Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Pelukan dari Adiknya Mantan


__ADS_3

Feli masih sibuk bergelut dengan komputer kerjanya. Seluruh atensinya ia arahkan pada pekerjaan. Bukan karena ia merupakan seorang gadis workcaholic atau semacamnya, namun, menyibukan diri pada pekerjaan ataupun hal yang ia sukai, merupakan caranya untuk berusaha melupakan masalah yang ia hadapi.


"Feli!" Anna menyeru, memanggil sahabat sekaligus rekan kerjanya dengan suara lembut.


Feli seketika menengadahkan pandangan, menatapnya Anna yang kini berdiri di depan meja kerjanya.


Anna menelan ludahnya dengan susah payah begitu manik hazelnya dan Feli berhasil beradu pandang.


Dahi Feli mengernyit, bersamaan dengan matanya yang sedikit memicing, menatap Anna keheranan. "Apa?"


Anna tersenyum kikuk, berusaha menyembunyikan rasa gugup. "Jay memanggilmu. Dia memintaku menyuruhmu untuk menemuinya di dalam ruangannya."


Salah satu alis Feli menukik. Ia menatap Anna dengan tatapan yang syarat akan curiga. "Kenapa Jay ingin menemuiku?" tanyanya, keheranan, lantas membuang napas kasar. "Kau memberitahu Jay bahwa aku tiba di kantor lebih awal?"


Anna terkekeh gugup sekilas. "Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain."


Lantas Anna pergi begitu saja meninggalkan Feli setelah merampungkan perkataannya.


Feli menggeleng tidak percaya, sekaligus kecewa, karena merasa dikhianati oleh Anna. Meskipun pada kenyataannya ia tahu, Anna memberitahu Jay, karena gadis cantik itu saat ini tengah mencemaskan dirinya.


Itulah Anna. Jika dia tidak bisa membujuk Feli untuk angkat suara terkait masalah yang tengah dihadapinya, Anna akan meminta bantuan pada Jay sebagai sahabat dekatnya dan Feli.


Anna mungkin bisa saja gagal membujuk Feli dan tidak bisa menunjukan dukungannya terhadap sahabat dekatnya itu secara langsung, karena Anna, bukanlah gadis yang pandai menunjukan ekspresi dan rasa perhatiannya terhadap orang lain.


Tapi Jay atau Jayden - adik dari Hayden yang merupakan sahabat dekat Feli itu berbeda. Dia adalah pria yang memiliki sikap sangat manis dan hangat, walaupun sikap manis dan hangatnya itu, hanya ia tunjukan pada orang-orang terdekatnya, karena di luaran sana, Jayden maupun Hayden, dikenal dengan kaka beradik yang memiliki sikap dingin dan berwibawa.


Tak jarang dari mereka yang tidak terlalu mengenal Jay ataupun Hayden, menganggap mereka berdua hanyalah pewaris takhta yang memiliki sikap arogan dan sombong.


Tidak banyak yang tahu, bahwa Jay dan Hayden bisa menjadi tempat bersandar ternyaman, mengadu keluh kesah dan pemberi dukungan bagi siapapun yang beruntung, termasuk Feli.


Ya. Feli sangat beruntung karena memiliki Jay dan Hayden dalam kehidupannya. Namun, keburuntungan itu tidak berlangsung di masa kini bagi Feli, melainkan, hanya di masa lalu.


Dengan berat hati. Gadis itu bangkit dari duduknya. Ia bersiap diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang sudah ia prediksi akan terjadi di dalam ruangan Jay.


Ia membuang napas kasar seraya merapikan pakaian sebelum mantap mengambil langkah, menuju ruangan Jay.


Feli melangkah dengan percaya diri. Ia berusaha menyembunyikan kegugupan dan ketakutan dalam dirinya yang kini berhasil membuat jantungnya berdegup dengan tempo yang sangat cepat, luar biasa.


Gadis itu menghentikan langkahnya begitu ia tiba tepat di depan pintu ruangan milik Jay. Ia terdiam di sana untuk beberapa saat. Netra teduhnya menatap sendu daun pintu di hadapannya.


Feli menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Ia mensugestikan dirinya untuk sedikit tenang, meskipun pada kenyataannya, ia ingin menyerah dan menangis saja sejadi-jadinya.


Salah satu tangannya yang sudah gemetar dalam keadaan mengepal ia angkat, bersiap untuk mengetuk pintu dari ruangan Jay tersebut.


"Masuk!" Belum sempat permukaan tangannya melakukan kontak pisik dengan daun pintu, suara Jay yang terdengar seperti perintah, berhasil menyapa rungu gadis itu, membuatnya mengurungkan niat untuk mengetuk.


Feli membuang napas kasar sebelum memantapkan diri, memasuki ruangan Jay sambil memancarkan aura cerianya.


Ia menelan ludahnya dengan susah payah, begitu netranya berhasil beradu tatap dengan Jay yang sudah menatapnya dengan tatapan tajam.


Feli kembali menutup pintu ruangan Jay, lalu berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan meja kerja sahabat tampannya itu.


