Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Mempercepat Rencana Pernikahan


__ADS_3

Wajah tenang Feli yang tengah tertidur pulas seketika mengernyit, manakala sinar matahari menyapa pelupuk matanya, cukup menyilaukan.


Gadis itu terbangun dalam keadaan tubuh yang cukup segar, karena untuk pertama kalinya setelah dua tahun, ia memiliki tidur dengan kualitas yang cukup baik.


Kecelakaan yang menimpa sang ayah tak hanya membuat Feli memiliki trauma, tapi juga gangguan tidur seperti insomnia.


Feli membenci kenyataan bahwa semalam ia berhasil tertidur dengan pulas karena berada dalam pelukan Hayden.


Dan saat itu, Feli menyadari sesuatu. Ia dengan cepat menoleh ke arah sisi lain tempat tidurnya. Gadis itu membuang napas kasar yang berasal dari rasa lega. "Dia sudah tidak ada di sini."


***


Jane dan Hayden saat ini tengah berada di ruang makan. Duduk saling bersebrangan, terhalang meja panjang yang terbentang.


Hayden membuang napas kasar seraya melirik jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sekilas, sebelum menoleh ke arah Jane. "Apa kau sedang sibuk beberapa hari ini?"


Jane yang saat itu tengah menikmati makanannya, seketika menengadahkan pandangan, menatap Hayden keheranan. "Tidak. Ada apa?"


"Kosongkan jadwalmu untuk dua hari kedepan."


Dahi Jane mengernyit, bersamaan dengan matanya yang sedikit memicing, menatap Hayden dengan raut wajah bingungnya. "Untuk apa?"


Hayden menundukan pandangan seraya kembali menikmati sarapannya. "Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Aku harus memastikan beberapa hal terkait rencana pernikahan."


"Feli! Apa kau tidak ingin menikmati sarapanmu terlebih dahulu?" Suara Luciana dari sudut ruangan lainnya mengudara, berhasil mengait atensi Jane dan Hayden.


"Tidak Ibu. Aku tidak lapar," tukas Feli dengan suara santainya.


"Tapi kau belum makan apa pun dari semalam." Luciana berucap dengan suara lembut, merayu dan terdengar begitu cemas.


Jane merasa benar-benar muak mendengar percakapan antara ibu dan anak tersebut. Ia memutar bola matanya jengah seraya membuang napas kasar. "Drama."


Hayden menatap Jane dengan tatapan sinis seraya mengeringai ngeri, penuh arti. Ia meraih segelas air putih dari atas meja makan dan meneguknya sampai habis tak tersisa.


"Aku harus segera pergi." Hayden berucap seraya menaruh gelas bening kosong yang ia genggam ke atas meja, lalu meraih semua barang-barangnya.


Jane yang memperhatikan pergerakan Hayden yang terkesan terburu-buru itu pun hanya bisa menggeleng tidak percaya seraya terkekeh sinis, sekilas. "Apa kau akan pergi menyusul Feli?"


Hayden menatap Yoonji dengan tatapan tajam. Sudut bibir sebelah kirinya menukik, mengulas seringaian ngeri. "Itu bukan urusanmu."


***


Emely, ibunda dari Hayden dan Jayden terlihat tengah duduk saling berhadapan dengan wanita baya di sebuah ruangan keluarga sambil menikmati teh hangat bersama.


Wanita baya yang saat ini tengah bersama Emely adalah Emma. Beliau merupakan nenek dari Jay dan Hayden dari pihak ibu.


Emma menatap sang putri yang tengah menyesap minuman buatannya dengan tatapan penuh curiga. "Tidak biasanya kau berkunjung kemari sepagi ini dan bukan saat waktu liburan. Ada apa?"


Emely membuang napas kasar seraya meletakan cangkir minumannya ke atas meja. "Ini tentang Hayden, Bu."


Dahi Emma mengernyit, bersamaan dengan matanya yang sedikit memicing, menatap Emely keheranan.


Rasa bingung pun penasaran mulai menyeruak dalam relung Emma terkait perbincangannya dengan sang putri yang akan berlangsung, membahas Hayden, cucu kesayangannya.


"Ada apa dengan Hayden?"

__ADS_1


Emely tersenyum senang. "Dia akan menikah."


Mata Emma seketika membola. "Menikah?" Ia benar-benar merasa terkejut terhadap berita yang sang putri sampaikan. "Apa kau serius?"


Emely mengangguk antusias. "Sangat serius."


