Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Panggilan Menggelikan


__ADS_3

"Hey, Baby!" Hayden menyeru pelan, sedikit bernada menggoda mana kala tiba-tiba ia memeluk tubuh Feli dari belakang.


Feli yang saat ini tengah mengeluarkan bongkahan kecil es batu dari dalam lemari es, dibuat sedikit terkejut dan terhenyak.


Mendengkus, wanita cantik itu melirik Hayden melalui ekor matanya. "Kau mengagetanku, Hayden."


Hayden terkekeh gemas sekilas. "Maaf."


Mendapati Feli kembali fokus pada apa yang sedang dilakukan, Hayden melirik sebuah mangkuk berukuran sedang yang tengah Feli genggam. "Kau sedang apa?"


"Menyiapkan kompresan untuk wajahmu." Feli melirik Hayden lagi. "Bukankah kau bilang, kau mau membersihkan diri? Kenapa masih memakai baju yang sama?"


Hayden melepaskan tubuh mungil Feli dari pelukannya, lalu berjalan ke arah nakas, tempat ia menyimpan bahan makanan yang kering. "Aku berubah pikiran. Sebaiknya, aku membuatkanmu sarapan terlebih dahulu, lalu setelah itu, baru mandi."


Mengeluarkan bahan masakan dari dalam nakas yang berada di hadapannya, Hayden menoleh ke arah Feli, menatap istri cantiknya itu, sekilas "Kau semalam mabuk, pasti kepalamu masih sakit bukan?"


Feli menutup pintu lemari es yang masih terbuka, setelah ia selesai dengan aktifitasnya di sana, kemudian berjalan ke arah Hayden dan berdiri di dekat meja pantry. "Aku baik-baik saja."


"Pembohong."


"Aku tidak berbohong."


Hayden memutar bola matanya malas seraya berjalan ke arah lemari es, untuk mengambil bahan masakan yang lain. "Terserah. Tapi aku tetap akan membuatkan sup pereda mabuk untukmu."


Feli membuang napas kasar. "Kau memang keras kepala."


Mengalihkan pandangannya dari Hayden yang tiba-tiba jadi sibuk sendiri, Feli menjijitkan tumitnya sedikit, ketika ia hendak membuka nakas yang terletak di atas, dekat kepalanya untuk mengambil sebuah handuk kecil dari dalam sana.


"Pendek!" Hayden tersenyum simpul, mengejek saat ia melihat Feli sedikit kesulitan.


Namun, tentu pria tampan itu tidak hanya tinggal diam, ia segera membantu Feli mengambilkan handuk kecil yang istrinya butuhkan tersebut.


"Ini dia, Babygirl," cicit Hayden masih dengan nada mengejek tatkala ia mengulurkan sehelai handuk yang sudah ia genggam ke arah Feli.


Mencebikan bibir sekilas, manik mata hazel indah Feli menyalang, menatap Hayden dengan tatapan garang, memberi peringatan pada suami tampannya itu, bahwa dirinya tidak suka digoda. "Terima kasih."


"Aish, dasar ceroboh." Hayden mengoceh gemas kala melihat Feli hampir saja membenturkan kepalanya pada pintu nakas yang masih terbuka.


Untung saja, Hayden dengan cepat menarik lengannya dan membuat Feli kembali mengambil langkah mundur.


Hayden lantas menutup pintu nakas tersebut, lalu memokuskan seluruh atensinya pada Feli yang ternyata sudah menatapnya dengan tatapan lugu, kali ini.


Kening Hayden mengernyit, keheranan, membersamai alis sebelah kirinya yang terangkat sedikit. "Ada apa? Apa kepalamu terbentur, Baby?"


Feli menggeleng samar sebagai jawaban, membuat Hayden semakin bingung, karena istrinya itu, tak kunjung berhenti menatapnya. "Lalu kenapa?"


Menghela napas dalam, Feli mengembuskannya dengan satu kali hentakan gusar. "Sampai kapan kau akan memanggilku dengan sebutan Baby atau Babygirl? Itu sangat menyebalkan! Juga terdengar menggelikan."


Hayden terkekeh gemas seraya menundukan kepala sekilas. "Mungkin sampai, kita memiliki Baby atau Babygirl yg sesungguhnya," ucapnya, diakhiri senyum manis, menggoda.


Berdecak pelan, Feli menggeleng tidak percaya. Tidak habis pikir saja dengan tingkah Hayden, padahal sebelumnya sudah setuju untuk memulai segalanya dari awal, tapi yang dibahas, selalu saja hal yang bisa dikatakan, jauh sekali dengan awalan yang sudah Feli bayangkan.


