Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Keterlibatan Emely | FlashBack


__ADS_3

Emely - Ibunda dari Hayden mengetahui segalanya sejak awal? Ya. Beliau memang mengetahui segalanya sejak awal.


Mulanya, Emely merasa ada yang janggal, karena tiba-tiba saja Hayden memberitahu dirinya, bahwa anak pertamanya itu, akan menikah, dalam waktu dekat, bahkan terkesan begitu tergesa.


Emely bahkan tidak tahu, sejak kapan Hayden dan gadis bernama Jane yang ia ketahui sebagai calon istri Hayden itu berkencan.


Terlebih setelah beliau mendengar perkataan Emma yang menuturkan bahwa, Hayden pernah membawa seorang gadis berkunjung ke rumah sang Ibunda dan gadis itu bernama Felisha, yang tidak lain dan tidak bukan, merupakan adik dari Jane.


Pagi itu, tepatnya di saat Emely memberitahu kabar bahagia perihal keinginan sang putra untuk menikah pada Emma - sang ibu.


Pagi itu pula, ia mendapat kabar yang cukup membuatnya tercengang, yakni saat tiba-tiba beliau mendapatkan panggilan suara dari Hayden yang mengatakan bahwa, anak pertamanya itu, ingin segera melaksanakan pernikahannya.


Emely yang kala itu masih duduk berhadapan dengan sang ibu, tertegun dan terkejut bukan main.


"Hayden ingin mempercepat pernikahannya?" tanya Emma yang sejak awal, mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut sang putri, saat sang putri berbincang dengan Hayden.


Emely menoleh ke arah sang ibu dengan wajah yang memetetakan kebingungan. Ia mengangguk samar. "Hemmm."


"Apa kau sudah memastikan siapa calon istrinya?"


Emely menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak sempat. Hayden menutup telponnya begitu saja. Tapi Bu ... apa Ibu yakin, jika gadis yang Hayden cintai adalah Felisha? Bukan bernama Janessa?"


Emma mengangguk antusias. "Tentu saja. Ibu sangat yakin."


Emely melurukan pandangan, menatap kosong salah satu sudut ruangan yang ia tempati. "Lalu kenapa, malam itu, Hayden justru melamar Janessa?"


"Apa maksudmu?"


Emely mengerjap. Ia dengan cepat menoleh ke arah Emma yang sudah menatapnya dengan raut wajah cemas. "Entahlah, Bu. Aku yakin, Hayden sedang merancanakan sesuatu di hari pernikahannya yang terkesan mendadak dan terburu-buru ini. Aku harus mencari tahu."


Emely lantas segera menghubungi Jay saat itu juga. Dan Emma hanya diam, memperhatikan setiap gerakan dan apa pun yang sang putri lakukan.


"Jay, apa kau sedang sibuk Sayang?" sapa Emely tanpa basa-basi, begitu Jay menerima panggilannya.


"Tidak, Bu. Ada apa? Apa Ibu memerlukan sesuatu?"


"Kosongkan seluruh jadwal pekerjaanmu untuk besok. Hayden mempercepat pernikahannya dan dia ingin dilaksanakan besok."


"Apa?! Apa Ibu serius?"


Jelas, Emely sudah menebak reasksi apa yang akan Jay tunjukan melalui suaranya yang meninggi, penuh keterkejutan luar biasa.


Emely membuang napas kasar. "Ibu sangat serius. Kakakmu sendiri yang memintanya."


"Apa dia gila? Bagaimana bisa dia mempercepat rencana pernikahannya dengan gadis yang sama sekali tidak ia cintai?!"


Penuturan Jay di sebrang sana, berhasil membuat Emelt terkejut. Penuturan yang didominasi kemarahan itu, jelas memperkuat dugaannya terhadap pernikahan yang Hayden rencanakan.


"Jadi, Hayden tidak mencintai Jane? Lalu siapa yang dia cintai? Apa, Felisha?" Emely bertanya pada Jay dengan sangat hati-hati.


Hening. Tidak ada suara apa pun yang terdengar dari sebrang sambungan sana, kecuali sebuah deru napas berat begitu Emely merampungkan perkataannya.


"Jayden?"


Masih hening. Keheningan itu, sungguh membuat Emely merasa sangat frustrasi dan membuat ia yakin, bahwa Jay pun mengetahui sesuatu.


Atau, lebih tepatnya, Emely mencurigai, bahwa Jay tahu, bagaimana hubungan Felisha dan Hayden, sebelum tiba-tiba Hayden memutuskan untuk menikah.


