Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Kisah Hayden 2 | Half FlashBack


__ADS_3

Sama halnya dengan apa yang Rosa ceritakan pada Felu. Malam itu tepat tiga bulan bagi Hayden, setelah ia melihat pria lain tengah bersama gadisnya di dalam kamar.


Malam itu Hayden pergi mengunjungi sebuah club malam, seperti biasa. Pria tampan itu mencoba melupakan rasa kecewa, sakit hati, dan kemarahannya dengan mabuk-mabukan.


Hayden sama sekali tidak mengira dirinya akan dipertemukan dengan pria yang telah menghancurkan hubungannya dengan Feli malam itu.


Hayden terlihat sibuk menikmati waktunya, duduk di hadapan sebuah meja bar yang berada di dalam club malam yang ia kunjungi.


Pandangan Hayden tertunduk, menatap kosong gelas berisi setengah minuman beralkohol dalam genggamannya.


Hayden sama sekali tidak terlihat terganggu dengan riuh ramainya keadaan sekitar, terutama suara musik yang berdentum, mengiringi pergerakan gila seluruh pengunjung yang memenuhi lantai dansa.


"Jadi, kau benar-benar mencari kesempatan dalam kesempitan, ha?"


Beberapa orang pria yang nampak sebaya dengan Hayden tiba-tiba berkumpul tepat di samping kursi yang Hayden duduki dan mulai berbincang dengan suara yang cukup keras.


Tentu Hayden bisa mendengarnya dengan jelas. Namun, ia memilih untuk mengabaikan segalanya dan hanya menikmati waktunya di sana.


Jika dilihat dari kondisinya, dapat dipastikan Hayden sudah benar-benar mabuk saat itu. Pelupuk matanya beberapa kali mengatup dengan pergerakan lambat.


"Aku membencimu, Felisha!" gumam Hayden pelan di sela-sela cegukan mabuknya.


"Itu kesempatan langka. Siapa yang tidak mau tidur dengan wanita cantik secara cuma-cuma, benar?"


Pria lainnya yang juga masih satu perkumpulan yang duduk di sebelah Hayden, menimpali.


Yang lainnya terkekeh meremehkan, menanggapi. "Kudengar, dia adalah putri ke dua dari seorang pengusaha yang kaya raya? Apa kau benar-benar menidurinya saat dia mabuk, Jimmy?"


Hayden masih acuh, tak perduli karena pada kenyataannya, saat itu ia sama sekali tidak tahu, siapa nama pria yang malam itu ia temui di rumah Feli.


Jimmy tersenyum, penuh kemenangan. "Lebih tepatnya, sengaja dibuat mabuk. Atau ...-" Jimmy menjeda perkataannya cukup lama seraya memendarkan pandangan, menatap satu persatu temannnya secara bergantian seraya tersenyum licik. "haruskah, aku katakan dia dijebak?"


Ketiga temannya yang saat itu ada di keliling Jimmy tertawa, puas.


"Apa kau yang menjebaknya?" Salah satu teman Jimmy kembali angkat suara, menyuarakan rasa penasarannya.


Jimny terkekeh geli sekilas. "Kau pikir aku sudah gila? Kenapa aku mau menjebaknya begitu saja, jika tidak ada yang menyuruhku?"


"Siapa yang menyuruhmu?" Yang lainnya menimpali.


Jimny menoleh ke arah si pemilik pertanyaan. "Kau, tidak perlu tahu. Itu tidak penting. Yang penting, aku puas, karena telah menyentuhnya."


"Gadis itu putri dari pemilik perusahaan yang cukup sukses, bukan? Bagaimana jika kau ketahuan dan dihukum? Siapa nama gadis itu? Aku sepertinya pernah mendengarnya, tapi lupa." Yang lainnya tak ingin kalah, ikut menyuarakan rasa keingin tahuannya.

