Sweetest Nightmare

Sweetest Nightmare
Saling Menggoda


__ADS_3

"Kau benar-benar sudah merasa lebih baik, Sayang?" Hayden bertanya seraya menatap wajah cantik wanitanya yang masih berada dalam pelukan, untuk memastikan.


Feli menengadahkan pandangan, hingga manik hazel indahnya, berhasil beradu tatap dengan netra teduh Hayden yang menatap lembut dirinya. "Hemmm. Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang."


Hayden tersenyum, syarat akan rasa lega pun senang. Ia mengecup singkat bibir tipis nan manis wanitanya. "Mari bersiap."


"Bersiap?"


Hayden mengangguk samar. "Hemmm. Ayo kita pergi makan malam di luar."


"Sekarang?"


"Tentu saja."


"Ayo pergi ke rumah Nenek saja. Bukankah itu tujuan utama kita kemari?"


Alis sebelah kiri Hayden terangkat, bersamaan dengan matanya yang sedikit memicing, menatap Feli, nanar. "Siapa yang mengatakan itu?"


"Kau. Kau yang mengatakan, bahwa kita kemari untuk bertemu dengan nenekmu."


Hayden menyesap ludah di dalam mulutnya seraya mengalihkan pandangan sekilas, solah berpikir dengan keras. "Benarkah? Apa aku mengatakan hal itu?"


Feli memutar bola matanya malas. "Hayden ...!"


Hayden terkekeh gemas. "Sayang ... itu hanya asalanku saja. Tujuan kita sebenarnya datang kemari adalah ...-" Menjeda perkataan, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Feli, mengikis segala jarak, hingga embusan napas hangat mereka beradu di titik yang sama karena jarak wajah mereka begitu dekat.


Mata Feli memicing, bersamaan dengan dahinya yang mengernyit, keheranan. "Apa?"


Sudut bibir sebelah kanan Jimin menukik tajam, mengulas seringaian yang tak terartikan. "Bukankah aku sudah memberitahumu siang tadi?"


"Apa? Kau tidak membe-" Perkataan Feli terjeda manakala Hayden meraih pergelangan tangannya saat ia hendak mendorong dada bidang suami tampannya itu, agar sedikit menjauh, membuat jarak terbentang antara wajah mereka.


"Hey! Apa yang sebenarnya sedang coba kau katakan?" Feli bertanya seraya menghentak-hentakan tangannya perlahan, mencoba melepaskan diri dari cekalan Hayden.


Namun, usahanya itu percuma dan sama sekali tidak berguna, karena semakin ia bergerak, semakin erat pula Hayden menggenggam tangannya.


Wajah Feli sedikit mengernyit, seperti menahan rasa sakit, membuat Hayden menatapnya dengan raut wajah cemas.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?"


"K-kau. K-kau menyakiti t-tanganku," tukas Feli, sedikit terbata.


Dengan pergerakan cepat, Hayden memperlonggar genggamannya. "Maafkan aku." Ia menatap pergelangan tangan Feli yang mulai bersemu merah muda akibat ulahnya. "Apa ini sangat sakit?"


Hayden kembali menatap manik hazel wanitanya, dengan tatapan lekat.


Feli tersenyum manis seraya menggelengkan kepala. "Tidak terlalu."


Membawa pergelangan tangan Feli ke hadapan wajahnya, Hayden membuat Feli menatapnya dengan tatapan heran, lantas tersenyum, sebelum mendaratkan sebuah kecupan lembut di pergelangan tangan Feli yang memerah tersebut.


Efeksi dari setiap sentuhan Hayden pada tubuh Feli, memiliki pengaruh yang sangat luar biasa, sekecil apa pun bentuk sentuhannya.


Feli menelan ludahnya dengan susah payah manakala persendian di sekujur tubuhnya mulai menegang.


Hayden yang menyadari hal itu pun, dibuat terkekeh kesenangan. "Kau sangat sensitif, Baby. Tapi aku sangat menyukainya."

__ADS_1


Hayden meraup lembut bibir tipis wanitanya secara tiba-tiba, membuat mata Feli membola dan degup jantungnya bekerja lebih keras.


