Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Panik Atack


__ADS_3

"Ini semua salahmu Felisha!"


Perkataan itu terus berputar dalam benak Feli tatkala Hayden selesai menjelaskan secara rinci segalanya, tentang apa yang sebenarnya hendak ia lakukan dua tahun yang lalu.


"Ini semua salahmu!"


Di titik ini, serangan panik mulai melanda wanita cantik itu. Ia masih duduk di pangkuan Hayden, namun benaknya sibuk mengulang kata yang sama, hingga ia tak dapat memokuskan seluruh atensinya pada apa yang ada di sekitarnya.


Tubuh Feli mulai gemetar dengan hebat. Telinganya berdengung, terus menerus mendengar halusinasi yang mengatakan bahwa dirinyalah yang bersalah seutuhnya.


Deru napasnya tak stabil. Degup jantungnya berpacu dalam tempo tidak normal. Pandangannya menjalar tak tentu arah. Saat rasa panik menyerang, tubuhnya benar-benar tidak bisa diam, seolah lepas kendali.


Hayden yang menyadari perubahan sikap dari sang istri pun, menatapnya, keheranan. "Hey. Apa kau baik-baik saja?"


Feli menelan ludahnya dengan susah payah. Ia berusaha keras untuk kembali mengambil alih kontrol atas dirinya. Untuk saat ini, ia tidak bisa membiarkan serangan panik yang sering ia alami, menang begitu saja.


Feli dengan cepat bangkit dari pangkuan Hayden, membuat suaminya itu, bingung bukan main. "A-aku pinjam k-kamar mandimu sebentar," terangnya dengan suara gemetar.


Tak membuang waktu, Feli memutar tubuh, lantas berjalan dengan sedikit tertatih, memasuki kamar mandi.


Hayden memaku. Ia benar-benar tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Feli. Kenapa tingkahnya berubah begitu ia merampungkan penjelasan panjangnya.


Sedang Feli yang sudah berada di kamar mandi, dengan sengaja mengunci pintunya dari dalam, sedia payung sebelum hujan, takut-takut Hayden menyusulnya.


Oh Tuhan, tubuh wanita malang itu gemetar dengan tempo yang luar biasa hebat. Napasnya tersengal-sengal, begitu berat dan sesak. Keringat dingin mengucur deras, sebagian besar mengembun di keningnya.


"J-Jay. A-aku harus meminta bantuan J-Jay," gumamnya lirih.


Dengan tangannya yang gemetar hebat, Feli merogoh saku jumper oversize yang ia kenakan dan mengeluarkan ponselnya dari sana.


Feli bahkan tidak mampu menggenggam benda pipih yang ringan itu dengan benar. Tangannya terus gemetar, tidak mau barhenti.


Feli berusaha mengatur napasnya dengan sangat hati-hati manakala ia sabar menunggu Jay yang tengah ia hubungi, untuk menjawab.


"Hallo? Feli?"


Feli membuang napas kasar yang berasal dari sedikit rasa lega saat ia mendengar suara manis Jay menyapa rungunya lewat ponsel yang ia tenggerkan di daun telinga.


"J-Jay. Boleh a-aku meminta b-bantuanmu sekarang?"


"Hey. Apa yang terjadi? Kenapa suaramu gemetar? Apa kau baik-baik saja?" Jay di sebrang sana terdengar begitu panik ketika mendengar Feli mulai berucap.

__ADS_1


Feli menelan ludahnya dengan susah payah. Serangan paniknya masih di sana, setia menyiksanya, baik secara fisik, ataupun mental sekalipun.


Jika sudah begini. Feli bisa saja tak sadarkan diri kapanpun. Telinganya masih berdengung, terus menerus mendengar kata yang sama.


"Ini semua dalahmu, Feliha!"


Kepalanya mulai terasa berat dan pening. Ia berusaha keras untuk tetap menjaga kesadaran dirinya. Yang saat ini Feli butuhkan adalah ....


"O-obat. A-aku butuh obat anti depressanku. B-bisakah kau mengambilkannya untukku Jay? A-aku sangat membutuhkannya saat ini. A-aku mohon."


"Hey. Tenangkan dirimu Feli. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan mengambilkan obat itu untukmu. Katakan saja, di mana kau menyimpannya?"


Air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Feli yang sebelumnya tidak berair sama sekali, ia sungguh tersiksa bukan main dengan serangan panik yang acap kali menimpanya itu.


Tubuhnya perlahan melemah. Kedua kakinya melemas, tak sanggup lebih lama menopang berat tubuhnya. Tubuh mungil wanita cantik itu merosot, tergoleh lunglai di lantai.


Matanya terpejam. Deru napasnya masih berat luar biasa terengah-engah. "A-aku meninggalkannya di kamar hotelku. Di dalam tas kecil yang kusimpan di laci nakas, samping tempat tidur. T-tolong bawa itu ke kamar Hayden. A-aku sedang ada di k-kamar mandinya sekarang."