__ADS_1


Jimmy menganggukan kepala, mengiyakan. "Hemmm." Sudut bibir sebelah kanannya menukik tajam, mengulas seringaian ngeri sekilas. "Aku memiliki seseorang yang pasti akan melindungiku untuk hal itu. Namanya Felisha Kylie Jordam. Dia cantik dan memiliki tubuh yang indah."


Saat itulah. Saat nama gadisnya disebut dalam perbincangan menjijikan Jimmy dan teman-temannya, Hayden mulai memokuskan seluruh atensinya pada perbincangan Jimmy tersebut.


"Bagaimana rasanya bersetu-buh dengan seorang tuan putri?" Salah satu teman Jimmy bertanya dengan nada yang sedikit nyeleneh, membuat Hayden harus menahan kemarahannya yang sudah hampir membuncah.


Jimmy terkekeh puas. "Rasanya luar biasa. Aku berhasil memberinya kepuasan. Namun, dia tidak sebaik kelihatannya. Aku kira di adalah gadis terhormat, tapi ternyata sama saja. A little sl-ut."


Gelak tawa Jimmy dan beberapa temannya itu pecah begitu Jimmy merampungkan perkataannya.


Hayden marah. Ia sangat marah setelah mendengar apa yang Jimmy bicarakan tentang Feli.


Matanya memerah, menatap gelas yang ia genggam dalam telapak tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengerat, karena rasa marahnya hampir hilang kendali di sana.


Suara gelas pecah, seketika berhasil mengalihkan atensi Jimmy dan ketiga temannya, mereka serempak menoleh ke arah Hayden.


Ya, gelas yang berada dalam genggaman Hayden saat itu pecah, karena Hayden meluapkan semua kamarahannya di sana, membuat darah segar seketika mengalir dari telapak tangannya yang terluka, terkena pecahan beling.


Hayden dengan cepat menoleh ke arah Jimmy yang tengah menatapnya dengan tatapan heran. Ia menatap Jimmy dengan tatapan tajam mematikan, penuh kemarahan yang siap menghujam.


"You bastard! How dare you to touch my girl? Dan mengatakan yang tidak-tidak tentangnya?!"


Hayden bangkit dari duduknya dan dengan cepat melayangkan beberapa pukulan tepat di wajah tampan Jimmy, membuat Jimmy kehilangan keseimbangan dan terjerambah di bawah sana, dalam keadaan ditindih oleh Hayden yang tak henti-hentinya melayangkan pukulan.


Akibat dari pukulan itu, Hayden berhasil tersingkir dari atas tubuh Jimmy. Tentu saja, Jimmy bangkit dan melihat Hayden dengan hati-hati.


Semua atensi orang-orang yang berada di area bar, kini tertuju ke arah Hayden yang mulai bangkit dengan keadaan tubuh yang sedikit sempoyongan.


Jimmy terkekeh meremehkan tatkala ia melihat wajah Hayden dengan jelas. "Ahhh. Jadi kau kekasih Felisha yang memergokiku malam itu?"


"Si-alan!" Jimmy mengumpat seraya mendaratkan pukulan yang cukup keras di wajah Haydenn, membuat Hayden kembali terjerambah di bawah sana.


Jimmy tersenyum puas setelah melihat bagaimana kacaunya Hayden saat itu. "Poor boy. Kau seharusnya tidak bertingkah seperti ini hanya demi ***-*** bernama Felisha itu!"


Hayden menatap Jimmy penuh kemarahan seraya mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat. Ia perlahan kembali membangkitkan diri dan berdiri tepat di hadapan Jimmy dengan jarak yang cukup dekat.


Hayden memendarkan pandangan sekilas, menelisik keadaan sekitar yang ramai mengelilinginya.


Ada beberapa dari pengunjung mulai merekam kekacuan yang terjadi di sana dengan ponsel mereka. Ada juga sebagian yang mulai bergunjing, membicarakan Feli dan Hayden.