Ia menundukan pandangan seraya membungkukan setengah tubuhnya sekilas, menghindari kontak mata dengan Jay lebih lama. "Bapak memanggil saya?"


Jay membuang napas kasar seraya membenarkan posisi duduknya. "Bukankah tidak sopan bicara dengan atasanmu tanpa melihat wajahnya?"


Feli menelan ludahnya dengan susah payah sebelum akhirnya menengadahkan pandangan, membuat manik hazelnya beradu pandang dengan netra Jay yang sudah menatapnya dengan tatapan lembut nan hangat.

__ADS_1


Gadis itu meremat gemas rok yang ia kenakan, mencoba menyembunyikan rasa gugup yang mengungkung relungnya.


Jay mendengkus jengah seraya menundukan pandangan sekilas. Ia beranjak dari duduknya dengan cepat dan berjalan mendekati Feli.


Tanpa basa-basi dan bertanya, Jay langsung merengkuh tubuh kecil Feli ke dalam pelukan nyamannya.


Tentu, aksi tiba-tiba Jay itu, membuat Feli teramat sangat terkejut. Seluruh persendian di tubuhnya menegang. Mata kecilnya membola, membulat sempurna.


Terima kasih pada Jay, karena telah membuat napas gadis itu tercekat untuk beberapa saat, bersamaan dengan degup jantungnya yang menggila.


Jay mengusap lembut punggung Feli, berusaha memberikan Feli kenyamanan dan ketenangan.


"H-hey! A-apa yang kau lakukan?" Feli bertanya dengan sedikit terbata seraya menenggerkan kedua telapak tangannya di dada bidang Jay, mendorong tubuh pria itu perlahan, berharap ia terlepas dari dalam pelukan.


Namun, Jay justru malah mempererat pelukannya pada tubuh Feli, membuat Feli tidak tahu lagi, harus berbuat apa.


"B-bagaimana jika ada yang melihat? K-kau bisa terkena masalah, Jayden."


Jay meremat lembut bahu Feli seraya semakin mempererat pelukannya. "Aku tidak perduli."


Feli mencoba melepaskan diri sekali lagi, meskipun ia tahu, usahanya hanyalah sia-sia belaka. "Tapi aku perduli. Lepaskan Jay! Ada apa dengan dirimu sebenarnya? Tiba-tiba memelukku seperti ini?"


Jay menelusupkan wajahnya di bahu Feli. "Aku tahu kau sedang ada masalah. Kau tidak akan menceritakannya padaku, meskipun aku menanyakannya. Jadi, biarkan aku memberimu pelukan, agar kau tetap kuat melewati segalanya."


Feli terkekeh lirih sekilas. "Kau tidak perlu melakukan ini. Aku baik-baik saja."


Meskipun mulut mungil gadis itu mengatakan bahwa ia baik-baik saja, namun pada kenyataannya, air mata seketika mengembun dalam pelupuknya tatkala ia mendengar perkataan Jay.


"Pembohong! Kau pikir, siapa yang sedang coba kau bohongi di sini? Ha?" Jay berucap seraya melepaskan pelukannya dan membuat tubuhnya dan Feli sedikit berjarak, agar ia bisa melihat wajah cantik sahabatnya itu.


"Hey." Jay angkat suara, memecah keheningan dengan suara manisnya. Ia perlahan menyentuh dagu Feli, membuat gadis itu menengadah.


Pupil mata Jay gemetar, menatap wajah cantik Feli yang sudah dibasahi air mata untuk pertama kalinya, semenjak dua tahun yang lalu.


Ya. Ini kali pertama bagi Feli menangis di hadapan orang lain, selain Jane setelah ditinggal oleh sang ayah.


Keluarga, sahabat ataupun orang-orang terdekat Feli, terakhir kali melihat ia menangis di hari pemakaman mendiang sang ayah.


Benar. Hanya Jane. Hanya Jane menjadi satu-satunya orang yang bisa melihat emosi Feli yang sebenarnya.


Jane satu-satunya orang yang bisa melihat penderitaan Feli selama ini, tapi sayangnya, Feli lebih memilih mementingkan egonya sendiri. Ia menutup mata dan hatinya untuk bisa mengerti penderitaan yang Feli alami.


Semenjak hari di mana ayah mereka meninggal, Feli seolah menutup diri. Menutup diri dari hal-hal yang membuatnya tertawa dan menangis.


Kehidupan Feli semenjak saat itu benar-benar berubah. Hidup gadis yang dulunya ceria dan penuh warna itu, tergantikan tatkala badai besar menyerang dunianya.


Hidupnya terkesan kehilangan warna alaminya. Bukan tidak bisa kembali berwarna, namun yang menjalaninya lah yang enggan memberikan warna.


Seperti apa yang Feli katakan semalam pada Jane. Ia menghindari segala hal yang mampu membuatnya bahagia, hingga tanpa ia sadari, ia pun menutup dirinya untuk berbagi rasa duka dan memendamnya sendirian, selama ia bisa.