Bibir penuh pria tampan itu mulai bergerak manakala wanitanya mengembuskan napas yang sempat ia tahan, tanpa disadarinya.


Hayden menye-sap bibir tipis Feli dengan pergerakan sangat lembut, memperlakukan wanitanya itu dengan penuh kehati-hatian, seolah Feli adalah makhluk paling rapuh di dunia dan bisa hancur kapan saja, jika ia terlalu bermain kasar.


Feli mengatupkan pelupuk matanya rapat-rapat, sebelum memutuskan untuk membalas ciu-man lembut yang Hayden awali.


Kedua telapak tangan kecil Feli bertengger di bahu Hayden, meremat gemas kaus polos yang suami tampannya itu kenakan.


Ciu-man itu berawal dari luma-tan lembut yang sama sekali tidak menuntut. Namun, menjadi kian panas dan bergairah.


"Eung ...!" Feli mengerang pelan bersamaan dengan wajahnya yang mengernyit, menahan rasa sakit manakala Hayden menggigit bibir bawahnya.


Hayden mulai melu-mat kasar bibir tipis Feli, menye-sapnya bagaikan lolipop manis yang menggairahkan, diiringi dengan pergerakan lidahnya yang liar, mengabsen deretan gigi rapi wanita cantiknya itu.


Feli menepuk-nepuk bahu Hayden, memberi tanda pada pria tampan itu bahwa dirinya tidak bisa bernapas dengan benar, membuat Hayden membuka matanya yang terpejam, menatap wajah merah wanitanya yang mengernyit.


Hayden dengan cepat melepaskan pagutannya, membuat benang saliva yang terbentang di antara bibirnya dan Feli terputus dengan sendirinya.


Pria tampan itu mempertemukan keningnya dan kening Feli, membuat deru napas mereka yang memburu, bertemu di titik yang sama.


Hayden mengusap lembut bibir basah wanitanya dengan bantalan ibu jari tangannya, menghapus saliva yang masih tersisa di sana.


Bibir Hayden merenggang, mengulas senyum senang. "Kita harus bersiap untuk makan malam, sebelum aku berubah pikiran dan menjadikanmu sebagai menu makan malamku."


Feli dengan cepat membuka matanya, menatap Hayden yang tengah menyeringai dengan mata yang membola.


Wanita cantik itu merasa gugup luar biasa, hingga tanpa ia sadari, ia menggigit bibir bawahnya, membuat seringaian di bibir Hayden semakin merekah.


"Jangan menggigitnya lagi. Aku sudah melakukannya untukmu. Atau kau mau aku melakukannya lagi?" tukas Hayden, menggoda.


"Kau menyebalkan!"


"Tapi kau menyukainya."


"Tidak. Kata siapa aku menyukaimu?"


Hayden tersenyum, menatap lembut wanitanya yang mulai membangkitkan diri dari tempat tidur. "Ah ya, aku lupa. Kau tidak menyikaiku. Tapi kau mencintaiku. Sangat mencintaiku."


Feli berusaha sebisa mungkin menahan bibirnya yang perlahan merenggang, ingin mematrikan sebuah senyuman. "Hey! Kau belum menyelesaikan perkataanmu."


Hayden bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri di hadapan Feli. "Perkataan yang mana?"


"Tujuan kita datang kemari?"


Hayden mengangguk paham. Ia menundukan pandangannya sebentar sambil tersenyum. "Bukankah jawabannya sudah jelas? Aku membawamu kemari untuk berbulan madu."


"Apa kau serius?"


Alis sebelah kiri Hayden terangkat, bahkan menukik tajam, bersamaan dengan matanya yang memicing, menatap wanitanya keheranan. "Apa aku harus membuktikannya padamu?"


Feli tertegun. Matanya membola lagi, tak sedetikpun meninggalkan wajah Hayden.


Sudut bibir sebelah kanan Hayden tertarik ke atas, mengulas seringaian ngeri, penuh arti. Pria tampan itu mengambil langkah besar, mengikis segala jarak yang terbentang di antara dirinya dan Feli. "Kau tahu, aku sama sekali tidak merasa keberatan tentang itu."