Hayden kembali menatap Jimmy. "Jangan pernah berani, berbicara buruk tentang gadisku!" ucapnya penuh penekanan seraya mendaratkan kepalan tangannya di salah satu sisi wajah Jimmy.


Dan saat Jimmy hendak membalas pukulan Hayden, pihak keamanan dan sipemilik club malam tersebut datang melerai.

__ADS_1


Tidak ada yang berani menyentuh Hayden, karena pekerja di club malam tersebut tahu, bahwa Hayden merupakan tamu VVIP di sana.


Pihak keamanan hanya mengamankan Jimmy dan beberapa temannya untuk memaksa mereka ke luar dari sana.


Hayden yang masih mengatur napasnya yang masih memburu karena amarah pun, saat itu menoleh ke arah si pemilik club tersebut yang berdiri di sampingnya.


Si pemilik club membungkukan setengah tubuhnya sekilas, sebagai tanda dari rasa hormat. "Tuan, apa Tuan baik-baik saja? Kami mohon maaf untuk ketidak nyamanannya. Kami tidak tahu, jika Tuan saat ini sedang tidak berada di area VVIP."


Hayden mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya, membuatnya mengerang pelan, kesakitan.


Hayden lantas menepuk pundak si pemilik club sembari mengangguk samar. "Tidak masalah. Pastikan saja, tidak ada berita menyebar yang berhubungan dengan kejadian ini. Jika tidak, aku akan membuatmu menutup club ini."


Dengan begitu, Hayden pun pergi dari sana dengan langkah terhuyung, karena efek minuman beralkohol yang masih mengambil alih kesadarannya.


Malam itu, Hayden kembali ke rumahnya dalam keadaan kacau, seperti apa yang telah Rosa ceritakan pada Feli.


...***...


Feli seketika memaku setelah ia mendengar apa yang Hayden ceritakan. Air mata semakin deras mengalir dari pelupuknya yang sudah sembab.


'Apa d-dia benar-benar t-telah menyentuhku malam itu?'


Segelintir pertanyaan yang membuat hatinya tidak tenang, mulai berputar dalam benak Feli.


Rasa sesak dari rasa marah terhadap diri sendiri mulai menjalari rongga dadanya.


Feli jelas marah, karena ia benar-benar tidak mengingat apa pun yang terjadi padanya malam itu, malam di mana Hayden menemukan Jimmy di kamarnya.


"Hey, Baby. Berhentilah menangis," titah Hayden dengan suara lembutnya seraya menyeka air mata Feli menggukanan telapak tangannya, perlahan.


Feli menengadahkan pandangan, hingga netranya beradu tatap dengan manik jelaga indah Hayden yang sudah menatapnya dengan tatapan cemas.


Manik matanya yang berkaca-kaca, gemetar, menatap Hayden dengan tatapan sendu. "B-bagaimana jika, a-aku memang pernah disentuh o-oleh J-Jimmy? A-aku tidak bisa mengingat apa pun. Aku t-tidak tahu apa yang terjadi padaku malam itu Hayden."


Hayden menengkup kedua pipi Feli dengan lembut. "Hey. Hey. Baby dengar. Tenangkan dirimu, hemmm? Semuanya akan baik-baik saja. Tidak apa-apa."


Pribadi tampan itu kemudian merengkuh tubuh gemetar Feli ke dalam pelukannya, mengusap punggung wanita cantiknya itu, berusaha menenangkannya sebisa mungkin.


Tangis kepedihan Feli kembali pecah untuk ke sekian kalinya. "A-apa kau akan meninggalkanku, j-jika ternyata aku p-pernah di sentuh o-oleh pria lain?"


Hayden memejamkan pelupuk matanya sesaat, sebelum mendaratkan sebuah kecupan singkat penuh kasih di puncak kepala Feli. Ia mempererat rengkuhannya pada tubuh sang istri. "Tidak akan. Aku tidak akan pernah pergi meninggalaknmu. Bahkan, jika kau yang memintaku sekalipun."


Tbc ....

__ADS_1


__ADS_2