"Terserah. Sekarang, biarkan aku mengobati luka di wajahmu. Itu tidak enak dipandang," tukas Feli seraya menundukan kepala. "Membuatku merasa bersalah," imbuhnya.


Hayden tersenyum simpul sekilas. "Baiklah."


"Hey! Apa yang kau lakukan?!" Feli memekik penuh keterkejutan saat Hayden tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


"Kau bilang, kau ingin mengobati luka di wajahku bukan?" tukas pria itu acuh, seraya mendudukan Feli di atas meja pantry yang terletak di dapur tersebut.


Hayden berdiri di antara kedua kaki Feli yang sedikit terbuka, membuat Feli manatapnya dengan mata yang membola, tidak percaya.


Tingkah Hayden memang sangat manis, hanya saja ... Feli masih merasa tidak terbiasa dan justru membuatnya sedikit canggung berada di sekitar suami tampannya itu.


Bagaimana tidak, sikap Hayden terbilang begitu acuh terhadap apa yang terjadi pada hubungan mereka. Permasalahan yang membuat mereka terpisah selama dua tahun lamanya itu, terlihat seolah tidak ada pengaruh apa pun bagi Hayden, sekarang ini, ayalnya sebuah angin lalu belaka.


Tapi baiklah. Bagi Feli tidak apa, selama ia bisa melihat Hayden bahagia. Untuk selanjutnya, ia hanya butuh mempercepat proses penyelesaian masalahnya.


Feli belum tahu, langkah apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu, tapi yang pasti, ia akan melakukan segalanya demi mempertahankan senyum dan rona bahagia di wajah tampan pria yang kini sudah menyandang status sebagai suaminya tersebut.


Feli membuang napas kasar saat ia merasa begitu sesak, karena Hayden terus menatapnya. "Ambilkan mangkuknya," titahnya seraya menunjuk mangkuk berisi bongkahan es batu kecil yang berada di atas meja dekat washtafel.


Hayden pun dengan cekatan melakukan apa yang Feli perintahkan. "Silakan, Nyonya Wilson."


Kedua tangan kekar Hayden bertengger di tepian meja pantry, di kedua sisi tubuh Feli sebagai penopang, membuat jarak wajahnya dan Feli begitu dekat, dengan niat, mempermudah sang istri untuk mencapainya.


Feli terkekeh sekilas. Perlahan dan penuh kelembutan, ia mulai menekan bagian wajah Hayden yang terluka dengan bongkahan es yang sudah ia balut, menggunakan sehelai handuk kecil.


Wanita itu menatap wajah Hayden dengan tatapan sendu, penuh rasa bersalah. "Apa ini sakit?"


Hayden tersenyum simpul. "Tidak."


Manik mata Feli gemetar. Pandangannya sedikit berpendar, menatap setiap inci dari wajah tampan Hayden, meniliknya dengan seksama.


'Sangat tampan.'


Hayden terkekeh renyak, merasa cukup gemas, sedang netranya menatap Feli yang fokus menatapnya. "Aku tahu, aku tampan."


Feli tertegun. Matanya sedikit membola.


"Ah!" Hayden mengerang manakala Feli tanpa sadar menekan wajahnya, terlalu keras.


Feli sampai terkejut bukan main. "M-maaf. A-apa sangat sakit?"


Untuk kesekian kalinya Hayden tersenyum. Ia menengkup punggung tangan Feli dengan sangat lembut, penuh kasih. "Sedikit."


"A-aku akan melakukannya, dengan le-lebih lembut."


Hayden menggeleng samar seraya membawa tangan Feli yang masih ia tengkup ke dekat bibirnya, mengecupnya singkat. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lebih baik kau pergi, membersihkan diri, sementara aku memasak."


Merenggangkan bingkai birai, Hayden mematrikan senyum senang begitu ia melihat raut wajah bingung Feli. "Kita akan pergi ke rumah Nenek'ku hari ini. Kita akan menginap di sana beberapa hari. Jadi bersiap-siap lah."


Raut wajah Feli perlahan mulai berseri, memancarkan rona bahagia. Bibirnya merenggang, mengulas senyum terbaiknya. "Apa kau serius?"


Hayden mengangguk atusias. "Tentu."


Hayden tahu, sedari ia masih berkencan dengan Feli dahulu ... Feli sangat menyukai suasana di rumah neneknya, yang di mana terletak di sebuah pedesaan asri dengan pemandangan yang menyejukan mata. Maka dari itu, dulu Hayden sering kali mengajak Feli berkunjung ke sana.


