
"Hayden, dari tadi ponselmu berbunyi," tutur Feli, menyambut kedatangan Hayden kembali ke kemar, selepas membersihkan diri di kamar mandi lain.
"Kenapa?"
Feli yang tengah berdiri di samping tempat tidur menatap lugu ke arah Hayden yang berjalan menujunya, lalu menggeleng. "Tidak tahu. Sepertinya mendapatkan notifikasi panggilan masuk."
Berdiri tepat di samping tubuh Feli, Hayden sengaja sekali mencuri kecupan di pipi sebelah kanan istri cantiknya itu saat ia agak membungkukan tubuh, hendak mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas.
Mendapati Feli menunjukan reaksi kaget dengan mata indahnya yang membola, Hayden tersenyum, lantas menjawab panggilan masuk di ponselnya.
Hayden mendudukan diri di tepian tempat tidur, sedang Feli beranjak menuju meja rias yang terdapat di salah satu sudut ruang dari kamar yang ditempatinya tersebut.
Menatap setiap gerik yang dilakukan sang istri selagi menenggerkan ponsel yang digenggam ke dekat daun telinga sebelah kanan, Hayden membagi atensi, sebagian diarahkan pada Feli, sebagian lagi pada panggilan suara yang diterimanya.
Seseorang di sebrang sambungan sana membuang napas kasar. "Akhirnya, kau menjawab panggilan dariku, Tuan Muda Wilson."
Saat suara beriton seorang pria yang mengawali panggilan itu menyapa ke dalam rungu Hayden, Hayden mengernyitkan kening seraya menjauhkan ponselnya sesaat dari daun telinga, guna mengecek panggilan suara dari siapa gerangan yang saat ini sedang terhubung dengannya.
Manik mata jelaga indah Hayden berbinar, membersamai senyum senang yang memeta di bingkai birai, tepat saat pandangannya berhasil menangkap nama milik Toni - sang sahabat, tertera di permukaan layar ponselnya yang menyala.
"Hai, Toni!" Hayden balas menyapa dengan begitu antusias.
"Apa aku sudah mengganggu pengantin baru?" cicit Toni di sebrang sambungan sana, kemudian membubuhkan kekehan kecil di penghujung kata.
Hayden ikut terkekeh seraya menundukan pandangannya, sekilas. "Tidak. Kau tidak mengganggu sama sekali."
Toni membuang napas kasar yang berasal dari rasa lega. "Syukurlah. Selamat atas perikahanmu, Hayden. Maaf aku tidak sempat datang, karena kau mengundangku secara sangat mendadak."
Merenggangkan bingkai birai, Hayden tersenyum simpul sembari menolehkan pandangan ke arah Feli yang sudah duduk memunggungi dirinya di depan meja rias sembari mulai memoles wajah cantiknya denga polesan make up. "Terima kasih. Dan maaf, untuk undangan mendadaknya, karena memang pernikahanku dilangsungkan dengan sangat mendadak, bahkan dimaju'kan dari tanggal yang seharusnya."
"Tidak masalah. Ah ya, sebenarnya aku menghubungimu pagi-pagi begini, ingin memastikan, bahwa benar kau saat ini sedang berada di kampung halaman Nenekmu."
Refleks Hayden mengangguk. "Ya. Aku memang sedang berada di kampung halaman Nenekku. Sama seperti dirimu, Nenekku juga tidak sempat datang untuk menghadiri pernikahanku, karena saking mendadaknya. Jadi, aku dan istriku memutuskan untuk kemari, memberi kunjungan."
"Aku sebenarnya semalam sempat melihatmu di restauran."
Kedua alis Hayden spontan terangkat. "Benarkah? Lalu kenapa tidak menyapa?"
"Takut mengganggu, dan lagi ... aku semalam sedang agak terburu-buru. Maka dari itu, aku berencana untuk mengundangmu datang ke club malam milikkh, untuk bertemu dengan sahabat-sahabatmu yang lain malam ini. Itu pun jika kau bisa. Bagaimana?"
Mengatupkan bingkai birai, Hayden mengangguk ragu. "Malam ini, ya?"
__ADS_1
"Kalau tidak bisa malam ini, kau tentukan lagi saja bisa datang kapan."
"Baiklah." Hayden mendengkus pelan. "Aku akan bertanya dulu pada istriku."
Toni di sebrang sambungan sama menguarkan kekehan ringan. "Baiklah. Kalau begitu, aku tunggu kabar baiknya.
Hayden tersenyum. "Akan aku kabari kau secepatnya, Ton."
"Ok. Akan aku tutup dulu telponnya. Takut mengganggu terlalu lama, karena saat ini kau pasti sedang bersama istrimu."
Menatap Feli dengan tatapan lamat, Hayden tersenyum senang setelah mendengar Toni memaparkan godaan diakhiri sebuah kekehan ringan di sebrang sana. "Tentu. Sampai jumpa di club'mu nanti, Ton."