Rona behagia seketika terpancar di wajah Emma. Bibirnya merenggang, mengulas senyum senang sumbringah. "Apa dia akan menikah dengan gadis bernama Felisha?"


Dahi Emely mengernyit, keheranan. "Felisha?"


Emely mengangguk antusias. "Iya, Felisha. Hayden pernah membawanya kemari beberapa kali." Ia tersenyum senang, mengingat masa-masa indah yang Hayden lalui bersama Feli di rumah sederhananya tersebut. "Hayden sangat mencintai gadis itu."


"Seingatku, nama gadis yang akan Hayden nikahi adalah Jane, bukan Felisha."


***


Feli masih berdiri di tepian jalan raya dekat rumahnya, untuk mencari taksi agar bisa segera berangkat ke tempatnya bekerja.


Sudah sekitar lima menit gadis itu berdiri di sana. Ia sesekali memendarkan pandangan, menelisik keadaan sekitar.


Feli membuang napas kasar seraya melirik jam tangannya sekilas. "Jam tujuh pagi. Kenapa waktu terasa lama sekali berlalu?"


Feli sedikit terhenyak tatkala suara klakson yang begitu nyaring mengecai ke dalam rungunya, bersamaan dengan sebuah mobil mewah yang tiba-tiba saja berhenti di hadapan, membuyarkan atensinya.


Menyadari siapa gerangan pemilik mobil tersebut, Fiona memutar bola matanya jengah seraya mendongakan pandangan, beberapa saat.


Seorang pria menutup pintu mobilnya dengan sedikit kasar, ketika ia ke luar dan berjalan menghampiri Feli.


Feli terkekeh sinis, sekilas. "Tuan Hayden. Apa dunia sesempit ini, hingga ke mana pun aku pergi, aku pasti bertemu denganmu?"


Hayden menatap Feli dengan tatapan dingin tatkala ia berdiri tepat di hadapan gadis cantik itu. Bibirnya menyeringai ngeri, penuh arti. "Ya, anggap saja begitu."


Feli menyilangkan lengan di dada sembari menatap Hayden dengan tatapan tajam, penuh ketidak sukaan. "Apa maumu?"


"Kau!" Hayden berucap seraya meraih pergelangan tangan Feli dan menyeret gadis itu untuk berjalan ke arah mobilnya.


"Hey! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?"


Kekesalan jelas seketika Feli rasakan, hingga membuatnya tanpa berpikir panjang melakukan rontaan, menghentak-hentakan tangannya agar terlepas dari genggaman Hayden.


Hayden menoleh ke arah Feli, lantas menatap gadis cantuk itu dengan tatapan tajam. "Diam dan ikuti saja!" titahnya.


Nada suara dingin Hayden yang sedikit meninggi itupun, berhasil membuat Feli sedikit tersentak.


Hayden membuka pintu mobilnya dan memaksa Feli untuk segera masuk ke sana.


"Siapa kau, berani-beraninya memerintahku?!" pekik Feli tidak terima seraya berusaha membuka pintu mobil Hayden, namun Hayden sudah menguncinya.


"Hey! Bukakan pintu mobilnya!"


Hayden menyeringai, penuh kepuasan tatkala ia melihat raut wajah masam Feli menunjukan kekesalan terhadap tingkahnya.


Memasuki mobil, Hayden mendudukan diri di kursi kemudi seperti semula.


Tatapan tajam, penuh kemarahan Feli tak sedetik pun teralihkan dari sosok pribadi tampan itu. "Apa maumu, Hayden?!"

__ADS_1


Hayden tidak menggubris pertanyaan Feli kali ini. Lebih tepatnya, pria tampan itu mengabaikan kehadiran Feli begitu ia kembali memasuki mobilnya.


Hayden malah sibuk terunduk, menatap dan menyentuh layar ponselnya yang tengah menyala dalam genggaman.


Feli memutar bola matanya jengah. Rasa kesal terhadap pria di hadapannya itu benar-benar sudah membuncah. Ia membuang napas kasar seraya mengalihkan pandangan sekilas. "Hayde-"


"Hallo Ibu. Ibu sedang di mana?" Hayden berucap dengan suara lembut nan manisnya, menyapa sang ibu melalui sambungan suara, membuat Feli mengurungkan niatnya untuk mencaci maki pria itu.


Mulut Feli sedikit menganga. Ia menatap Hayden tidak percaya dengan mata yang membola.