"Kau tahu, memang tidak apa-apa untuk bersedih sendirian, tapi akan jauh lebih baik jika kau bersedia berbagi perasaanmu dengan seseorang."


Jay mengusap lembut kedua bahu Felisha dengan ibu jarinya yang besar, mencoba memberi sahabat cantiknya itu ketenangan.


"Kau memilikiku. Kau tahu itu bukan?" Jay tersenyum lirih sekilas, sementara Feli terdiam, menatap Jay dengan tatapan sendu dan membiarkan air matanya berderai.


"Kau bisa menceritakan segala hal padaku. Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku akan menunggu. Menunggumu untuk mempercayaiku dan membagi dukamu bersamaku." Jay berucap dengan suara lembut, penuh arti.

__ADS_1


Feli terkekeh getir sekilas seraya menganggukan kepala. "Terima kasih."


Bibir tipis Jay merenggang, mengulas senyum senang. Ia membuang napas kasar seraya memejamkan mata beberapa saat, sebelum menatap Feli yang masih setia dengan tangisnya.


"Jangan pendam dukamu sendirian. Kau membuat semua orang yang menyayangimu cemas. Terma-" "Ah!"


Feli mengerang kesakitan tatkala Jay mengusap lembut wajahnya, membuat Jay mengurungkan niat untuk merampungkan perkataan dan tindakannya untuk memghapus air mata Feli.


Mata Jay membola, tatkala ia melihat Feli memegangi salah satu sisi wajahnya. "Apa yang terjadi? Apa kau terluka?"


Jay cemas. Ia menggenggam bahu Feli dan menelisik wajah gadis di hadapannya itu dengan seksama.


"T-tidak. A-aku t-tidak apa-apa," ucap Feli terbata seraya menghindari kontak mata dengan Jay.


"Kau bohong lagi." Jay berucap dengan suara yang sedikit meninggi, karena tidak bisa menahan rasa emosi sekaligus kecewanya terhadap Feli.


Feli terdiam dengan kepala yang tertunduk, membuat Jay membuang napas kasar. "Apa ada seseorang yang melukaimu?"


Feli menggeleng samar, seraya mengambil langkah mundur perlahan, menjauhkan diri dari Jay.


"Aku harus kembali bekerja," kilah Feli seraya dengan cepat melangkah, berniat pergi, meninggalkan Jay dengan rasa frustrasi.


"Bapak Ja-" Seorang pria menghentikan ucapan dan langkahnya begitu ia memasuki ruangan Jay.


Bukan hanya ucapan dan langkah pria itu yang terhenti, tapi samal halnya dengan langkah Feli yang hampir saja mencapai pintu.


Mata sang pria membola tatkala beradu tatap dengan netra Feli yang memerah dan berkaca-kaca.


Jay menatap sosok Feli dan si pria yang memaku di tempat mereka berdiri dengan raut wajah terkejut. "Ha-Hayden, mau apa kau kemari?"


Feli terhenyak. Ia dengan cepat mengalihkan pandangan dari Hayden, lalu pergi melewatinya dan ke luar dari ruangan Jay secepat mungkin.


Hayden menoleh ke arah Jay. "A-apa dia menangis?"


Jay terdiam. Dan diam adiknya itu, Hayden anggap sebagai jawaban dari pertanyaan sederhananya.


"Hayden! Kau mau ke mana?" Jay memekik, tatkala ia melihat Hayden memutar tubuhnya ke arah pintu dan bersiap untuk melangkah.


Hayden menoleh ke arah Jay. "Feli. Aku ingin menyusulnya."


"Untuk apa?"


"Menanyakan sesuatu."


"Apa? Kebenaran tentang pengkhianatannya dua tahun yang lalu?" Jay berucap dengan entengnya, seolah mengejek.


Hayden menatap Jay dengan tatapan tajam, bersamaan dengan kedua telapak tangannya yang mengepal, menahan kemarahan.


Ya, perkataan Jay memang benar. Hayden berniat untuk menanyakan perbuatan Feli yang berhasil menggores luka terdalam di relungnya, dua tahun silam.


Namun, tidak ada yang tahu, bahwa saat Hayden merasa Feli mengkhianatinya dan membiarkan hatinya terluka, justru Feli lah yang paling terluka dan menderita, karena Feli terpaksa harus melepaskan satu-satunya kebahagiaan terbesar dalam hidupnya saat itu, yakni Hayden.


Hayden meyakini, bahwa ini adalah saat yang tepat, karena untuk pertama kalinya, Feli menunjukan apa yang tengah ia rasakan pada orang lain secara terang-terangan.


Jay terkekeh sinis sekilas, meremehkan. "Lupakan itu. Apa gunanya kau mencari kebenaran itu sekarang? Bukankah kau akan menikahi kakaknya Feli?" Jay membuang napas kasar. "Tidak ada gunanya kau mencoba memperbaiki hubunganmu dengan Feli sekarang, karena kau sudah melukai hatinya, lebih dalam."


Tbc ....

__ADS_1


__ADS_2