
Merealisasikan apa yang telah diucapkan, Hayden membawa wajahnya mendekati wajah Feli, sebelum kemudian menempelkan bibirnya di bibir istri cantiknya itu sambil tersenyum seringai.
Hanya melabuhkan kecupan singkat tapi manis, membuat pelupuk mata berbulu lentik Feli mengerjap dengan pergerakan cukup cepat beberapa kali, sedang manik mata hazel indahnya gemetar, menatap wajah tampan Hayden yang hanya berjarak beberapa inci saja dari wajahnya dengan tatapan nanar. "Tidak ada bedanya dengan apa yang sudah aku lakukan padamu tadi?"
Tersenyum cerah, Hayden mengangguk mantap, tanpa ragu membenarkan pertanyaan yang sang istri lontarkan. "Memang tidak ada bedanya."
Pelupuk mata Feli mengerjap lagi dengan begitu lugunya, membersamai air muka yang tampak memetakan kepolosan, membuat Hayden gemas bukan kepalang.
"Lalu kenapa kau tadi protes, dan tidak mau menghitung ciuman yang sudah aku lakukan?"
"Karena itu hitungannya memang tidak termasuk ke dalam ciuman, tapi hanya kecupan."
"Tapi kau baru saja melakukan hal yang sama."
Hayden terkekeh melihat wajah cantik Feli merengut, kebingungan. "Karena aku ingin menunjukan apa perbedaan antara kecupan dan ciuman, jadi aku harus memberimu contoh dari keduanya, agar kau bisa mengerti dengan benar."
Feli ber oh ria sembari mengangguk paham dan menundukan pandangan. "Begitu ru-"
Tidak diberi kesempatan oleh Hayden untuk merampungkan perkataan, tepat saat bibir tipis Feli agak sedikit mencebik, Hayden melancarkan aksinya, langsung meraup benda kenyal dan sedari tadi sama sekali tidak luput dari perhatiannya itu, untuk benar-benar diberi ciuman yang sesugguhnya.
Feli sampai kaget. Refleks membulatkan mata, wanita cantik itu menatap manik mata Hayden yang sudah lebih dulu menatap matanya, lamat-lamat.
Mengabaikan debaran jantung yang seketika mengalami percepatan tempo, pun napasnya yang hampir tercekat akibat serangan yang Hayden lakukan, sejurus kemudian, Feli tersenyum di sela-sela ciuman bibir yang sang suami awali.
Merasakan bingkai birai Hayden juga merenggang, memetakan senyum senang sebelum kemudian melabuhkan sesapan kelewat lembut di permukaan bibirnya, Feli menganggak kedua lengan dengan sedikit kepayahan, sebab terhimpit antara tubuhnya dan Hayden.
Mengalungkan kedua lengannya tersebut di ceruk leher sang suami, Felisha memejamkan pelupuk mata, membersamai bibirnya yang ikut bergerak, membalas ciuman Hayden dengan ritme yang lamban, tapi seimbang dan cukup menggairahkan.
Ikut memejamkan pelupuk mata, Hayden memokuskan seluruh atensi yang ia meiliki pada moment manis yang saat ini tengah berlangsung bersama sang istri. Moment manis yang tak gagal membawa sensasi senang dan bahagia seketika begitu membeludak dalam relung hati.
Merasakan sensansi lembut dan manis dari bibir Feli yang saat ini sedang ia jamah, sungguh apa yang saat ini tengah terjadi, masih tidak bisa Hayden percayai, bahwa semua itu memanglah sebuah kenyataan, bukan hanya sebuah ilusi atau bayangan semata.
Hayden tidak pernah mengira, kendati sudah dua tahun lamanya mereka berpisah, sama-sama menganggap kisah asmara mereka telah kandas tanpa pengakhiran resmi, tetapi saat kini kembali bersatu dalam sebuah ikatan yang lebih kuat daripada sebelumnya, rasa cinta di hatinya terhadap Feli, memang masih sangat menggebu, seperti dahulu.
Masih amat sangat menggebu, seakan sengaja mengabaikan waktu yang sudah begitu banyak berlalu.
__ADS_1
"I love you," bisik Hayden begitu dirinya melepaskan pagutan bibirnya dengan sang istri.
Menenggerkan permukaan keningnya di kening Feli, Hayden membuka pelupuk mata, menatap wajah Feli yang seketika memerah, ayalnya seekor kepiting rebus yang matang, dengan tatapan lamat, penuh damba.
Deru napas Hayden memburu, terengah. Embusan napasnya yang hangat, beradu di titik yang sama - saling menyapu permukaan bingkai birai satu sama lain, dengan sang istri.
Bingkai birai Feli yang tampak lebih memerah daripada sebelumnya, perlahan merenggang, memetakan senyum manis, membersamai pelupuk berbulu lentiknya yang terbuka.
Manik mata hazel wanita cantik itu berbinar, tampak gemetar, menyorotkan kelembutan, balas menatap tatapan mata sang suami.
Mengecup singkat bibir Hayden, Feli terkekeh. "I love you more."
Dengan sangat amat instan, saking senangnya, Hayden langsung tersenyum. "Kau baru membayar satu hutangmu. Mau melunasi sisanya sekarang juga?"