__ADS_1


Feli dengan cepat mengambil langkah mundur, mengimbangi langkah yang Hayden ambil. "A-aku akan bers-siap sekarang."


Feli dengan cepat memutar tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar yang sedari tadi ditempatinya bersama sang suami.


Perkataan Feli yang jelas menunjukan kegugupan, berhasil membuat Hayden terkekeh senang. "Dia benar-benar menggemaskan."


Hayden berjalan, mendekati pintu kamar mandi, lalu mengetuk permukaan daun pintunya secara perlahan. "Baby, ayo mandi bersama. Ijinkan aku masuk."


"Tidak! Pergi mandi di kamar mandi lain saja. Dasar me-sum!"


"Hey. Aku suamimu. Apa menurutmu, kau tidak kejam mengataiku me-sum?" Hayden terus menggoda wanitanya, dan respon dari Feli, berhasil membuat senyum senang di bibirnya terus terpatri.


"Kau pantas untuk mendapatkan julukan me-sum sejak lama, Tuan Me-sum Hayden."


Hayden terkekeh gemas sekilas. "Hey! Aku tidak me-sum sebelum aku menikah denganmu."


"Terserah. Aku tidak mendengarmu. Aku sedang menggunakan shampoo, mataku perih."


Hayden lagi-lagi terkekeh gemas. "Maka dari itu, biarkan aku masuk. Aku akan membantumu."


"Tidak. Terima kasih atas tawaranmu. Aku baik-baik saja. Oh Tuhan, ini menyegarkan."


Hayden mendekatkan daun telinga sebelah kirinya ke permukaan daun pintu, membuat suara air mengucur dari dalam sana terdengar dengan jelas, mengecai ke dalam rungunya. "Kau tidak sedang menggodaku bukan, Baby?"


"Air hangat di sini lebih hangat dan nyaman dari pada pelukanmu, kau harus tahu itu."


Hayden bisa mendengar dengan jelas, di dalam sana, Feli tengah menahan tawanya saat wanita cantiknya itu berucap.


"Kau berani membandingkan pelukanku hanya dengan air hangat?"


"Yes, I dare and I did."


Hayden hanya tersenyum mendengar Feli yang berani memberi jawaban dari setiap godaannya di saat mereka tidak langsung bertatap muka saja.


"Sure Baby. You're a brave girl. Lain kali lakukan itu saat aku ada di hadapanmu, okay? Aku yakin, itu akan lebih menarik."


...***...


Jimmy terlihat tengah mundar-mandir di dalam kamarnya sembari memainkan ponsel pintar yang sedang ia genggam.


Wajah pria itu nampak begitu gusar, membersamai sorot mata tajamnya yang mengisyaratkan rasa frustrasi. "Damn!"


Deru napas Jimmy memburu, terdengar berat dan terengah-engah, seolah ia habis melakukan marathon berkilo-kilo meter, jauhnya.


Jimmy menengadahkan pandangan, menatap langit-langit kamarnya sembari menyisir surai hitamnya dengan jemarinya yang jenjang, meluapkan rasa frustrasi yang sudah membuncah dalam relungnya, di sana.


"Akh! TERSERAH!"


Pria itu mendudukan dirinya di tepian tempat tidur. Pandangannya tertunduk, menatap layar ponsel yang sudah ia nyalakan untuk menghubungi seseorang.


Jimmy menggigit bibir bawahnya manakala ia menenggerkan benda pipih itu di dekat daun telinganya. Ia harap-harap cemas menanti seseorang di sebrang sana untuk menjawab panggilannya.


"Ha-" Belum sempat Hayden merampungkan sapaannya, suara kekehan yang terkesan meremehkan mengudara, menyapa rungunya, membuatnya diam.


"Kau sudah memutuskan pilihanmu, Tuan Jimmy?"

__ADS_1


Sudut bibir sebelah kanan Jimmy, terangkat hingga menukik cukup tajam, mengulas seringaian yang tak dapat diartikan. Namun, jelas mengandung ancaman. "Sekali lagi..., aku akan berpihak padamu, karena tawaranmu lebih menggiurkan, Nona Janessa Jordan."


Tbc ....


__ADS_2