
Tubuh Lion mematung dengan napas tercekat di tenggorokan kala sosok wanita keluar dari balik tirai itu. Bibir Lion mengatup rapat dengan rasa gemetar yang tiba-tiba terasa di tubuhnya.
“Ah, dia siapa?” Wanita itu sedikit berbisik pada pria muda itu. Sedikit mengerutkan keningnya kala merasa jika wajah yang kini berada di hadapannya terlihat tidak asing.
“Dia dokter yang akan memeriksa kakek, Mom.” Sahut Liorand menatap wanita yang tidak lain adalah Ibunya.
‘Mom?’ batin Lion bertanya-tanya dengan perasaan sesak di dadanya.
“Oh, begitu.” Ia tersenyum, lalu mengulurkan tangan pada Lion.
“Halo, dokter.” Wanita itu tetap tersenyum manis, menatap saksama wajah yang benar-benar terasa tidak asing hingga membuat jantungnya berdetak kencang.
Sesaat Lion menatap uluran tangan wanita itu. Wanita yang selalu menghantui tidurnya tanpa kenal waktu. Malam, siang, dan pagi. Hanya terbayang wajahnya setiap saat.
Wajah yang membuat hidupnya cukup kacau karena rasa kehilangan.
“Risya,” gumam Lion dengan bubur gemetar, lalu meraih uluran tangan di hadapannya.
Mencoba menstabilkan ekspresi wajahnya senormal mungkin agar tak membuat dua orang di hadapannya curiga.
“Salam kenal, Nyonya.” Lion menarik pelan tangannya yang gemetar. Kini perasaannya sungguh tidak bisa dikondisikan. Ia harus segera keluar dari ruangan itu setelah melakukan pemeriksaan.
“Kalau begitu, saya akan memeriksa pasien.” Ucap Lion sedikit menunduk kemudian berjalan memasuki tirai itu.
“Mommy baik-baik saja?” tanya Liorand mengejutkan Ibunya dari lamunan.
“Ah, iya.” Ucap Risya lalu menatap tangannya. Perasaan hangat terasa di hatinya saat berjabat tangan dengan dokter itu. Perasaan yang sudah lama tak ia rasakan.
Liorand mengerutkan kening curiga menatap tingkah aneh Ibunya. Tidak biasanya wanita yang melahirkan dan membesarkannya penuh kasih sayang itu menunjukkan ekspresi seperti sekarang ini, kecuali saat-saat di mana Ibunya menangis tanpa suara dalam kamar dengan menyebutkan nama seorang pria.
__ADS_1
“Apa Mommy mengenal dokter itu?”
Sontak Risya menatap putranya, “tidak. Mommy bahkan baru pertama kali ini bertemu dengannya.” Jawabnya meski sedikit ada keraguan di hatinya.
Liorand diam membalas tatapan mata Sang Ibu yang menatapnya, hingga pria itu tiba-tiba terkekeh pelan.
“Ada apa?” tanya Risya mengerjap beberapa kali.
“Wajahku dan wajah pria itu terlihat mirip, ya, Mom?”
Sesaat Risya berpikir. Mengingat kembali wajah yang ia lihat beberapa menit sebelumnya.
Ucapan putranya itu ada benarnya. Entah mengapa wajah dua orang asing yang baru bertemu bisa terlihat cukup mirip.
“Iya, sih. Mungkin kebetulan,” ucap Risya meletakkan jarinya ke dagu seolah tengah berpikir.
Sedang Liorand terdiam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Tadi kamu mengatakan apa, Sayang?” tanya Risya yang samar-samar mendengar suara putranya.
Liorand menggelengkan kepala dengan senyum, “tidak ada apa-apa, Mom.”
Pandangan kedua orang itu serentak menatap ke arah Lion yang kini keluar dari balik tirai.
“Bagaimana keadaan Kakek saya, Dok? Apa kondisinya sudah lebih baik?” tanya Risya sesaat setelah Lion menghentikan langkah tepat di depannya.
Lion diam. Ia ingin mendengar suara yang sangat dia rindukan itu lebih lama.
“Keadaannya sudah cukup membaik. Jika hingga esok tidak ada keluhan lebih, maka beliau diperbolehkan untuk pulang.” Ucap Lion kembali pada sikap profesionalisme sebagai dokter, meski degup jantungnya tak dapat ia kondisikan saat ini.
__ADS_1
Risya menghela napas lega sambil tersenyum di bibirnya. Senyum yang membuat Lion tak dapat mengalihkan pandangannya, hingga tersentak saat tatapan matanya bertemu dengan pria muda di samping Risya.
“Kalau begitu, saya permisi Nyonya.” Pamit Lion, segera berlalu keluar dari ruangan itu setelah mendapat anggukan kepala dari Risya.
Pintu telah tertutup rapat, menandakan jika Lion telah keluar dan meninggalkan ruangan itu. Namun, pandangan mata Liorand tak lepas dari daun pintu.
‘Aku harus mencari tahu,' batin Liorand lalu mengalihkan pandangan pada punggung sang Ibu yang menghilang dari balik tirai.
Perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki tirai itu. Terdiam saat tatapannya beradu dengan sosok paruh baya yang duduk di atas brankar. Terlihat menatap tak suka pada Liorand tanpa Risya ketahui.
“Kenapa dokter tadi yang memeriksaku? Kenapa bukan dokter sebelumnya?” pertanyaan dengan nada tak suka terdengar masuk ke Indra pendengaran Liorand, membuat pria itu menyimpulkan jika kakeknya tak menyukai dokter tadi.
Risya yang tak peka akan nada tak suka itu mengalihkan pandangan menatap putranya. Seolah ikut bertanya.
“Dia menggantikan Dokter sebelumnya, karena dokter sebelumnya memiliki urusan di luar hingga tidak bisa memeriksa kakek.” Jawab Liorand dengan wajah datar. Ekspresi yang selalu ia perlihatkan saat berhadapan dengan pria paruh baya yang berstatus sebagai kakeknya itu.
Pria paruh baya itu menghela napas kasar, mengalihkan pandangan ke arah lain dengan memberi isyarat pada Liorand untuk pergi dari hadapannya tanpa sepengetahuan Risya tentunya.
“Kalau begitu, aku kembali ke perusahaan dulu, Mom. Jika terjadi sesuatu, segera telepon aku.” Pamit Liorand.
Sesaat Risya terdiam, lalu mengangguk mengerti. Ia paham akan pekerjaan yang dilakukan oleh putranya, hingga membuat Liorand cukup sibuk.
“Baiklah. Hati-hati di jalan, Sayang. Jangan lupa untuk makan,” ucap Risya mengingatkan.
Liorand menganggukkan kepala mengerti, lalu melangkah keluar dari ruang rawat kakeknya.
‘Shit!’ umpat Liorand dalam hati sesaat setelah keluar dari ruangan rawat. Walau sudah cukup terbiasa diperlakukan seperti itu oleh kakeknya sejak kecil hingga sekarang, tapi rasa sesak itu tetap dia rasakan.
Diperlakukan berbeda dengan adik perempuannya, kadang membuat ia iri.
__ADS_1
“Sudahlah Liorand. Jangan memusingkan hal itu, lebih baik fokus pada pekerjaanmu dan hal baru yang harus kau cari tahu.” Ucap Liorand pada dirinya sendiri, kemudian melangkah mendekati lift untuk turun ke lantai dasar.
‘Aku tidak ingin menyimpulkan dengan cepat. Tapi jika dia benar pria itu ... maka tidak ada alasan membiarkannya begitu saja.’