
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk mengajak Jane? Kenapa kau tidak mematuhiku?" Ken berteriak penuh emosi sambil sesekali menoleh ke arah kursi belakang di balik kemudi.
Suasana di dalam mobil malam itu begitu kacau. Baik Luciana maupun Ken, sama-sama saling menunjukan kemarahan mereka yang sudah membuncah.
Sementara di tangan lain. Feli hanya bisa tertunduk, menatap jemari tangannya yang meremat gemas dress pendek cantik berwarna navy yang ia kenakan.
Beberapa menit yang lalu. Mereka masih menikmati kebersamaan mereka dengan diselingi canda tawa bahagia di sebuah restoran merah, tempat mereka merayakan ulang tahun Feli yang ke dua puluh lima tahun.
Sudah menjadi tradisi bagi Ken dan Luciana sejak Feli masih kecil, yakni menghabiskan waktu bersama setiap hari ulang tahun putri mereka itu tiba.
Namun, tahun ini terasa sangat jauh berbeda. Makan malam sederhana kali ini, berakhir dengan pertengkaran yang cukup hebat, setelah Ken mendapatkan telpon dari Jane dan memintanya untuk segera kembali ke rumah.
Luciana mulai merasa jengah dengan Jane yang bersikap seperti kanak-kanak, meminta ayahnya pulang, karena takut sendirian ditinggal di rumah. Ia membuang napas kasar seraya menyilangkan kedua lengannya di dada. "Bukankah, tahun-tahun sebelumnya dia tidak seperti ini? Dia baik-baik saja jika kita pergi untuk merayakan ulang tahun Feli. Kenapa baru sekarang dia bersikap seperti ini?"
Feli menoleh ke arah Ken dan Luciana secara bergantian. Rasa bersalah karena merasa kekacauan itu terjadi karena dirinya, terlihat jelas di raut wajahnya yang murung."Maaf Bu. Mungkin jika kita tidak pergi untuk merayakan ulang tahunku, kalian tidak akan bertengkar seperti ini," lirihnya perih seraya kembali menundukan pandangan.
Luciana menoleh dengan cepat ke arah Feli, merengkuh tubuh putri cantiknya itu ke dalam pelukan. "Tidak Sayang. Ini bukan salahmu." Mata Luciana mendelik tatkala ia menoleh sekilas ke arah Ken. "Ini semua gara-gara anak manja itu."
"LUCIANA!" Ken memekik tak terima, membuat Feli dan Luciana sedikit terhenyak.
Tubuh Feli gemetar, ketakutan. Ini merupakan kali pertama bagi dirinya melihat sang ayah semarah ini.
Air mata mulai mengembun dalam pelupuk gadis itu. Ia menelusupkan wajahnya di permukaan dada sang ibu, berusaha menyembunyikan ketakutannya.
Luciana menatap Ken dengan tatapan tajam, penuh kemarahan dan ketidak sukaan. "Jangan berteriak di depan anakku! Kau membuatnya takut, kau tahu?" Ia berdecih kesal. "Kenapa anakmu itu harus merengek di saat yang tidak tepat? Dia memang pembuat masalah!"
"CUKUP! LUCIANA!" Ken kembali memekik seraya menoleh ke arah Luciana.
Luciana mengeringai ngeri, penuh arti. "Bela saja terus dia. Apa di sini, anakmu hanya dia?"
"KAU!-"
Feli dengan cepat melepaskan diri dari dalam rengkuhan nyaman sang ibu, membuat Ken mengurungkan niatnya untuk terus membentak Luciana.
Namun, saat itu juga. Ketakutan jelas terpancar dari wajah cantik Feli. Pandangannya mengarah lurus ke depan, dengan mata yang membola dan pupil gemetar.
Ia melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan ke arah mobil yang ia tumpangi.
"AYAH!
Feli terperanjat. Ia terbangun dari tidurnya karena mengalami mimpi buruk, untuk kesekian kalinya. Tubunya dibanjiri keringat deras.
Napasnya berat, terengah-engah, bersamaan dengan tenggorokannya yang terasa begitu kering, kerontang.
__ADS_1
Dua tahun sudah berlalu. Tapi mimpi yang sama, selalu menganggu tidur nyaman gadis itu.
Kejadian di mana ia, sang ibu dan sang ayah mengalami kecelakaan, selalu muncul dalam mimpinya setiap malam.
Setiap detail dari kejadian mengerikan itu, benar-benar terasa sangat nyata bagi Feli, seolah ia melewati peristiwa itu setiap harinya dan terus berulang di titik yang sama.
Mata Feli terbuka lebar tatkala ia membangkitkan diri dan duduk di tempat tidurnya. Keringat masih bercucuran, membasahi kening dan lehernya. Wajahnya mulai terlihat pucat pasi.
Jantungnya berdebar sangat cepat, seolah ia baru saja bermaraton sangat jauh. Tubuhnya mulai semakin gemetar tatkala benaknya, terus saja mengulang kejadian yang sama, seperti apa yang ia lihat dalam mimpinya.
"O-obat. A-aku butuh obat." Feli berucap dengan suara lemahnya seraya memendarkan pandangan dan berusaha meraih laci yang terletak di samping tempat tidurnya dengan susah payah.
Salah satu tangannya yang gemetar hebat, memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, luar biasa.
Sekujur tubuhnya tak berhenti gemetar, malah justru semakin parah daripada sebelumnya.
"Ini semua salahmu Feli! Ayah meninggal karena ulahmu!"