"Aku kira sudah dihitung lunas, karena sudah saling menyatakan perasaan," keluh Feli, diakhiri bibir yang mencebik lucu.
Terkekeh kecil, Hayden memberi bibir istri cantiknya itu kecupan gemas. "Tidak bisa begitu. Sepuluh ciuman darimu adalah hutang, sedangkan menyatakan perasaan pada satu sama lain, adalah sebuah kewajiban. Hutang tetaplah hutang, jangan disama ratakan dengan sebuah kewajiban."
"Tapi hutang juga sebuah kewajiban. Kewajiban yang harus dibayar, jika memamg mampu."
Menaikan alis sebelah kanan, Hayden menatap Feli dengan tatapan menantang, ditemani dengan air muka yang memetakan kesan arogan.
Feli mendengkus kasar sembari menenggerkan kedua telapak tangan berjemari lentiknya di permukaan dada bidang Hayden. "Akan aku lunasi," katanya, kemudian mendorong tubuh Hayden.
"Kapan?" Hayden sedikit menyingkir, memberi ruang lebih banyak untuk tubuh Feli yang saat berciuman tadi, sudah tanpa sadar agak ia tindih.
Terlalu fokus pada percakapan yang sengaja Feli giring, Hayden sampai refleks melepaskan tubuh Feli dari rengkuhannya begitu saja, membuat istri cantiknya itu jadi lebih leluasa untuk bergerak.
Sedikit kesusahan, Feli membangkitkan diri dari posisi berbaring, lantas menyeret tubuhnya menuju tepian ranjang. "Nanti lagi, jangan minta dilunasi sekaligus, biar terasa lebih seru," cicitnya.
Menoleh ke arah Hayden sebab duduk di tepian ranjang dalam posisi memunggungi suami tampannya itu, Feli tersenyum.
Hayden mendudukan diri. "Bukannya kalau hutang itu, baiknya dilunas secepat mungkin? Kenapa kau malah ingin mengulur-ngulur waktu, sepertinya?"
"Karena hutang yang aku miliki padamu, bukan hutang berbentuk uang, melainkan sembilan kali ciuman, Hayden." Feli membangkitkan diri dari duduknya. "Kalau hutangku itu merupakan hutang uang, baru ... memang baiknya dengan cepat dilunasi."
__ADS_1
Hayden menaikan alis sebelah kiri, sedang matanya agak memicing, menatap Feli, penuh selidik. Permukaan kening pribari tampan itu mengernyit. "Intinya, kau ingin membayar hutang ciuman yang kau miliki padaku, dengan cara dicicil, begitu?"
"Apa tidak boleh?" Menautkan jemari lentiknya di depan badan, Feli mengulum pelan bibir bawahnya sembari mengerjapkan pelupuk mata dengan lugunya.
Menatap Hayden dengan tatapan memelas, Feli berharap ia bisa memenangkan negosiasi yang saat ini sedang berjalan dengan sang suami.
Hayden diam bergeming dan bungkam, tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari sosom sang istri, tidak langsung memberikan jawaban.
Pria tampan itu menatap lekat wajah cantik tanpa riasan milik Feli dengan tatapan lamat, selagi membiarkan benaknya menelaah, keputusan apa yang sebaiknya ia paparkan.
Sejurus kemudian, setelah beberapa saat hanya diam, sudut bibir sebelah kiri Hayden menukik, hingga sukses memetakan seringaian ngeri penuh arti.
Membuang napas kasar sembari menundukan pandangannya sebentar, Hayden lantas mengangguk. "Baiklah. Kau boleh membayar hutang sembilan ciuman yang kau miliki dengan cara menyicilnya."
Seketika tersenyum senang, Feli menatap Hayden dengan mata yang berbinar, menyorotkan keantusiasan. "Sungguh?"
"Tentu. Tapi ada syaratnya."
Mengernyitkan kening, sedang matanya memicing, diikuti kedua alisnya yang bersebrangan jadi hampir saling bertautan, Feli menatap Hayden yang tengah tersenyum senang penuh kepuasan dengan tatapan nanar. "Syarat?"
Hayden mengangguk mantap. "Hemmm. Syarat."
"Apa syaratnya?"
"Kalau kau ingin membayar hutangmu dengan cara mencicilnya, maka kau harus membayarnya double, karena berbunga."
Melongo, Feli menatap Hayden tidak percaya. "Hey, itu namanya curang!" rengeknya, diakhiri dengan bibir yang spontan mencebik lucu.
Mengidikan bahu kelewat acuh, Hayden memutar badan, lalu membangkitkan diri dari. "Aku tidak perduli. Pokoknya, itu syarat yang harus kau terima, jika memang mau melunasi hutangmu dengan cara mencicilnya."
Wajah cantik Feli merengut geram. Matanya menyalang tajam, menatap Hayden, garang. "Itu artinya, hutangku akan berbunga? Itu akan membuat ciuman yang harus aku berikan padamu, jadi lebih dari sembilan."
Alih-alih terlihat seram, Feli malah tampak sangat menggemaskan dalam pandangan Hayden, kendati istri cantiknya itu sedang marah.
"Sengaja. Agar kau mau terus menciumku, sampai selama-lamanya." Hayden tersenyum puas. "Setiap hari, dimulai dari hari ini."
__ADS_1
Tbc ....