Bagaimana bisa pria di hadapannya itu, memaksa dirinya masuk ke dalam mobil, lalu setelah itu mengabaikan kehadirannya begitu saja?


Feli hanya bisa mendengkus lelah seraya meluruskan pandangan, menatap kosong jalan raya di depan sana dan menunggu sampai Hayden selesai dengan kesibukannya, berbincang dengan Emely.


Di sela perbincangan, Hayden menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Feli meski hanya untuk beberapa saat.. "Ah, Ibu sedang berada di rumah nenek?"


"Iya. Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menelpon Ibu?"


Hayden mendengkus pelan. "Aku ingin mempercepat acara pelaksanaan pernikahanku."


Saat kata pernikahan berhasil lolos dari mulut Hayden, Feli seketika menoleh ke arah pria tampan itu dan menunjukan betapa teramat terkejutnya ia.


"Apa?! Kau ingin mempercepat pernikahanmu?" Dapat dipastikan, bahwa Emely merasakan keterkejutan yang sama, seperti apa yang Feli rasakan saat ia mengulangi pernyataan Hayden untuk memastikan.


Hayden menoleh ke arah Feli sembari mengulum seringaian ngeri di bibirnya. "Ya. Aku ingin pernikahanku dilangsungkan besok." Ia meluruskan pandangan setelah mencetuskan keinginan juga keputusan yang cukup mengejutkan bagi Feli itu. "Ibu bisa menolongku untuk mengurus semuanya, bukan?"


"I-Ibu bisa menyelesaikan segala persiapannya hari ini juga jika kau mau. Tapi, bagaimana dengan para undangan?"


Menggigit bibir bawahnya pelan, Hayden berdesis pelan. "Aku tidak perduli soal tamu undangan. Aku hanya ingin pernikahanku cepat terlaksana."


Hayden menutup panggilannya suara itu begitu saja setelah ia merampungkan perkataannya dan tak memberi kesempatan bagi sang ibu, melontarkan kalimat lainnya.


"Rude!" (Kasar!) sarkas Feli, tidak terlalu menyukai sikap yang Hayden tunjukan.


Feli selalu melakukan hal yang sama, dahulu, ketika ia merasa Hayden menunjukan sikap keras kepalanya terhadap orang yang lebih tua saat mereka berbincang, di hadapannya.


Hayden tersenyum lirih seraya menoleh ke arah Feli. "Apa kau mendengarkan perbincanganku?"


Feli memutar bola matanya jengah. "Kau berbincang tepat di hadapanku, apa kau berharap agar aku tidak mendengarmu?"


Hayden terkekeh gemas sekilas, meremehkan. "Bagus. Itu artinya kau mendengar soal aku mempercepat pelaksanaan pernikahanku, bukan?"


Feli tertegun. Apa Hayden bodoh? Tentu saja Feli mendengarnya dengan sangat jelas, bahkan terlalu jelas, hingga perkataan itu, berhasil membuat goresan dalam di relung hatinya.


Jika saja gadis itu tidak pandai bersandiwara dan menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya, mungkin ia sudah menyerah dan menangis saja di hadapan Hayden.


Raut wajah gadis itu, kini justru terlihat dingin dan datar, tanpa ekspresi. Tidak ada sedikit pun emosi yang tergambar, hingga Hayden saja dibuat heran karenanya.


"Lalu, apa hubungannya denganku?" Feli memberanikan diri untuk beradu tatap dengan Hayden, berusaha sebisa mungkin menyembunyikan rasa sakit hati yang ia alami. "Jika kau mempercepat pernikahanmu, lalu apa hubungannya denganku? Kenapa kau memaksaku untuk ikut bersamamu?"


Kedua telapak tangan Hayden mengepal kuat, meremat kemudi dan ponsel yang ia genggam. Tatapannya terlihat begitu tajam, beraura gelap dan mengintimidasi, penuh kemarahan. "Kau harus memilih baju pengantin-" Hayden menjeda perkataannya cukup lama, lantas menatap manik hazel Feli yang membola, tengah menatapnya dengan penuh keterkejutan luar biasa.


Bohong jika Feli tidak tertegun setelah ia mendengar perkataan Hayden. Perkataan singkat Hayden yang mampu membuat napas gadis itu tercekat, bersamaan dengan degup jantungnya yang seakan berhenti berdebar untuk sesaat.


Hayden mengeringai ngeri, penuh kepuasan setelah melihat reaksi yang Feli tunjukan. "Untuk kakakmu, Jane."

__ADS_1


Tbc.....


__ADS_2