"Baiklah, aku akan bersiap," sahut Feli, bersemangat.


"Baiklah."


Terdiam sesaat, membiarkan keheningan yang cukup menenangkan menyapa, Feli dan Hayden membiarkan tatapan mereka tetap saling bertemu.


"Bisakah kau menyingkir dariku? Aku tidak bisa pergi," keluh Feli dengan polosnya, memecah keheningan yang menyelimuti dirinya dan Hayden.

__ADS_1


Alis sebelah kiri Hayden terangkat, bersamaan dengan keningnya yang sedikit mengernyit. Sudut bibir pria tampan itu menukik tajam, menunjukan seringaian ngeri penuh aeti, sekilas. "Beri aku ciuman. Di sini," ucapnya seraya mengalihkan wajah dan menunjuk bagian pipinya yang memerah dengan jari telunjuknya.


Feli terkekeh seraya menundukan kepala sekilas. "Baiklah."


Mulai dari sekarang, Feli sama sekali tidak akan keberatan melakukan apa pun, asal ia tetap bisa melihat suaminya itu tertawa dan bahagia.


Bagaimapun caranya, apa pun resikonya, ia akan tetap berusaha sebisa mungkin, untuk membuat senyum manis di bibir indah Hayden tidak memudar sedikit pun.


Perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Hayden, Feli mengerucutkan permukaan bibirnya saat hampir saja mendarat di pipi Hayden, jika saja suami tampannya itu tidak tiba-tiba melakukan pergerakan.


Mata Feli membola. Ia tergelak kaget, ketika tiba-tiba Hayden meluruskan wajah, membuat bibir tipis indahnya mendarat dan beradu dengan bibir suami tampannya itu.


Napas Feli tercekat untuk beberapa saat. Degup jantungnya menggila dengan tempo yang luar biasa cepat.


Tidak membuang waktu untuk memundurkan wajah, mata Feli yang membola, berhasil menangkap senyum Hayden yang merekah, penuh kepuasan.


"Hey! Kau menipuku?!" pekik Feli tidak terima seraya memukul bahu Hayden, sedikit menggunakan tenaga.


Hayden terkekeh gemas, syarat akan kepuasan. "Aku tidak menipumu."


Feli menatap Hayden dengan tatapan tajam. "Ya, kau menipuku."


"Tidak."


"Iya!"


"Tidak."


"Iya!"


"Kau mencintaiku?"


"Iya!"


Feli tertegun, sementara Hayden tersenyum bahagia. "Got it."


Mengerjap, Feli berdehem kikuk. "Penipu!" ucapnya seraya mendorong pelan tubuh Hayden dari hadapannya, lalu turun dari dari meja yang ia duduki.


Hayden mengusap gemas puncak kepala Feli, membuat surai panjang wanita cantiknya itu jadi sedikit berantakan. "Bersiaplah. Aku akan memasak untuk sarapan kita."


Feli merapikan surainya sembari menunjukan raut wajah kesal dengan bibir yang sedikit mengerucut lucu. "Menyebalkan! Aku membencimu."


Hayden tersenyum tipis. "Aku juga. Aku sangat mencintaimu."


"Terserah, penipu!" hardik Feli sebelum pergi dari sana, meninggalkan Hayden yang menatapnya tanpa berhenti memancarkan rona bahagia.


Mendengkus kasar seraya menundukan pandangan, Hayden lantas merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel miliknya dari sana, setelah memastikan sosok Feli sudah menjauh, bahkan menghilang dari pandangan, tertelan jarak, juga terhalang dinding penyekat.


Hayde langsung menghubungi seseorang melalui sambungan suara. Raut wajahnya seketika berubah dalam hitungan detik saja, dari ceria, menjadi dingin, beraura gelap.


"Aku sudah melakukannya," ucapnya dingin, mengawali pembicaraan tanpa basa-basi tatkala seseorang yang ia hubungi, menjawab panggilannya.


"Benarkah?" Suara wanita yang terdengar sedikit ceria, menimpali di sebrang sambungan sana.


"Ya. Semua aset dan kekayaan milik ayahmu, sudah teralihkan menjadi namamu, Janessa. Aku berhasil membuat Feli menandatangani berkas mengalihannya semalam."


Terdengar, Feli terkekeh di sebrang sana, penuh kepuasan. "Baiklah."

__ADS_1


Hayden memutar bola matanya jengah. "Aku akan mengirimkan berkasnya padamu hari ini juga. Pastikan pengacaramu mengurusnya dengan benar, agar aku tidak perlu melakukan rencana ini untuk kedua kalinya."


Tbc ....


__ADS_2