
"Apa kau tidak ingin melihat bagaimana keadaan Feli setelah upacara pernikahan selesai?" Liam bertanya manakala beliau memperhatikan gerak-gerik Luciana yang tengah sibuk merias diri di depannya.
Liam bisa melihat betapa kosongnya tatapan Luciana tatkala melihat bayangan dirinya sendiri di dalam cermin.
Beliau meyakini, bahwasannya benak Luciana tidak sedang ada di sana. Benak Luciana tengah bergelut, melawan sekelimut keraguan dan ketakutan terkait pernikahan Feli dan Hayden.
Luciana ingin datang, menghampiri Feli, memeluknya dan bertanya, apakah Feli baik-baik saja. Akan tetapi, hal sesederhana itu, seolah sulit ia lakukan. Ia merasa ada satu sampai dua hal yang membuatnya tertahan dan tetap diam.
Liam yang saat ini tengah duduk di tepian tempat tidur sembari menggenggam ponsel, hanya bisa membuang napas kasar. "Nyonya Luciana. Apa kau mendengarkanku?"
Liam memang acap kali tidak bersikap formal pada Luciana, karena beliau sudah sangat dekat dengan Luciana ataupun anggota keluaraga Luciana lainnya, yakni Feli dan Jane.
Lagipula, Luciana yang pernah meminta padanya untuk tidak bersikap formal. Tidak ingin terkesan canggung, katanya.
Liam memutar bola matanya jengah manakala ia lagi-lagi mendapatkan sebuah kebungkaman.
Sepertinya, Luciana terlalu larut dalam beberapa hal yang saat ini tengah bergelut dalam benaknya.
"Apa kau akan tetap diam seperti inu, sampai acara resepsi berakhir?"
Luciana tertunduk. Embusan napas kasar berhasil lolos dari mulutnya yang sedikit terbuka. "Entahlah. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana jika aku bertemu dengan Feli, anakku sendiri."
Liam menatap Luciana keheranan dengan dahi yang mengernyit dan mata yang sedikit memicing. "Apa maksudmu?"
Luciana menoleh perlahan ke arah Liam, hingga pada akhirnya, mereka beradu pandang. "Aku bingung. Bagaimana aku harus bereaksi jika aku menemuinya. Aku harus bahagia, atau justru malah sebaliknya."
Tertunduk lesu, manik mata Luciana menatap ubin mengkilap di bawah sana dengan tatapan sendu, penuh kesedihan. "Aku merasa sangat bersalah padanya. Karenaku, hidupnya jadi kacau, hingga rasanya ingin sekali aku mengubur diriku hidup-hidup agar tidak lagi mengacaukan hidupnya."
***
Hayden mendengkus frustrasi tatkala netranya sibuk memperhatikan wajah pucat pasi Feli yang tengah terlelap di hadapannya.
Pria tampan itu duduk di tepian tempat tidur, tepat di samping tubuh Feli yang sedang terbaring, masih tak sadarkan diri.
Sudah sekitar tiga puluh menit lebih Hayden berdiam diri. Ia hanya duduk di sana, menamani dan menatap sosok istri mungilnya.
Tatapannya terlihat begitu sendu. Namun, masih sangat sulit untuk diartikan. Ada beberapa emosi yang tergambar. Sedih, khawatir dan juga marah. Entah emosi mana yang saat ini tengah mendominasi dalam hatinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dua tahun yang lalu padamu, Felisha? Kenapa aku merasa, aku tidak mengetahuinya sama sekali?" Hayden bergumam lirih.
Tangan sebelah kirinya bergerak perlahan, menyentuh wajah pucat sang istri, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi.
"Eumh ...." Feli mengerang pelan manakala telapak tangan Hayden yang bersuhu lebih dingin dari tubuhnya, berhasil melakukan kontak langsung, bersentuhan.
Pelupuk mata wanita cantik itu perlahan terbuka. Feli menggosok pelan pelupuk matanya, untuk mendapatkan penglihatan yang lebih jelas.
Tertegun, ia mengedipkan pelupuknya berulang saat mendapati manik jegala Hayden, tertuju ke arahnya.
"Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Hayden bertanya dengan nada datar, tanpa ada ekspresi yang tergambar.
Feli mendudukan dirinya perlahan, dibantu oleh Hayden. "Sedikit lebih baik."
