
"Hayden!" Feli menggeliat pelan, berusaha untuk melepaskan diri dari rengkuhan sang suami.
"Ah kau benar-benar menyebalkan!" Feli memekik kesal seraya mendorong tubuh Hayden, agar pria tampan itu melepaskan cekalannya.
"Bangun, Hayden. Agar aku bisa mengobati wajahmu," bujuk Feli dengan lembut.
Hayden diam, bergeming. Membiarkan Feli terus mengoceh sambil berusaja melepaskan diri, ia benae-benar menikmati rengekan menggemaskan Feli yang memanjakan rungunya.
Membuatnya bernostalgia ke masa lampau. Ke masa di mana, dirinya suka sekali menggoda istri cantiknya itu saat masih pacaran dulu.
Membuatnya kesal, merengek dan tiada henti mengoceh, adalah satu satu dari sekian banyaknya tindakan yang acap kali Hayden lakukan. Tak menampik, hal itu memberi kesenangan tersendiri bagi Hayden.
Mendengkus, Feli memejamkan pelupuk mata. "Baiklah. Terserah!"
Akhirnya wanita cantik itu memilih diam dan menyerah, membiarkan Hayden berbuat semaunya.
Hayden tersenyum senang, diam-diam. "Biarkan aku tidur sebentar. Semalam tidurku tidak nyenyak. Aku tidak bisa tidur karena terus mengecek keadaanmu."
Pribadi tampan itu menghela napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya kasar dengan satu kali hentakan. "Kau benar-benar membuatku cemas semalaman."
Membuka pelupuk mata, Feli menoleh, menatap sisi kiri wajah tampan Hayden dalam jarak yang begitu kelewat dekat. "A-aku? Memangnya apa yang terjadi padaku semalam?"
"Bukankah aku sudah memberitahumu? Kau mabuk semalam dan tidak berhenti menangis."
"Benarkah?"
Hayden mengangguk samar. "Hemmm."
Feli tertunduk. Pandangannya menangkap lengan kekar Hayden yang melingkar di pinggangnya. "Maaf."
Hayden mengecup manis ceruk leher Feli, membuat istri cantiknya itu sedikit terhenyak. "Tidak masalah."
Menggigit bibir bawahnya pelan, Feli menyentuh lembut lengan Hayden. "Kau boleh tidur lebih lama, tapi lepaskan aku. Aku akan mengambilkan kompresan untuk meredakan kemerahan di wajahmu."
"Aku baik-baik saja, sungguh."
"Aku tahu. Tapi aku merasa bersalah, karena sudah membuatmu terluka karena diriku."
Hayden menarik diri, membuat sedikit jarak terbentang antara dirinya dan Feli, agar ia bisa beradu tatap dengannya.
Tak membuang banyak waktu, Feli yang sedari tadi meluruskan pandangan pun, akhirnya menoleh ke arahnya.
Hayden tersenyum manis. "Berikan aku morning kiss terlebih dahulu."
Mata Feli membelalak, menatap Hayden tidak percaya.
Tidak mengira sama sekali, jika Hayden akan bersikap begitu santai dan normal, seakan tidak ada hal buruk yang menimpa hubungan mereka selama dua tahun ini.
Bahkan, kalimat 'aku membencimu' yang sempat Hayden ucapkan beberapa hari yang lalu saja, masih setia mendengung di rungu Feli dan tak pernah gagal membuat hatinya berdesir, sakit.
__ADS_1
"Ah, Hayden! Tubuhmu berat!" Feli merengek saat Hayden tiba-tiba merubah posisi berbaring, jadi mengungkungi tubuhnya, tanpa aba-aba.
Hayden menyeringai ngeri penuh arti, membiarkan telapak tangan sebelah kanannya menyentuh wajah Feli, menyingkirkan anak rambut yang jatuh di sana menghalangi pandangan sang istri.
Tangan Hayden yang lain, ia pergunakan untuk menahan berat tubuhnya, bertengger di permukaan tempat tidur, tepat di sisi sebelah kiri kepala Feli. "Kau seharusnya berada di posisi seperti ini semalam. Tapi karena kau mabuk, aku tidak bisa bermain sendirian."