"Jayden? Apa kau akan tetap diam? Ibu tahu kau mengetahui sesuatu tentang Hayden dan Feli. Beritahu Ibu."


Terdengar embusan napas berat di sebrang sambungan sana. "Aku tidak bisa memberitahu Ibu. Lebih baik, Ibu menanyakannya sendiri pada Hayden."


Jay pun mengakhiri panggilan tersebut begitu saja, tanpa memberi waktu pada Emely untuk mengatakan apa pun.


Sungguh, bukanlah perkara mudah bagi Emely, agar ia bisa mengetahui segalanya.

__ADS_1


Seharian itu, Emely berusaha menghubungi Hayden terus menerus. Namun, Hayden sama sekali tidak menggubris satu pun panggilan darinya, sebab tengah sibuk memilih gaun pernikahan.


Dan lagi, Emely sendiri pun, disibukan dengan berbagai kegiatan persiapan untuk pernikahan sang putra, begitu ia memutuskan untuk segera kembali dari rumah sang ibu.


Pada siang hari, anggap saja, dewi keberuntungan tengah berpihak pada Emely hari itu.


Saat ia dan beberapa orang kepercayaannya tengah sibuk mengecek proses dekorasi tempat pesta pernikahan Hayden akan dilangsungkan, ia kedatangan tamu yang sungguh tak ia duga.


Hayden dan Felisha. Mereka berjalan beriringan, menghampiri Emely.


Tentu, Emely tidak membuang kesempatan emas tersebut untuk menemukan jawaban dari kecemasan yang hari itu telah mengungkung dalam relungnya sejak pagi.


Menyadari kehadiran Hayden dan Feli, Emelu pun lantas berjalan, menghampiri mereka yang juga masih berjalan ke arahnya. Ia menyambut kedatangan mereka dengan keramah tamahannya yang luar biasa.


"Hey, Hayden. Kau datang?"


Hayden tersenyum. "Hemmm. Aku hanya mengantar Feli untuk melihat dekorasi gedung."


Emely menoleh ke arah Feli yang saat itu berdiri di samping Hayden dengan kepalanya yang tertunduk, gugup. "Hey, Feli. Kau adiknya Jane, bukan? Lalu di mana Kakakmu?"


Feli membungkukan setengah tubuhnya sekilas, sebagai tanda hormat. Ia tersenyum kikuk saat pandangannya bersirobok dengan pandangan Emely. "Kakakku tidak bisa datang, karena ada urusan yang tidak bisa diwakilkan Nyonya. Jadi aku yang datang kemari."


Emely mengangguk samar sambil tersenyum hangat. "Baiklah. Kalau begitu, silakan jika kau ingin melihat-lihat terlebih dahulu. Aku dan Hayden, ingin berbincang sebentar saja. Kau tidak keberatan'kan, Sayang?"


Feli mengerjap, lalu tersenyum simpul. "Tentu Nyonya."


Emely tersenyum hangat penuh kasih, sebelum menoleh ke arah Hayden yang sudah menatapnya, keheranan. "Kita perlu bicara Hayden."


"Tentang apa?"


"Banyak hal. Tapi tidak di sini. Kita akan bicara di lantai atas."


Emely menoleh ke arah Feli yang masih berdiri, memaku di sana. Ia tersenyum lembut. "Kami permisi dulu ya, Felu. Kau bisa melihat-lihat lebih dulu. Jika ada dekorasi yang tidak kau sukai, katakan saja padaku, hemmm?"


Feli mengangguk ragu. "Baik, Nyonya."


"Apa yang sedang kau rencakan?" Emely bertanya tanpa basa-basi, begitu mereka tiba di anak tangga yang berada di dalam gedung tersebut.


Emely dan Hayden berdiri saling berhadapan. Kedua lengan Emely menyilang di bawah dada. Netranya menatap Hayden dengan tatapan tajam, penuh keseriusan.


Sementara Hayden, menatap sang ibu dengan raut wajah juga sorot mata penuh kebingungan. "Apa maksud Ibu?"


Emely membuang napas kasar. "Hayden Brent Wilson. Ibu tahu kau menyembunyikan sesuatu dari Ibu. Felisha. Bukankah, dia gadis yang kau cintai dan ingin kau nikahi? Lalu, kenapa kau malah melamar kakaknya?"


Menundukan pandangan, memutuskan kontak mata yang tengah berlangsung dengan sang ibu meski hanya sesaat, Hayden mendengkus, lantas terkekeh kecil. "Ibu mengetahui hal ini dari mana? Jay?"