Pandangan wanita cantik itu tertunduk. Sungguh, bukan perkara mudah baginya untuk terus menerus menatap mata Hayden setelah mendengar segalanya. Mendengar penjelasan apa yang Hayden alami dua tahun yang lalu.
"Jam berapa sekarang? Bukankah aku harus segera bersiap?"
Hayden membuang napas kasar. "Aku bisa membatalkan acara resepsi, jika kau mau, jadi kau bisa beristirahat."
Feli tersenyum getir sekilas. "Tidak perlu. Aku tidak ingin mengecewakan keluargamu yang sudah menyiapkan segalanya."
Menyingkab selimut tebal yang masih menutupi tubuhnya, Feli perlahan merayap, untuk menuruni tempat tidur.
Hayden berdecak kesal. "Keras kepala!"
Suara khas ketukan pintu menggema di dalam kamar yang kini Hayden dan Feli tempati, membuat keduanya mengalihkan atensi mereka, menoleh ke arah pintu utama.
"Itu pasti penata rias yang akan membatumu bersiap," terang Hayden seraya membangkitkan diri dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama.
Feli hanya berdiri mematung, memperhatikan dengan seksama sembari memainkan jemari tangannya di depan badan.
Hayden membuka pintu kamarnya, dan benar sesuai perkiraannya. Di sana berdiri tiga orang wanita yang usianya tak jauh berbeda dari Feli.
Mereka sedikit membungkukan tubuh sekilas, di hadapan Hayden. "Selamat malam Tuan Wilson. Aku Lili, penata rias pengantin yang Nyonya Emely sewa untuk membantu istri anda bersiap."
"Baiklah. Silakan masuk."
Lili bersama dua wanita lain yang mengapitnya pun melakukan apa yang Hayden perintahkan.
Hayden kembali menutup pintu kamar tersebut dan berjalan menghampiri Feli bersama Lili dan yang lainnya.
"Kalian bisa langsung melakukan tugas kalian. Bawa istriku ke ruangan yang ada di sana," titah Hayden seraya menunjuk sebuah pintu yang berada di salah satu sudut kamar.
Lili membungkuk sembari tersenyum ramah sekilas. "Baik Tuan."
***
"Hey! Jayden. Kau tadi ke mana saja? Kenapa aku tidak menemukanmu di mana pun?" Anna bertanya dengan nada jengkelnya tatkala ia memasuki kamar hotel yang Jay tempati.
Saat itu Jay tengah duduk santai sembari menyandarkan tubuh ke kepala tempat tidur. Pandangannya yang tertunduk, menatap layar ponsel menyala dalam genggaman, seketika menengadah, menatap Anna. "Aku tadi pergi menemui Feli, sebentar."
Anna sedikit terkejut. Dengan cepat gadis itu mendudukan diri di samping Jay. "Maksudmu menemui Feli di dalam kamarnya? Berdua saja? Apa yang kau lakukan?"
Jay membuang napas kasar seraya memutar bola matanya malas. Ia menjitak pelan kening Anna, membuat Anna merengek lucu, seperti anak kecil sembari mengusap keningnya tersebut.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu. Aku menemui Feli di kamar Hayden. Feli memintaku untuk membawa obatnya ke sana."
Mata Anna membola, menatap Jay dengan keterkejutan luar biasa. "Apa maksudmu? Membawa obat Feli? Apa yang terjadi pada Feli? Apa dia mengalami serangan panik?"
Anna terhenyak, bersamaan dengan mulutnya yang menganga tidak percaya. Pelupuk mata gadis itu berkedip, berulang. Kedua telapak tangannya bergerak refleks, menutupi mulut kecilnya yang masih menganga. "A-apa Feli mengalaminya di depan Hayden?"
Jay membuang napas kasar. "Ya."
"Apa kau serius? Bukankah Feli tidak mau, Hayden sampai tahu kalau dia mengalami gangguan kesehatan mental karena trauma?"
Embusan napas kasar berhasil kembali Jay loloskan untuk kesekian kalinya. "Hemmm."
"Jadi, apa sekarang Hayden tahu?"
Jay menggeleng samar. "Tidak secara menyeluruh, tapi dia sekarang tahu, bahwa Feli seringkali mengalami serangan panik, tepatnya sejak dua tahun yang lalu. Aku yang memberitahunya."