Feli bisa mendengar suara cacian di dalam kepalanya. Suara kemarahan Jane yang terus menyalahkan dirinya.
Feli menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air mata mulai lolos dari pelupuknya dengan sangat deras.
"M-maaf. M-maafkan a-aku." Ia bergumam lirih seraya menggenggam erat kepala dengan kedua tangannya yang gemetar hebat.
Feli dengan cepat meraih sebuah botol kecil berisikan obat anti depressannya. Dengan tangannya yang masih gemetar hebat, ia mengeluarkan beberapa butir obat tersebut dan menaruhnya ke dalam mulut.
Ia mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di atas nakas samping tempat tidur dan meneguknya dalam satu kali tenggakan, menelannya bersamaan dengan obatnya.
Feli menaruh gelas kosong dengan botol obat yang masih ia genggam, ke tempat semula.
Gadis itu berusaha mengatur napasnya yang masih terengah-engah. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan, mencoba mensugestikan dirinya agar sedikit lebih tenang.
Feli perlahan kembali membaringkan dirinya, saat dirasa obat yang ia minum, mulai memberikan reaksi.
Ia meremat gemas ujung selimut yang menutupi sebagian besar tubuhnya seraya menoleh ke arah nakas, menatap jam weker yang terpampang di sana sekilas.
Feli membuang napas kasar. "Baru jam satu. Kau harus kembali tidur Feli."
Gadis itu perlahan mengatupkan pelupuk matanya dan berusaha untuk kembali tertidur.
***
Hayden menginap di rumah Jane malam ini. Pria tampan itu kini tengah berdiri tepat di depan pintu kamar milik Feli.
__ADS_1
Apa Hayden mendengar segalanya? Dari jeritan hingga isak tangis, Feli? Jawabannya adalah tidak! Karena Hayden baru saja tiba di sana, begitu Feli mencoba kembali menikmati tidur cantiknya.
Hayden menatap sendu daun pintu yang menjulang tinggi di hadapannya itu. Ia memejamkan mata sekilas seraya membuang napas kasar.
Perlahan namun pasti, ia mulai menyentuh gagang pintu kamar milik Feli tersebut dan menekannya. Ia membuka pintu kamar Feli.
Tanpa membuat sedikitpun suara, ia melangkah memasuki kamar tersebut dan kembali menutup pintunya.
Raut wajah Hayden terlihat begitu dingin, tatkala netranya berhasil menatap sosok Feli yang tengah tertidur pulas dengan posisi membelakanginya.
Peralahan dan tak berniat membuat suara sedikit pun, Hayden melanjutkan langkahnya.
Ia dengan hati-hati menaiki tempat tidur Feli dan membaringkan dirinya tepat di samping tubuh gadis cantik itu.
Hayden menatap sendu tubuh Feli. Kedua lengannya, tanpa ia sadari bergerak, melingkari pinggang Feli dan memeluk tubuh mungil gadis itu dari belakang dengan sangat erat.
Raut wajahnya tidak berubah sama sekali, masih terlihat dingin, beraura gelap dan mengintimidasi.
Hayden memeluk tubuh mungil Feli semakin erat, hingga punggung gadis itu saling bertekanan dengan permukaan dada bidangnya.
Ia membiarkan wajahnya menyentuh tengkuk Feli, membuat aroma manis gadis itu menyeruak, memenuhi indra penciumannya.
Aroma manis tubuh Feli yang selalu ia rindukan. Aroma manis tubuh Feli yang selalu mampu membuatnya tenang dan nyaman. Aroma yang sama, seperti aroma dua tahun yang lalu yang selalu ia hirup.
Hayden memejamkan matanya perlahan. "Aku sangat membencimu, Felisha!"
Itu merupakan kalimat terakhir yang Hayden ucapkan sebelum rasa kantuk menguasai dirinya. Pandangannya mulai gelap. Ia tertidur dengan tubuh Feli yang berada di dalam pelukannya.
Dan satu hal yang tidak Hayden ketahui. Yakni fakya bahwa sebenarnya, saat ia memasuki kamar Feli, Feli masih sadarkan diri selepas mengalami mimpi buruk tadi.
Tak perduli seberapa keras pun ia mencoba untuk kembali tertidur, ia tetap tidak bisa. Bahkan kandungan obat yang biasanya mampu membuat ia langsung tertidur, kali ini tidak memberi efek apa pun.
Hayden tidak tahu, bahwa sejak awal Feli mengetahui pria itu memasuki kamarnya dan memeluknya secara diam-diam.
Hayden tidak tahu, bahwa Feli berusaha keras untuk tidak bergerak, agar pria itu tidak tahu, bahwa dirinya masih tersadar, sepenuhnya.
Hayden tidak tahu, bahwa Feli sebisa mungkin menahan air mata dan tangisnya untuk tidak pecah tatkala ia mengatakan, bahwa ia membencinya. Ia sangat membenci Felisha!
Feli berharap, semua ini hanyalah mimpi. Ia berharap, apa yang dikatakan Hayden padanya, masih merupakan bagain dari mimpi buruknya.
Namun, gadis itu harus menelan pill pahit. Karena kalimat yang berhasil menghunus hatinya itu, bukanlah sebuah mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang harus ia hadapi.
Memejamkan pelupuk mata serapat mungkin, bingkai birai Feli mengatup rapat, sedang satu bulir air mata berderai, membasahi pelipisnya. 'Aku juga membencimu Hayden. Sangat membencimu!'
__ADS_1
Tbc ....