
Hayden sedikit tertegun setelah mendengar alasan sederhana yang Feli lontarkan. Ia menatap Feli dengan tatapan dingin mengintimidasi. "Bersalah?" Pribadi tampan itu terkekeh sinis sekilas, meremehkan. "Bersalah karena apa? Karena kau telah mengkhianatiku, dua tahun yang lalu?"
Feli berdehem seraya menundukan pandangan, sebentar. "Anggap saja begitu," tandasnya seraya membangkitkan diri dari duduknya dengan cepat, membuat Hayden membenarkan posisi tubuhnya, berdiri dengan tegak.
Feli memutar tubuh, berdiri menghadap ke arah Hayden, memberanikan diri untuk beradu tatap dengan pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu.
Tatapan Hayden masih tetlihat begitu dingin, beraura gelap dan mengintimidasi. Sedangkan Feli ... tatapan wanita cantik itu terlihat begitu kosong. Tidak ada ekspresi yang dapat dibaca.
Hening .... Keheningan seketika menyelimuti dua insan yang sudah dipersatukan oleh janji suci itu. Tidak ada lagi yang berbicara. Yang terdengar di sana, hanyalah deru napas mereka yang begitu seimbang.
Feli berdehem canggung seraya memutuskan kontak mata antara dirinya dan Hayden. "Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku akan pergi membersihkan diri dan bersiap untuk acara resepsi."
"Kau masih punya waktu lima jam untuk acara resepsi." Hayden menyeringai ngeri, penuh arti. "Kenapa kau tidak memanfaatkan waktu itu untuk berbincang denganku saja?"
"Tidak perlu. Terima kasih atas tawaranmu," kilah Feli seraya berjalan ke arah kamar mandi yang berada di ruangan tersebut.
Hayden membuang napas kasar seraya menengadahkan kepala sekilas. Ia menyisir surai hitamnya ke belakang dengan jemari tangannya yang jenjang, melampiaskan rasa frustrasi.
"Felisha Kylie Jordan!" Hayden memekik penuh amarah.
Saat itu juga, Feli terhenyak. Ia menghentikan segala pergerakannya tatkala ia hendak membuka pintu kamar mandi.
Hayden terkekeh sinis. "Ah maaf. Kau sekarang adalah istriku, berarti namamu adalah Felisha Kylie Wislon. Atau...-" Hayden menjeda perkataannya cukup lama tatkala ia berjalan, menghampiri Feli dan berdiri di belakangnya. "Haruskah, aku memanggilmu, Nyonya Wilson?" gumamnya, menggoda, tepat di dekat daun telinga Feli.
Feli membuang napas kasar. "Aku rasa tidak perlu, karena aku tidak yakin, pernikahan yang didasari sebuah kebohongan ini, akan bertahan lama," sarkasnya.
"Ah!" Feli mengerang kesakitan ketika Hayden menckal bahunya dan memutar paksa tubuhnya, agar menghadap ke arahnya.
Hayden menatap Feli dengan tatapan tajam, penuh kemarahan. "Kau pikir aku akan melepaskanmu, jika kau ingin mengakhiri pernikahan ini?"
Feli menatap manik jelaga indah Hayden yang dulu pernah mampu menyejukan hatinya itu dengan tatapan sendu. Tatapan sendu yang begitu dulit dijabarkan atrinya. "Apa kau masih ingin melampiaskan dendammu? Sampai kapan? Sampai kapan kau akan melakukannya?"
__ADS_1
Hayden menyeringai ngeri penuh arti. "Sampai aku merasa puas. Aku akan melakukan cara apa pun untuk mempertahankan pernikahan ini. Jadi, jangan pernah berharap untuk bisa lepas dariku, Felisha."
"Apa kau sebenci ini padaku? Hingga kau tega membiarkan pernikahan ini terjadi? Membiarkan pernikahan yang didasari kebohongan ini terjadi?"
Hayden terkekeh sinis seraya menundukan pandangan sekilas. "Kebohongan?" Ia membelai lembut pipi cantik Feli dengan pergerakan menggoda. "Aku tidak perduli pernikahan ini terjadi karena kebohongan atau tidak, yang terpenting sekarang ini adalah ...-"
Hayden menjeda perkataannya cukup lama. Pandangan nakalnya menjalar, menelisik tubuh indah Feli seraya mendekatkan wajahnya ke arah wanitanya itu, hingga jarak antar keduanya hampir terkikis habis, tak tersisa. "kau adalah milikku!" tegasnya, penuh penekanan tapi juga masih menyelipkan kesan menggoda.
Tanpa aba-aba Hayden meraup kasar bibir tipis Feli, membuat istri cantiknya itu sedikit tersentak dan hampir kehilangan keseimbangan.
Untunglah dengan pergerakan cukup cepat, Hayden menelusupkan satu tangannya di punggung Feli dan tangan Hayden yang lain, menahan tengkuknya.
Mata Feli membola. Dengan pergerakan refleks, ia menenggerkan kedua telapak tangannya di dada bidang Hayden, sebagai penyangga.
