Tak Pernah Ada Cinta

Tak Pernah Ada Cinta
BAB 6


__ADS_3

seusai makan malam,putri pun di antar pulang oleh lintang dan Budi.


saat masuk kehalaman rumah terlihat wajah putri yang nampak tegang.


lintang mengusap kepala putri untuk menenangkan dan semua akan baik-baik saja.


"apa yang takutkan? tanya om Budi


"hmmm gak apa-apa om."seru putri.


"ya sudah tak perlu takut ada kami yang akan membantu mu untuk menjelaskannya."terang lintang.


"tapi Tante."ujar putri.


"apa lagi, sudah ayo masuk."ajak lintang.


putri pun hanya menundukkan wajahnya dan ibu serta ayahnya sudah menunggu putri di ruang tamu.


"malam pak Rahman maaf tadi kami menjemput putri di kampusnya dan kita ajak untuk makan malam karena untuk mendekatkan putri dengan Adams, dan sebelum nya maaf kami tidak meminta ijin dahulu."terang pak Budi.


"oh tidak apa-apa kami hanya was-was saja takut kenapa-kenapa,karena tidak ada kabar."jawab pak Rahman.


Bu dwi pun pura-pura tersenyum padahal hati nya sudah ingin marah tapi dia tahan karena bagaimanapun pak Budi adalah sumber uang.


"ayo Bu lintang silahkan duduk."ajak Bu Dwi.


lintang pun memandangi putri karena putri terus saja menundukkan wajahnya.


"oh iya putri sebaiknya kamu istirahat dan ini di bawa kekamar mu saja.dan sampai bertemu besok untuk fitting baju kebaya lagi."tutur Bu Dwi


putri pun menatap wajah ibu dan ayahnya bergantian.


"oh putri istirahatlah dan bersih kan diri dulu. ujar Bu Dwi pura-pura peduli.

__ADS_1


"kalau begitu om Budi dan Tante.. terimakasih banyak!! maaf putri istirahat dahulu ya? pamit putri tidak lama putri pun berjalan menaiki tangga rumahnya.


Bu Dwi sudah menatap nya dengan tatapan nyalang, dia sangat membenci putri membawa paper bag banyak sekali.


tidak lama terdengar bunyi mobil berhenti di depan rumah nya.


cella masuk dengan pakaian yang sangat minim dan di lihatnya pun sangat tidak bagus.


dia berjalan dengan angkuhannya masuk kedalam rumah.


"dari mana cella? kok sudah malam baru pulang!! sapa pak Rahman karena tidak enak ada tamu nya.


"oh itu pah..teman ada yang ulang tahun dan ini belum makan banget kali pah."manja cella.


lintang memperhatikan cella dengan seksama dan melihat cella membuat lintang tidak menyukai gadis itu.


"ini cella adiknya putri Bu!! ujar Bu Dwi


"ohh agak beda ya? sahut lintang


"oh ya sudah kalau begitu kami pamit dulu."pak Budi pun berdiri dan bersalaman dengan pak Rahman.


begitu pun dengan lintang dia hanya tersenyum dan berjalan mendekati suami nya.


"besok kami akan menjemput putri ya? pamit pak Budi.


"oh iya silahkan."jawab pak Rahman.


pasangan pak Budi dan lintang pulang, Dwi sudah tidak sabar mau memarahi putri.


"jika kau marahi dia terus dia kabur lalu siapa yang akan memberi kamu uang? perusahaan ibunya saja sudah di ambang pintu hanya uluran dana dari pak Budi yang kita harapkan agar perusahaan tersebut kembali berdiri."terang pak Rahman sambil memijit pelipisnya.


"aku harap semakin cepat pernikahan mereka semakin cepat kita mendapatkan uang."sahut Bu Dwi.

__ADS_1


"itu yang sedang aku pikirkan, pernikahan tinggal sepuluh hari lagi,biarkan saja dia membawa putri pergi kemana pun mereka suka."tutur pak Rahman.


sebenarnya pak Rahman sangat menyayangi putri tapi dia bisa apa di depan istrinya dia harus berpura-pura membenci anak kandungnya sendiri.


ada rasa lelah di hatinya ketika Dwi selalu ingin memarahi putri.


tanpa sepengetahuan Dwi, Rahman sering mengunjungi makam istrinya.


sedangkan di kamar putri sedang membereskan barang-barang yang di belikan oleh Tante lintang.


senyum tak pernah pudar dari wajahnya karena ini pertama kalinya dia bisa merasakan membeli baju.


biasanya dia hanya memakai baju di berikan oleh cella itu pun bekas pakai.


putri menatap dress yang sangat cantik dan juga t-shirt serta jeans.


"aku ngga menyangka bisa mempunyai barang ini."gumam putri.


tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk dengan segera putri memasukkan batang-batang tersebut kedalam lemarinya.


pintu pun di buka putri dengan perlahan.


"mbok ada apa? ini sudah malam."tanya putri.


"apa non sudah makan? tanya mbok Ningsih


"sudah mbok dan mbok tak perlu khawatir karena Tante lintang dan om Budi sangat sayang sama aku."ujar putri sambil tersenyum manis.


"syukurlah jadi mbok tak perlu khawatir lagi, kalau begitu mbok turun dulu ya..non jangan lupa istirahat."seru mbok ningsih yang berlalu dari hadapan putri.


putri pun menutup pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat kecil ukurannya.


itu pun sudah tidak layak pakai sebenarnya, hanya saja putri tidak pernah mempermasalahkan itu semua.

__ADS_1


baginya ibu nya tidak marah-marah saja dia sudah sangat senang.


tidak lama mata gadis itu pun terpejam dan dia tertidur sangat pulas sekali..


__ADS_2