Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Mandi Bersama atau Memberi Ciuman


__ADS_3

Tersenyum sumbringah, Hayden melepaskan rengkuhan dari tubuh Feli, lantas tanpa ancang-ancang mengangkat tubuh istri cantiknya itu di kedua lengannya dengan gaya pengantin.


Feli tergelak kaget. Matanya spontan membelalak, menatap Hayden, penuh keterkejutan.


"Lets go!" Hayden menyeru, penuh semangat.


"Hey! Tunggu, aku belum selesai bicara!"


Hayden yang baru mengambil sekitar tiga kali ayunan langkah untuk segera membawa Feli ke kamar, seketika menghentikan pergerakan.


Menunduk, membiarkan manik mata jelaganya bersitatap dengan mata Feli, pribadi tampan itu mengernyitkan kening. "Apa lagi yang ingin kau bicarakan?"


Feli menepuk pelan permukaan bahu Hayden beberapa kali. "Turunkan aku dulu."


"Apa harus?"


"Ya, harus. Kita perlu melakukan diskusi dulu, nanti tanganmu bisa pegal kalau terus menggendongku."


"Aku kuat, bisa menggendongmu semalaman."


Mendengkus, Feli memutar bola matanya malas, lantas mengangguk pasrah, mengiyakan perkataan congkak sang suami. "Ya, ya. Baiklah, si paling kuat."


"Aku serius, kau tahu?"


Feli terkekeh sinis, meremehkan. "Tentu aku tahu. Tapi, akan tidak nyaman bagiku, jika harus berdiskusi denganmu dalam posisi seperti ini."


Hayden mengangguk paham. "Baiklah."


Mengedarkan pandangan, menelisik keadaan sekitar, pria tampan itu kemudian melanjutkan ayunan langkah begitu saja, membuat Feli memicingkan mata, menatapnya, nanar.


"Kau mau membawaku ke mana?"


"Mencari tempat dan membuat posisi yang enak," tukas Hayden, sedikit terdengar ambigu bagi Feli, hingga istri cantiknya itu menatapnya, kaget.


"Apa maksud dari perkataanmu?"


Menghentikan langkah, Hayden menunduk, menatap Feli sambil tersenyum dengan begitu manisnya. "Tergantung dari bagaimana cara otakmu menangkap perkataanku."


"Aduh! Hayden!" Feli sedikit menjerit sembari memejamkan pelupuk mata saat Hayden tiba-tiba mendudukan diri, tanpa melepaskan tubuhnya.


Hayden membawa Feli ke ruang keluarga dari penginapan yang saat ini sedang dikunjunginya, mendudukan diri di salah satu sofa panjang yang tertata di sana.


Tubuh Feli berada tepat di atas pangkuan Hayden. Tidak memiliki niatan sama sekali untuk melepaskan, pria tampan itu memeluk posesif tubuh Feli, membiarkan kedua lengan kekarnya melingkar sempurna di area pinggang sang istri.


Feli yang sempat terkejut, karena tidak diberi waktu untuk mempersiapkan diri saat Hayden tiba-tiba duduk tadi, refleks melingkarkan kedua lengannya di leher jenjang sang suami.


Perlahan membuka pelupuk mata, Feli langsung memberi Hayden tatapan tajam, sedang yang ditatap terus menerus melemparkan senyum manis, tanpa dosa.


"Sekarang posisinya sudah membuatmu nyaman?"


Membuang napas kasar, Feli mencoba membangkitkan diri, ingin beranjak dari pangkuan Hayden, akan tetapi ... tentu saja dengan instan mendapatkan pencegahan.


"Kau pikir, aku akan melepaskanmu begitu saja?" Hayden bertanya dengan entengnya.


"Kau sungguh-sungguh tidak akan melepaskanku?"


Hayden menggeleng tegas, kendati senyum manis andalannya kembali memeta di bingkai birai. "Kau tahu jawabanku, bahkan tanpa harus aku katakan, kan?"


Feli mendengkus, pasrah. Tahu bahwa Hayden memanglah bebal, suka sekali bersikap semaunya, sedang dirinya tidak suka, jika harus memperdebatkan setiap tindakan yang dilakukan suami tampannya itu. "Baiklah. Lakukan apa pun yang kau mau."


Hayden terkekeh. "Jaga perkataanmu, Baby. Jika aku salah mengartikan dan sungguh-sungguh melakukan apa pun yang aku mau-" ada jeda tiga detik. Cukup untuk Hayden mendekatkan wajahnya dengan Feli, sebelum kemudian mencuri kecupan di bibir sang istri. "kau akan terkena masalah," bisiknya, menggoda.

__ADS_1


Feli memukul pelan permukaan bahu sebelah kanan Hayden. "Berhenti bermain-main, bisa tidak?"


Hayden tersenyum miring, lebih ke - menyeringai ngeri penuh arti. "Baiklah. Jadi ... apa yang ingin kau diskusikan lagi denganku?"