Feli ingin mendorong tubuh Hayden, namun saat Hayden memperlembut pergerakannya, ia berhasil luluh dalam sentuhan pria yang tidak lain merupakan suaminya itu.
Hayden ******* lembut bibir merah cherry Feli, menyesapnya bagaikan lolipop manis yang menggairahkan, bahkan menggigit bibir bawahnya juga untuk mendapat akses yang lebih dalam lagi, membuat Feli mengerang lembut, kesakitan.
Feli tertegun. Ia merasa Hayden melakukan hal tersebut, atas dasar keinginannya yang tulus, bukan atas dorongan kemarahan atau kebencian.
Hayden melakukannya, sama seperti dulu. Seperti saat mereka masih bersama dalam ikatan yang terjalin dengan sempurna dan penuh cinta.
Melepaskan pagutan saat merasa dirinya mulai membutuhkan pasokan udara untuk tubuhnya, Hayden menenggerkan keningnya di kening Feli, membiarkan jarak mereka tetap dekat, menghirup udara di titik yang sama.
Hayden dan Feli beradu tatapan sendu. Tatapan sendu yang sulit diartikan.
"Kau membenciku, karena kau masih mencitaiku, bukan? Hayden?" Feli angkat suara di sela deru napasnya yang sedikit terengah, memecah keheningan yang mulai mengelilingi kamar yang ditempatinya bersama Hayden.
Hayden terdiam. Ia memilih bungkam. Pria tampan itu melepaskan tubuh mungil Feli dari cekalannya. Manik jelaga indahnya tak sedetik pun teralihkan dari manik mata Feli yang terus menatapnya, mencari sebuah jawaban.
"Kau membenciku, karena kau tidak bisa melupakanku. Itu sebabnya kau menjebakku dalam pernikahan ini." Feli menyeringai ngeri, penuh arti, lantas menatap Hayden dengan tatapan tajam, syarat akan kecurigaan. "Aku benar?" imbuhnya, percaya diri.
__ADS_1
Hayden tertegun. Ia memaku di tempatnya berdiri dan tetap bungkam, tidak menyuarakan apa pun.
Dua tahun? Tentu itu waktu yang singkat bagi Feli untuk bisa melupakan, bagaimana pria di hadapannya ini, biasa menunjukan cintanya, menyentuhnya dan menatapnya.
Bukan perkara sulit bagi Feli untuk merasakan, apakah cinta Hayden masih ada untuknya. Namun sayang, tidak dengan sebaliknya.
Hayden kesulitan menerka, apakah perasaan Feli yang dulu pernah ada, masih tersisa untuknya, atau sudah habis sepenuhnya.
Hayden bisa merasakan, Feli yang saat ini berada di hadapannya, bukanlah Feli yang sama, dengan Feli yang dulu pernah mengisi setiap sudut relungnya.
Hal itu berhasil membuat Hayden bertanya-tanya. Apakah apa yang dikatakan Feli itu benar adanya? Atau justru sebaliknya.
Suara dering ponsel yang berasal dari saku celana Hayden, berhasil membuyarkan suasana canggung beserta sekelumut pemikiran yang ada dalam benak sepasang pengantin baru itu.
Hayden mengeluarkan benda pipih tersebut dari sakunya. Ia tertunduk, menatap layar ponsel yang ia genggam berkedip, mendapatkan sebuah notifikasi panggilan masuk.
Membuang napas kasar, Hayden akhirnya menjawab panggilan tersebut. "Hallo?" Ia menyapa seraya memutar tubuh, lantas berjalan ke arah pintu.
Hayden berjalan menjauh, ke luar dari kamar, meninggalkan Feli yang tengah menatapnya tidak percaya.
Bagaimana pria itu bisa pergi begitu saja dari sana, seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi diantara dirinya dan Feli?
Feli tersenyum getir seraya menundukan pandangan, sekilas. Membuang napas jengah seraya menengadahkan pandangan, ia menatap langit-langit kamar yang menaunginya.
Bibir tipis Feli perlahan merenggang, mengulas senyum getir. "Ayah, sepertinya aku sudah terjebak dalam ikatan suci ini," lirihnya perih.
Mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang, Feli berusaha meredam rasa sesak yang kembali hinggap dalam relung. "Aku tidak punya pilihan lain, selain untuk tetap bertahan bukan, Ayah? Tapi sebelum itu, aku harus memperbaiki segalanya. Aku harus memperjelas situasinya."
Feli membuang napas kasar. "Haruskah aku menggali luka lamaku, Ayah? Haruskah aku mencari tahu, apa sebenarnya yang terjadi dua tahun yang lalu? Sampai hubunganku dan Hayden bisa sehancur ini."
Menelan ludah kasar dengan susah payah, Feli memejam, sesaat. "Tapi apakah aku siap menerima kenyataan yang mungkin akan membuatku menyesali keputusanku, Ayah? Apa aku pantas untuk kembali merasakan kebahagiaan, setelah sekian lama hidup dalam rasa bersalah yang menyesakan?"
__ADS_1
Tbc ....