Dengan begitu, sambungan panggilan suara tersebut pun diputus begitu saja oleh Hayden. Menundukan pandangan sembari menurunkan lengan yang digunakan untuk menyangga ponsel, Hayden menaruh benda pipih dalam genggamannya itu ke tempat semula.
"Sudah selesai?"
Suara manis Feli mengudara, menelusup ke dalam rungu Hayden dengan begitu sopan, membuatnya seketika menolehkan pandangan.
Hayden melempar senyum manis begitu mendapati istrinya sudah selesai berdandan dengan cantik dan memokuskan atensinya ke arahnya.
Mengangguk samar, Hayden beringsut bangkit. "Hemmm, sudah."
Tersenyum senang, Hayden pun tanpa ragu berjalan menghampir Feli, guna memenuhi titah yang telah disampaikan oleh istri cantiknya itu.
"Duduk di sini." Feli memberi titah lagi sembari menarik lengan sebelah kiri Hayden yang sudah berdiri tepat di hadapannya.
Membuat suami tampannya itu mendudukan diri, Feli lantas meraih pengering rambut yang sudah ia siapkan di permukaan meja di hadapan.
"Kau mandi di kamar mandi yang mana?" Feli bertanya seraya mulai membantu Hayden mengeringkan rambut hitamnya yang basah.
Hayden mendengkus kasar. Menatap Feli melalui pantulan cermin di hadapan, ia tersenyum gemas melihat istri cantiknya itu begitu telaten mengeringkan rambutnya, dengan pergerakan begitu lembut, syarat akan kehati-hatian. "Aku mandi di kamar mandi bawah," tuturnya, setengah merengek.
Melirik Hayden melalui pantulan cermin, Feli terkekeh gemas. "Kau terdengar seperti orang yang sedang kesal," godanya.
"Aku memang kesal, karena kau tinggal begitu saja saat kita bernegosiasi soal hutang piutang tadi."
Fakta bahwa Feli segera bergergas pergi setelah mendengar Hayden menyampaikan niat liciknya, tidak bisa Feli sangkal sama sekali, karena memang benar begitu adanya.
Feli tidak mau berdebat lebih lama dengan suami tampannya itu, makanya dia memilih untuk berlalu memasuki kamar mandi, dan setelahnya mengunci pintu dari dalam, guna memastikan Hayden tidak bisa menyusulnya.
"Negosiasi kita sudah selesai."
__ADS_1
Hayden menaikan alis sebelah kiri. "Selesai apanya, kau saja belum memberi persetujuan," rengeknya.
Terkekeh, Feli menggeleng tak habis pikir. "Persetujuan tentang apa?"
"Tentu saja, tentang dirimu yang harus bersedia memberiku ciuman setiap hari, selama-lamanya mulai sekarang."
Mendengkus pelan, Feli mematikan pengering rambut yang tengah ia genggam, lalu menyimpannya kembali ke permukaan meja setelah dirasa rambut suaminya sudah selesai ia keringkan.
Tersenyum manis, Feli membiarkan manik mata hazel indah bak mata rusa menggemaskannya bersitatap dengan Hayden, meski hanya melalui pantulan cermin, seperti sebelumnya. "Apa kalau aku tidak memberimu persetujuan, kau akan menerimanya?"
"Tentu saja tidak!"
"Lalu untuk apa kau ingin meminta persetujuan dariku?"
Menoleh, Hayden menarih pergelangan tangan sebelah kanan Feli, menariknya pelan, membuat tubuh istri cantiknya itu agak terhuyung, sebelum kemudian jatuh di pangkuan.
Tersenyum tipis, Hayden melingkarkan kedua lengannya di area pinggang ramping Feli, memeluk tubuh sang istri dengan begitu posessif.
Feli refleks menenggerkan kedua telapak tangannya di permukaan dada bidang Hayden saat tubuhnya terduduk tadi.
"Itu artinya, kau akan melakukannya?"
"Kalau itu yang memang kau inginkan, kenapa tidak?"
"Sungguh? Kau mau memberiku ciuman setiap hari?"
"Selama kau belum bosan."
Hayden menggeleng penuh semangat, lantas dengan pergerakan cepat mencuri kecupan dari bibir Feli. "Itu tidak mungkin. Aku tidak akan pernah bosan dengan bibirmu. Jadi janji ya, kau akan menciumku setiap hari?"
Bingkai birai Feli merenggang dengan sangat instan, membersamai hatinya yang menghangat, sebab merasa begitu bahagia, melihat Hayden begitu bahagia.
Mengangguk mantap, tanpa ragu Feli balas mencuri kecupan di bibir Hayden. "Iya, janji."
"Janji apa?"
Membuang napas kasar, Feli memutar bola matanya malas, ingin menggoda Hayden yang tampak begitu antusias, tidak henti-hentinya merengek seperti anak kecil, padanya.
Kendati begitu, senyum senang tetap setia memeta di bingkai birai Feli. "Janji, bahwa mulai hari ini, dan sampai seterusnya, aku akan memberi Suamiku, Tuan Hayden Brent Wilson yang sangat tampan ini, ciuman setiap hari, seperti apa yang dia inginkan."
Tbc ....
__ADS_1