Manik mata Feli gemetar, menilik air muka juga sorot mata Hayden, hanya untuk sekadar memastikan, jika suami tampannya itu sudah cukup serius meladeni dirinya. "Kau ingat, jika sebelumnya aku setuju, untuk mandi bersamamu?"


Hayden mengangguk penuh semangat. "Tentu saja."


"Itu sebenarnya hanyalah salah satu dari dua pilihan yang ingin aku berikan padamu."


Kening Hayden mengernyit, menandakan pribadi tampan itu masih belum memahami dengan pasti, maksud dari perkataan sang istri. "Pilihan? Pilihan apa?"


Feli mengangguk sambil tersenyum. "Kita membuat perjanjian sebelumnya. Kau memintaku untuk memberimu ciuman, hanya agar kau bersedia memberitahuku, alasan di balik perubahan mood bahagiamu. Kau ingat itu juga?"


Hayden menaikan alis sebelah kirinya. Matanya agak memicing, menatap Feli, penuh telisik. "Ya. Lalu?"


Senyuman yang sempat meredup di permukaan bibir Feli saat wanita cantik itu berucap, kembali merekah indah dengan sempurna, tampak lebih manis, daripada senyum sebelumnya. "Kau harus memilih salah satu. Mau aku memberimu ciuman, atau mandi bersama?"


Mendengkus sembari tersenyum sinis, Hayden memberi Feli tatapan juga gelagat arogan. "Tentu saja aku akan memilih yang kedua. Apa kau masih perlu bertanya?"


Feli menaikan alis sebelah kirinya sembari tersenyum miring. "Kau yakin?"


"Tentu. Karena dengan mandi bersama, aku bisa mendapatkan hal lebih, dari hanya sekadar ciuman."


Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Feli sengaja ingin menahannya agar tidak merenggang, mengulas senyum senang, mendapati Hayden bersikap begitu percaya dirinya. "Kau benar sekali. Dengan mandi bersama, kau bisa melihat seluruh tubuhku. Kau sangat menginginkan itu, kan?"


Sorot mata Hayden berbinar, dipenuhi rasa antusias yang juga dalam satu waktu, seketika menyeruak, memenuhi rongga dada, membangkitkan adrenalin yang terpacu saat itu juga.


Feli terkekeh kecil melihat reaski penuh semangat yang Hayden tunjukan. Menenggerkan telapak tangan di permukaan pipi sebelah kiri Hayden, ia melabuhkan usapan juga sentuhan lembut menggoda, bahkan terkesan begitu sensual, di sana.


"Tapi bagaimana, jika aku hanya mengijinkanmu untuk melihatnya saja. Tidak boleh menyentuh barang seinci pun, bahkan hanya dengan ujung jemarimu saja," tutur Feli dengan suara pelan dan manisnya, ayalnya sebuah bisikan menggoda.


Rona dan sorot antusias yang terpatri di air muka juga tatapan mata Hayden, meredup seketika, begitu pria tampan itu mendengar sang istri merampungkan penuturan.


Hayden mengerjap. "Kau sungguh-sungguh?"


Feli mengangguk mantap sambil tersenyum. "Tentu saja." Ia lantas memberanikan diri untuk mengecup pipi sebelah kana Hayden. "Kita hanya akan berada di dalam satu ruangan yang sama, dalam keadaan tanpa busana, tapi tidak melakukan sentuhan sedikit pun."


"Itu namanya penyiksaan," tukas Hayden, setengah merengek juga mengaduh, tidak terima.


Feli terkekeh. "Maka dari itu, aku menyebutnya sebuah pilihan. Kau yang tentukan, mendapatkan ciuman dariku, atau sebuah siksaan, karena harus melihat tubuhku, tanpa bisa kau labuhkan sentuhan."


Tersenyum menyeringai, Hayden mempererat pelukan, membawa tubuh Feli semakin mendekat, hingga benar-benar tidak menyisakan sedikit pun jarak.


Tubuh Hayden saling bertekanan dengan tubuh Feli, bahkan pribadi tampan itu sampai bisa merasakan, lekukan dada indah istri cantiknya itu begitu penuh, padat dan berisi, menekan permukaan dadanya.


"Kau tahu, jika aku mampu, kalau sekadar untuk memaksamu melayaniku dan memuaskan hasratku kan, Baby?" Hayden bertanya dengan sebuah bisikan menggoda, tepat di dekat daun telinga sebelah kiri Feli.


Sengaja mendaratkan kecupan di sana, bahkan menggigitnya dengan begitu pelan, membuat sekujur tubuh Feli meremang.


Alih-alih takut, Feli malah tersenyum. Menatap manik mata jelaga indah Hayden dengan tatapan lekat, ia mengusap rahang tegas suami tampannya itu dengan pergerakan lembut menggoda, lantas mengangguk. "Hemmm. Tentu. Aku tahu, itu."


"Lalu, kenapa sepertinya kau sangat ingin menguji kesabaranku?"


Feli terkekeh kecil. "Karena aku tahu, kau terlalu mencintaiku, sampai tidak mau menyakitiku dengan cara apa pun itu."