"Baiklah. Aku akan segera mengambilkannya untukmu. Kau harus berusaha menenangkan dirimu. Jaga kesadaranmu sampai aku datang Feli. Aku akan cepat mengambilkannya untukmu," Jay bertutur sambil bernapas dengan tempo yang berat.


Dapat dipastikan, ia berbincang bersama Feli sembari berlari untuk mengambil obat yang saat ini benar-benar Feli butuhkan.


Sedang Feli berusaha melawan serangan panik yang menimpa, di kamar utama, Hayden masih setia di sana. Duduk termangu, memikirkan tingkah Feli yang sedikit aneh baginya.


Jarak antara tempat tidurnya dan kamar mandi, terbilang cukup jauh, hingga ia tidak mendengar apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana, pada sang istri.


Hayden benar-benar tidak bergerak sedikitpun. Ia memaku di tempat dan posisi yang sama, membiarkan benaknya berpikir keras, menerka apa yang terjadi pada Feli dan tidak ia ketahui.


"FELI!"


Suara pintu terbanting, terbuka yang diikuti suara pekikan Jay setelahnya, berhasil membuat atensi Hayden teralihkan.


Ia menolah ke arah Jay yang berjalan terburu-buru menuju kamar mandi, tidak menganggap dirinya ada di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini, Jay?" Hayden bertanya seraya membangkitkan diri dari duduknya dengan cepat dan berjalan, mengekori Jay ke arah kamar mandi.


"Feli! Apa kau di dalam?"


Tapi Jay sama sekali tidak menggubris pertanyaann Hayden, justru sibuk memokuskan atensinya untuk menemukan keberadaan Feli sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi yang berada di hadapannya.


Jay menoleh ke arah Hayden yang sedari tadi sudah menatapnya dengan tatapan tajam, tatkala ia tidak mendengar suara Feli menyahuti panggilannya.

__ADS_1


"Apa Feli ada di dalam? Apa yang sudah kau lakukan padanya, Hayden?" Jay bertanya dengan nada suara penuh kemarahan, mutlak menuntut sebuah jawaban.


Hayden menatap Jay dengan raut wajah bingung. Ia benar-benar tidak tahu, apa sebenarnya inti permasalahan yang tengah Jay bicarakan padanya.


"A-apa maks-" Hayden tak sempat merampungkan perkataannya tatkala ia mendengar suara kunci dari pintu kamar mandi di dekatnya itu terbuka.


Hayden maupun Jay sama-sama menoleh dengan cepat ke arah pintu tersebut.


Jay tak membuang waktu untuk segera membuka pintu, memastikan keadaan Feli di dalam sana.


"Astaga! FELISHA!" Jay memekik, terkejut.


Jay dan Hayden dibuat terkejut dengan keadaan Feli yang nampak begitu lemah dan pucat, dengan keadaan terbaring lemah di lantai dengan tubuh yang bersandar ke dinding.


Hayden membeku. Sementara Jay dengan cepat berlutut di samping tubuh Feli.


Mata Feli terbuka dan mangatup dengan tempo yang begitu pelan, terlihat lemah dan memprihatinkan.


"Feli, tenanglah. Aku di sini. Kau akan baik-baik saja." Jay berusaha menenangkan seraya merengkuh tubuh lemah Feli ke dalam pelukannya.


"A-apa yang terjadi pada Feli? Kenapa dia bisa seperti ini?" Hayden bertanya, menyuarakan rasa penasaran dan kebingungan yang terlanjur mengungkung dalam relungnya.


"O-obat. Aku butuh o-obatku," lirih Feli.


"Ah, ya. O-obat."


Jay melepaskan tubuh Feli perlahan dari dalam rengkuhannya. Ia membuka tutup botol kecil yang merupakan botol obat milik Feli yang sedari tadi ia genggam.


Mengeluarkan dua butir pill berwarna putih dari dalam sana, Jay bergegas memberikannya pada Feli.


Feli tidak menyia-nyiakan waktu dan segera meraih pill tersebut, menenggaknya saat itu juga, tanpa bantuan air sama sekali.


"Felisha! Apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirimu? Kenapa kau seperti ini?" Hayden angkat suara untuk kedua kalinya.


Ia benar-benar marah, sebab tidak satu pun dari mereka menggubris pertanyaan pertamanya.


Jay membuang napas kasar. Ia menoleh sembari menengadahkan pandangan, menatap Hayden dengan tatapan penuh kemarahan. "Feli mengalami trauma semenjak ayahnya meninggal." Ia menoleh ke arah Feli yang sudah memejamkan mata dengan tatapan sendu, penuh kesedihan. "Ia seringkali mengalami serangan panik, jika ia dihadapkan dengan sesuatu yang membuatnya merasa tertekan. Hidupnya lambat laun jadi memiliki ketergantungan pada obat anti depressan."


Hayden tidak menunjukan ekspresi apa pun. Tidak terkejut ataupun tercengang. Wajahnya datar dan dingin. Sungguh, kepribadian pria tampan itu, sulit sekali dibaca dan ditebak. "Kau bisa pergi dari sini sekarang. Biar aku yang mengurus Feli."


Tbc ....

__ADS_1


__ADS_2