha.
Feli berakhir dengan berdiri saling berhadapan bersama Hayden di dalam kamar tersebut, berdua saja.
"Aku kemari untuk bersiap. Bukankah gaun untuk acara resepsi disimpan di sini?" Feli berucap masih dengan pandangan tertunduk, tak berani beradu tatap dengan Hayden.
Hayden mengangguk paham. "Ah, ya tentu." Ia mendudukan dirinya kembali di tepian tempan tidur tanpa melepaskan cekalannya dari pergelangan tangan Feli.
Hayden membuat Feli berdiri di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat.
Pria itu melirik jam tangannya sekilas. "Tapi kita masih memiliki banyak waktu untuk beristirahat."
"A-Ah!" Feli mengerang pelan saat tiba-tiba, Hayden menarik paksa pergelangan tangannya, membuat ia duduk di pangkuan.
Feli bergerak refleks, menenggerkan kedua telapak tangan mungilnya di bahu Hayden sebagai penyangga.
Sementara Hayden, menghalau segala pergerakan yang mungkin akan Feli lakukan sebagai bentuk perlawanan, dengan melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping sang istri.
Namun, tak sesuai perkiraan. Bukannya meronta, Feli justru tidak memberikan perlawanan sedikit pun, hanya diam dan membiarkan Hayden berbuat semaunya.
Tentu hal itu berhasil membuat Hayden sedikit merasa heran, namun ia tak terlalu ambil pusing, selama ia bisa berdekatan dengan Feli.
Pada akhirnya, aksi Hayden yang terbilang tiba-tiba itu berhasil membuat manik indah mereka beradu tatap.
"Wifey, apa aku harus menjawab pertanyaan yang sebelumnya kau lontarkan padaku, agar kau bicara?"
Feli membuang napas kasar seraya mengalihkan pandangan sekilas. "Tidak perlu."
Hayden sedikit memiringkan kepala, menatap Feli dengan raut wajah herannya.
__ADS_1
Pria itu ingin menjawab pertanyaan Feli terkait perasaannya? Ya. Tapi Feli menolak. Setidaknya tidak untuk sekarang.
Feli belum sepenuhnya siap menerima kenyataan jika memang Hayden masih menyimpan rasa cinta untuk dirinya, meskipun berkedok akan kebencian.
Tekadnya sudah bulat untuk meluruskan segalanya secara pelahan. Mari mulai dari kejadian yang paling mendasar.
Feli tidak perduli, jika pilihannya itu, membawanya untuk selalu berhadapan dengan ketakutan terbesar dan rasa bersalahnya.
Karena pada kenyataannya, seluruh masalah yang ia hadapi, baik yang berkaitan dengan Hayden ataupun tidak, ia yakin, semua itu berkaitan pasti dengan kepergian sang ayah.
Setidaknya, ia masih ingat betul, bahwa perubahan drastis dalam hidupnya dimulai semenjak kejadian mengerikan itu terjadi, tepat di depan mata dan di hari ulang tahunnya.
"Tapi, apakah aku bisa mengganti topik pembicaraannya?" Feli bertanya sembari menatap mata Hayden dalam-dalam dan lekat.
Hayden mengangguk samar. "Tentu. Apa itu?"
"Dua tahun yang lalu. Hari di mana kau datang ke rumahku dan-" Feli menghentikan perkataannya tatkala tiba-tiba ia merasa hatinya belum siap dengan segalanya.
Ada rasa sesak yang seketika mengungkung dalam dadanya, membuat wanita cantik itu terdiam untuk beberapa saat.
Seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat. Feli meremat kuat kemeja putih yang tengah Hayden kenakan, membuat Hayden semakin merasa bingung bukan kelapang.
Menelan ludah kasar dengan susah payah, Feli memejamkan pelupuk matanya untuk sesaat.
"Dan?" Hayden angkat suara saat rasa penasaran terlanjur membuncah dalam benaknya.
"Dan kau saat itu menemukanku bersama pria lain."
Tatapan Hayden yang sebelumnya nampak begitu normal, seketika berubah menjadi sangat dingin, beraura gelap, penuh kemarahan.
"Eung!" Feli mengerang pelan, menahan kesakitan manakala Hayden meremat kuat pinggang rampingnya, membuat ia sedikit kesulitan untuk bernapas.
Namun, hal itu tak serta merta merogohkan niatnya. Feli mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk tetap menjaga kontak mata dengan Hayden.
"A-Apa benar, saat itu kau datang u-untuk melamarku?" Feli memperkuat cengkramannya pada kedua bahu Hayden, sebab Hayden pun melakukan hal yang sama pada tubuhnya. "C-ceritakan padaku segalanya."
"Dari mana kau mengetahui hal itu?!" tukas Hayden dengan nada suara dingin, mengintimidasi.
"Ibumu."
Hayden terkekeh, tak habis pikir. "Ah, rupanya itu alasan kenapa kau tidak melarikan diri dari pernikahan ini?"
Feli mengangguk samar. "Ceritakan padaku segalanya," lirihnya perih.
Hayden menyeringai ngeri, penuh arti. "Apa jika aku menceritakan hal itu, kau akan menceritakan kisahmu padaku? Kisah yang terjadi pada hari itu. Berikan aku alasan, kenapa kau mengkhianatiku? Apa karena aku tidak cukup sempurna bagimu? Apa karena aku menyebalkan?"
Feli tertegun. Ia memaku dan diam membisu di pangkuan dan dekapan Hayden.
Hayden menatap manik hazel Feli dengan tatapan tajam, penuh kemarahan. "Aku bisa menceritakan kisahku. Asal kau juga berjanji, untuk menceritakan kejadian sebenarnya di hari itu padaku."
Feli menelan ludah kasar dengan susah payah. "Ba-baiklah!"
'Tapi apa kau akan mempercayaiku? Jika aku mengatakan, bahwa aku sebenarnya tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi padaku malam itu?'
Menatap Hayden dengan pupil mata yang sudah memerah dan gemetar, untuk pertama kalinya, Feli menunjukan ekspresi wajah yang menggambarkan perasaannya yang sesungguhnya, pada orang lain, selain Jane.
Sorot mata dan ekspresi wajahnya menunjukan ketakutan dan kesedihan yang begitu dalam, membuat Hayden tampak yakin untuk membicarakan segalanya dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
'Bagaimana jika kau tidak mempercayaiku dan terus membenciku, Hayden?'
Tbc ....