"Hey!" Anna memekik seraya memukul keras lengan Jay, membuat Jay sedikit terhenyak dan langsung menggenggam lengannya.
Gadis cantik itu menatap Jay dengan tatapan tajam, penuh ketidak sukaan. "Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau memberitahu Hayden dan membicarakannya padaku dengan sesantai itu, ha?"
"Tenangkan dirimu Anna. Hayden dan Feli sekarang sudah menikah. Itu artinya, tidak ada lagi rahasia yang harus disembunyikan oleh keduanya. Hayden berhak mengetahui bagaimana kondisi Feli. Justru seharusnya, keseluruhannya."
Anna membuang napas kasar, mencoba menahan rasa geram. "Tapi setidaknya biarkan Feli yang memberitahu Kakakmu." Gadis itu kembali memukul lengan Jay. "Kenapa kau yang memberitahunya? Kau tidak berhak melakukannya, bodoh!"
Jay tersenyum senang, melihat Anna mengoceh, memarahi dirinya. Jay sengaja, tidak menceritakan seluruh kejadiannya pada Anna, karena jika tidak begitu, mungkin Anna akan bereaksi lebih heboh dan panik, daripada sekarang ini.
Dahi Anna mengernyit tatkala ia mendapati Jay tengah tersenyum seperti orang bodoh. "Kenapa kau tersenyum? Apa kau pikir ada yang lucu?"
Jay mengangguk tanpa sadar. "Hemm. Kau! Kau lucu dan cantik."
Anna memutar bola matanya jengah, terkekeh kecil, gadis cantik itu berdecih sembari mengibaskan rambutnya, bergaya begitu centil. "Aku tahu."
"Sayangnya, kau bukan pacarku."
Anna menggeleng tidak percaya sembari membuang napas kasar.
"Kenapa kau mencariku? Apa kau merindukanku?"
"Astaga, Jayden!" Anna mendengkus, melampiaskan rasa geram dan frustrasinya terhadap sosok Jay, yang agaknya mulai suka sekali bersikap genit padanya. "Terserah. Aku akan kembali ke kamarku dan bersiap-siap."
***
"Apa masih lama?" Feli bertanya seraya menatap bayangan dirinya di dalam cermin yang berada di hadapan.
Wanita cantik itu masih berada di dalam ruangan yang sudah diperuntukan untuk bersiap. Semacam wardrobe dengan pasilitas mumpuni, seperti lemari, sofa, meja rias dan yang lainnya.
Feli duduk dan menunggu dengan sabar. Ia membiarkan Lili dan kedua asistennya bekerja, membantunya merias wajah dan tatanan rambut.
Tubuh wanuta cantuk itu hanya di selimuti sebuah bathrobe berwarna putih bersih, karena Lili memintanya untuk mengenakan gaun setelah ia selesai merias wajahnya.
Lili menoleh ke arah cermin yang masih memantulkan bayangan Feli kala ia selesai mengerjakan tugasnya dengan baik dan melihat hasil yang sempurna. Ia tersenyum hangat. "Kau sangat cantik Nona."
Feli sedikit menengadahkan pandangan, hingga ia beradu pandang dengan netra Lili melalui pantulan cermin, lantas tersenyum manis. "Berkat dirimu."
Lili tiba-tiba terlihat canggung. Ia berdeham pelan. "Eumm Nona. Maaf, bukan bermaksud tidak sopan. Tapi apakah Nona ingin aku menutupi bercak merah yang ada di leher Nona?"
Feli tertegun. Ia memaku, menatap bayangan dirinya dengan mata yang membulat.
'Sungguh memalukan!'
Feli tersipu, lalu tersenyum kikuk. "Iya. Tolong."
"Tidak perlu!" Hayden yang saat itu muncul seraca tiba-tiba, langsung menimpali.
Atensi semua orang yang ada di sana, termasuk Feli teralihkan ke arah Hayden yang berdiri di ambang pintu ruangan tersebut.
Feli memutar bola matanya jengah seraya membuang napas kasar. "Tidak usah mendengarkannya. Lakukan dan tutupi bercak merah di leherku." Ia berucap dengan nada tegas, penuh tuntutan, mutlak tidak menerima penolakan dan syarat akan keharusan.