Emely menggeleng samar. "Bukan. Tapi dari nenekmu. Ibu dengar, kau sering mengajak Feli ke rumah nenekmu. Kau berkencan dengan Feli, Lalu sekarang, kenapa kau ingin menikahi kakaknya?"


Hayden kembali terkekeh sekilas, memberi kesan meremehkan, seakan pembahasan yang saat ini tengah ia perbincangkan dengan sang ibu, tak lebih dai sekadar gurauan belaka.


Pria tampan pemilik tubuh tinggi kekar itu lantas memutar tubuhnya, menghadap ke arah trali besi yang menjadi pembatas tepian anak tangga. "Aku tidak ingin menikahi kakaknya. Aku ingin menikahinya," lirihnya, tatkala netranya sibuk, menatap sosok Feli yang tengah berbincang dengan petugas dekorasi di bawah sana.


Emely perlahan mengikuti, ke mana pandangan dari manik jelaga beraura gelap, penuh kesedihan Hayden tertuju.


"Tapi dia mengkhianatiku, dua tahun yang lalu. Ibu masih ingat malam itu, bukan? Malam di mana, aku hancur karena ulah seorang gadis."


Mata Emely seketika membola, bersamaan dengan mulutnya yang sedikit menganga, tidak percaya pun terkejut luar biasa.


Beliau lantas dengan cepat menoleh ke arah Hayden dan menatapnya, kaget.


Tentu, sampai kapan pun, Emely tidak akan pernah melukapan kenyataan, bahwa Hayden Brent Wilson - putra pertamanya, pernah mengalami patah hati, sampai titik di mana, Hayden mengalami depresi.


Bisa dikatakan, kejadian itu membawa ketakutan tersendiri sampai saat ini, bagi Emely.


Emely tahu, bahwasannya depresi bukanlah perkara mudah untuk di hadapi, penderitanya bisa saja melakukan sesuatu yang cukup berbahaya, terutama bagi si penderita itu sendiri.

__ADS_1


Menoleh, menatap sang ibu dengan tatapan sendu yang memiliki banyak arti di dalamnya, Hayden terkekeh getir sembari menundukan pandangannya ekilas, sebelum kemudian memokuskan kembali seluruh atensinya ke arah Feli. "Tapi, anehnya, aku masih meyakini, bahwa dia tidak bersalah. Aku merasa, dia sama sekali tidak melakukan kesalahan malam itu. Maka dari itu, aku menerima tawaran kakaknya."


Emely mengerjap. Kerutan yang tampak cukup dalam, seketika memeta di permukaan keningnya, membuat kedua alisnya yang bersebrangan, hampir saling bertaut.


Mata Emely memicing, menatap Hayden, nanar. "Tawaran? Tawaran apa maksudmu?"


Hayden menundukan kepala sekilas seraya membuang napas kasar. "Anggap saja, tawaran untuk balas dendam."


Mempertemukan pandangan dengan sang ibu, permukaan bingkai birai Hayden merenggang, memetakan senyum lirih. "Jane menawarkanku sebuah perjanjian. Dia ingin aku memalsukan pernikahan kami pada adiknya, yakni Felisha."


Pria tampan itu menoleh lagi ke arah Feli, lalu tersenyum manis, kendati tatapannya tampak begitu sendu. "Aku pikir, aku sudah gila karena aku tidak berpikir lebih dulu dan menerima tawaran konyolnya itu begitu saja. Tapi, saat aku mengingat, aku bisa kembali memiliki Feli dalam hidupku juga dapam pelukanku, selamanya, aku yakin, aku tidak akan menyesal."


Emely diam memaku. Ia bergeming tanpa mengalihkan sedikit pun atensinya dari Hayden, menilik putra pertamanya itu dengan seksama. "Aku tidak mengerti.


Hayden terkekeh kecil. "Aku juga tidak tahu, bagaimana harus menjelaskan semuanya, Bu. Ini terlalu rumit. Tapi yang pasti, pernikahanku besok, akan tetap terjadi. Hanya saja ... pengantinnya bukanlah Jane, melainkan Felisha."


Emely berusaha mencerna setiap kata yang Hayden lontarkan. Namun, seperti apa yang Hayden katakan, semua itu rumit, hingga Emely pun saat itu juga, mengerti, serumit apa rencana yang telah sang putra dan Jane persiapkan.


"Lalu bagaimana dengan Jane?"