Feli mengerjap. Manik matanya melebar, menatap Hayden lugu, mirip sepasang mata Rusa, membersamai wajahnya yang memetakan keluguan yang sama, begitu menggemaskan, ayalnya wajah anak kecil, tidak berdosa. "Apa maksudmu?"
"Kau sekarang istriku, Sayang." Hayden tersenyum penuh kepuasan. "Mulai sekarang, aku bisa melakukan apa pun padamu. Seperti mulai melakukan praktek untuk membuat keturunan, misalnya," ciritnya menggoda, diakhiri dengan sebuah senyum licik.
Feli menenggerkan kedua telapak tangannya di permukaan dada bidang Hayden, bersiap untuk mendorong tubuh sang suami, sebisa mungkin.
Menelan ludah kasar, mengabaikan sensasi panas yang seketika menjelar dari area leher, hingga ke seluruh permukaan wajahnya yang seketika tampak memerah, Feli menggigit gugup bibir bawahnya.
Pelupuk mata wanita cantik itu mengerjap, lucu. Feli lantas berdehem. "Mengertilah, Hayden. Aku ingin meluruskan segalanya terlebih dahulu. Lagipula, hubunganmu denganku baru saja membaik. Bukankah, kau bilang, kita akan memulai segalanya dari awal?"
Feli menilik posisi tubuh Hayden yang berada di atasnya, bertekanan dengan tubuhnya.
Menyadari jika kini mereka berbaring dalam keadaan sedikit ambigu, pipi Feli seketika bersemu merah muda karena tersipu.
Wanita cantik itu mengalihkan wajah seraya mengatupkan bibirnya serapat mungkin, menahan senyum. Ia menatap jendela kamar yang masih tertutup dengan wajah meronanya. "Tidak kah, menurutmu ... ini terlalu berlebihan, jika disebut sebuah awalan?"
Hayden terkekeh gemas sekilas. Mendengkus kasar pria tampan itu menundukan kepala, menenggelamkan wajahnya di lekukan dada Feli. "Baiklah. Aku mengerti. Aku bisa menunggu."
Menengadah, Hayden mengecup singkat rahang tegas Feli, sebelum membangkitkan diri dari tempat tidur. Atau lebih tepatnya, dari atas tubuh sang istri.
Feli membuang napas kasar yang berasal dari rasa lega. Ia dengan cepat mengikuti pergerakan Hayden, membangkitkan diri, sebelum pria tampan itu, berubah pikiran.
Feli menatap Hayden, menunggu sang suami untuk mengatakan atau melakukan sesuatu. Begitupun sebaliknya.
Berdehem pelan, Feli menundukan pandangan sekilas. Tidak dapat dipungkiri, suasana yang menyelimuti mereka, terbilang masih sangat canggung.
"Aku akan mengambil obat dan kompresan untuk mengobati wajahmu," ucap Feli gugup seraya memutar tubuh, bersiap untuk mengambil langkah dan ke luar dari kamar.
"Tunggu!" pekik Hayden seraya mendekati Feli yang seketika itu juga menghentikan pergerakan.
Berdiri tepat di belakang tubuh Feli dengan jarak hanya beberapa senti, lantas tanpa aba-aba, Hayden memeluk tubuhnya dari belakang, membuat punggung istri cantiknya itu saling bertekanan dengan dada bidangnya yang kekar.
Feli terkesiap juga sedikit tersentak, tapi ia tak memberikan sedikit pun perlawanan, membiarkan Hayden melakukan apa yang memang berhak ia lakukan, sebagai suaminya.
Hayden menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Feli, mengendus aroma feromon yang memabukan, sebelum akhirnya meninggalkan ciuman singkat di sana. "Aku mencintaimu, Felisha."
Hati Feli berdesir. Sedikit terasa sakit, tapi lebih banyak bahagia dan haru, karena mendengar pernyataan cinta sederhana dari Hayden tersebut.
Perlahan memutar tubuh, hingga ia kembali saling berhadapan dengan Hayden, bibir tipisnya yang sedikit gemetar, mulai merenggang, memetakan senyum senang, sementara netranya menatap Hayden dengan tatapan sendu yang sangat sulit diartikan.
Feli menengkup wajah Hayden dengan kedua telapak tangan mungilnya. "Aku tahu."
Hayden tertegun, tatkala bibir tipis nan lembut Feli, berhasil mendarat di bibirnya.