Kembali memokuskan atensinya ke arah cermin, Feli berusaha mengabaikan keberadaan Hayden sebisa mungkin.
Lili yang terlihat ragu pun akhirnya menoleh ke arah Feli dan membungkuk sekilas. "Baiklah Nona."
"Silakan sembunyikan itu. Jika kau ingin aku membuat bercak merah yang baru di hadapan seluruh tamu undangan! Membiarkan semua orang tahu, bahwa kau hanyalah milikku!" Hayden mengudarakan sebuah ancaman yang seketika membuat Feli memaku dengan mata yang membola.
Baik Feli maupun Lili beserta kedua asistennya saat itu terdiam.
Hayden menyeringai ngeri, penuh arti. "Kalian bisa pergi sekarang. Aku sendiri yang akan membantu istriku untuk menyelesaikan sisanya."
Lili dan kedua asitennya menoleh ke arah Hayden, lalu membungkukan setengah tubu mereka sekilas. "Baik Tuan."
Lili pun mulai merapikan barang-barangnya, dibantu oleh kedua asistennya untuk segera pergi dari sana.
Feli mulai merasa panik tatkala kenyataan berhasil memukul keras dirinya. Ia akan ditinggalkan di sana? Bersama Hayden? Berdua saja?
"Apa yang kalian lakukan? Bukankah aku menyuruh kalian untuk melanjutkan perkerjaan kalian?" tandas Feli, mencoba melakukan pencegahan, agar Lili tidak pergi.
Lili yang sudah siap untuk pergi itu pun menoleh ke arah Hayden dan mendapatkan sebuah tanda, bahwa ia harus segera pergi dari sana.
Ia menoleh ke arah Feli. "Maaf Nona. Tugas kamu sudah selesai. Kami permisi."
Dengan begitu, Lili dan kedua asitennya pun pergi dari sana, meninggalkan Feli, terjebak bersama Hayden, berdua.
Feli dengan cepat bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari yang berada di salah satu sudut ruangan tersebut, untuk mengambil gaun yang akan ia kenakan.
__ADS_1
Hayden menyeringai ngeri penuh kepuasan tatkala netranya sibuk memperhatikan sosok Feli dengan seksama.
Pria tampan itu berjalan cepat, menghampiri Feli yang tampak kebingungan memilih pakaian. Ia berdiri tepat di belakang Feli dengan jarak yang begitu dekat.
"Hayden!" Feli terhenyak saat merasakan keberadaan Hayden yang kelewat dekat.
Hayden melingkarkan salah satu lengan kekarnya di pinggang ramping Feli, membawa tubuh sang istri mendekat, memeluknya dari berakang.
Hayden tersenyum, tanpa dosa. "Iya, Sayang?"
"Apa yang kau lakukan?" Feli bertanya seraya sedikit menengadahkan pandangan, menatap wajah Hayden yang tengah menghadap lurus ke depan.
"Aku hanya ingin membantu Istriku. Aku sudah menyiapkan gaun yang sangat indah untukmu," terangnya seraya meraih sebuah gaun berwarna sky blue dari dalam lemari.
Hayden menundukan pandangan, menatap Feli yang sudah memokuskan seluruh atensinya ke arah gaun cantik yang sudah ia pilihkan. "Apa kau ingin, aku membantumu untuk mengenakan gaun ini?"
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," tukas Feli seraya meraih gaun dari genggaman Hayden dan melepaskan diri.
Hayden tersenyum puas. "Baiklah."
Feli menatap Hayden dengan tatapan tajam. "Bisakah kau pergi? Aku harus memakai pakaianku."
Hayden menyeringai ngeri, penuh arti. "Aku berhak untuk melihat tubuhmu. Kenapa aku harus pergi?"
Pribadi tampan itu memendarkan pandangan, sekilas. "Lagipula, aku juga harus bersiap."
Jantung Feli berdebar dengan sangat cepat. Ia merasa, jantungnya bisa saja meloncat ke luar, kapan saja.
Rasa gugup, takut dan kesal mendomonasi hati Feli. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak selain berusaha untuk tetap mengontrolnya.
Feli menelan ludahnya dengan susah payah. "Baiklah. Lakukan apapun yang kau mau di sini. Aku akan memakai pakaianku di kamar."