Hayden mendengkus kasar seraya mendongakan kepala, membiarkan tengkuk juga punggungnya bersandar di kepala sofa.


Pelupuk mata Hayden mengerjap, sebelum kemudian memejam. Menelan ludah kasar, pria tampan itu sedikit memperlonggar rengkuhan dari tubuh sang istri. "Kau curang!" rengeknya.


Feli tersenyum gemas. "Jadi, apa keputusanmu?"

__ADS_1


Menegakan kembali posisi duduk sambil membuka mata, Hayden menatap Feli dengan tatapan lamat. "Kau sungguh tidak akan mengijinkanku untuk menyentuhmu sama sekali, jika aku memilih untuk mandi bersama?"


"Kau pikir, aku akan memberimu pilihan, jika pilihannya sama-sama memberimu keuntungan?"


Hayden menghentak kesal seperti anak kecil yang sedang merajuk. "Kau kejam sekali!" rengeknya.


Feli terkekeh. "Ini sudah malam, cepat putuskan."


Membuang napas kasar, Hayden menundukan pandangan, memutuskan kontak mata dengan Feli, meski hanya sesaat. "Baiklah. Aku memilih untuk menerima ciuman darimu saja, sebanyak sepuluh kali."


Mata Feli membola, menatap Hayden, kaget. "Sepuluh kali? Bukannya, sebelumnya hanya lima?"


"Itu jika kau langsung melakukannya begitu kita tiba, tadi. Kau kan cukup banyak mengulur waktu, jadi jumlahnya bertambah dua kali lipat, karena ada bunganya."


Feli melongo, menatap Hayden, tidak percaya. "Kau ini, rentenir ciuman atau apa?"


Hayden mengindikan bahunya, acuh. "Aku bisa merangkap jadi apa saja, selama menerima keuntungan."


Feli berdecih pelan. "Dasar curang."


"Kalau tidak mau memberi sepuluh ciuman untukku, ya sudah. Ayo kita mandi bersama saja, tapi biarkan aku menyentuhmu. Tak masalah, walau hanya aku yang banyak bekerja, kau hanya perlu diam, menikmati kenikmatan."


Feli memukul permukaan dada Hayden. "Apa maksudnya?"


Hayden menatap Feli dengan tatapan berbahaya, ayalnya seekor singa yang sedang mengincar mangsanya. "Aku tahu, kau mengerti maksudku."


"Tidak." Feli berdehem kikuk, sedang wajahnya seketika memerah, karena tersipu. "Aku sama sekali tidak mengerti."


Hayden tersenyum, seringai. "Jadi, mau mandi bersama, atau memberi sepuluh ciuman. Kusarankan, kau memilih pilihan pertama."


"Tidak. Aku akan memilih yang kedua saja. Sepuluh ciuman." Feli membangkitkan diri, beranjak dari pangkuan Hayden dan kali ini tidak mendapatkan pencegahan sama sekali.


"Akan aku lakukan, saat aku selesai mandi nanti."


"Tidak mau mandi bersama saja?"


Feli berdehem kikuk lagi sambil menggeleng. "Tidak."


Hayden mengangguk paham. "Baiklah. Aku juga akan mandi dan mempersiapkan diri untuk mendapatkan ciuman darimu, kalau begitu."


Membangkitkan diri dari duduknya, Hayden berdiri tepat di hadapan Feli dengan jarak tidak seberapa, jauhnya.


Membungkukan tubuh, mencondongkan diri ke arah Feli guna mengimbangi tinggi tubuh mereka yang memang agak timpang, Hayden memastikan jika posisi mulutnya berada sejajar dengan daun telinga sebelah kanan sang istri.


Tersenyum, Hayden melirik wajah tegang Feli. "Bersiap saja, karena walau hanya dengan ber-ciuman, aku pastikan, aku bisa membuatmu menginginkan hal lebih," bisiknya, menggoda.


Persendian di sekujur tubuh Feli menegang, menemani darahnya yang berdesir, sedang tempo dari debaran jantungnya mengalami percepatan, terutama saat merasakan, embusan napas hangat Hayden, menyapu permukaan ceruk lehernya.


Feli mengerjap sembari menelan ludah kasar dengan sedikit kepayahan. Berdehem, ia lantas mengambil langkah mundur, guna menciptakan jarak dengan Hayden.


Hayden menegakan posisi berdirinya, lalu tersenyum saat manik mata jelaga indahnya bersitatap lagi dengan mata Feli.


Mata Feli mendelik, menatap wajah tampan Hayden, penuh hardik. "Jangan terlalu percaya diri!"


Hayden terkekeh. "Lihat saja nanti."


"Terserah. Aku mau mandi dulu," sergah Feli dengan suara yang sedikit gemetar.


Memutar tubuh, wanita cantik itu lantas pergi begitu saja, meninggalkan Hayden yang tersenyum sambil memperhatikan dirinya.


Hayden terkekeh saat melihat sosok Feli mulai menjauh dari pandangan. "Sangat menggemaskan."

__ADS_1


Tbc ....


__ADS_2