__ADS_1
Feli mengecup singkat bibir sang suami, lalu kembali tersenyum. "Sekarang, lepaskan. Aku harus mengambilkan obat untukmu."
Manik jelaga indah Hayden yang kini terlihat begitu teduh, tidak dingin seperti sebelumnya, menatap Feli dengan tatapan lembut, penuh cinta.
Hayden menggeleng samar. "Tidak semudah itu."
Tanpa memberi peringatan lebih dulu, Hayden meraup bibir tipis Feli, menyesapnya bagaikan lolipop manis yang menggairahkan, juga ********** dengan pergerakan lembut, membuat perasaan Feli meleleh seketika.
Feli tahu, seharusnya ia menjawab pernyataan Hayden dengan kalimat lain.
Namun, ia belum siap untuk mengatakannya, karena tiga kata itu, memiliki arti yang begitu besar baginya. Meskipun, pada kenyataannya, ia sudah mengatakan tiga kata ajaib itu semalam, dalam keadaan mabuk.
Setidaknya tidak sekarang ia akan mengatakannya dalam kondisi yang benar-benar sadar. Mungkin nanti, setelah ia tahu kebenaran, perihal apa yang terjadi malam itu, malam di mana ia menghancurkan hati Hayden untuk pertama kalinya dan melakukan kesalahan yang sangat patal, hingga ia rasa, ia tidak akan sanggup untuk memaafkan dirinya sendiri.
Feli memejamkan mata, manakala Hayden memperdalam ciuamannya. Ia tidak diam, tidak ingin membuat Hayden kecewa, ikut mengiringi pergerakan bibir suami tampannya itu dengan seimbang, bertempo, beriringan.
Beberapa saat terhanyut dalam momen manis, saling berbagi ciu-man, Hayden kemudian melaspkan pagutan.
Membiarkan keningnya dan Feli beradu, membuat deru napas mereka berhembus di titik yang sama dan saling menyapu permukaan bibir satu sama lain.
Hayden menatap wajah cantik Feli dengan tatapan sendu, penuh rindu.
Menengkup wajah itu pelan, Hayden membiarkan bantalan ibur jarinya menyapu lembut bibir tipis Feli yang basah, menghapus jejak perpaduan antara saliva mereka. "Kau milikku!"
Feli mengangguk setuju, sembari tersenyum simpul, masih dengan mata yang terpejam. "Selalu."
Hayden mengecup singkat bibir tipis Feli, lalu tersenyum penuh haru dan bangga. "Kau boleh pergi sekarang. Aku akan membersihkan diri sembari menunggumu kembali."
"Baiklah."
...***...
Jimmy terlihat tengah duduk santai, di kursi yang berada di balkon luar kamarnya.
Kedua kakinya menyilang, memperlihatkan betapa nyamannya ia, menikmati suasana pagi hari yang menenangkan, meskipun berada di tengah hiruk pikuk - sibuknya kehidupan di pusat perkotaan.
Tangan sebelah kirinya ia pergunakan untuk menggenggam sebuah cangkir, berwarna putih, berisikan teh hangat. Sementara tangan lainnya, sibuk menahan ponsel yang bertengger di dekat daun telinga.
Ya, saat ini Jimmy sedang berbincang dengan seseorang, melalui sebuah panggilan suara.
"Ya, Nyonya. Jane sempat menghubungiku semalam. Ia menawariku sebuah kerjasama," tandas Jimmy, kelewat santai.
Seseorang di sebrang sambungan yang ia panggil Nyonya, terkekeh geli sekilas. "Benarkah? Lalu apa jawabanmu?"
Jimmy menyeringai ngeri, penuh arti. "Tergantung. Aku akan menerima tawaran dari siapa pun yang akan membayarku dengan bayaran yang lebih besar dan menggiurkan."
"Aku akan membayarmu, berapa pun. Asal kau bisa memastikan, anakku tidak kembali terluka, karena kejadian dua tahun yang lalu. Tetaplah, berada di pihakku. Jangan lakukan, apa yang Jane perintahkan padamu."
Lagi-lagi, bibir Jimmy menunjukan seringaian ngeri, penuh arti. "Apa pun untukmu, Nyonya Luciana."
__ADS_1
Tbc ....