Hayden terkekeh gemas sekilas. "Baiklah. Baiklah. Aku akan menghadap ke arah lain dan membiarkanmu memakai gaunmu. Aku berjanji untuk tidak melihatmu. Aku memberimu waktu dua puluh detik."
"Kau gila? Aku lebih baik memakainya di luar."
Hayden menyeringai ngeri, membuat Feli menatapnya dengn tatapan bingung. "Silakan. Tapi di luar sana, sudah ada orangtuaku yang menunggumu."
Rasa geram Feli benar-benar sudah membuncah, mencapai ubun-ubun dan membuat darahnya mendidih.
Wanita cantik itu meremat gemas gaun yang sudah ia genggam, melampiaskan rasa geramnya terhadap Hayden di sana.
Hayden tersenyum manis, sebelum akhirnya memutar tubuh, menghadap ke arah lain, membelakangi Feli. "Waktumu dimulai dari sekerang."
"Kau benar-benar gila!"
"Hemm, karenamu. 20, 19, 18-"
"Hey! Itu curang."
Hayden terkekeh sekilas, meremehkan. "Maka dari itu, cepat pakai gaunmu."
Feli berdecak kesal. Ia mulai melepaskan bathrobe yang masih melekat ditubuhnya. "Jangan mengintip!" ancamnya seraya terus menatap Hayden, penuh waspada.
Hayden hanya terkekeh gemas tanpa menjawab perkataan istri cantiknya itu.
Feli dengan cepat memakai gaun yang sudah Hayden siapkan untuknya tanpa membuang banyak waktu.
Setelah selasai, ia melangkah ke arah cermin besar untuk mengecek penampilannya.
Gaun indah berwarna sky blue yang dihiasi manik-manik silver di area bahu, dada dan pinggang itu nampak sempurna membalut tubuh Feli.
Surai hitam indahnya di tata dalam tatanan sederhana, terurai dengan sedikit sentuhan bergelombang.
Feli terlalu fokus menatap bayangan dirinya, hingga ia tidak menyadari sosok Hayden yang kini sudah berdiri di belakangnya, ikut menatap bayangan dirinya dengan penuh kekaguman.
"Sangat cantik," gumam Hayden menggoda seraya memeluk tubuh Feli dengan sangat erat dari belakang, membuat Feli terhenyak.
Napas wanita cantik itu tercekat untuk beberapa saat. Matanya membola. Seluruh persendian di tubuhnya menegang. Jantungnya berdebar, kelewat cepat.
"Kenapa kau menghalangi tanda kepemilikanku?" Hayden bertanya seraya menyingkab rambut Feli yang menutupi ceruk lehernya.
Pria tampan itu membuat seluruh rambut Feli berada di bahu kanannya, membuat mahakarya yang berada di ceruk leher Feli terlihat jelas.
"B-biarkan itu tertutup rambut."
Hayden menggeleng samar. "Tidak bisa." Ia menyentuh bercak merah yang ia sebut tanda kepemilikannya dengan sentuhan lembut, menggoda, membuat Feli tertegun. "Kau terlihat lebih cantik dengan tanda yang aku tinggalkan."
Mengecup singkat bahu Feli, Hayden membuat Feli tidak bisa mengontrol detak jantungnya.
Hayden membawa wajahnya mendekat ke arah daun telinga Feli, hingga embusan napas hangatnya menyapu kulit Feli dengan sempurna, membuat tubuh Feli meremang.
Sudut bibir sebelah kanan Hayden menukik tajam, mengulas seringaian penuh akan godaan. "Tapi kau terlihat jauh lebih cantik dalam balutan bra dan ****** ***** hitam yang baru saja aku lihat beberapa menit yang lalu."
Feli tertegun. Ia menoleh, menatap ke arah di mana sebelumnya Hayden berdiri. Secara mental, ia ingin menutupi wajahnya dengan bantal dan berteriak dengan keras.
'Bodoh!'
Hayden berdiri menghadap sebuah cermin saat ia berdiri membelakangi Feli yg kala itu berganti pakaian, tentu saja ia bisa melihat segalanya.
Mengecup lembut daun telinga Feli, Hayden membuat wanitanya kegelian sendiri. "Tapi apa kau tahu, mungkin bra dan ****** ***** hitammu itu, akan lebih terlihat indah jika berserakan di lantai kamar tidur kita, nanti malam."
Tbc ....
__ADS_1