"Dia akan menghilang, seolah kabur di hari pernikahannya sendiri dan meninggalkanku. Karena pada kenyataannya, Jane pun sudah mencitai orang lain, bahkan saat ini, ia tengah mengandung buah cintanya dengan lelaki itu."


"Lalu, dengan begitu, Feli dengan terpaksa harus menggantikannya. Itu rencanamu?"


Hayden tersenyum, penuh kepuasan. "Tepat sekali."


"Tapi bagaimana jika ia menolak dan lebih memilih untuk membatalkan pernikahanmu dan kakaknya itu?"


Hayden menoleh ke arah sang ibu sekilas, lalu kembali ke arah Feli dan menatapnya dengan tatapan arogan, bersamaan dengan sudut bibirnya sebelah kirinya yang menukik tajam, mengulas seringaian ngeri penuh arti. "Bukankah, itulah gunanya Ibu mengetahui rencanaku. Ibu bisa membantuku untuk meyakinkan Feli, agar ia bersedia menggantikan Jane, bukan?"


Mata Emely membelalak, menatap sang putra pertama dengan raut wajah terkejut luar biasa. "Kau bodoh? Apa kau serius?!" Ia memekik, seraya memukul lengan Hayden sekuat mungkin, membuat Hayden sampai mengerang, kesakitan.


"Ah, Ibu. Itu sakit." Hayden meluruskan tubuhnya, kembali berdiri saling berhadapan dengan sang ibu seraya mengusap lengannya.


"Kau dan rencanamu itu, benar-benar gila."


"Ibu ... kau bisa melakukan itu untukku, kan? Hem? Tolonglah, Bu?" rengek Hayden, mencoba membujuk sang Ibu.


Emely memaku beberapa saat di sana. Netra teduhnya beradu pandang dengan netra teduh Hayden, tak teralihkan sedetik pun.


"Tapi, apa keuntungan bagi Jane, jika rencana ini berhasil?"


Hayden mendengkus sembari membiarkan persendian di kedua bahunya agak sedikit melemas. "Dia akan mendapatkan seluruh kekayaan milik ayahnya yang sudah menjadi atas nama Feli."


Mata Emely membola untuk ke sekian kalinya. "Kupikir, kau benar-benar sudah gila. Jika kau melakukan itu, lalu bagaimana dengan Feli?"


Hayden menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Ia meraih salah satu tangan sang ibu, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. "Aku bisa menjamin segala kebutuhan Feli. Harta dan kekayaan, aku bisa memberikan segalanya, untuk Feli. Aku hanya ingin cintaku kembali. Aku hanya ingin Feli."


"Tapi, apa kau yakin, Feli juga menginginkan hal yang sama?"


Hayden menganggukan kepala dengan tegas, mutlak akan keyakinannya yang sudah ia tekadkan dan bulat, tidak bisa diganggu gugat. "Jika pun tidak. Setidaknya aku yakin, bahwa Feli, masih mencintaiku."


Di situlah. Emely bisa bisa melakukan prores atau pun penolakan, ia bergeming.


Jelas Emely sangat ingin melihat Hayden hidup bahagia, bersama wanita yang selama ini putra pertamanya itu cintai.


Emely rela melakukan apa pun, demi melihat Hayden keluar dari kehidupan yang selama ini dijalaninya, setelah mengalami depresi, yakni kehidupan yang selalu diselimuti kegelapan.


Emely rela melakukan apa pun, demi kebahagiaan Hayden, hingga terjadilah pernikahan yang diawali kata terpaksa tersebut, karena pada kenyataannya, Feli tidak punya pilihan lain hari itu.


Yang ada dalam benak Feli adalah, ia tidak ingin melihat Hayden jatuh ke dalam lubang kesedihan terlalu dalam, seperti dirinya, hingga lupa bagaimana caranya menarik diri untuk ke luar.


Ia tidak ingin Hayden terpuruk dan menjadi orang yang paling dipermalukan di acara pernikahan yang ia tahu, seharusnya terjadi antara kakaknya dan mantan kekasihnya itu.


Namun, pada akhirnya Feli pun menyadari, bahwa segalanya sudah terencakan dengan begitu sempurna dari awal. Apakah ia menyesal? Atau mungkin bersyukur?

__ADS_1


Entahlah. Bahkan, Feli sendiri pun, masih tidak mengetahuinya. Hingga saat ini ia tidak tahu, apa yang sebenarnya ia rasakan, terkait pernikahannya dengan Hayden tersebut.


Tbc ....


__ADS_2